Thursday, November 06, 2008

mungkin

Si mungkin itu terkadang baik hati. Sesuatu mungkin bisa membuat kita marah atau sedih pada saat tertentu. Tapi, asalkan kita bersabar sesuatu itu mungkin bisa membikin kita tersenyum atau bahagia. Jadi, mungkin kita perlu lebih sering-sering bersabar menunggu si "mungkin" ini menunjukkan batang hidungnya dan mengajak dia bercengkrama.

Si pasti itu tidak selamanya bersahabat. Seseorang yang selama ini kita duga teman kita dan pasti akan membantu kita saat dibutuhkan, ternyata tidak seperti yang kita duga. Sebaliknya, orang lain yang selama ini tidak pernah nempel di pikiran (apalagi di hati) kita dan pasti dia juga tidak peduli sama kita, tidak tahunya malah dia yang rajin membantu kita, dengan atau tanpa kita ketahui, di belakang dan di depan kita. Nah, makanya baiknya jangan terlalu sering menggauli si "pasti" itu.

Satu hal lagi nih yang lumayan penting diungkapkan. Selama ini saya mengira bahwa orang yang paling patut dikasihani adalah dia yang tidak punya teman atau punya sedikit saja teman. Karena orang-orang seperti itu sudah pasti kesepian dan tidak punya orang lain yang bisa diandalkan, dimintakan bantuannya, atau jadi teman berbagi cerita.

Tapi, saya salah banget soal itu. Ternyata orang yang paling wajib dikasihani adalah orang yang menduga dia punya banyak teman, tapi ternyata dia tidak punya satu bijipun. Bagaimana tidak kasihan, wong ketika dia lagi jatuh sejatuh-jatuhnya dan dia pikir akan ada (banyak) orang yang menopangnya, ternyata malah kagak ade. Itu sakitnya dua kali, mas dan mbak. Sakit pertama adalah saat dia tahu tidak ada orang (teman) yang menolongnya, dan yang kedua sakit karena jatuhnya itu. Naudzubillah.

Maka dari itu, oom dan tante, boleh saja kita mengandalkan atau setidak-tidaknya menggantungkan harapan orang lain untuk hadir membantu saat kita butuhkan. Tapi, jangan terlalu mengandalkan dan harapannya sebaiknya tidak digantung terlampau tinggi. Menurut saya, yang paling baik adalah menyiapkan diri kita untuk menjadi penolong bagi diri kita sendiri. Dan tingkat atau kualitas yang lebih tinggi lagi adalah menyiapkan diri untuk membantu orang lain, tidak peduli dia itu teman kita atau bukan.

Teman itu ibarat si pasti dan orang-orang yang bukan teman itu si mungkin-nya. Menggantungkan harapan yang terlalu tinggi kepada teman itu hampir-hampir tergolong sebuah kejahatan karena kerugian yang bisa ditimbulkannya terhadap diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya, orang lain yang tidak kita anggap teman itu mungkin jadi teman kita dan sangat-sangat mungkin menjadi penolong kita saat semua orang yang kita anggap teman pasti meninggalkan kita. Mungkin.

5 comments:

uq1e said...
This comment has been removed by the author.
uq1e said...

Yaa...mungkin begitu, mungkin juga tidak Amrie agha. Tidak selalu 'si pasti' begitu dan 'si mungkin' begitu (dalam hal teman). Ukie setuju bahwa kita harus menyiapkan diri kita untuk menjadi penolong bagi diri kita sendiri. Karena mungkin memang yang bisa membantu diri kita adalah diri kita sendiri bukan orang lain :). Yaa, kita memang harus membiasakan diri untuk tidak tergantung pada apapun dan siapapun.

Segala sesuatu yang terlihat nyaman, belum tentu benar-benar nyaman...

Nice posting Amrie agha...

anggara said...

jadi mending yang mana mas

Kamila said...

maybe... si mungkin bisa pasti dan si pasti bisa mungkin juga kan..
cuma Tuhan yang tau.... ^_^

Amrie Hakim said...

@ uqie:
mungkin begitu :)

@ anggara:
mending seseorang yg pake kerudung di peradi mas :)

@ kamila:
sgt bijak sekali :)