Monday, February 16, 2009

pujian, diam dan konteks dari segala sesuatu

Suatu hari, Imam Khomeini mengingatkan istrinya agar lebih berhati-hati dalam berkata-kata dan menjauhi dari perbuatan bergunjing (ghibah) . Hal demikian dikatakan Imam Khomeini setelah dia mendengar sang istri memuji salah satu pelayannya yang dinilai baik dalam bekerja. "Tapi Agha, aku tidak berghibah, aku hanya mengatakan bahwa ia pelayan yang baik," kata Fatema Khanom, istri Imam.

Dengan lemah lembut Imam Khomeini menjelaskan kepada istrinya bahwa pujian kepada salah satu pembantunya itu tidak baik jika didengar oleh pembantunya yang lain.
"Yang kau ucapkan itu termasuk berghibah, karena pelayan yang lain bisa mendengar ucapanmu. Ia akan menafsirkan bahwa kau mengatakan ia tidak baik. Itulah sebabnya ucapanmu termasuk ghibah," ucap sang Imam.


Apakah kejadian di atas berarti Imam Khomeini tidak suka memuji? Tidak juga. Karena Imam sering memuji istrinya. Pernah suatu kali salah seorang putri Imam Khomeini mengatakan bahwa ibunya beruntung karena memiliki suami seperti dia. Menanggapi ucapan itu Imam mengatakan,
"Aku yang beruntung mendapat istri seperti dia. Tak seorang pun mengorbankan
hidupnya seperti dia. Jika kau seperti Khanom (istri Imam), kau pun akan sangat
disayangi suamimu."


Tapi, Imam bukan tipe orang yang mengumbar pujian. Dia memberikan pujian kepada orang yang benar-benar layak mendapatkannya dan pada waktu yang benar-benar tepat. Imam tidak pernah memuji orang lain atau bersikap ramah terhadap orang lain supaya makin banyak orang yang menyukainya.
"Berhati-hatilah, jangan memperhatikan penampilan luar. Jika kau ingin
menunjukkan pada orang bahwa kau begini atau begitu, itu berarti riya," ucap
Imam suatu saat.


Imam Khomeini sangat menganjurkan agar seseorang benar-benar berhati-hati dalam berkata-kata, memilih kata-kata dan waktu untuk berkata-kata. Seperti kisah-kisah di atas, sikap dan perkataan Imam tidak pernah lepas dari konteks yang terjadi pada saat itu. Perkataan yang benar tapi disampaikan pada yang kurang pas dapat menimbulkan hasil yang tidak diharapkan.
Jika kita belum menemukan kata-kata dan waktu yang baik untuk dikatakan, diam
boleh jadi adalah opsi yang paling baik untuk dipilih.


Kepada putrinya, Imam Khomeini pernah mengatakan,
"jika suamimu kesal, atau ia mengatakan sesuatu padamu karena alasan apa pun,
atau jika ia berlaku tidak baik, janganlah mengatakan apa-apa saat itu juga,
meskipun seandainya kau benar. Tunggulah hingga ia tenang, baru kemukakan apa
yang ingin kau katakan."
Imam paham benar bahwa kita tidak dapat benar-benar menarik kembali perkataan yang sudah terlanjur terucap karena jika perkataan itu buruk, dia terlanjur membekas di hati orang lain yang terlukai hatinya karena ucapan itu.

---------
Referensi: "Potret Sehari-hari Imam Khomeini", penerbit Pustaka IIman, Cetakan II, Januari 2007.

4 comments:

uq1e said...

Yaa, Imam Khomeini mang teladan yg baik. Mgkn tdk byk org yg bs seperti itu. Memuji sseorang mgkn mang ada baikny tdk perlu byk org lain tau kl kt memuji sseorang itu, krn mgkn bs jd itu menimbulkan kcemburuan sosial yg shrsny tdk perlu terjadi. Kl kt memuji sseorg mgkn lbh baik ckp kt dan dia (yg dpuji) yg tau..

Sepertinya tidak mudah untuk menghindari melakukan sesuatu yang menyakitkan orang lain dg kata2 yang terlanjur terucap, apalagi kl lg emosi. Tapi mudah2an bukan berarti tidak mungkin untuk mengurangi melakukan hal tersebut..

Amrie Hakim said...

@ ukie:
demikian sejauh yg saya tahu :)

noerce said...

betul skalie amrie agha...
(makasih dah mau berbagi2 ilmunya )

@ ukie jan ---> sesekali boleh dicoba koq teori ukie jan laiknya Imam Khomeini tuk jadi teladan yang baik...amien. yuks qta coba, betulll amrie agha?

Amrie Hakim said...

@ noerce:
bicarakan hanya apa2 yg kita lakukan :)