Seperti anda juga, saya lumayan capek pas sampai rumah sepulang kerja. Badan pegal-pegal. Harap maklum, jarak dari kantor ke rumah lumayan jauh. Kalau naik motor, waktu tempuh rata-rata dari kantor ke rumah saya itu kira-kira 1-1,5 jam. Saya tahu, banyak orang yang juga senasib atau malah nasib saya mungkin lebih baik dari teman-teman yang lain. Saya capek mungkin karena saya sudah mulai menua.
Nah, waktu sampai rumah dalam keadaan capek, saya pengen betul dapat ini dan itu. Tapi, terkadang ini dan itu yang saya pengen tidak saya dapatkan. Kalau itu yang terjadi, aduh saya jadi kesel dan mau marah. Kadang saya bisa menahan kesal dan marah di dalam hati saja. Kadang, kesal dan marah itu terucap juga, walaupun sudah saya tahan-tahan. Ini mungkin bukti bahwa capek itu ada tingkatannya. Semakin tinggi tingkatan capek, semakin susah kita menahan emosi. Mungkin begitu ya.
Belakangan saya sadar kalau yang capek itu bukan saya doang. Orang lain juga capek. Boleh jadi, tingkatan capeknya orang lain jauh lebih tinggi daripada tingkatan capeknya saya. Boleh saja saya mengaku-aku, kerja saya lebih keras dari orang itu atau perjalanan saya dari kantor ke rumah lebih jauh daripada dia. Tapi, saya ingat lagi, kan saya tidak pernah menjalani aktifitas dia sehari-hari. Lalu, saya tahu dari mana kalau dia tidak lebih capek dari saya?
Akhirnya, saya belajar menerima bahwa saya boleh saja capek dan punya kepengenan ini dan itu untuk menawar rasa capek sepulang kerja. Tapi, yang tidak boleh sering-sering saya lakukan adalah marah-marah cuma gara-gara tidak dapat ini dan itu begitu sampai rumah, karena yang capek kan bukan saya doang. Lagipula, penawar capek apalagi yang lebih sempurna daripada tiba di rumah dengan selamat dan kembali bertemu dengan istri dan anak-anak? Wallahu 'alam.
Wednesday, June 24, 2009
pertemanan
"Amrie, apa proposal sampeyan diterima?"
"Tidak mas. Aku tidak masuk shortlist katanya"
"Lho, kok bisa?"
"Ya, karena mereka menilai saya tidak memenuhi kualifikasi tertentu yang mereka butuhkan."
"Lha, kan kalian kan berteman?"
"Yah, tidak apa-apa lah mas. Saya bisa terima kok. Pertemanan kan kurang baik kalau dimanfaatkan untuk memaksakan hal-hal seperti ini."
"Yah, saya ndak jadi deh dapet traktiran dari sampeyan."
"Soal traktiran sih tidak usah bergantung apa proposal saya diterima atau ditolak mas. Asal tidak mahal-mahal, saya masih bersedia traktir kok mas, hehehe."
"Tidak mas. Aku tidak masuk shortlist katanya"
"Lho, kok bisa?"
"Ya, karena mereka menilai saya tidak memenuhi kualifikasi tertentu yang mereka butuhkan."
"Lha, kan kalian kan berteman?"
"Yah, tidak apa-apa lah mas. Saya bisa terima kok. Pertemanan kan kurang baik kalau dimanfaatkan untuk memaksakan hal-hal seperti ini."
"Yah, saya ndak jadi deh dapet traktiran dari sampeyan."
"Soal traktiran sih tidak usah bergantung apa proposal saya diterima atau ditolak mas. Asal tidak mahal-mahal, saya masih bersedia traktir kok mas, hehehe."
Monday, May 04, 2009
dalam diam
ketiadaan kata-kata
adalah keindahan
ketika lisan tak mampu
mengucap apa yang
dirasa oleh hati
kebisuan adalah bahasa
yang dilafalkan
jika kata-kata tidak
menjangkau apa yang
dikecap oleh hati
diam adalah selimut
yang dikenakan
saat ucapan tak lagi
menghangatkan hati
yang dicengkram
dinginnya rindu
hening adalah biduk
yang dikayuh
ketika semua bahasa
karam dalam bayang-bayang
raut wajah dia
adalah keindahan
ketika lisan tak mampu
mengucap apa yang
dirasa oleh hati
kebisuan adalah bahasa
yang dilafalkan
jika kata-kata tidak
menjangkau apa yang
dikecap oleh hati
diam adalah selimut
yang dikenakan
saat ucapan tak lagi
menghangatkan hati
yang dicengkram
dinginnya rindu
hening adalah biduk
yang dikayuh
ketika semua bahasa
karam dalam bayang-bayang
raut wajah dia
Tuesday, April 14, 2009
kekasihmu maka cintailah
kau tlah melakukan
hal yang luarbiasa
menyakitkan hatinya
skarang lakukanlah
hal yang luarbiasa
hebat demi hatinya
karena tidak ada lagi
yang seperti dia
dia sudah jadi juara
di hatimu
lihatlah dia yang bergaun putih
itulah warna hatinya,
begitu kaubilang
itu orangnya yang berambut panjang
yang tiap helainya pernah buatku
mabuk kepayang
begitu lagi-lagi kaubilang
begitulah hidup kawan
kadang yang indah
luput dari mata saat dia ada
kini terasa setlah tidak ada
duhai diri
cintamu maka peliharalah
kekasihmu maka cintailah
hal yang luarbiasa
menyakitkan hatinya
skarang lakukanlah
hal yang luarbiasa
hebat demi hatinya
karena tidak ada lagi
yang seperti dia
dia sudah jadi juara
di hatimu
lihatlah dia yang bergaun putih
itulah warna hatinya,
begitu kaubilang
itu orangnya yang berambut panjang
yang tiap helainya pernah buatku
mabuk kepayang
begitu lagi-lagi kaubilang
begitulah hidup kawan
kadang yang indah
luput dari mata saat dia ada
kini terasa setlah tidak ada
duhai diri
cintamu maka peliharalah
kekasihmu maka cintailah
Thursday, March 12, 2009
penafsir kerinduan
hanya saat tubuhku rebah
bersamamu mimpi buruk
sama indahnya dengan mimpi
indah
itulah sababmusabab
kuwajibkan atas diriku
merindumu
kaulah yang halal
dan baik
kaulah yang tinggi tapi
tak luput dari jangkauan
halalkan diriku
bagimu
teguk habis anggur
yang dahulu kaudamba
Thursday, February 19, 2009
doa si pengantar comro
ya Tuhanku jika turunnya hujan pagi ini
akan membawa manfaat bagi banyak orang
kumohon jangan Kau tunda turunnya hingga siang
namun jika turunnya hujan siang nanti
akan membawa banyak manfaat bagi lebih banyak orang
kumohon ya Tuhan boleh kiranya Kau tunda turunnya pagi ini
karena aku akan mengantar sesuatu untuk mereka tercinta
pagi ini
dengan doa apa yang kubawa dapat membawa berkah dan
menghapus segala dosa
seperti hujan
yang Kau turunkan ke bumi
akan membawa manfaat bagi banyak orang
kumohon jangan Kau tunda turunnya hingga siang
namun jika turunnya hujan siang nanti
akan membawa banyak manfaat bagi lebih banyak orang
kumohon ya Tuhan boleh kiranya Kau tunda turunnya pagi ini
karena aku akan mengantar sesuatu untuk mereka tercinta
pagi ini
dengan doa apa yang kubawa dapat membawa berkah dan
menghapus segala dosa
seperti hujan
yang Kau turunkan ke bumi
Monday, February 16, 2009
pujian, diam dan konteks dari segala sesuatu
Suatu hari, Imam Khomeini mengingatkan istrinya agar lebih berhati-hati dalam berkata-kata dan menjauhi dari perbuatan bergunjing (ghibah) . Hal demikian dikatakan Imam Khomeini setelah dia mendengar sang istri memuji salah satu pelayannya yang dinilai baik dalam bekerja. "Tapi Agha, aku tidak berghibah, aku hanya mengatakan bahwa ia pelayan yang baik," kata Fatema Khanom, istri Imam.
Dengan lemah lembut Imam Khomeini menjelaskan kepada istrinya bahwa pujian kepada salah satu pembantunya itu tidak baik jika didengar oleh pembantunya yang lain.
Apakah kejadian di atas berarti Imam Khomeini tidak suka memuji? Tidak juga. Karena Imam sering memuji istrinya. Pernah suatu kali salah seorang putri Imam Khomeini mengatakan bahwa ibunya beruntung karena memiliki suami seperti dia. Menanggapi ucapan itu Imam mengatakan,
Tapi, Imam bukan tipe orang yang mengumbar pujian. Dia memberikan pujian kepada orang yang benar-benar layak mendapatkannya dan pada waktu yang benar-benar tepat. Imam tidak pernah memuji orang lain atau bersikap ramah terhadap orang lain supaya makin banyak orang yang menyukainya.
Imam Khomeini sangat menganjurkan agar seseorang benar-benar berhati-hati dalam berkata-kata, memilih kata-kata dan waktu untuk berkata-kata. Seperti kisah-kisah di atas, sikap dan perkataan Imam tidak pernah lepas dari konteks yang terjadi pada saat itu. Perkataan yang benar tapi disampaikan pada yang kurang pas dapat menimbulkan hasil yang tidak diharapkan.
Kepada putrinya, Imam Khomeini pernah mengatakan,
---------
Referensi: "Potret Sehari-hari Imam Khomeini", penerbit Pustaka IIman, Cetakan II, Januari 2007.
Dengan lemah lembut Imam Khomeini menjelaskan kepada istrinya bahwa pujian kepada salah satu pembantunya itu tidak baik jika didengar oleh pembantunya yang lain.
"Yang kau ucapkan itu termasuk berghibah, karena pelayan yang lain bisa mendengar ucapanmu. Ia akan menafsirkan bahwa kau mengatakan ia tidak baik. Itulah sebabnya ucapanmu termasuk ghibah," ucap sang Imam.
Apakah kejadian di atas berarti Imam Khomeini tidak suka memuji? Tidak juga. Karena Imam sering memuji istrinya. Pernah suatu kali salah seorang putri Imam Khomeini mengatakan bahwa ibunya beruntung karena memiliki suami seperti dia. Menanggapi ucapan itu Imam mengatakan,
"Aku yang beruntung mendapat istri seperti dia. Tak seorang pun mengorbankan
hidupnya seperti dia. Jika kau seperti Khanom (istri Imam), kau pun akan sangat
disayangi suamimu."
Tapi, Imam bukan tipe orang yang mengumbar pujian. Dia memberikan pujian kepada orang yang benar-benar layak mendapatkannya dan pada waktu yang benar-benar tepat. Imam tidak pernah memuji orang lain atau bersikap ramah terhadap orang lain supaya makin banyak orang yang menyukainya.
"Berhati-hatilah, jangan memperhatikan penampilan luar. Jika kau ingin
menunjukkan pada orang bahwa kau begini atau begitu, itu berarti riya," ucap
Imam suatu saat.
Imam Khomeini sangat menganjurkan agar seseorang benar-benar berhati-hati dalam berkata-kata, memilih kata-kata dan waktu untuk berkata-kata. Seperti kisah-kisah di atas, sikap dan perkataan Imam tidak pernah lepas dari konteks yang terjadi pada saat itu. Perkataan yang benar tapi disampaikan pada yang kurang pas dapat menimbulkan hasil yang tidak diharapkan.
Jika kita belum menemukan kata-kata dan waktu yang baik untuk dikatakan, diam
boleh jadi adalah opsi yang paling baik untuk dipilih.
Kepada putrinya, Imam Khomeini pernah mengatakan,
"jika suamimu kesal, atau ia mengatakan sesuatu padamu karena alasan apa pun,Imam paham benar bahwa kita tidak dapat benar-benar menarik kembali perkataan yang sudah terlanjur terucap karena jika perkataan itu buruk, dia terlanjur membekas di hati orang lain yang terlukai hatinya karena ucapan itu.
atau jika ia berlaku tidak baik, janganlah mengatakan apa-apa saat itu juga,
meskipun seandainya kau benar. Tunggulah hingga ia tenang, baru kemukakan apa
yang ingin kau katakan."
---------
Referensi: "Potret Sehari-hari Imam Khomeini", penerbit Pustaka IIman, Cetakan II, Januari 2007.
Tuesday, February 10, 2009
ma
maaf ma
karena saya tidak punya terlalu banyak itu
jadi kamu tidak bisa nonton dia
padahal saya tahu kamu sangat ingin
maaf ma
karena tidak ada pada diri saya
satu saja yang bisa kamu banggakan
yang bisa kamu ceritakan ke teman-teman
maaf ma
untuk sedikit sekali waktu saya untuk kamu
untuk banyak sekali sakit kamu untuk saya
yang tidak kamu ceritakan ke teman-teman
maaf ma
karena saya yang sering lupa
bahwa cinta kamu tanpa syarat
dari dulu sampai sekarang
untuk saya
maaf ya ma
karena saya tidak punya terlalu banyak itu
jadi kamu tidak bisa nonton dia
padahal saya tahu kamu sangat ingin
maaf ma
karena tidak ada pada diri saya
satu saja yang bisa kamu banggakan
yang bisa kamu ceritakan ke teman-teman
maaf ma
untuk sedikit sekali waktu saya untuk kamu
untuk banyak sekali sakit kamu untuk saya
yang tidak kamu ceritakan ke teman-teman
maaf ma
karena saya yang sering lupa
bahwa cinta kamu tanpa syarat
dari dulu sampai sekarang
untuk saya
maaf ya ma
Subscribe to:
Posts (Atom)
