Tuesday, December 18, 2007

sepercikan mutiara & keteladanan Imam Khomeini

1. "Bahkan jika aku (istri Imam) masuk ke suatu ruangan, ia (Imam Khomeini) tidak pernah berkata, 'Tutup pintu,' tetapi menunggu hingga aku duduk, baru kemudian ia bangkit dan menutup pintu sendiri."

2. Sepanjang 60 tahun itu, ia tak pernah meminta dibawakan air minum, tetapi selalu mengambilnya sendiri. Jika posisinya jauh dari tempat air minum, ia akan mengatakan, 'Apakah tempat airnya tidak di sini?"

3. "Aku yang beruntung mendapat istri seperti dia. Tak seorang pun mengorbankan hidupnya seperti dia. Jika kau seperti Khanom (istri Imam), kau pun akan sangat disayangi suamimu."3

4. "Berhati-hatilah, jangan memperhatikan penampilan luar. Jika kau ingin menunjukkan pada orang bahwa kau begini atau begitu, itu berarti riya."

5. "Jika suamimu kesal, atau ia mengatakan sesuatu padamu karena alasan apa pun, atau jika ia berlaku tidak baik, janganlah mengatakan apa-apa saat itu juga, meskipun seandainya kau benar. Tunggulah hingga ia tenang, baru kemukakan apa yang ingin kau katakan"

6. "Berkatalah benar kepada anak-anakmu agar mereka pun tidak berdusta. Mereka senantiasa mencontoh ayah dan ibu mereka. Jadi bersikaplah baik kepada anak-anak agar mereka tumbuh dengan baik pula. Apapun yang kau nasihatkan kepada mereka, pastikan bahwa engkau pun melakukan hal serupa."

7. "Jangan meremehkan pekerjaan rumah. membesarkan anak bukan persoalan kecil. Jika seseorang bisa membesarkan anak dengan baik, ia telah mempersembahkan pengabdian yang teramat besar bagi masyarakat."

8. "Aku tidak akan menukar satu jam waktu bersenang-senang dengan belajar, tidak pula satu jam untuk belajar dengan bersenang-senang."

9. "Sepengetahuanku, pahala menjamu tamu tidak lebih kecil dibandingkan pahala berziarah dan berdoa."

10. "Sesungguhnya, jiwaku sendiri mengajakku bersikap lebih ramah terhadap mereka agar jumlah orang yang menyukaiku bertambah banyak. namun, agar ajakan ini menarik bagiku, setan berkata, 'Ini demi Allah dan Islam!' Karena itulah aku tidak bisa melakukannya."

11. "Tak ada bedanya antara aku dengan pasukan penjaga yang berada di pos di ujung jalan sana. Ia memiliki kehidupan, aku pun demikian. Jika hidupnya berharga, hidupku pun berharga. Demi Allah, aku tak melihat perbedaan antara aku yang terbunuh atau penjaga di ujung jalan itu."

12. "Seandainya kau tidak memasukkan pengetahuan itu ke dalam hati, dengan kata lain kau hanya mempelajarinya, maka ia akan menjadi kotak tempat kau menyimpan bermacam memori, laiknya perpustakaan. Jika demkian, pengetahuan itu sendiri akan menjadi tabir."

13. "Dalam pesanku ini, aku menulis: "Aku berdoa untuk kalian dengan segenap kemampuanku,' aku ingin mengubahnya menjadi "Aku berdoa untuk kalian semampuku.' Kalimat ini lebih tepat."

14. "Demi Allah, jika Ahmad (putra Imam) melakukan pelanggaran kecil sekalipun dan hukumannya adalah kematian, aku sendiri yang akan membunuhnya."

15. "Jika kalian tidak memiliki pengetahuan dan jika kalian tidak memiliki agama, bersikaplah bijaksana. Jangan ada hasrat di hati kalian untuk mencemari citra manusia."

16. "Aku tahu ajalku tak lama lagi. Jika kalian (para dokter) ingin mempertahankan aku demi diriku sendiri, biarkanlah aku seperti ini. Tapi jika itu demi umat, lakukanlah segala yang haru kalian lakukan."

17. Dalam shalat-shalat malam terakhir yang dijalankannya, Imam sering kali menangis sembari merintih kepada Allah: "Wahai Allah, terimalah aku."

18. Bahkan istri Imam mengaku tak pernah sekalipun terbangun karena Imam tak pernah menyalakan lampu ketika shalat malam. Jika beliau akan berwudhu, beliau menempatkan spons di dasar lantai untuk meredam bunyi percikan air, dengan demikian orang lain tidak terbangun.

19. "Sebisa mungkin, baktikanlah dirimu untuk masyarakat dengan cara apa pun (dan) beribadahlah sebaik mungkin selagi muda. Sadarilah berharganya usia muda, karena begitu kalian mencapai usiaku, kalian tidak lagi mampu melakukan banyak hal, seperti aku yang tidak bisa berbuat apa-apa."

-------------------------------
Dikutip dari: "Potret Sehari-hari Imam Khomeini", penerbit Pustaka IIman, Cetakan II, Januari 2007.

2 comments:

noerce said...

Pada posisi mana harusnya saya menempatkan peran yg tepat ketika harus memberikan comment atas tulisan ini. Mengingat begitu Integralnya aspek yg disentuh & sangat terperinci dr percikan mutiara Nasihat & Keteladana Sang Imam. Sbg isteri, sungguh sebuah kemuliaan ktk suami memahami peran sang isteri yg begitu mulia...bukan begitu bg para "suami??" ^_^

musida said...

teladan tinggal teladan, jika tidak diamalkan. amalkan ilmu sedikit demi sedikit, maka diri kita akan menjadi lebih baik dari hari ke hari.