Tuesday, March 27, 2007

sahabat

Ahad kemarin lusa saya, istri, dan beberapa rekan datang melayat seorang sahabat yang sedang ditimpa musibah. Salah seorang adik dari sahabat saya ini meninggal dunia karena ada kelainan pada jantungnya. Usia almarhum masih relatif muda, 26 tahun. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan khilaf almarhum semasa hidupnya, dan semoga Allah memperlakukan almarhum dengan Kasih Sayang-Nya, bukan dengan Keadilan-Nya. Amiin.

Cukup banyak hal berharga yang saya dapat dari pengalaman saya hari itu. Namun, pengalaman yang paling mengesankan saya adalah mengenai persahabatan dan kesetiaan dalam persahabatan. Kalau apa yaang saya lihat tidak keliru, jumlah sahabat almarhum yang datang melayat, dan mengantar hingga ke pemakaman lebih banyak daripada kerabat almarhum. Yang lebih mengharukan saya, teman-teman almarhum ikut menurunkan tanah ke liang kubur, dan merapihkan gundukan pusaranya. Subhanallah.

Satu pikiran yang langsung melintas di kepala saya adalah, akankah saya menjadi orang yang cukup beruntung untuk memiliki orang-orang yang mencintai saya seperti teman-teman almarhum adik sahabat saya di atas? Apakah saat saya wafat nanti, sahabat-sahabat juga akan turut mengantar jenazah saya ke tempat peristirahatan saya yang terakhir seperti teman-teman almarhum adik sahabat saya di atas?

Satu hal yang sempat luput dari pikiran saya saat itu adalah bahwa setiap orang menuai apa yang ia tanam. Almarhum adik sahabat saya ini mendapat perlakuan demikian rupa dari teman-temannya karena perlakuan demikianlah yang senantiasa dilakukan almarhum semasa hidupnya. Karena, satu-satunya cara untuk mendapatkan sahabat adalah dengan menjadi sahabat yang baik bagi orang lain. Ada satu kisah yang sangat baik menggambarkan hal tersebut:

Seorang pria berkata pada Junaid, “Sahabat sejati sungguh langka di jaman sekarang. Di manakah saya bisa menemukan seorang sahabat karena Allah?”. Junaid menjawab, “Jika kamu menghendaki seorang sahabat yang bersedia mengurusmu dan memikul bebanmu, memang jarang sekali. Tapi, kalau kamu menginginkan sahabat karena Allah yang hendak kau pikul bebannya dan kau tanggung deritanya, banyak yang bisa kukenalkan padamu.” (Al-Ghazzali, dikutip dari “Buku Kecil Instruksi Sufi”, diterbitkan Alvabet, Cet. 4, Januari 2003).

Wallahu ‘alam.

Wasalam,

amrie

1 comment:

Anonymous said...

setuju.... saat ini orang bisa saja bilang "wah ini sahabat saya" atau dia sahabat baik tapi sebenarnya ada tujuan lain dari pengucapan kata sahabat baik/sejati tersebut, yang biasanyan hanya untuk memanfaatkan ataumengambil keuntungan dari ikrar tersebut.
amat sangat jarang kita temui seorang teman yang mau ikut membantu saat kita susah, biasanya mereka (sahabat) hanya ingin berbagi saat kita sedang senang.