Monday, April 14, 2008

putus

Pernah, dulu sekali, saya begitu tidak bisa menerima kata "putus" yang diucapkan oleh seseorang yang waktu itu saya sangat sukai. Itulah kata "putus" pertama yang pernah saya terima dari seorang pacar. Kata "putus" dari pacar pertama mungkin memang tidak mudah diterima oleh kebanyakan orang. Apalagi, kata "putus" itu datang pada waktu yang sangat tidak kita harapkan.

Kata "putus" yang kita terima mungkin lebih mudah diingat daripada kata yang sama yang keluar dari mulut kita. Artinya, kita lebih sering (atau mungkin hobi) mengingat-ingat saat-saat kita disakiti orang daripada saat-saat kita menyakiti orang lain. Saya begitu juga. Tapi, rasa-rasanya saya boleh bersyukur karena bukan termasuk orang yang menemukan kegembiraan dari perbuatan menyakiti (hati) orang lain.

Betul juga kalau dikatakan kalau kata "putus" tidak selalu menimbulkan efek yang sama kepada setiap orang atau pasangan, terutama dari pihak yang "diputuskan". Sudah lumrah terjadi kata itu malah sudah ditunggu lama. Dan, buat sebagian yang lain, kata "putus" jauh lebih indah daripada situasi "gantung". Kadang juga, kata "putus" merupakan bagian dari jawaban akan doa-doa kita karena apa yang terjadi setelahnya malah jauh lebih baik.

Kata "putus", tentu kita sudah tahu, bukanlah akhir dari sebuah hubungan, tapi sebaliknya merupakan awal. Karena, setiap awal itu adalah akhir, dan setiap akhir sejatinya adalah suatu awal. Artinya, boleh jadi benar bahwa "putus" mengakhiri satu hubungan (yang dulu), tapi kata itu juga menandakan lahirnya sebuah hubungan yang baru.

Kata "putus" harus diartikan putusnya hal-hal yang buruk yang pernah ada dalam sebuah hubungan. "Putus" sama sekali tidak boleh mengakhiri hal-hal baik yang sudah dibangun bersama-sama. Alasannya sebetulnya sederhana saja, segala hal yang putus pasti bisa disambung lagi. Bagi mereka yang memiliki pandangan yang jauh ke depan, "putus" justru dilihat sebagai satu tahapan penting dari dan demi (kematangan) sebuah hubungan.

Akhirnya, Saya ingin menutup curhat yang sangat tidak penting ini dengan sebuah kutipan yang sangat penting dari Ali bin Abi Thalib kw: "Bila kau berniat memutuskan hubungan dengan seorang kawan, tinggalkan kepadanya kenangan manis dirimu yang kelak akan membuka jalan kembali kepadamu di suatu saat, jika sewaktu-waktu ia ingin menjalin hubungan denganmu." Wallahu alam.

14 comments:

Fr!Sa said...

Mas Amrie, jadi terharu nie baca tulisan yang ini, frisa makasih yaaa jadi nambah masukan buat pribadi aku ke depannya. bener kata mas amrie, efek kata putus itu beda bgt, mungkin buat org yg ada di masa lalu aku itu biasa aja, tapi buat aku pada awalnya berat bgt, berusaha untuk tegar dan kuat,tapi susah. Alhamdulillah sekarang dah lebih baik. tinggal menata hati agar tidak terlalu dendam atas perbuatanyya aja :)

Amrie Hakim said...

terima kasih frisa utk komentarnya yg membuat curhat sangat tidak penting saya seolah-olah jadi sedikit penting... terima kasih sekali lagi

ukie said...

wahhh...tulisan yang agak beda dari sebelum-sebelumnya :).

"Betul juga kalau dikatakan kalau kata "putus" tidak selalu menimbulkan efek yang sama kepada setiap orang atau pasangan, terutama dari pihak yang "diputuskan"." --> setuju... Mungkin kesan yang ditinggalkan dari seseorang yang memutuskan kepada seseorang yang diputuskan bisa jadi mempengaruhi efek dari kata "putus" tersebut.

Ahh jadi inget lirik lagu nya Vina Panduwinata, yang liriknya kurang lebih gini, "jatuh cinta berjuta rasanya"...Putus cinta juga bisa berjuta rasanya, gak kalah sama jatuh cinta...:)

Amrie Hakim said...

terima kasih ukie utk komentarnya.

saya tidak punya banyak utk dibagi kepada temen2. kadang, saya cuma bisa sumbang tulisan yg mungkin bisa menghibur atau setidak2nya bisa diketawain sangking jeleknya..:)

noerce said...

Pesan terdalamnya adalah wanita jgn mudah tersakiti hny karena 1 kata "putus" (wanita mulu...hee), yg biasa datang dr seseorang di mana harapan lebih disandarkan, drpd sekedar teman. Lagi2 stiap pilihan ada konsekuensi resiko, tmsk klo akhirnya hrs "putus" baik secara langsung atau tdk ini dinyatakan.

Pasti di balik kata "putus", asal dgn baik2, pasti ada skenarion DIA yg jauh lebih indah dan baik yg tdk mampu tertembus logika sehat kita.Intinya, jgn pernah memutus sesuatu dalam kadar kebaikan.

Klo masalah lawan jenis, klo ndak mau diajak nikah, yach udah "putus" aza, ketemu di penghulu...heee ^_^

ukie said...

Aahhh mas amrie ini biiiisssaaa aja dehhh...

Btw, setuju sama mba nur :, "Pesan terdalamnya adalah wanita jgn mudah tersakiti hny karena 1 kata "putus" (wanita mulu...hee", Kenapa ya wanita itu mudah sekali tersakiti hanya dengan satu kata itu, uuhhhh...

Sama "klo ndak mau diajak nikah, yach udah "putus" aza". Aduh please dehhh, udah umur segini nih, yang pasti-pasti aja deh....:D

Amrie Hakim said...

@ noerce:

betul nuri jan. kaum perempuan perlu mengubah paradigma bengkok bahwa dirinya (melulu) adalah 'korban' atau objek. dan, di mata saya, keperkasaan perempuan terletak pada kemampuannya membuat laki2 bergantung pada kelemahlembutannya, dan bukan pada kemampuannya mengungguli (prestasi) laki2.

@ ukie:

kayaknya maksud nuri "putus aza" itu putus jadi pacar dan "nyambung" jadi suami-isteri.

Anonymous said...

mas amrie ..mas amrie..wah tulisannya anak muda bgt deh..hehe.
Btw memang bener bgt mas amrie, bahwa kata "putus" itu bukanlah akhir dari suatu hubungan, tetapi awal dri suatu hubungan. karena mgkn dngan kata putus ini kita dapat membuang hal-hal yang buruk dan menciptkan hal-hal baru yang jauh lebih baik..tulisan mas amrie merubah cara pandang aku tentang arti kata "Putus" neh..

Nice post..:-D

tiara said...

mas amrie ..mas amrie..wah tulisannya anak muda bgt deh..hehe.
Btw memang bener bgt mas amrie, bahwa kata "putus" itu bukanlah akhir dari suatu hubungan, tetapi awal dri suatu hubungan. karena mgkn dngan kata putus ini kita dapat membuang hal-hal yang buruk dan menciptkan hal-hal baru yang jauh lebih baik..tulisan mas amrie merubah cara pandang aku tentang arti kata "Putus" neh..

Nice post..:-D

Amrie Hakim said...

@ tiara:

terima kasih untuk komentar tiara.

yah, begini-begini, uhuk..uhuk.., kakek pernah muda juga, cu..uhuk..uhuk.. :)

salam hangat

Anggara said...

pengalaman pribadi ya mas

Amrie Hakim said...

@ mas anggara:

boleh dibilang gitu deh mas.. :) kapan main ke peradi lagi?

orang bogor said...

Assalamu'alaikum Amrie...

Amrie adlh teman sy yg plg rajin menyambung silaturahim dan ksh komen di blog sy. Mksh byk ya Amrie :)

Tulisan ini yg mnrt Amrie tdk penting mnrt sy penting bgt loh! Apalagi bwt yg pernah diputusin akan mendapat pencerahan dr nasihat Ali bin Abi Thalib bhw kita hrs memberikan kenangan yg baik walau sdh putus.

wassalam,

Amrie Hakim said...

@ eni:
lucu juga id-nya, 'orang bogor' hehehehe...

kangen euy, udah lama ga ketemu eni. mudah2an dalam waktu tdk terlalu lama bisa ketemu dan ngobrol2 sama eni lagi ya...

salam,