Wednesday, June 04, 2008

si buyung

Yesterday, love was such an easy game to play
~ The Beatles, 'Yesterday'

"Saya akan mundur saja, Mas," kata si Buyung tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya saya, setengah kaget.
"Kayaknya dia semakin mengambil jarak. Lagipula, dugaan saya sebelumnya sepertinya makin benar. Dia sedang dekat dengan orang lain. Dari 'kasta' yang lebih tinggi," ucap Buyung sambil tersenyum.

"Ya, sudah. Mungkin lebih baik begitu," kata saya. Melihat dia sepertinya masih berharap ada lanjutan dari kalimat saya sebelumnya, saya kemudian melanjutkan, "maksud saya, baiknya sampeyan mundur dengan pertimbangan mungkin itu akan membuat dia lebih bahagia. Tapi, jangan mundur cuma gara-gara ada saingan, sekalipun dari 'kasta' yang lebih tinggi."

"Tapi, apa Mas masih mau bantu saya?" Ah, si Buyung menagih janji saya sebelumnya.
"Itu dia, dik Buyung. Dalam perjalanan ke sini, saya sempat berpikir kalau saya mungkin tidak bisa membantu. Dulu saya menawarkan bantuan cuma bermodal semangat, niat baik. Saya sadar, saya tidak punya kemampuan untuk membantu. Kalau cuma punya niat tapi tidak punya kemampuan, itu malah tidak akan membantu," saya berkelit dengan susah payah.

"Mas pasti bisa bantu saya," Buyung meyakinkan saya.
Saya berpikir sebentar. Bagaimanapun saya merasa bersalah karena sudah mengucap janji. "Saya cuma bisa menulis, dik Buyung," kata saya akhirnya.
"Jadi, Mas akan buat tulisan soal masalah yang saya hadapi?" Pertanyaan Buyung, buat saya, lebih terdengar sebagai pernyataan daripada pertanyaan.
"Saya usahakan," sambut saya, masih agak ragu.

Malam itu, si Buyung dan saya kemudian menghabiskan sisa makanan dan minuman yang tersisa di meja, sebelum akhirnya kami pergi meninggalkan warung.

***

Abu Dzar adalah salah satu sahabat yang ikut ekspedisi ke Tabuk bersama Rasulullah Saw dan para pasukannya. Perjalanan ke Tabuk (400 mil di utara Madinah) kala itu teramat berat di tengah panas padang pasir yang membara. Di tengah jalan, tiga orang, satu demi satu, tercecer di belakang, dan setiap kali ada yang tercecer, Nabi diberi tahu, dan setiap kali itu Nabi berucap: "Jika ia orang baik, Allah akan mengembalikannya; jika ia orang tidak baik, lebih baik ia pergi (tidak menyusul)."

Unta Abu Dzar yang kurus dan lemah terbelakang, dan dia pun tertinggal di belakang. "Ya Rasulullah, Abu Dzar juga tercecer!" ujar salah seorang sahabat. Nabi pun mengulangi kalimat yang sama: "Jika ia orang baik, Allah akan mengembalikannya; jika ia orang tidak baik, lebih baik ia pergi."

Pasukan itu terus maju, dan Abu Dzar makin tercecer tetapi tak ada yang dapat dilakukannya; binatang tunggangannya itu tetap tak berdaya. Apa pun yang ia lakukan, untanya tak juga bergerak, dan kini ia telah tertinggal beberapa mil di belakang. Ia membebaskan untanya, lalu memikul sendiri muatannya. Dalam suhu terik itu ia meneruskan perjalanan di gurun panas. Ia serasa akan mati kehausan. Ia menemukan tempat berteduh pada batu-batu yang terlindung panas oleh bukit. Di antara batu-batu itu ada sedikit air bekas hujan yang menggenang, tapi ia berniat tidak akan meminumnya mendahului sahabatnya, Rasulullah Saw. ia mengisi air itu ke dalam kantong kulit (kirbat), memikulnya, dan bergegas menyusul kaum muslim yang telah jauh di depan.

Di kejauhan, pasukan muslim melihat suatu sosok. "Ya Rasulullah! Kami melihat suatu sosok menuju ke arah kita!"

Beliau Saw berucap semoga sosok itu adalah Abu Dzar. Sosok itu makin dekat, dan memang itu Abu Dzar, tetapi tenaga yang terkuras dan dahaga serasa mau mencopot kakinya. Nabi Saw khawatir ia akan roboh. Nabi Saw menyuruh agar Abu Dzar secepatnya diberi minum, tapi Abu Dzar berkata dengan suara serak bahwa ia mempunyai air. Nabi Saw berkata: "Engkau mempunyai air, tetapi engkau hampir mati kehausan!"

"Memang ya Rasulullah! Ketika saya mencicipi air ini, saya menolak meminumnya sebelum sahabatku, Rasulullah," ucap Abu Dzar.*


=============
*Dinukil dari Murtadha Muthahhari, "Karakter Agung Ali bin Abi Thalib", dari "Bihar al-Anwar".

8 comments:

uq1e said...

Mmmm...sebenarnya agak binun maksud dari tulisan yang pertama dan yang kedua, apa hubungannya ya? Tapi mungkin yang membuat itu jadi nyambung adalah kutipan yang ini "Jika ia orang baik, Allah akan mengembalikannya; jika ia orang tidak baik, lebih baik ia pergi."

Cinta itu mang kelihatannya saja mudah, mudah didapatkan, mudah dicari, mudah untuk disia-siakan, tapi kenyataannya tidak seperti itu. Cinta itu bukan permainan, bukan untuk dimainkan. Tapi walo cinta itu tidak mudah didapatkan, bukan berarti dengan begitu kita menyerah untuk mendapatkan cinta yang kita harapkan. Selama masih memungkinkan, selama Allah mengijinkan, kenapa kita tidak tetap berusaha untuk mendapatkan cinta itu :).

Kalau cinta itu memang baik dan memang untuk kita, insyaAllah...Allah akan selalu memberikan kita kemudahan untuk mendapatkan cinta itu. Walo sepertinya tidak mungkin, tapi bila Allah mengijinkan maka bisa menjadi mungkin :). So, don't give up...

bloggerbercerita said...

Huaaa... Saya terharu sekali dengan Abu Dzar. Cintanya kepada Rasul SAW sungguh besar...

Amrie Hakim said...

@ uq1e:
hari kemarin, kata paul, cinta adalah permainan yang gampang dimainkan. tapi sekarang, kata dia lagi, saya butuh tempat untuk bersembunyi.

@ kimi:
di buku dari mana kisah itu saya kutip, muthahari menulis, "perbedaan antara ajaran para nabi dan ajaran para filosof adalah; murid para filosof tidak lebih dari pengaruh guru; tetapi pengaruh para nabi laksana pengaruh orang yang dicintai, dan mencengkramnya, serta menguasai setiap unsur hidupnya."

Ahead said...

Inspiratif mas amrie...
saya lagi ngadepin (jadi curhat) dan saya suka blog ini :)

Amrie Hakim said...

@ ahead:
terima kasih untuk kunjungan perdana ibu dokter ke blog saya. salam hangat.

Yuhendra said...

bang amrie,...
nih tulisannya kok enak tenan yah dibaca, santai aku loh bang bacanya sambil makan siang, sering kali aku berenti ngunyah dan angguk2 kepala.... jadi agak bekurang beban pikiran hihihihihi,..... kalo lagi stress ngurusin hukum di blog saya, aku main2 kesini deh bang

hahahha,....

oh yah bang,
gali lagi lah hal yang lebih mendalam masalah "ikhlas" kemarin

terima kasih

regards,

-ndra-

noerce said...

itsar (=mendahulukan kepentingan saudaranya dari kepentingan diri sendiri).

Sudah lama saya tunggu2 gaya tulisan mas amrie model dialog spt ini(hidup aza rasanya), smp2 tertawa terkekek2 dgn muatannya (sbnrnya dgn kata "tercecer" ala abu dzar).Analogi saya terlalu "nyleneh mgkn yach?" ^_^

Amrie Hakim said...

@ yuhendra:
saya bersyukur kalau mas suka dengan entry saya yang satu ini. salah satu konsep saya dalam blogging adalah membuat tulisan yang ringkas, ringan, dan "bergizi".

soal permintaan mas, saya takut berjanji, tapi mudah2an bisa terlaksana. insya Allah.

@ noerce:
kalau nur ada waktu mungkin bisa jelaskan soal yang bikin nur terkekek2. arigatou.