Showing posts with label Ali bin Abi Thalib. Show all posts
Showing posts with label Ali bin Abi Thalib. Show all posts

Thursday, September 10, 2009

sayap nyamuk, bersin kambing, dan dengusan unta

Berikut ini beberapa hadis Rasulullah saw. seputar nilai dunia:

Dari Jabir ra, Rasulullah SAW bersabda,
"Demi Allah sungguh dunia ini lebih hina dalam pandangan Allah daripada bangkai kambing dalam pandangan kalian." (HR.Muslim)
Sahl bin Sa'ad As Sa'idy ra berkata, Rasulullah SAW bersabda,
"Andai kata dunia ini bernilai di sisi Allah sebesar sayap nyamuk, niscaya tidak akan diberikannya kepada orang kafir meski seteguk air." (HR.Tirmidzi)
Berikut ini ucapan Ali bin Abi Thalib kw. mengenai nilai kekuasaan:

"Ya, demi Allah, mereka telah mendengarnya dan memahaminya, tetapi dunia nampak berkilau di mala mereka dan hiasannya menggoda mereka. Lihatlah, demi Dia yang memilah gabah (untuk tumbuh) dan menciptakan makhluk hidup, apabila orang-orang tidak datang kepada saya, dan para pendukung tidak mengajukan hujah, dan apabila tak ada perjanjian Allah dengan ulama bahwa mereka tak boleh berdiam diri dalam keserakahan si penindas dan laparnya orang tertindas,
maka saya akan sudah melemparkan kekhalifahan dari bahu saya, dan memberikan orang yang terakhir perlakuan yang sama seperti orang yang pertama. Maka Anda akan melihat bahwa dalam pandangan saya dunia Anda ini tidak lebih baik dari bersin seekor kambing.

Dikatakan bahwa ketika Amirul Mukminin sampai di sini dalam khotbahnya, seorang lelaki dari 'Iraq berdiri dan menyerahkan kepadanya suatu tulisan. Amirul Mukminin melihat (tulisan) itu, dan ketika itu juga Ibn 'Abbas --semoga Allah meridai keduanya-- berkata, "Ya Amirul Muk­minin, saya harap Anda lanjutkan khotbah Anda dari mana Anda telah memutuskannya."

Atasnya ia menjawab,

"Wahai Ibn 'Abbas, hal itu seperti uap dengusan seekor unta yang menyembur keluar tetapi (kemudian) mereda." (Nahjul Balaghah, Khotbah 3)

Wednesday, October 08, 2008

'tetapi, aku ingin membunuhmu'

(What Perang Ahzab atau Perang Khandaq. Pasukan gabungan (ahzab) kaum musyrikin Mekkah dan Yahudi mengepung Madinah. Kaum muslimin membentengi kota Madinah dengan menggali parit (khandaq) mengelilingi kota. Where Madinah. When Sekitar tahun 5 Hijriyah. Who Ali bin Abi Thalib, panglima pasukan Rasulullah Saw, dan Amr bin Abdu-Wud, pendekar perang pasukan Mekkah)

Para pendekar perang Quraisy tidak sabar lagi untuk terus-menerus berhenti di luar kota Madinah. Apalagi mereka hanya melakukan pengepungan sambil menunggu akibat-akibat apa yang akan terjadi. Amr bin Abdu-Wud bersama Ikrimah bin Abu Jahal dan Dhirar bin al-Khathab kemudian mencari bagian parit yang paling dangkal lalu mencambuk kuda mereka untuk melintasi parit.

Melihat bahaya sudah di ambang pintu, kaum muslimin segera mengerahkan beberapa orang pasukan berkuda di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib guna membendung gerakan musuh yang melintas daerah pertahanan paling rawan itu.

Amr bin Abdu-Wud terkenal seorang pendekar perang yang berani dan gesit, kepadanya Ali bertanya:

"Hai Amr, kudengar engkau telah bersumpah, jika ada seseorang dari Qureisy yang mengajukan dua pilihan kepadamu, engkau bersedia memilih salah satu di antaranya, bukan?"

"Ya benar," jawab Amr.

"Seakarang engkau kuajak supaya bersedia memeluk Islam serta beriman kepada Allah dan rasul-Nya," kata Ali lebih lanjut.

"Aku tidak membutuhkan itu," sahut Amr.

"Kalau begitu, engkau kuajak duel," kata Ali.

"Apa?" sahut Amr dengan nada meremehkan Ali. "Demi Allah, aku tidak ingin membunuhmu."

"Tetapi, aku ingin membunuhmu," jawab Ali sambil menyerang kuda Amr kemudian dibantai.

Setelah itu, Ali turun dari kudanya, dan terjadilah pertarungan satu lawan satu. Pada akhirnya, Ali berhasil membunuh Amr. Melihat Amr jatuh terkapar, teman-temannya lari terbirit-birit menyeberangi parit kembali.*


----------------------
* Referensi: Muhammad al-Ghazali, Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad, Mitra Pustaka, Cet. V, April 2006.

Thursday, May 22, 2008

'..akan tetapi tidak ada nabi setelahku'

Pagi ini saya ingin sekali berbagi cerita mengenai "insiden" kecil menjelang keberangkatan Rasulullah dan pasukannya menuju Tabuk. Seperti tercatat dalam sejarah, dalam ekspedisi ke Tabuk itu Rasulullah memerintahkan Ali untuk mewakili beliau SAW untuk menjadi wali Kota Madinah. Baru kali itulah Nabi tidak mengikutsertakan Ali dalam pasukannya untuk berperang.

Dari sisi Nabi, keputusan beliau menunjuk Ali untuk menjaga Madinah adalah keputusan besar. Pertama, karena hal demikian berarti Nabi akan kehilangan salah satu pejuang paling tangguh untuk memperkuat pasukannya di Tabuk. Kedua, hal demikian menandakan bahwa Rasulullah lebih membutuhkan Ali untuk mempertahankan stabilitas keamanan dan politik dalam negeri (Madinah).

Pada waktu itu, Madinah memang masih rawan dari rongrongan kaum munafik (hipokrit/muka dua). Golongan munafik ini adalah salah satu musuh yang bagai duri dalam daging bagi kaum muslim di Madinah. Terhadap mereka, Rasulullah mengambil sikap yang sangat hati-hati karena di satu waktu mereka menunjukkan wajah islam mereka, tapi di lain waktu -- terutama di belakang Nabi -- barulah tampak wajah jahat mereka.

Kaum munafik telah menyusun rencana untuk menggoyang stabilitas Madinah seperginya Rasulullah bersama pasukan muslim ke Tabuk. Rasulullah yang mengetahui rencana buruk mereka itu kemudian memerintahkan Ali yang merupakan salah satu sahabat utama sekaligus anggota keluarga beliau untuk mengamankan Madinah dari upaya makar kaum munafik. Pemilihan Ali untuk menjaga Madinah adalah langkah yang sangat tepat mengingat banyaknya keutamaan beliau, terutama dalam hal keberanian dan kebijaksanaannya.

Kehadiran Ali di Madinah di saat Nabi SAW dan sebagian besar kaum muslimin pergi ke Tabuk telah mengacaukan rencana kaum munafik. Karenanya, mereka menebar isu miring bahwa Rasul tidak lagi memerlukan Ali dalam perang Tabuk karena perjalanannya yang panjang dan panas yang membakar. Mereka juga menebar kasak-kusuk bahwa Ali meminta untuk tinggal di Madinah dengan anak-anak kecil dan kaum wanita di saat semua orang pergi menanggung kesusahan ke Tabuk.

Mendengar isu itu Ali mengejar Nabi SAW sampai ke daerah Juhfah yang terletak beberapa kilometer dari kota Madinah. Kepada utusan Allah itu, Ali menyampaikan isu yang beredar di Madinah. Berikut kronologisnya seperti dituturkan Imam Bukhari dalam salah satu sahihnya:

"Bahwasanya Rasulullah saw berangkat menuju tabuk dan mengangkat Ali ra sebagai penggantinya di Madinah. Lalu Ali berkata, 'Apakah engkau mengangkatku untuk mengurusi anak-anak dan wanita? Beliau saw bersabda, 'Tidakkah engkau rela (wahai Ali), bahwa kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun terhadap Musa? Akan tetapi, tidak nabi setelahku.'"

Pada insiden di atas mungkin timbul kesan bahwa Ali hendak mempertanyakan perintah Rasulullah kepadanya dan tidak rela dengan hal itu. Saya berpendapat bahwa pertanyaan Ali bukan dimaksudkan agar Rasulullah mengoreksi perintah beliau sebelumnya. Bukan pula karena Ali merasa "dikecilkan" dengan perintah tersebut atau menganggap tugas "mengurusi anak-anak dan wanita" adalah hal yang sepele.

Insiden tersebut, menurut saya, menunjukkan betapa dahsyatnya isu yang ditiupkan oleh kaum munafik di Madinah sehingga Ali merasa perlu mendapat penegasan atau konfirmasi dari Rasulullah (mengenai ketidakbenaran isu tersebut). Di sisi lain, Ali juga perlu penegasan dari Rasulullah bahwa penunjukkan dia untuk menjaga Madinah dan tidak ikut dalam Perang Tabuk bukan karena permintaan Ali sendiri dan bukan juga lantaran dia takut (berperang).

Jawaban Rasulullah terhadap pertanyaan Ali meskipun singkat, tapi sangat tegas dan bermakna dalam. Hadis Rasulullah di atas termasuk apa yang dikenal sebagai jawami' al kalim (ucapan ringkas, tapi padat maknanya). Jawaban (retorika) Rasulullah kepada Ali tersebut mungkin dianggap tidak menjawab pertanyaan Ali. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya, itulah jawaban paling fasih yang menjawab inti dari pertanyaan Ali.

Seperti diketahui, Harun adalah kakak kandung Nabi Musa. Kisahnya di dalam Al-Qur'an selalu disebut bersama dengan kisah adiknya itu. Harun diangkat oleh Allah Swt. menjadi nabi dan rasul untuk membantu tugas kerasulan Nabi Musa. Ia mendampingi Nabi Musa menemui Fir'aun untuk meminta agar Fir'aun melepaskan Bani Israil dari perbudakan. Harun memiliki kemampuan berbahasa lebih fasih daripada adiknya. Karena itu, Musa memohon kepada Allah Swt. agar mengutus Harun mendampinginya menemui Fir'aun. Permohonan itu dimaksudkan untuk membenarkan kata-kata yang disampaikan Musa, karena ia khawatir Fir'aun akan mendustakannya.

Maksud ucapan Rasulullah kepada Ali bahwa "kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun terhadap Musa", menurut saya, adalah Ali merupakan pembantu Rasulullah dalam tugas-tugas kerasulan beliau saw. Hadis di atas juga menunjukkan keutamaan Ali di mata Rasulullah, terutama pada kalimat, "Akan tetapi, tidak nabi setelahku".

Demikian sepenggalan kisah yang sekali lagi melukiskan keagungan pribadi Nabi dan kebijaksanaan di balik apa-apa yang beliau lakukan dan ucapkan. Satu lagi barangkali, kisah di atas juga menunjukkan keutamaan Ali dalam perjuangan dan dakwah awal Islam. Wallahu 'alam.

Monday, April 28, 2008

signature

"Jadi bos itu nggak gampang," begitu yang pernah dikatakan salah satu teman. Setiap bos punya gaya atau signature masing-masing dalam mengelola kantornya dan juga para bawahannya, dia juga bilang begitu. Mungkin teman saya itu memakai kata signature (tandatangan) untuk menyebut ciri atau gaya khas seseorang yang sangat jarang ditemui pada orang lain (dan karenanya membedakan dia dari orang lain).

Banyak bos yang punya gaya atau pembawaan khas yang dirasakan nyaman oleh para bawahannya. Tapi, tidak sedikit juga bos yang punya gaya atau pembawaan yang sulit untuk diterima dengan baik oleh para bawahannya. Mungkin jenis bos yang disebut terakhir itulah yang paling sering dihindari kebanyakan orang. Apalagi, yang namanya signature atau pembawaan, pada umumnya sangat sulit untuk diubah.

Teman saya yang tadi itu juga bilang, kalau ada bawahan yang tidak bisa menerima gaya kepemimpinan dari bosnya itu, sebaiknya dia bersabar, karena siapa tahu bosnya itu akan berubah. Dan, kalau bosnya itu masih belum berubah dan si bawahan sudah tidak tahan dengan dia (karena itu memang sesuatu yang hampir mustahil berubah), sang bawahan setidaknya punya dua pilihan; (belajar) menerima dengan tanpa syarat gaya bosnya itu, atau keluar dari kantor tersebut.

Sementara itu, teman saya yang lain menceritakan pengalamannya memiliki bos yang barangkali memenuhi syarat untuk disebut "bos baik hati". Baik hati karena bosnya sering mentraktir makan bawahannya, kapan saja kalau diminta. Saya sendiri tidak tahu apakah itu dilakukan oleh sang bos karena pembawaannya yang memang murah hati atau hanya untuk mengambil hati bawahannya.

Saya tadinya berpikir jenis bos yang begitulah yang ideal, karena baik kepada bawahannya. Tapi ternyata teman saya bilang, bosnya itu disenangi karena mudah "disetir" bawahannya. Dari nada bicara teman saya, saya membaca kalau model kepemimpinan yang demikian tidak bisa disebut ideal. Teman saya juga setuju dengan pendapat teman saya yang satu lagi bahwa tiap bos punya signature yang terkadang tidak bisa diukur dengan timbangan "benar-salah".

Jadi, sepertinya benar perkataan bahwa jadi bos itu tidak gampang. Dan, tidak gampang pula menemukan bos yang benar-benar sesuai dengan selera kita. Mungkin yang perlu kita sadari bahwa setiap bos itu pada hakikatnya adalah bawahan juga. Kalau ada bos yang menganggap dan bertingkah-laku seolah-olah dia orang yang paling berkuasa di jagad raya ini, orang seperti itu tidak perlu kita sumpahi, tapi sepatutnya kita kasihani dan doakan supaya penyakitnya sembuh.

Dan, kita sebagai bawahan juga sebaiknya tidak main mutlak-mutlakan. Bos atau atasan mutlak salah, mutlak zalim, dan sebaliknya, kita sebagai bawahan mutlak benar dan mutlak dalam keadaan ditindas atasan. Imam Ali suatu kali pernah mengatakan kurang lebih, "Dahulu saya kira hanya penguasa yang dapat berbuat zalim kepada rakyat. Ternyata, rakyat juga dapat berbuat zalim terhadap penguasa".

Di akhir tulisan ini saya kutipkan salah satu resep Imam Ali yang sangat bermanfaat, sangat mudah diterapkan oleh kita -- yang pada hakikatnya adalah pemimpin (meski bukan bos, seperti halnya tidak semua bos adalah pemimpin) -- dan sangat perlu menjadi signature kita:

"Campurlah ketegasan dengan kelembutan. Bersikap lunaklah ketika kelunakan lebih memadai, dan bersikap tegaslah ketika ketegasan dibutuhkan. Rendahkan sayapmu bagi rakyatmu. Cerahkan wajahmu di hadapan mereka. Lembutkan sikapmu untuk mereka. Jangan membeda-bedakan perlakuanmu di antara mereka, baik dalam perhatian, tatapan, isyarat maupun ucapan salam. Sehingga dengan demikian "orang-orang penting" tidak mengharapkan penyelewenganmu demi kepentingan mereka; rakyat kecil pun takkan putus asa akan keadilanmu dalam memerhatikan nasib mereka."

Monday, April 14, 2008

putus

Pernah, dulu sekali, saya begitu tidak bisa menerima kata "putus" yang diucapkan oleh seseorang yang waktu itu saya sangat sukai. Itulah kata "putus" pertama yang pernah saya terima dari seorang pacar. Kata "putus" dari pacar pertama mungkin memang tidak mudah diterima oleh kebanyakan orang. Apalagi, kata "putus" itu datang pada waktu yang sangat tidak kita harapkan.

Kata "putus" yang kita terima mungkin lebih mudah diingat daripada kata yang sama yang keluar dari mulut kita. Artinya, kita lebih sering (atau mungkin hobi) mengingat-ingat saat-saat kita disakiti orang daripada saat-saat kita menyakiti orang lain. Saya begitu juga. Tapi, rasa-rasanya saya boleh bersyukur karena bukan termasuk orang yang menemukan kegembiraan dari perbuatan menyakiti (hati) orang lain.

Betul juga kalau dikatakan kalau kata "putus" tidak selalu menimbulkan efek yang sama kepada setiap orang atau pasangan, terutama dari pihak yang "diputuskan". Sudah lumrah terjadi kata itu malah sudah ditunggu lama. Dan, buat sebagian yang lain, kata "putus" jauh lebih indah daripada situasi "gantung". Kadang juga, kata "putus" merupakan bagian dari jawaban akan doa-doa kita karena apa yang terjadi setelahnya malah jauh lebih baik.

Kata "putus", tentu kita sudah tahu, bukanlah akhir dari sebuah hubungan, tapi sebaliknya merupakan awal. Karena, setiap awal itu adalah akhir, dan setiap akhir sejatinya adalah suatu awal. Artinya, boleh jadi benar bahwa "putus" mengakhiri satu hubungan (yang dulu), tapi kata itu juga menandakan lahirnya sebuah hubungan yang baru.

Kata "putus" harus diartikan putusnya hal-hal yang buruk yang pernah ada dalam sebuah hubungan. "Putus" sama sekali tidak boleh mengakhiri hal-hal baik yang sudah dibangun bersama-sama. Alasannya sebetulnya sederhana saja, segala hal yang putus pasti bisa disambung lagi. Bagi mereka yang memiliki pandangan yang jauh ke depan, "putus" justru dilihat sebagai satu tahapan penting dari dan demi (kematangan) sebuah hubungan.

Akhirnya, Saya ingin menutup curhat yang sangat tidak penting ini dengan sebuah kutipan yang sangat penting dari Ali bin Abi Thalib kw: "Bila kau berniat memutuskan hubungan dengan seorang kawan, tinggalkan kepadanya kenangan manis dirimu yang kelak akan membuka jalan kembali kepadamu di suatu saat, jika sewaktu-waktu ia ingin menjalin hubungan denganmu." Wallahu alam.

Wednesday, April 09, 2008

beyond victory


Bila kau beroleh kemenangan atas musuhmu, jadikanlah pengampunanmu atas dirinya sebagai ungkapan rasa syukur atas kemenangan itu

~ Ali bin Abi Thalib

Saya tidak tahu mana yang paling membuat saya bahagia pagi ini, membaca apresiasi dari seorang sahabat terhadap tulisan saya yang berjudul "tentang politik, perang dan tipu muslihat" ataukah ulasan dia terhadap tulisan itu yang, menurut saya, begitu lugas, mencerahkan dan -- melebihi semuanya -- sangat menawan.

Dia sudah memberikan saya izin untuk menampilkan tanggapan yang dia sampaikan melalui e-mail di blog ini. Saya melakukan sedikit penyuntingan yang sangat kecil atas isi e-mail di bawah yaitu terkait tanda baca dan ejaan. Itu saya lakukan semata-mata untuk menambah keasyikan dalam membaca. Dan, karena saya merasa kurang afdhal kalau tulisan ini tidak berjudul, maka saya beranikan diri untuk menambahkan judul untuk e-mail sahabat saya itu. Selamat menikmati.

beyond victory

Tulisannya mantap sekali. Namun, ada sebuah kritik dari gw. IMHO (in my humble opinion, amr), Ada perbedaan kata "tipu muslihat" dalam ucapan Ali as: “Demi Allah, Muawiyah tidak lebih cerdik dari saya. Tetapi, ia menipu dan melakukan kejahatan. Sekiranya saya tidak benci penipuan, maka tentulah saya menjadi paling cerdik dari semua manusia. Tetapi, setiap penipuan adalah dosa, dan setiap dosa merupakan pendurhakaan terhadap Allah" dengan hadits Rasulullah yang berbunyi: "perang adalah tipu muslihat".

Tipu muslihat dalam kalimat Ali harus dibaca dalam makna sebenarnya, yaitu cara-cara menipu dalam melakukan konfrontasi perang atau langkah politik. Tentu yang disindir Ali as adalah beberapa perbuatan Muawiyah seperti suka menyuap seseorang dengan menggunakan uang negara agar mau mengikuti dan menjadi pembela Muawiyah, suka mengingkari janji, memutarbalikkan fakta, dan mengambil langkah-langkah yang menguntungkan secara politis walaupun melanggar hukum Islam.

Dengan kalimat Ali as di atas, seakan-akan Sayyidina Ali as ingin mengatakan kepada pengikutnya, bahwa Ali as mengetahui secara detail setiap tindakan Muawiyah. Dan jikalau langkah-langkah Muawiyah dibenarkan secara agama - suatu hal yang mustahil -, akan menjadi mudah bagi Ali as untuk mengikuti langkah-langkah Muawiyah dan mengalahkan Muawiyah. Namun, karena tujuan Ali as bukanlah memenangkan peperangan semata-mata, tetapi lebih tinggi dari itu, yaitu selalu konsisten di dalam jalan Allah dan Rasulullah.

Langkah Ali as yang selalu konsisten tersebut, dapat dibaca sesaat beliau as diangkat menjadi Khalifah. Langkah mula-mula yang beliau ambil adalah langsung memecat Muawiyah dan konco-konconya. Sebuah langkah yang mendapat tantangan dari orang terdekat beliau seperti Ibnu Abbas. Ibnu Abbas menyarankan agar beliau menunda pemecatan tersebut, karena menurut pemikiran Ibnu Abbas, langkah tersebut tidak bisa dibilang cerdas.

Kekhalifan Ali as barulah seumur jagung, sedangkan kekuatan Muawiyah sudah ber-urat akar di Syuriah selama 12 tahun. Mencopot Muawiyah, sama saja memaklumkan perang. Tetapi, karena pribadi Ali as sangat berbeda jauh dengan pribadi Ibnu Abbas, tidak mengeherankan jika usul tersebut ditolak. "Demi Allah, aku tidak dapat membiarkan Muawiyah duduk di singgasananya walaupun satu detik, sementara aku membiarkan orang-orang tertindas di luar sana", jawab Sayyidina Ali.

Bagi Ali as, urusan Muawiyah tidak semata-mata urusan politik jikalau harus mengorbankan hak-hak orang banyak. Secara politis, langkah pemecatan Muawiyah jelas tidak cerdik. Ali as tentu sadar akan hal ini, walaupun tanpa bantuan pendapat Ibnu Abbas sekalipun. Tetapi, membiarkan Muawiyah duduk di singgasananya, sama saja melakukan penipuan dan melakukan kejahatan, karena ada hak-hak orang banyak di sana yang tertindas. Sekiranya, melakukan kejahatan dan penipuan itu kita sebut sebagai kecerdikan, dan penipuan itu dibolehkan oleh agama, maka Sayyidina Ali as tentulah manusia yang paling cerdik, sebagaimana klaim Ali as di atas.

Adapun maksud hadits Rasulullah yang berbunyi: "perang adalah tipu muslihat" adalah -- dalam laga peperangan -- anda dibolehkah melakukan strategi perang atau "tipu muslihat" perang demi meraih kemenangan. Tentu kata tipu muslihat berbeda makna dengan kata tipu muslihat dalam ucapan Ali as. Bukankah Rasulullah SAW melarang setiap prajurit perang untuk membakar tumbuh-tumbuhan, membunuh hewan-hewan, meracun sumber air, merusak ladang-ladang, membunuh anak-anak-wanita-orang tua dan membunuh para pemuka agama di tempat peribadatannya? Bukahkah Rasulullah melarang untuk mengingkari janji perdamaian dengan pihak musuh walaupun hal tersebut membawa keuntungan?

Jika "tipu muslihat" dalam makna sebenarnya dibolehkan, tentulah merusak ladang, meracun air, membunuh anak-anak-wanita-orang tua dibolehkan. Karena jika langkah tersebut dilakukan, pastilah akan membawa efek mematikan bagi pihak musuh. Jadi, tipu muslihat di sini haruslah dilihat dalam konteks strategi peperangan, sebuah strategi kapan saat yang tepat untuk menyerang, menyergap dan bertahan secara efektif dan efisien.

Begitulah yang saya pahami Amri...

Best regards

~subchan

Monday, March 31, 2008

tentang politik, perang dan tipu muslihat


Wahai dunia, tipulah selain diriku
~ Ali bin Abi Thalib

Dalam sejarah Islam kita tidak akan menemukan satu tokoh pun, setelah Rasulullah, yang begitu gandrung akan perdamaian kecuali Ali bin Abi Thalib. Cinta beliau akan perdamaian dan keadilan sedemikian besarnya sampai-sampai sulit untuk dipahami dengan "logika" kebanyakan orang. Sikap itu antara lain dapat dilihat dari bagaimana beliau menjalankan strategi politik dan perang yang bebas tipu muslihat.

Ali boleh dikatakan mengharamkan diri dan para panglimanya untuk menggunakan tipu muslihat dalam setiap peperangan yang dia hadapi. Hal itu sangat berlawanan dengan apa yang dilakukan oleh Gubernur Suriah, Muawiyah, yang memberontak dari kekhalifahan Ali. Tujuan menghalalkan cara (end justifies means), begitu kurang lebih prinsip Muawiyah. Karena itu dia bersama penasihat politiknya yang luar biasa cerdik, Amr bin Ash, menghalalkan seribu-satu tipu muslihat untuk menggerogoti kedaulatan Ali.

"Demi Allah, Muawiyah tidak lebih cerdik dari saya. Tetapi, ia menipu dan melakukan kejahatan. Sekiranya saya tidak benci penipuan, maka tentulah saya menjadi paling cerdik dari semua manusia. Tetapi, setiap penipuan adalah dosa, dan setiap dosa merupakan pendurhakaan terhadap Allah," demikian antara lain dikatakan Ali untuk menjawab anggapan bahwa Muawiyah lebih pandai berpolitik ketimbang dirinya.

Sepertinya kita tidak dapat begitu saja membaca ucapan Ali tentang pengharaman tipu muslihat di atas. Pasalnya, ucapan tersebut sangat kontradiktif dengan diri Ali dan tidak bersesuaian dengan apa yang pernah dikatakan oleh Rasulullah. Saat Perang Ahzab, Rasulullah pernah mengatakan bahwa perang adalah tipu muslihat. Jadi, memang dibolehkan untuk melakukan tipu muslihat dalam perang seperti yang Rasulullah lakukan dalam Perang Ahzab.

Ali hadir pada Perang Ahzab dan mengetahui ucapan Rasulullah tersebut. Jadi, setidaknya ada dua kemungkinan; Pertama, ucapan tersebut bukan dari Ali atau jika sebagian kalimat tersebut diucapkan oleh Ali tapi tidak dikutip sebagaimana ucapan yang sebenarnya. Untuk memastikan kemungkinan ini, berarti kita mempertanyakan otentisitas atau keaslian Nahjul Balaghah yang berisi pidato, surat, serta ucapan-ucapan Ali bin Abi Thalib yang disusun oleh Sayyid ar-Radhi. Menurut saya, kemungkinan pertama ini kecil karena Nahjul Balaghah termasuk buku yang dijamin keasliannya oleh banyak pakar sejarah, syiah dan sunni.

Kemungkinan kedua, ucapan tersebut merupakan ucapan Ali yang beliau ucapkan dengan penuh kesadaran dan pengetahuan penuh akan hadis Nabi bahwa tipu muslihat dalam peperangan itu dihalalkan. Kalimat itu diucapkan karena Ali tahu benar bahwa musuh yang dia hadapi saat itu sangat berbeda dengan musuh yang dihadapi oleh Rasulullah. Dan juga, sebab dan motif dari peperangan yang dialaminya kala itu tidak sama dengan yang pernah terjadi di zaman Rasulullah.

Jika membaca kisah perjalanan hidup atau biografi Ali kita akan mengetahui bahwa beliau adalah salah satu sahabat yang memiliki tingkat kehati-hatian yang tertinggi dalam mengambil atau menetapkan sebuah garis hukum. Karena itulah mungkin Ali sangat berhati-hati dalam menerapkan garis hukum dari Rasulullah bahwa perang adalah tipu muslihat. Musuh yang dihadapi Ali ketika menjadi khalifah bukanlah kaum musyrik atau penyembah berhala, tapi saudara sesama muslim. Tujuan atau motif peperangan saat itu juga bukan demi agama, tapi lebih kepada soal politik/kekuasaan.

Ali bukanlah sosok yang gila akan kekuasaan seperti lawan politiknya Muawiyah. Kekuasaan, buat Ali, bukanlah tujuan melainkan hanya salah satu kendaraan untuk mencapai keadilan, kebenaran, dan kemaslahatan bagi rakyat yang ia pimpin. Ali tidak ingin memperoleh atau melestarikan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara, termasuk menumpahkan darah manusia yang tidak berdosa. Ali juga bukan sosok yang haus darah yang dengan mudahnya menabuh genderang perang, sekalipun keadaan pasukannya jauh lebih menguntungkan daripada pihak musuh. Ali juga bukan orang yang takut mati sekalipun di saat keadaan pasukannya lebih lemah daripada pihak musuh. Dalam salah satu pidatonya, Ali mengatakan:

"Tentang pertanyaan kalian apakah penundaan perang itu karena ketidaksukaan saya pada kematian, maka demi Allah, saya tidak peduli apakah saya menuju maut atau maut mendatangi saya. Tentang kesan kalian bahwa itu mungkin disebabkan kekhawatiran saya terhadap orang Suriah, demi Allah, saya tidak menunda perang walaupun cuma sehari kecuali dengan harapan suatu kelompok mungkin bergabung dengan saya, memperoleh petunjuk melalui saya, dan melihat cahaya pada diri saya dengan mata mereka yang lemah. Ini lebih saya sukai daripada membunuh mereka dalam keadaan tersesat, walau mereka tentunya akan memikul dosa mereka sendiri."

Dalam Perang Shiffin, pasukan Muawiyah sempat menguasai sumber air dan mencegah pasukan Ali untuk mendapatkan air. Kemudian, waktu pasukan Ali berhasil merebut sumber air tersebut, Ali malah membiarkan pasukan Muawiyah ikut mengambil minum dari tempat itu. Demikianlah Ali. Menurut Ali, jika kita sulit bertindak adil, maka kita pasti akan lebih sulit lagi mengurusi ketidakadilan. Wallahu 'alam.

Wednesday, February 27, 2008

akhir yang baik

Salah satu kaidah dalam memberikan nama kepada anak kita, dari yang saya tahu, adalah menghindari mengambil nama dari seseorang/tokoh yang masih hidup. Alasannya adalah karena kita belum mengetahui bagaimana akhir dari hidup dan kehidupan orang itu. Jika hari ini seseorang dielu-elukan karena kelurusan pribadinya, belum tentu dia akan tetap lurus hingga ajal menjemputnya.

Dalam bingkai yang lebih besar, kaidah di atas menyimpan pesan bahwa setiap manusia yang masih bernafas itu belum final. Orang yang baik belum final kebaikannya dan orang yang jahat juga belum final ke-jahat-annya. Karena itu, kalau ada orang yang kita anggap baik, tolonglah jangan terlalu mengultuskannya atau memuji-mujinya sampai ke langit. Begitu juga, kalau ada orang jahat cukup dicela perbuatannya saja, iya perbuatannya saja, karena orangnya sewaktu-waktu bisa berubah baik.

Dalam konteks ini ada contoh yang baik yang dapat diambil dari Imam Ali bin Abi Thalib. Beliau memiliki beberapa putra yang diberi nama mengikuti nama sahabat-sahabat utama Rasulullah di antaranya Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Hal demikian beliau lakukan selain sebagai tanda kecintaan Imam Ali kepada ketiga khalifah yang lurus (khulafa ar-rasyidin) itu, tapi juga karena ketiganya tetap lurus hingga akhir hayat mereka.

Saya misalnya, di satu sisi termasuk salah satu orang Indonesia yang mengagumi Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad. Tapi di sisi lain, saya agak menahan diri untuk memberi nama anak saya, kalau dia laki-laki misalnya, dengan 'Ahmadinejad'. Mungkin saya akan mengambil satu atau lebih sifat baik yang saya kagumi dari Ahmadinejad, untuk dijadikan nama anak saya kelak. Sifat-sifat baik, seperti pemberani, bijaksana, adil, atau lemah-lembut, bisa dimiliki dan harus dicita-citakan untuk dimiliki oleh siapa saja.

Akhirnya, kita diajarkan untuk berdoa agar Tuhan menganugerahkan kita akhir yang baik (husn al khatimah), dan agar kita dapat menjadi teladan bagi orang lain, bukan cuma hari ini, tapi juga sampai ujung usia kita. Wallahu 'alam.

Tuesday, December 18, 2007

imej

"Sebuah perusahaan yang imej-nya kurang baik di mata masyarakat, terkadang pada kenyataannya perusahaan itu memiliki manajemen yang baik di dalam. Sebaliknya, ada pula perusahaan yang imej-nya baik di masyarakat, tapi ternyata di dalamnya manajemennya amburadul."

Itulah kurang lebih yang pernah dikatakan oleh pakar manajemen Rhenald Kasali dalam sebuah diskusi di salah satu radio. Apa yang dia sampaikan bisa dikupas panjang lebar dengan menggunakan beragam pisau analisis atau disiplin ilmu yang boleh jadi saya tidak kuasai. Pandangan di atas saya kutip hanya untuk menggambarkan betapa imej (image, citra) merupakan hal yang penting. Tapi di sisi lain, imej bukanlah segala-galanya karena imej bisa direkayasa.

Dikisahkan bahwa pemimpin revolusi Islam Iran Ayatullah Ruhullah Imam Khomeini pernah di-imej-kan oleh sebagian orang sebagai pemimpin yang kurang ramah. Setelah disampaikan kepada beliau tentang hal itu, Khomeini menjawab. "Ini adalah tipu daya setan. Sesungguhnya, jiwaku sendiri mengajakku bersikap lebih ramah terhadap mereka agar jumlah orang yang menyukaiku bertambah banyak. namun, agar ajakan ini menarik bagiku, setan berkata, 'Ini demi Allah dan Islam!' Karena itulah aku tidak bisa melakukannya."1

Demikianlah imej di mata Imam Khomeini sebagai seorang sufi. Secara sederhana, apa yang diungkapkan oleh Khomeini dalam kasus di atas adalah perang di batinnya soal niat beliau untuk bersikap ramah kepada orang lain. Akhirnya, beliau sendiri memilih dianggap tidak ramah kepada orang lain daripada menuruti bisikan setan saat itu yang mendorongnya untuk bersikap ramah agar disukai oleh banyak orang. Khomeini bukanlah manusia yang "tergila-gila" akan imej di mata manusia. Imej di hadapan Allah lah yang beliau senantiasa jaga.

Ada pula cerita tentang Bayazid (Abu Yazid al Busthami), salah seorang sufi terkenal, yang berani "mengorbankan" imejnya sebagai seorang guru sufi yang dihormati banyak orang. Pada suatu hari, ketika ia pulang dari Mekah, ia singgah di kota Rey di Iran. Penduduk kota yang sangat menaruh hormat padanya, keluar mengelu-elukannya sampai seluruh kota menjadi gempar.

Bayazid, yang sudah jenuh akan pendewaan serupa itu, menunggu hingga ia sampai di pinggir pasar. Di sana ia membeli sepotong roti, lalu mulai memakannya di muka umum. Padahal waktu itu bulan puasa. Akan tetapi Bayazid yakin, bahwa dalam perjalanan ia tidak terikat pada peraturan-peraturan agama. (Orang yang dalam safar tidak diwajibkan berpuasa)

Tetapi para pengikutnya tidak berpikir demikian. Maka mereka begitu dikecewakan oleh perbuatan itu, sehingga mereka semua segera meninggalkannya dan pulang. Bayazid dengan rasa puas berkata kepada salah seorang muridnya: "Lihat, begitu aku berbuat sesuatu yang berlawanan dengan harapan mereka, rasa hormat mereka terhadapku hilang lenyap."2

Demikianlah kebanyakan dari kita, begitu gemar mengkultuskan (mendewa-dewakan) manusia lainnya. Saat "sang pujaan" melakukan hal-hal yang kita harapkan, kita pun memujanya sedemikian rupa yang dapat membuat orang tersebut terjerumus ke dalam rasa bangga diri, sombong, dan takabur. Tapi, giliran orang tersebut melakukan sesuatu yang tidak kita harapkan atau tidak kita sukai, kita pun meninggalkannya atau bahkan menistainya. Naudzubillah.

Dalam salah satu munajatnya, Imam Ali bin Abi Thalib memanjatkan doa berikut:

"Ya Allah, ampunilah aku tentang apa yang
Engkau
ketahui pada diriku.
Ya Allah, kalau aku kembali melakukan
kesalahan,
maka kumohon kembali jugalah
kepadaku
dengan pengampunan.

Ya Allah, ampunilah isyarat-isyarat buruk
yang kulakukan,
kesalahan-kesalahan kata
yang kuucapkan,
keinginan nafsu yang
kupendam,
dan ketergelinciran lidah yang
terlontarkan."


Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik daripada
apa yang diduga orang dan
ampunilah
dariku apa yang mereka tidak ketahui.
"3


-----------------------------
Referensi:
1. "Potret Sehari-hari Imam Khomeini", penerbit Pustaka IIman, Cetakan II, Januari 2007.
2. "Burung Berkicau", Anthony de Mello SJ, Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994.
3. "Yang Sarat & Yang Bijak", M. Quraish Shihab, Penerbit Lentera Hati, September 2007.

Friday, October 05, 2007

I am for everybody

Samar-samar saya ingat pernah membaca bahwa Imam Ali bin Abi Thalib suatu saat pernah mengatakan bahwa Rasulullah tidak pernah mengkhususkan dirinya bagi kaum tertentu, bahkan bagi keluarganya sekalipun. Tapi sebaliknya, perhatian, kasih-sayang, kelembutan, maupun keramahan yang Rasulullah berikan kepada seseorang sedemikian besar dan mendalamnya sehingga membuat orang tersebut beranggapan semua berkah itu hanya beliau khususkan baginya saja. Jiwa dan hati Rasulullah adalah untuk setiap manusia.

Boleh jadi kita tidak pernah lagi menemui seorang pemimpin yang begitu dicintai oleh umatnya. Sebagai pemimpin boleh dikatakan beliau mengharamkan dirinya untuk mengambil jarak dari umatnya. Jika saja keluarga beliau tidak memiliki hak atas waktu dan kasih-sayang beliau pula, sudah pasti beliau akan mencurahkan semua waktu, harta, cinta-kasih, perhatian, dan ilmu beliau sepenuhnya untuk seluruh muslim. Tidak akan pernah kita baca dalam sirah atau biografi Rasulullah di mana beliau ditakuti akan kekejaman atau kekerasan hatinya.

Tidak pernah Rasulullah membeda-bedakan perlakuan terhadap orang yang kaya atau miskin, yang kedudukannya tinggi atau rendah, majikan atau hamba sahaya, tua atau muda. Tidak pernah beliau meminta agar dirinya diistimewakan, dikecualikan dari pekerjaan-pekerjaan yang dikerjakan oleh manusia lainnya. Beliau ikut mencari ranting untuk dijadikan kayu bakar bersama para sahabatnya, beliau ikut bermandikan peluh saat menggali parit waktu Madinah menghadapi ancaman tentara Quraisy, pula beliau mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya.

Sebaik-baik pemaksaan atas diri manusia adalah pemaksaan untuk meniru sedapat mungkin kebaikan, kemuliaan, dan ketinggian akhlak beliau. Setidak-tidaknya, kita harus dapat memaksakan diri untuk tidak mengkhususkan diri kita kepada orang-orang tertentu, melainkan membagi waktu, perhatian, kasih-sayang, kelembutan, maupun keramahan kita kepada sebanyak mungkin orang. Sebagaimana Rasulullah begitu dicintai karena kebesaran dan keluasan cintanya, paksakanlah diri kita untuk selalu takut untuk membuat orang takut akan kebengisan atau kekerasan hati kita. Wallahu 'alam.

Wassalam,

amrie

Tuesday, September 25, 2007

Akhlak seorang pemimpin

Tips-tips seorang pemimpin yang adil dari Imam Ali kw.*:
  1. Jangan sekali-kali merasa bangga akan dirimu sendiri atau merasa yakin akan apa saja yang kaubanggakan tentang dirimu.
  2. Jangan jadikan dirimu sebagai penggemar puji-pujian yang berlebihan. Yang demikian itu merupakan kesempatan terbaik bagi setan untuk menghancur-luluhkan hasil kebajikan orang-orang yang berbuat baik.
  3. Jangan mengungkit-ungkit kebaikan yang kaulakukan untuk rakyatmu atau membesar-besarkan jasa yang pernah kauperbuat, atau menjanjikan sesuatu kepada mereka lalu kau tidak memenuhinya.
  4. Perbuatan mengungkit-ungkit suatu kebajikan, memusnahkan pahalanya.
  5. Membesar-besarkan kebaikan diri, menghilangkan sinar kebenarannya.
  6. Menyalahi janji, menghasilkan kebencian di sisi Allah dan di sisi manusia.
  7. Jangan tergesa-gesa mengerjakan sesuatu sebelum waktunya, atau melalaikan di saat kau mampu melakukannya.
  8. Jangan pula memaksakan diri ketika masih diliputi keraguan, atau kehilangan semangat bila telah jelas kebaikannya.
  9. Letakkanlah segala sesuatu pada tempatnya yang selayaknya dan kerjakanlah segala sesuatu pada waktunya.
  10. Jangan mengkhususkan dirimu dengan sesuatu yang menjadi hak bersama orang banyak.
  11. Jangan berpura-pura tidak mengetahui sesuatu yang sudah jelas bagi setiap penglihatan. Hal itu pasti akan diambil kembali darimu untuk mereka yang lebih berhak. Dan sebentar lagi akan tersingkap penutup segala yang bersangkutan denganmu, dan setiap orang yang kaulanggar haknya pasti akan direnggutkan kembali haknya itu darimu.
  12. Kendalikan luapan amarahmu, kekerasan tindakanmu, kekejaman tanganmu, dan ketajaman lidahmu.
  13. Jagalah keselamatan dirimu dengan menahan gejolak emosimu dan menagguhkan hukumanmu sampai saat redanya kembali amarahmu. Sehingga dengan begitu kau mampu memilih yang paling bijaksana.
  14. Bahkan tidak memutuskan sesuatu kecuali setelah cukup menyibukkan hatimu dengan mengingat saat kau dikembalikan kepada Tuhanmu kelak.
  15. Rendahkanlah sayapmu bagi rakyatmu, lunakkan sikapmu untuk mereka, cerahkan wajahmu di hadapan mereka.
  16. Jangan membeda-bedakan perlakuanmu terhadap mereka walaupun dalam lirikan dan pandangan mata. Sedemikian rupa sehingga “orang-orang penting” tidak timbul keserakahannya mengharapkan penyelewenganmu demi kepentingan mereka, dan kaum lemah tidak menjadi putus asa akan keadilanmu demi membela nasib mereka.
  17. Jangan berpura-pura mengerjakan ketaatan untuk Allah secara terang-terangan, dengan maksud melakukan pembangkangan secara sembunyi.
  18. Barangsiapa telah menyamakan antara perbuatannya yang rahasia dan terbuka, serta antara tindakan dan ucapannya, maka sesungguhnya ia telah menunaikan amanat dan mengikhlaskan pengabdian kepada Allah SWT.
  19. Jangan sekali-kali memperlakukan rakyat dengan cara yang kasar dan keji. Jangan menjauhkan diri dari mereka disebabkan Anda merasa lebih mulia sebagai penguasa atas mereka.
---------------------
* Dikutip dari Mutiara Nahjul Balaghah.

Wednesday, June 20, 2007

penulisan dan membaca sejarah ali

Berikut ini adalah e-mail saya kepada seorang sahabat yang sama-sama penyuka buku sejarah, khususnya sejarah Nabi dan empat khalifah yang lurus (khulafa ar-rasyidin).

Subject: penulisan dan membaca sejarah ali

Dear S*****,

Berikut ini ada artikel yang gw ambil dari Kompas yang judulnya "Penulisan Sejarah dan Penelitian Makam Keluarga Yesus". Menurut gw, tulisan ini bagus banget buat kita yang suka membaca buku-buku sejarah, terutama sejarah Rasul dan Ali. Khusus terkait Ali, artikel ini jadi relevan karena pendekatannya menjelaskan model penulisan sejarah buku Dinasti Umawiyah yang gw baru selesai baca.

Secara umum, buku itu adalah buruk, menurut gue. Bukan karena penulisnya cenderung mengecilkan (peran) Ali dan membesar-besarkan (peran) Muawiyah sebagai pemimpin yang berhasil dalam sejarah Islam. Tapi, karena metode penulisannya yang tidak konsisten. Misalnya, dia dengan tegas menolak hadis mengenai kronologis terbunuhnya Usman yang berasal dari perawi yang Syiah. Penolakannya itu, seperti dia akui sendiri, semata-mata karena perawinya Syiah sehingga sang penulis khawatir sang perawi tidak "netral" atau condong mendiskreditkan bani Umayyah dalam tragedi pembunuhan Usman. Walaupun, kronologis dari perawi Syiah ini jauh lebih lengkap dibanding perawi dari sisi Sunni. Namun, pada bab yang berbeda dia merujuk pada hadis dari perawi Syiah yang sama di saat dia tidak punya sumber lain yang bisa dia rujuk. Di sisi lain, daya kritis si penulis agak kendur saat berhadap-hadapan dengan hadis/riwayat dari sisi Sunni.

Menurut gue, seharusnya si penulis menjabarkan riwayat atau versi baik dari sisi Sunni maupun Syiah. Nanti biar pembaca yang menilai sendiri mana yang paling mendekati kebenaran. Itulah yang dilakukan Thaha Husain dalam buku Fitnatul Kubra yang betul-betul mengagumkan. Memang daya kritis Thaha Husain di buku itu membuat dia jadi kontroversial karena lugas mengkritik sahabat-sahabat Nabi. Tapi, itupun dia lakukan karena tidak ada cara lain untuk menganalisis tragedi pembunuhan Usman tanpa menyoroti sosok dan peran tiap-tiap orang yang terlibat atau hidup di masa itu. Kalau dibanding Fitnatul Kubra, buku Dinasti Umawiyah kualitas penulisannya bisa disebut menyedihkan.

Tapi, ada satu hal yang gw dapat dari buku Dinasti Umawiyah yaitu mengenai penulisan sejarah seputar pembunuhan Usman yang betul-betul lepas dari unsur teologi. Ini mungkin mendekati teori penulisan sejarah yang ditulis di artikel terlampir: "...asumsi dasariah dalam penulisan sejarah adalah segala sesuatu dapat terjadi dalam dunia ini hanya karena sebab-sebab empiris natural, sosiologis, dan kultural." Sosok Ali misalnya, digambarkan sebagai pemimpin yang gagal dalam berpolitik, tapi kesalehannya sebagai pemimpin tidak ada tandingannya pada masanya. Sebaliknya, sosok Muawiyah ditulis sebagai sosok pemimpin yang berhasil meski tidak memiliki kesalehan seperti Ali. Muawiyah (dan Marwan) juga digambarkan sebagai pemimpin yang nyaris tanpa cela dan tangannya bersih dari darah Usman.

Penggambaran sosok Ali yang demikian sedikit sekali gw dapet dari buku-buku koleksi gw yang lain yang kebanyakan lebih condong kepada Ali. Dalam menulis tentang Ali, buku-buku yang kebanyakan diterbitkan penerbit bermazhab "ahlul bait", mereka mungkin boleh dibilang belum dapat melepaskan pendekatan teologi. "Di dalam teologi (khususnya di dalam agama-agama monoteistik), penyebab-penyebab sebuah kejadian dalam dunia dijelaskan tidak terlepas dari keterlibatan Allah di dalamnya, keterlibatan faktor nonempiris supernatural, nonsosiologis, dan nonkultural. Jikalau seorang sejarawan menulis sebuah uraian sejarah dengan ke dalamnya ia melibatkan intervensi Allah ke dalam dunia kodrati, maka ia berhenti menjadi seorang sejarawan, berubah menjadi seorang teolog, dan karya tulisnya berubah menjadi sebuah teologi."

Nah, salah satu buku sejarah Ali yang mungkin berkualitas dalam hal penulisannya, meski belum bisa disandingkan dengan Fitnatul Kubra tapi jauh lebih baik dibandingkan Dinasti Umawiyah, adalah buku Ali bin Abi Talib yang ditulis Ali Audah. Buku ini diterbitkan bukan oleh penerbit bermazhab ahlul bait, tapi oleh penerbit yang sebelumnya menerbitkan buku-buku biografi Rasulullah, Abu Bakar, Umar, dan Usman karya M.H. Haekal.

Akhir kata, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca e-mail gw yang panjang lebar ini. Mohon luangkan waktu sekali lagi untuk menuliskan pendapat lo tentang pandangan di atas.

Wasalam,

amrie

Wednesday, June 06, 2007

utang

Salah satu “kebijakan ekonomi” yang diterapkan lumayan ketat di keluarga kecil kami adalah menahan diri (sekuat mungkin) dari membuat utang. Atas dasar itu, saya melarang diri saya sendiri dan istri untuk membuka rekening kartu kredit, walaupun makin hari makin banyak teman, tetangga dan rekan kerja di sekeliling kami yang menggunakan kartu kredit. Alhamdulillah, kami belum tergoda untuk mengisi aplikasi kartu kredit di bank manapun. Untuk yang satu ini, kami siap untuk menjadi orang kuno. Kalaupun sikap kami yang menghindari kartu kredit dan alergi untuk berutang dianggap "kampungan", kami rela, insya Allah.

Meski begitu, bukan berarti kami tidak pernah membuat utang sama sekali. Sejauh ini, kalaupun harus berhutang, kami menghindari membuat utang dengan bank atau lembaga keuangan lain. Itu kami lakukan karena takut akan (sistem) bunga (yang berbunga) di bank dan juga karena dana yang kami perlukan sejauh ini tidak terlalu besar, alhamdulillah. Kalau saya tidak salah, kami pernah meminjam uang dari koperasi di kantor istri. Selain berbunga ringan, sistem peminjaman dana di koperasi tersebut sedemikian rupa memungkinkan si peminjam memperoleh kembali (dalam porsi tertentu) bunga yang pernah dibayarkan lewat sisa hasil usaha yang dibagikan setiap tahun.

Kalaupun harus meminjam uang, itupun kami lakukan, sebisa mungkin, untuk keperluan yang sangat sangat penting. Artinya, kami berusaha keras untuk tidak berutang demi hal-hal yang konsumtif. Seingat saya, kami tidak pernah berutang untuk membeli televisi, sekalipun televisi di rumah kami sudah berkurang performa visualnya, kami cukup sabar untuk tidak berutang untuk membeli DVD player atau perangkat home theater yang berkualitas tinggi sekalipun saya adalah penggila dvd, bahkan saya juga sangat menahan diri dari mengkredit motor baru untuk mengganti motor yang sudah hampir enam tahun terakhir saya gunakan. Waktu itu, kami berutang dari koperasi untuk merenovasi rumah.

Imam Ali bin Abi Thalib pernah berucap bahwa sedikitnya tanggungan keluarga adalah sebagian dari rezeki (tolong koreksi jika saya salah kutip). Dari hikmah itu mungkin kita bisa pula mengatakan bahwa sedikitnya tanggungan (beban) utang adalah sebagian dari rezeki. Saya berdoa memohon kepada Allah yang Mahakaya untuk memelihara wajah kami dari kemiskinan dan hinanya kegemaran berhutang, serta memberikan kepada kami rezeki yang halal dan cukup. Amiin.

Wallahu a'lam.

Friday, April 27, 2007

ketik: 'saya syiah'

Aku telah memberikan cintaku kepadanya, padahal ia musuhku dan mempunyai rencana-rencana jahat terhadapku.”* (Imam Ali bin Abi Talib)

Jumat pekan lalu, kalau saya tidak salah, saya chatting via Yahoo! Messenger (YM) dengan salah satu sahabat baik saya. Seperti yang sering terjadi, YM sahabat saya ini bermasalah sehingga chatting kami jadi sering mati-hidup. Saat kami sedang chatting, rupanya sahabat saya ini khawatir YM-nya offline lagi, sehingga dia menulis pesan ke saya yang kurang lebih berbunyi seperti ini: “Am, YM gue kayaknya error lagi. Tolong ketik ‘saya syiah’ kalo elo terima pesan ini”.

Waktu itu, saya buru-buru akan melakukan apa yang sahabat saya ini minta. Tapi, kemudian saya berpikir kok kata-kata yang diminta aneh betul, “saya syiah”. Apa nggak ada kata sandi yang lain? Akhirnya, karena sedang dimintakan tolong, saya tulis pesan ke sahabat saya begini: “saya” (tanpa pakai kata “syiah”). Dan pesan saya itu sampai. Setelah itu saya tanya ke dia, kenapa kok kata sandinya “menyudutkan” saya (dia tahu saya bercanda dan saya juga tahu dia sedang bercanda). Kalau tidak salah, dia cuma tulis “hehehehe” di jawabannya.

Sahabat saya itu dan beberapa sahabat yang lain tahu benar kalau saya adalah pengagum Imam Ali bin Abi Talib. Seperti yang sudah lazim diketahui, pengagum atau pecinta Imam Ali sering diidentikan dengan (penganut) syiah. Meski begitu, saya bukan penganut syiah. Karena, menurut hemat saya, Imam Ali tidak “satu paket” dengan syiah. Artinya, untuk menjadi pengagum dan pecinta beliau tidak harus menjadi seorang syiah, walaupun seorang syiah pasti menjadikan Imam Ali sebagai junjungannya setelah Rasulullah saw. Tapi, ya, Imam Ali adalah suri teladan saya setelah Rasulullah.

Kembali ke sahabat saya yang tadi itu, pada hari yang sama dia memberikan saya hadiah buku (dalam rangka ulang tahun, katanya). Judul bukunya “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Tinjauan dari Segi Ajaran dan Pemikiran” bukunya ditulis M. Quraish Shihab, dan diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati (cetakan I, Maret 2007). Bukunya bagus. Bagus sekali. Mungkin ini adalah salah satu koleksi terbaik saya di antara koleksi (di bawah topik yang berkaitan dengan Imam Ali dan syiah) yang lain yaitu “Mutiara Nahjul Balaghah: Wacana dan Surat-surat Imam Ali R.A.”. Saya bilang ke dia, terima kasih banyak, saya sangat senang dengan hadiah yang dia berikan.

Saya punya sahabat seorang syiah. Bahkan, saya menganggap dia sebagai sahabat saya yang paling dekat. Sebelumnya dia juga adalah seorang sunni. Saya dan dia sama-sama mengagumi Imam Ali. Hanya saja, kemudian dia memutuskan untuk mendalami dan akhirnya menjadi (penganut) syiah, sementara saya cukup menjadi pengagum dan pecinta Imam Ali. “Kepindahan” dia menjadi syiah, sama sekali tidak berpengaruh pada persahabatan kami. Setidaknya, kami bisa menjadi bukti bahwa sunni-syiah dapat bergandengan tangan.

Terakhir, saya berdoa semoga Allah mendamaikan saudara-saudara kami, sunni dan syiah, yang saat ini saling menumpahkan darah di Irak. Amiin.

* Perkataan Imam Ali tentang Abdurahman bin Muljam. Imam Ali akhirnya syahid di tangan Abdurahman saat sedang menunaikan salat subuh. Dikutip dari “Karakter Agung Ali bin Abi Talib” oleh Murtadha Muthahari, diterbitkan Pustaka Zahra, halaman 26.

Wasalam,

amrie

Thursday, March 22, 2007

tentang cinta

Allah menjadikan wanita itu indah dan dihasrati:

“Dijadikan indah pada (pandangan manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak (unta, sapi, kerbau, dan kambing) dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).”1

Karena itulah, keindahan atau kecantikan wanita adalah berkah, sekaligus amanah. Tapi, kecantikan wanita juga bisa mengundang fitnah (bencana) bagi laki-laki (yang serakah):

Pada suatu hari, Imam Ali duduk-duduk bersama para sahabatnya. Sekonyong-konyong lewatlah seorang wanita cantik. Sebagian besar sahabat kemudian melirikkan mata mereka ke arah wanita tersebut. Melihat itu, Amirul Mukminin lalu mengingatkan, “Mata para lelaki ini serakah dan lirikan tersebut adalah penyebab mereka menjadi rakus. Bilamana seseorang di antara kalian melihat seorang wanita yang menarik hatinya, hendaklah ia menemui isterinya. Sebab, setiap wanita adalah wanita.”2

Tapi, jangan pernah lupa bahwa kecintaan yang dahsyat seorang laki-laki kepada wanita telah menjadi simbol akan kesejatian cinta manusia kepada Tuhan, seperti kisah cinta abadi Laila Majnun:

Ketika Laila dan Majnun telah tiada, konon, seorang sufi bermimpi melihat Majnun hadir dihadapan Tuhan. Tuhan membelai Majnun dengan penuh kasih sayang seraya berkata, "Tidakkah engkau malu memanggil-manggi-Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?"3

Karena memang tidak ada Kekasih sejati selain Dia:

"Para pencinta sejati sudah tidak bisa lagi menangkap aroma atau warna diri mereka sendiri. Mereka tidak tertarik pada apapun selain Sang Kekasih. Hati mereka tidak terikat pada tahta maupun mahkota. Ketamakan dan nafsu sudah mengemasi barang-barang mereka dan pergi."4

Masih dari buku yang sama:

Doa berikut ini diajarkan oleh Nabi kepada para sahabatnya:


"Ya Tuhanku, anugerahilah aku dengan cinta-Mu, dan mencintai mereka yang mencintaiMu, dan mencintai apapun yang mendekatkanku padaMu. Ya Tuhanku, jadikanlah cintaMu lebih berharga bagiku daripada air segar bagi haus."5


Allah Maha Mengetahui.

Wasalam,

amrie

Referensi:
1. QS. 3/Ali Imran: 14. Dinukil dari “Petuah-petuah Rasulullah 2: Seputar Hubungan Pria & Wanita”, Syamsul Rijal Hamid, Penebar Salam, Cet. 3 Oktober 2001.
2. Dinukil dari “Kisah-kisah Bertabur Hikmah Nahjul Balaghah” karya Muhammad Muhammadi edisi terjemahan terbitan Penerbit Cahaya, Mei 2002.
3. Dinukil dari “Cinta Si Majnun”, oleh Nadirsyah Hosen, dari “Laila Majnun” karya Nizami.
4. Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami. Dinukil dari “Buku Kecil Instruksi Sufi”, diterbitkan Alvabet, Cet. 4, Januari 2003.
5. Al-Ghazzali. ibid.

Wednesday, February 28, 2007

tentang perjumpaan dan perpisahan

Bergaullah dengan orang lain sedemikian rupa sehingga apabila Anda mati, mereka akan menangisi Anda dan selagi Anda hidup, mereka akan merindukan Anda”. (Puncak Kefasihan, Kata-kata Hikmah ke-10).

Hak yang melekat pada setiap perjumpaan adalah perpisahan, seperti halnya hak pada setiap perpisahan adalah perjumpaan (kembali). Perjumpaan dan perpisahan, karenanya, bagai dua sisi mata uang. Karena itu, terlalu berlebihan dalam merayakan perjumpaan dengan orang yang dikasihi adalah justru bisa menyakitkan, dan terlalu berlebihan dalam meratapi perpisahan dengan yang dicintai adalah bahaya yang perlu dihindari.

Sebaik-baik perkara yang mengiringi setiap perjumpaan adalah kesadaran akan adanya perpisahan, dan sebaik-baik perkara yang menyertai perpisahan adalah harapan akan adanya perjumpaan kembali. Karena itu, hal terbaik untuk mengisi kebersamaan adalah sikap yang sedemikian rupa membuat seseorang merindukan kita saat masih hidup dan bersedih saat kita telah tiada. Dan, hal paling baik untuk memaknai perpisahan adalah tidak terputusnya doa bagi kebaikan orang yang meninggalkan kita. Karena, bagaimanapun, kita semua senantiasa dalam keadaan meninggalkan atau ditinggalkan.

Berkaitan dengan ini, saya selalu terharu setiap kali membaca ungkapan dari Ali bin Abi Talib di saat pemakaman Rasulullah: “Sesungguhnya kesabaran adalah baik kecuali mengenai Anda (Rasulullah SAW); meratap adalah buruk kecuali atas Anda; dan musibah yang berkenaan dengan diri Anda adalah besar, sementara setiap musibah lainnya, sebelum atau sesudahnya, hanyalah kecil belaka”. (Puncak Kefasihan, Kata-kata Hikmah ke-302).

Saya sampai saat ini terus belajar memahami hakikat dari perjumpaan dan perpisahan. Saya mungkin tidak akan sanggup bersabar akan perpisahan dengan orang-orang yang sangat saya cintai. Bahkan, memikirkannya saja membuat saya sedih tak terperi. Kesedihan saya lebih karena belum banyaknya kebaikan yang saya berikan kepada orang-orang tersebut, padahal kebaikan mereka pada saya tak terhitung jumlahnya. Karena itu, buat saya, salah satu doa yang paling utama adalah doa agar Allah mempertemukan kita kembali dengan orang-orang tercinta yang telah kita tinggalkan atau meninggalkan kita. Amin.

Untuk orang-orang terdekat, dan kawan-kawanku terkasih.

Salam,

amrie

Monday, February 19, 2007

tentang pemberian dan utang budi (2)

Pembaca tercinta,

Beberapa hari lalu, seorang teman menelpon dan mengatakan akan memberikan “bingkisan kecil” buat saya. Katanya, itu sebagai ucapan terima kasih karena dia sering merepotkan saya. Saya langsung menjelaskan kalau apa yang saya lakukan merupakan bagian dari pekerjaan saya, jadi tidak perlu dikasih apa-apa. Toh, saya sudah mendapat gaji dari kantor. Kemudian, beberapa hari kemudian, teman baik saya ini kirim SMS ke saya dan minta alamat pengiriman buat kirim “sesuatu” buat saya. Lagi-lagi, saya menolak baik-baik permintaan beliau ini dengan menulis kurang lebih, niat baik dia itu sudah melebihi bingkisan termahal sekalipun. Alhamdulillah, dia mengerti.

Sebetulnya, saya menolak bukan karena tidak suka hadiah, apalagi pemberinya teman sendiri. Hanya saja, saya merasa hadiah itu bukan hak saya. Itu saja. Saya juga yakin teman saya ini tidak punya maksud lain di balik pemberiannya kecuali ingin mengucapkan terima kasih. Selain bukan hak saya, ada satu hal lagi yang membuat saya perlu sedikit berhati-hati dalam menerima pemberian yang ada kaitannya, langsung atau tidak langsung, dengan pekerjaan saya. Bukannya pekerjaan saya demikian pentingnya atau posisi saya di kantor begitu tinggi hingga saya bisa mengambil keputusan yang menentukan nasib orang lain. Tapi, itu karena saya terlibat langsung dengan sebuah komunitas yang terkadang tidak segan memberikan “sesuatu” demi memuluskan urusannya.

Belum lama, saya buka-buka koleksi lama saya, “Jejak-jejak Ruhani” karangan Murtadha Muthahari, untuk memenuhi ketidakpuasan saya akan kesimpulan saya dalam masalah pemberian dan utang budi. Alhamdulillah, di buku itu saya menemukan salah satu ucapan Imam Ali bin Abi Thalib yang berkaitan dengan pemberian dan menjaga kehormatan diri. Khotbahnya lumayan panjang, itu saya yakin lantaran masalah pemberian memang bukan hal yang sederhana. Di satu sisi, kita harus menghargai niat baik orang lain yang hendak memberikan sesuatu kepada kita, sementara di sisi lain kita perlu menjaga kehormatan diri agar tidak menjadi “tawanan perbuatan baik” orang lain.

”Amirul Mukminin a.s. bersabda, ‘Jika engkau berbuat kebajikan kepada seseorang dan memenuhi orang itu dengan segala pemberian, maka orang itu – siapapun dia – akan menjadi tawanan perbuatan baikmu dan berada di bawah perintahmu, sementara engkau menjadi atasan baginya. Jika engkau merasa cukup dan tidak butuh kepada seseorang, maka siapapun orang itu, apapun pangkat dan kedudukan yang dimilikinya, engkau akan menjadi pribadi yang sama dan sederajat dengannya. Namun, jika engkau merasa butuh kepada seseorang, meminta pertolongan darinya, niscaya siapapun orang itu, engkau akan menjadi hambanya, tawanannya, dan pesuruhnya.’”. (Dinukil dari “Jejak-jejak Ruhani”, Murtadha Muthahari, Pustaka Hidayah, Mei 1996, hal. 53, dari “Ghurarul Hikam”, Cet. Univ. Teheran, Jilid II, hal. 54).

Masih dari buku yang sama:

"Sesuatu yang dapat menjadikan manusia sebagai tawanan ialah membutuhkan dan menerima pemberian dan kebaikan orang lain. Perbuatan itulah yang dapat merusak kehormatan dan kemuliaan seorang manusia. Sebaliknya, merasa cukup dan tidak butuh merupakan penjaga kehormatan dan kemuliaan seseorang. Dari sinilah setiap usaha dan segala sesuatu yang dapat menghilangkan ketergantungan kepada orang lain mempunyai kedudukan yang mulia. Hal ini karena tidak ada yang lebih suci daripada sesuatu yang dapat menjaga kehormatan dan harga diri seorang manusia".

Wasalam,

amrie

Wednesday, January 24, 2007

tentang pemberian dan utang budi

“Utang budi dibawa mati, utang rokok musti bayar”. (Benyamin S.)

Dalam sebuah diskusi santai, seorang teman menceritakan betapa dia mengagumi filosofi “pemberian” dan “utang budi” yang ditulis Khalil Gibran dalam “Sang Nabi”. Dalam buku itu Gibran menulis, “Jangan memberati diri dengan rasa utang budi, sebab kau akan membebani dirimu dan dia yang memberi… Terlampau menyadari utangmu, adalah meragukan kedermawanan dia”. (Sang Nabi, Khalil Gibran, Pustaka Jaya). Teman saya ini begitu mengagumi Gibran dan Sang Nabi-nya sampai-sampai dia berucap, “Sang Nabi adalah kitab suci saya”.

Berhari-hari saya memikirkan kata-kata Gibran itu dan akhirnya membeli Sang Nabi dan buku Gibran lainnya, “Sayap-sayap Patah” yang menurut banyak orang, sangat bagus. Meski saya bukan pengagum Gibran dan karya-karyanya, tapi untuk yang satu ini saya sangat terkesan. Sang Nabi membuat saya mempertanyakan filosofi saya sendiri mengenai pemberian. Meski tidak sampai membebani diri dengan utang budi, saya merasa perlu membalas pemberian atau kebaikan seseorang dengan pemberian atau kebaikan lainnya. Kalau bisa, pemberian atau kebaikan saya harus melebihi pemberian atau kebaikan dia pada saya sebelumnya. Bukankah Tuhan juga mengganjar setiap kebaikan manusia dengan kebaikan yang berlipat ganda?

Dari yang saya pahami, Gibran tidak “melarang” seseorang merasa berutang budi akan pemberian orang lain, tapi yang dia larang adalah jika terlalu memberati diri dengan utang budi atau terlampau menyadari utang (pemberian) tersebut. Karena, bagaimanapun, pemberian bukanlah pinjaman atau utang yang harus dikembalikan atau dibayar. Di sinilah, menurut saya, bagian penting dari ungkapan Gibran. Sejak kecil kita akrab dengan pepatah/ungkapan “ada budi ada balas” atau “utang budi dibawa mati” seperti pernah muncul di salah satu lagu almarhum Benyamin S. seperti saya kutip di atas. Pepatah/ungkapan itu begitu populer sampai-sampai menjadi “ayat suci” bagi banyak orang.

Saya mungkin sampai saat ini berkesimpulan menjadi penerima itu sulit. Kadang menjadi penerima itu memang tidak terhindarkan, dan seperti yang ditulis Gibran juga, “.. engkau semuanya tergolong penerima!”. Selama kita menjadi penerima, kita akan terbebani, sedikit atau banyak, dengan pemberian yang kita terima, besar atau kecil. Semakin besar pemberian seseorang, semakin terbebani lah kita. Karena itu, menurut saya, menjadi pemberi itu lebih mudah. Seperti dikata Gibran, pemberian itu satu nafas dengan kedermawanan atau ketulusan. Tidak tulus, bukan pemberian namanya. Mengharap balas atau pengembalian dalam memberi, itu namanya menghutangkan atau meminjamkan. Tulus dalam memberi itu kata Al Ghazali sama dengan saat seseorang membuang, maaf, ludah. Seperti halnya seorang tidak pernah mengingat-ingat berapa kali dia meludah dalam sehari, ia juga haram menyebut-nyebut perbuatan-perbuatan memberi.

Sungguh, sebaik-baik Pemberi adalah Tuhan, dan seburuk-buruk pemberi adalah yang mengharap balasan dari selain Tuhan. Dan sebaik-baik pemberian adalah yang mendorong penerimanya berusaha menjadi pemberi, dan seburuk-buruk pemberian adalah yang membuat penerimanya menjadi peminta-minta. Wallahu ‘alam.

Salam,

Amrie

Wednesday, January 17, 2007

tentang menggunjingkan orang lain

Rekans tercinta,

Menggilanya tayangan gosip ternyata tak mampu diredam dengan fatwa MUI bahwa program infotainment itu haram. Fatwa demikian juga diperkuat dengan fatwa serupa dari NU. Saya pribadi berpendapat, meski ada materi tayangan infotainment yang bernilai news dan karena itu bermanfaat bagi publik luas, tapi kebanyakan gosip atau gunjingan yang tidak bermanfaat buat masyarakat, bahkan cenderung merusak moral.

Dengan menonton tayangan infotainment, publik diajak untuk ikut-ikutan menggunjingkan keburukan orang lain. Saya akui bahwa saya dan keluarga juga masih sering tergoda untuk menonton tayangan infotainment, tapi saya berusaha menahan diri untuk mengomentari apa yang ditayangkan, apalagi mendiskusikannya. Cara termudah untuk menghindari bahaya tayangan infotainment adalah dengan tidak menontonnya, atau sesedikit mungkin menontonnya.

Saya pernah membaca wawancara dengan Cut Tary sebagai salah satu presenter salah satu tanyangan infotainment. Waktu itu dia ditanya, apakah orang yang dia gosipin tidak marah sama dia, Cut Tary bilang kurang lebih, “Tidak, tapi kalau mereka marah saya tinggal minta maaf saja”. Apakah sesederhana itu? Minta maaf lalu dosa menggunjing langsung terhapuskan? Cut Tary mungkin lupa kalau memberi maaf kepada orang yang berbuat salah hukumnya tidak wajib. Karena maaf itu harus diberikan secara tulus. Selama si korban pergunjingan tidak memberikan maaf, selama itulah si penggunjing menanggung dosanya.

Berikut ini salah satu khotbah yang indah dari Imam Ali bin Abi Talib, salah satu pemimpin mulia Islam, sepupu (anak paman) dan menantu dari Nabi Muhammad, mengenai menggunjing dan membicarakan keburukan orang lain:

“Orang-orang yang tidak berbuat dosa dan telah dianugerahi keselamatan (dari dosa) harus menaruh belas kasihan pada pendosa dan orang yang tidak taat lainnya. Rasa syukur harus selalu menjadi kegemaran mereka yang paling besar, dan (hal) itu harus mencegah mereka dari (mencari-cari kesalahan) orang lain. Bagaimana tentang si penggunjing yang menyalahkan saudaranya dan mencari-cari kesalahannya? Apakah dia tidak mengingat bahwa Allah telah menyembunyikan dosa-dosa yang dilakukannya, padahal dosa-dosa itu lebih besar dari dosa-dosa saudaranya yang ditunjukannya? Bagaimana ia dapat menjelek-jelekkannya tentang dosa-dosanya padahal ia sendiri telah berbuat dosa seperti itu? Sekalipun ia tidak berbuat dosa yang serupa itu, tentulah ia telah berbuat dosa-dosa yang lebih besar. Demi Allah, sekalipun ia tidak melakukan-dosa-dosa besar tetapi melakukan dosa-dosa kecil, pembeberannya atas dosa-dosa orang itu sendiri merupakan dosa besar”. (Puncak Kefasihan, Khotbah 139).

Salam,

Amrie