Monday, May 19, 2008

the philosophy of losing

Sebagian dari kita mungkin setuju bahwa kebahagiaan itu sebetulnya terletak pada bagaimana cara kita memandang sesuatu atau setiap hal yang terjadi pada diri kita. Saat kita ditimpa musibah misalnya, bukankah kita dapat melihatnya dari sisi bahwa kita dapat tertimpa musibah yang lebih buruk daripada yang menimpa kita saat itu? Dan, yang lebih penting, sudah barang tentu, adalah bagaimana kita dapat belajar dari musibah tersebut.

Dengan rumus yang sama, kita juga dapat melihat kekalahan melalui perspektif atau cara pandang yang lebih luas. Kalah memang tidak enak, tapi itu bukan berarti tidak ada yang enak yang dapat kita nikmati dari kekalahan. Menang mungkin sedap rasanya, tapi menang terasa lebih lezat jika kita sudah pernah mengecap rasa kekalahan.

Filosofi kekalahan dengan sangat baik diungkapkan dalam film yang menawan berjudul 'A Good Year'. Dalam sebuah adegan film itu dikisahkan seorang kakek mencoba menghibur cucunya yang baru saja ia kalahkan dalam pertandingan tenis di salah satu sudut rumahnya. Sang kakek mengatakan begini kurang lebih, "Kamu akan belajar bahwa seorang pria tidak belajar apa-apa dari kemenangan. Kekalahan, bagaimanapun juga, dapat melahirkan kebijaksanaan yang besar. Salah satunya adalah bahwa menang itu jauh lebih menyenangkan dari pada kalah. Hal yang lumrah jika sekali-dua kali kita mengalami kekalahan. Rahasianya adalah jangan menjadikan hal itu sebagai kebiasaan."

Saya melihat bahwa apa yang dikatakan sang kakek kepada cucunya itu merupakan hal yang indah. Dengan ungkapan yang cukup fasih, dia menyampaikan dua hal yang sama sekali berlawanan tapi di saat yang sama, begitu berkelindan, yaitu betapa enak dan tidak enaknya kalah; "Kekalahan, bagaimanapun juga, dapat melahirkan kebijaksanaan yang besar. Salah satunya adalah bahwa menang itu jauh lebih menyenangkan dari pada kalah".

Jadi, tanpa perlu mengubah tekad dan upaya kita untuk terus unggul dalam bidang-bidang yang kita kuasai, kita juga perlu terus mengingat bahwa kalah-menang bukanlah tujuan hakiki kita. Karena buat apa kemenangan yang dicapai melalui cara-cara orang kalah? Dan, hal mana yang lebih manis daripada kekalahan yang didapat setelah usaha dan doa yang maksimal? Kemenangan belum tentu membawa kebahagiaan dan kekalahan tidak harus ditanggapi dengan kesedihan. Wallahu 'alam.

6 comments:

uq1e said...

Setuju dengan “kebahagiaan itu sebetulnya terletak pada bagaimana cara kita memandang sesuatu atau setiap hal yang terjadi pada diri kita”. Begitu juga kekalahan, kalo kita menerimanya dengan hati yang sedih dan tidak ikhlas mungkin hal itu justru akan mempersulit diri kita sendiri. Banyak hal yang bisa kita pelajari dari musibah dan kekalahan yang kita alami, salah satunya mungkin seperti yang Amrie agha tulis, “kekalahan juga dapat melahirkan kebijaksanaan yang besar”.

Bagaimanapun juga yang kalah tidak selalu akan kalah dan yang menang tidak akan selalu menang, ada kalanya hal itu bergantian. Yang kalah bukan berarti berputus asa dan berhenti berusaha, begitupun dengan yang menang, bukan berarti bisa berbesar kepala dan berhenti berusaha untuk mempertahankan kemenangan.

....Kekalahan adalah kemenangan yang tertunda :)…..

Fr!Sa said...

kalo frisa pernah di kasih nasehat sama seorang teman bahwa kebahagiaan itu jangan diletakkan pada seseorang, tapi pada diri sendiri.

Karna kalo diletakkan pada org lain, maka pada saat kita bersedih karena kekalahan yg kita terima kita merasa tidak bahagia dengannya. Tapi kalo diletakkan pada diri sendiri, sedih atau senang ataupun menang kalah yg kita rasakan tidak akan sampai terlalu parah, Karna kebahagiaan itu akan selalu ada di diri kita.

Frisa setuju bgt dengan "kekalahan juga dapat melahirkan kebijaksanaan yg besar", hanya saja mungkin depend on person, ada orang yg berkali2 merasa kalah dlm hidupnya maka dy tidak menjadi bijaksana krn menurut dy hidup dy jadi seperti dikutuk, padahal kan g gitu ya mas amrie??

Kalo menurut aku, kekalahan dalam sesuatu itu justru aalah modal utama gimana besok supaya bisa menang dan lebih bijaksana dalam menyikapi kemenangan itu.

salam...peace...love...and...koprol 2x kebelakang hehehehe

Amrie Hakim said...

@ uq1e:
saya bingung utk komentar apa. anggap aja tulisan ini utk mengobati kesedihan ukie krn kekalahan tim uber Indonesia 2008.

@ fr!sa:
kita semua kan pemenang frisa. kita adalah sperma yang mengungguli ribuan sperma yg berebut utk dipilih untuk dibuahi oleh sel telur ibu kita.

"salam...peace...love...and... koprol 2x kebelakang hehehehe"--> kebanyakan nonton film sun go kong?

noerce said...

Jd malu sbnrnya dgn tulisan ini...
Coz' tkdang sikap mental diri yg tdk siap dgn makhluk satu ini yg namanya "Kekalahan", rasanya ingin Slalu jd juara...^_^

Hikmah sang kakek itu yg bgitu sulit kadang digali diri...krn keangkuhan ini...^_^

diriku...jgn bgitu, makasih utk slalu jd teman yg mengingatkan, buat mas amrie atas tulisannya yg "deg-nyentuh keegoanku-", mbak ukie, m'frisa jg, 4 all...jgn prnh berhenti memberikan nasihatmu teman... ^_^

Amrie Hakim said...

@ noerce:
maaf saya tidak bisa balas komentar apa-apa, nuri jan...

ukie said...

2 Mba Nur :
Mungkin karena mang sudah sifat manusia juga ya mba, selalu mau menang, gak mau kalah, selalu pengen dapatin apa yang kita mau dan gak terima kalo kita gak bisa dapatin yang kita mau, selalu mau jadi yang pertama, gak mau jadi yang kedua, ketiga dan seterusnya...Sudah menjadi sifat manusia bukan egois dan angkuh itu :)...

Dan mudah2an mba Nur dan Amrie agha gak pernah bosen juga kasih nasihat apapun ke Ukie, hehehhe...