Showing posts with label Pakaian. Show all posts
Showing posts with label Pakaian. Show all posts

Thursday, January 27, 2011

yang menutupi

pakaian untuk tubuh anda
ataukah tubuh anda untuk pakaian?
pakaian untuk menutupi anda
ataukah anda untuk menutupi pakaian?
pakaian yang menghormati anda
ataukah anda yang menghormati pakaian?
yang mana yang lebih penting
anda ataukah apa yang anda pakai?

Monday, September 22, 2008

terbuka

Seorang sahabat belum lama ini dengan baik hati mengingatkan saya agar mau sedikit mengerem kebiasaan mengomentari penampilan orang lain. Dia bilang antara lain, "Mas musti membatasi komentar soal apa yang dipakai seseorang, terutama kalau orang itu agak-agak 'berani' dalam berpakaian." Sahabat saya khawatir komentar saya malah berakibat tidak baik bagi orang yang bersangkutan.

Sebagai laki-laki, saya sebetulnya merasa dimanjakan dengan mode pakaian perempuan saat ini. Mode di mana perempuan cenderung memakai pakaian yang serba terbuka. Kalau tidak terbuka bagian atasnya, yah di bagian bawahnya. Kalau tidak kedua-duanya, terbuka di bagian tengahnya. Bahkan tidak jarang ada yang memakai pakaian yang membuka bagian atas, tengah dan bawah tubuh perempuan. Dalam konteks inilah (mata) saya benar-benar dimanjakan.

Baru-baru ini saya juga sempat dibuat pusing dengan kebiasaan berpakaian seseorang yang ada di rumah saya. Saya sempat mau menegur langsung tapi kemudian batal karena ingin mencari momen yang benar-benar pas. Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya momen itu datang juga yaitu saat hatinya sedang riang, atau lebih tepatnya saat sedang berbelanja pakaian.

"Beli saja celana yang itu, bagus karena menutupi sebagian besar kaki kamu. Modelnya santai tuh bisa dipakai di rumah juga. Jadi, kamu tidak perlu lagi mengikuti tren mode para asisten rumah tangga di RT kita yang hobi bercelana agak pendek," kata saya. Orang yang saya ajak bicara tertawa saja. Setelah itu saya berdoa semoga dia menangkap pesan saya.

Sebelumnya, saya pernah mengomentari pakaian seorang teman yang menurut saya terlalu terbuka. Saya tanya kenapa dia berani memakai baju seperti itu ke tempat umum (saya menganggap acara resepsi sebagai tempat umum). Dia bilang pakaian dia sebetulnya tidak terlalu terbuka karena dia menutupnya dengan selendang. Lagipula, kata dia lagi, pakaiannya hanya "agak" terbuka di bagian atasnya, sedang di bagian bawah seluruhnya tertutup.

Saya baru saja menamatkan salah satu buku baik dari Quraish Shihab yang berjudul "Perempuan". Pada salah satu bagian buku itu, diungkapkan salah satu kecemasan (atau mungkin kemarahan) penulis berkaitan dengan tren busana wanita saat ini yang serba terbuka. Penulis menilai sebagian perempuan telah menjadi korban para perancang busana yang hendak membuka seluruh wilayah tubuh (perempuan) yang semestinya tertutup. Penulis juga menilai para perancang itu makin hari terlihat makin bingung dengan hasil karya mereka sendiri. Hal itu, kata Quraish Shihab, antara lain ditunjukkan dengan mode pakaian yang aneh-aneh misalnya, terbuka pada bagian atas, tapi tertutup pada bagian bawah atau sebaliknya. Atau juga, bagian depan tubuh sepenuhnya tertutup, tapi bagian belakangnya habis terbuka.

Saya berterima kasih kepada sahabat yang menasihati agar saya menahan komentar tentang cara seseorang berpakaian. Karena sahabat saya itu mengingatkan saya kembali tentang betapa kuatnya argumen (hujjah) saya untuk melakukan itu (mengomentari pakaian yang terlampau terbuka). Saya pikir kalau seseorang berani memakai pakaian terbuka, dia juga harus berani menerima komentar-komentar dari orang-orang seperti saya (maksudnya, orang yang senang-senang saja melihat perempuan berpakaian terbuka, tapi tidak senang kalau yang memakainya adalah orang-orang dekat). Wallahu 'alam.