Thursday, March 08, 2007

sms terindah

Yang paling celaka dari semua manusia ialah orang yang tak dapat beroleh beberapa saudara dalam hidupnya, tetapi yang lebih celaka lagi ialah orang yang mendapat saudara tetapi menghilangkannya”. (Puncak Kefasihan, Kata-kata Hikmah ke-12).

Belum lama ini, saya mendapat sms dari seorang teman. Isi sms itu adalah yang terindah dari semua sms yang pernah saya terima sebelumnya. Indah dari sudut pandang yang lain. Ya, kesan saya saat pertama kali membaca sms ini adalah rasa tidak senang, dan sedikit sakit hati. Tapi, begitu saya baca sms itu berulang-ulang, mata saya menjadi terbuka bahwa sms itu sebetulnya obat buat saya dan hati saya.

Sempat terbetik di benak saya untuk mengungkap secara lengkap, kata-per-kata isi sms dari teman saya yang tercinta ini di blog ini. Maksud saya melakukan itu adalah semata-mata agar pembaca atau teman-teman yang lain bisa melihat sisi diri saya dari sudut pandang orang lain. Dengan begitu, saya berharap bila ada pembaca atau teman yang menganggap saya orang yang “baik-baik” akan berpikir ulang mengenai anggapannya itu. Remember, nothing is what it seems.

Tapi, kemudian saya memutuskan tidak akan menulis kembali isi sms itu, kecuali intinya saja. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa saya tidak melakukannya. Pertama, sms itu bukan milik saya, dan pengirimnya barangkali tidak menghendaki kalau isinya dibaca oleh orang lain selain saya. Kedua, saya khawatir pembaca atau teman-teman lain yang membaca sms ini akan salah sangka dengan si pengirim. Ketiga, saya takut itu akan menjadi sarana saya untuk melakukan apologia.

Pada intinya, dalam sms itu teman saya ini menyatakan kekecewaannya pada ucapan saya dalam forum rapat internal kami yang dia anggap menyinggung perasaannya. Beliau tercinta ini juga mengatakan tidak akan memaafkan saya karena itu sampai kapanpun. Kemudian, dia mengakhiri smsnya dengan kalimat yang bagi sebagian orang mungkin dapat dikatakan sarkastik atau kejam, tapi bagi saya itu adalah termasuk kalimat sms yang paling indah yang pernah saya baca. Buat saya, apa yang dia katakan itu benar, meski ada kemungkinan salah.

Sms indah ini sebetulnya adalah buntut dari kesalahpahaman yang terjadi di rapat internal. (Pilihan) kata-kata yang saya sampaikan yang masih dalam konteks pekerjaan itu tidak berkenan di hati saudara saya ini. Saat itu saya menggunakan kata “menggonggong” tanpa menyebut pada siapa kata itu ditujukan. Tapi, yang terjadi kemudian adalah teman saya ini merasa tersinggung dengan kata yang saya pakai. Saya gunakan kata ini untuk berguyon, karena selama ini teman saya ini, dan beberapa teman yang lain, sering memanggil salah satu pegawai di kantor kami dengan panggilan “utung” (kependekan dari kata “lutung”). Apalagi, dalam forum yang sama, teman saya ini juga sempat berguyon dengan saya. Tapi, itulah, apa yang lucu buat saya ternyata belum tentu lucu buat orang lain.

Andai saja kritik teman saya pada saya seperti yang dia tulis dalam sms itu mencerminkan perilakunya sehari-hari, mungkin saya akan lebih serius menanggapi kritik itu. Jika saja ketersinggungannya itu semata-mata karena dia tidak senang karena saya mengidentikkan manusia dengan hewan. Tapi, yang terjadi adalah, saya hanya meniru apa yang selama ini dia lakukan. Dan benar, sulit untuk menerima jika ada manusia disamakan dengan hewan. Tapi, kenapa dia melakukan hal yang dia benci itu kepada orang lain?

Setelah merenungi isi sms itu, saya kemudian mencoba me-reply-nya. Saya akan menuliskan secara lengkap balasan sms saya kepada teman tercinta ini. Saya berpandangan dapat melakukan ini karena sms ini adalah hak saya. Saya juga ingin berbagi kepada pembaca dan teman yang lain bahwa kritik, kecaman, atau makian seseorang kepada kita tidak perlu dibalas dengan kutukan, kecaman, atau makian lagi, apalagi yang lebih kejam. Samar-samar saya ingat ucapan Imam Ali yang mengatakan bahwa seorang yang menyampaikan kritik kepada kita sama dengan orang yang membawa kabar baik. Saya akan menyamarkan nama sahabat saya ini, dan nama-nama lain yang saya sebut di dalam sms, demi menjaga nama baik beliau-beliau. Apa yang saya tulis ini mudah-mudahan salah, tapi tentu saja ada kemungkinan benar.

Terima kasih utk semua yg xxxx tulis. Percayalah saya lbh buruk dari yg xxxx katakan, tapi saya lebih baik dr yg xxxx tdk katakan. Saya sdh minta maaf secara langsung ke xxxx di dpn yyyy dan teman saya tadi, skarang saya lakukan lagi, saya mhn maaf jika ada kata2 yg tdk berkanan. Saya juga sdh mencbut kata2 saya di rapat td. Tapi, jika xxxx tdk mau memaafkan saya, sampai mati pula, itu hak xxxx sepenuhnya. Tp, biar yyyy dan teman saya jd saksi di hadapan Allah bahwa saya sdh minta maaf. Skrng, sudahkah xxxx meminta maaf kpd semua orang yg tlh xxxx sakiti hatinya dgn lisan xxxx yg sering tak terkendali? Satu lg yg perlu xxxx tahu, sikap xxxx insya Allah takkan menyurutkan saya utk tetap mengatakan yg benar dan meluruskan yg salah. Kebencian xxxx ke saya adalah resiko konsistensi saya. Saya sampai kapanpun tdk bisa membuat semua orang senang sama saya. Bahkan, firaun memusuhi Musa sampai pendosa itu mati. Salam. Amrie”.

2 comments:

YM said...

Amrie.....

Blog Anda bagus..saya taruh link ke blog Anda di blog saya www.macammacam.info dalam bentuk rss feed. Anda tidak keberatan kan?

Terima kasih

aaai said...

alhamdulillah...
salamun'alaikum warahmatullah
"Hikmah tidak akan berpengaruh terhadap kalbu yang merosak."
Sekadar perkongsian artikel... silalah ke geocities.com/fatimah_alkubra/fashahah_diary.doc
Wasalam