Thursday, May 22, 2008

'..akan tetapi tidak ada nabi setelahku'

Pagi ini saya ingin sekali berbagi cerita mengenai "insiden" kecil menjelang keberangkatan Rasulullah dan pasukannya menuju Tabuk. Seperti tercatat dalam sejarah, dalam ekspedisi ke Tabuk itu Rasulullah memerintahkan Ali untuk mewakili beliau SAW untuk menjadi wali Kota Madinah. Baru kali itulah Nabi tidak mengikutsertakan Ali dalam pasukannya untuk berperang.

Dari sisi Nabi, keputusan beliau menunjuk Ali untuk menjaga Madinah adalah keputusan besar. Pertama, karena hal demikian berarti Nabi akan kehilangan salah satu pejuang paling tangguh untuk memperkuat pasukannya di Tabuk. Kedua, hal demikian menandakan bahwa Rasulullah lebih membutuhkan Ali untuk mempertahankan stabilitas keamanan dan politik dalam negeri (Madinah).

Pada waktu itu, Madinah memang masih rawan dari rongrongan kaum munafik (hipokrit/muka dua). Golongan munafik ini adalah salah satu musuh yang bagai duri dalam daging bagi kaum muslim di Madinah. Terhadap mereka, Rasulullah mengambil sikap yang sangat hati-hati karena di satu waktu mereka menunjukkan wajah islam mereka, tapi di lain waktu -- terutama di belakang Nabi -- barulah tampak wajah jahat mereka.

Kaum munafik telah menyusun rencana untuk menggoyang stabilitas Madinah seperginya Rasulullah bersama pasukan muslim ke Tabuk. Rasulullah yang mengetahui rencana buruk mereka itu kemudian memerintahkan Ali yang merupakan salah satu sahabat utama sekaligus anggota keluarga beliau untuk mengamankan Madinah dari upaya makar kaum munafik. Pemilihan Ali untuk menjaga Madinah adalah langkah yang sangat tepat mengingat banyaknya keutamaan beliau, terutama dalam hal keberanian dan kebijaksanaannya.

Kehadiran Ali di Madinah di saat Nabi SAW dan sebagian besar kaum muslimin pergi ke Tabuk telah mengacaukan rencana kaum munafik. Karenanya, mereka menebar isu miring bahwa Rasul tidak lagi memerlukan Ali dalam perang Tabuk karena perjalanannya yang panjang dan panas yang membakar. Mereka juga menebar kasak-kusuk bahwa Ali meminta untuk tinggal di Madinah dengan anak-anak kecil dan kaum wanita di saat semua orang pergi menanggung kesusahan ke Tabuk.

Mendengar isu itu Ali mengejar Nabi SAW sampai ke daerah Juhfah yang terletak beberapa kilometer dari kota Madinah. Kepada utusan Allah itu, Ali menyampaikan isu yang beredar di Madinah. Berikut kronologisnya seperti dituturkan Imam Bukhari dalam salah satu sahihnya:

"Bahwasanya Rasulullah saw berangkat menuju tabuk dan mengangkat Ali ra sebagai penggantinya di Madinah. Lalu Ali berkata, 'Apakah engkau mengangkatku untuk mengurusi anak-anak dan wanita? Beliau saw bersabda, 'Tidakkah engkau rela (wahai Ali), bahwa kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun terhadap Musa? Akan tetapi, tidak nabi setelahku.'"

Pada insiden di atas mungkin timbul kesan bahwa Ali hendak mempertanyakan perintah Rasulullah kepadanya dan tidak rela dengan hal itu. Saya berpendapat bahwa pertanyaan Ali bukan dimaksudkan agar Rasulullah mengoreksi perintah beliau sebelumnya. Bukan pula karena Ali merasa "dikecilkan" dengan perintah tersebut atau menganggap tugas "mengurusi anak-anak dan wanita" adalah hal yang sepele.

Insiden tersebut, menurut saya, menunjukkan betapa dahsyatnya isu yang ditiupkan oleh kaum munafik di Madinah sehingga Ali merasa perlu mendapat penegasan atau konfirmasi dari Rasulullah (mengenai ketidakbenaran isu tersebut). Di sisi lain, Ali juga perlu penegasan dari Rasulullah bahwa penunjukkan dia untuk menjaga Madinah dan tidak ikut dalam Perang Tabuk bukan karena permintaan Ali sendiri dan bukan juga lantaran dia takut (berperang).

Jawaban Rasulullah terhadap pertanyaan Ali meskipun singkat, tapi sangat tegas dan bermakna dalam. Hadis Rasulullah di atas termasuk apa yang dikenal sebagai jawami' al kalim (ucapan ringkas, tapi padat maknanya). Jawaban (retorika) Rasulullah kepada Ali tersebut mungkin dianggap tidak menjawab pertanyaan Ali. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya, itulah jawaban paling fasih yang menjawab inti dari pertanyaan Ali.

Seperti diketahui, Harun adalah kakak kandung Nabi Musa. Kisahnya di dalam Al-Qur'an selalu disebut bersama dengan kisah adiknya itu. Harun diangkat oleh Allah Swt. menjadi nabi dan rasul untuk membantu tugas kerasulan Nabi Musa. Ia mendampingi Nabi Musa menemui Fir'aun untuk meminta agar Fir'aun melepaskan Bani Israil dari perbudakan. Harun memiliki kemampuan berbahasa lebih fasih daripada adiknya. Karena itu, Musa memohon kepada Allah Swt. agar mengutus Harun mendampinginya menemui Fir'aun. Permohonan itu dimaksudkan untuk membenarkan kata-kata yang disampaikan Musa, karena ia khawatir Fir'aun akan mendustakannya.

Maksud ucapan Rasulullah kepada Ali bahwa "kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun terhadap Musa", menurut saya, adalah Ali merupakan pembantu Rasulullah dalam tugas-tugas kerasulan beliau saw. Hadis di atas juga menunjukkan keutamaan Ali di mata Rasulullah, terutama pada kalimat, "Akan tetapi, tidak nabi setelahku".

Demikian sepenggalan kisah yang sekali lagi melukiskan keagungan pribadi Nabi dan kebijaksanaan di balik apa-apa yang beliau lakukan dan ucapkan. Satu lagi barangkali, kisah di atas juga menunjukkan keutamaan Ali dalam perjuangan dan dakwah awal Islam. Wallahu 'alam.

4 comments:

uq1e said...

Ini, "Tidakkah engkau rela (wahai Ali), bahwa kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun terhadap Musa?", sama gak maksudnya seperti kalimat ini Amrie agha, "There's no one like you Ali? :).

Amrie Hakim said...

@ uq1e:
that's a good one, ukie jan. tapi, mungkin lebih pas lagi begini, "Is there anyone here better than you, Ali?"

noerce said...

Strategi Manis...hasilnya pun manis...^_^

Tinggal qta konkretisasi dlm tiap peran kita aza...Betuull?? Jk ada panglima musti ada yg jd prajurit.

Amrie Hakim said...

@ noerce:
manis dan takkan pernah terlupakan...