Thursday, December 13, 2007

mengapa tidak berlemah lembut?

"... maka disebabkan rahmat Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka." (QS: Ali Imran [3]: 159)

Satu hal yang dialami seorang teman belum lama ini semakin mempertebal keyakinan saya bahwa kelemahlembutan wajib didahulukan daripada ucapan atau perilaku yang kasar atau semena-mena. Sikap lemah lembut itu, menurut saya, ibarat software super hebat yang compatible di segala jenis operating system, kapanpun. Sebaliknya, adalah sifat naluriah manusia untuk menolak sikap semena-mena atau aniaya dari orang lain.

Segala tipe manusia suka diperlakukan lemah lembut, dan sebaliknya hanya segelintir orang saja yang bisa menerima perlakuan yang kasar. Mungkin tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa kelemahlembutan itu inheren di dalam diri setiap manusia. Setiap orang dalam kondisi normal tidak akan resisten terhadap perlakuan lemah lembut dari orang lain.

Kelemahlembutan adalah sesuatu yang wajib diterima oleh seorang anak dari kedua orangtuanya sejak anak itu dilahirkan. Kelemahlembutan juga merupakan "mata kuliah" yang wajib diajarkan di dalam setiap keluarga. Jadi, jika kita menemui seseorang yang sikapnya jauh dari kelemahlembutan, itu sudah cukup buat kita untuk bertanya-tanya mungkin ada yang salah di keluarganya.

Memang kadangkala juga terjadi bahwa seseorang meninggalkan atau terkikis sifat lemah lembutnya karena faktor lingkungan (di luar keluarga yang bersangkutan), atau bahkan bahan bacaan. Seseorang yang hobi membaca kisah hidup para tiran, diktator, dan penguasa penghisap darah rakyatnya punya peluang besar untuk ketularan sifat tokoh yang digemarinya itu.

Kita juga sebenarnya tidak pernah benar-benar aman dari intaian sifat kejam, kasar, dan aniaya. Tanpa kita sadari mungkin kita sering bersikap kasar atau kejam terhadap orang-orang yang kita pandang lemah, mereka yang miskin, atau yang posisinya lebih rendah dari kita di tempat kerja.

Sebaliknya, mungkin kita telah terbiasa untuk berlemah-lembut terhadap orang yang lebih kuat dari kita, yang kita anggap punya kekuasaan lebih besar dari (kekuasaan) kita. Sikap lemah lembut jenis ini biasanya muncul didorong oleh rasa takut dan bukan kasih sayang.

Sikap seperti itu -- kasar kepada yang lemah dan lemah lembut kepada yang kuat -- harus kita akui sebagai sesuatu yang nyaris, mohon maaf, menjijikan. Kalau kita bisa berlemahlembut kepada mereka yang kita anggap punya power lebih besar dari kita, kita harus belajar berlemah-lembut pula kepada mereka yang lemah.

"Tuhanku, letakkanlah hikmah dalam hatiku dan
kelemahlembutan dalam benakku agar
aku tidak membiarkan emosi menutup akalku,
tidak juga akalku mengalahkan perasaanku.
Tuhanku, penuhkanlah hatiku dengan toleransi.
Bantulah aku sehingga tidak memperbesar
kesalahan orang lain agar aku
mampu melupakan kesalahan. Bantu pula
aku menemukan kesalahan-kesalahanku,
agar dapat bersegera memohon maaf dan
memperbaiki diri."*


------------
* Referensi: M. Quraish Shihab, "Yang Sarat & Yang Bijak", Penerbit Lentera Hati, September 2007, hal. 253-254.

4 comments:

noerce said...

Sebenarnya dari semua perlakuan yang muncul dari kita itu adalah ekspresi sebuah: kebencian, kasih sayang, kejujuran atau apa yang kita alami. Hanya saja yang membedakan dapat dikategorikan cerdas/tdk cerdas adalah bgmn memanagemenya sehingga semua ketidaknyaman yg kita alami semua resultnya adalah ekspresi "bahagia, kasih sayang, kejujuran, ketulusan memberi"...Karena tdk smua org disekitar kita akan mampu menerjemahkan apa yg kita alami saat itu dengan perubahan sikap/tutur kita, kadang Baik atau kadang tidak baik...Sou ka..??Nuri Smile {^_^}

ukie said...

Setiap manusia itu punya sisi kelemahlembutan dan ketidak-lemahlembutan, namanya juga manusia, gak ada yang sempurna. Dan pastinya semua manusia itu mau berlemah lembut, gak ada lah yang gak mau begitu. Ukie hampir yakin sisi kelemahlembutan setiap manusia itu lebih dominan ketimbang sisi ketidak-lemahlembutan.

Ukie setuju sama Mba Nur :D, "Karena tdk smua org disekitar kita akan mampu menerjemahkan apa yg kita alami saat itu dengan perubahan sikap/tutur kita, kadang Baik atau kadang tidak baik", setuju bangettt...Biasanya kalo kita lagi menghadapi suatu masalah, tanpa kita sadari, itu akan mempengaruhi sikap/tutur kita,sehingga pada akhirnya yang terlihat sisi ketidak-lemahlembutan kita. Kalo sudah begini, siapa yang salah dan yang disalahkan? Siapa yang rugi dan dirugikan? Ga ada kalee ya...Jawabannya ya kembali ke diri masing-masing, hehehe....

dita desiana said...

Damai sekali kalau setiap orang bisa bersikap lemah lembut. Mungkin untuk menyampaikan sebuah pesan yg baik dengan lemah lembut namun tetap tegas tidak semua orang bisa melakukannya. Namun sesepele apapun hal yg kita katakan lakukanlah dengan cara2 yang baik dan lemah lembut tanpa harus “marah-marah” misalnya. Karena
cara penyampaian pesan yg tidak baik pun bisa menimbulkan efek yg tidak mengenakkan (hmm,,yg ini berdasarkan pengalaman pribadi). Terima kasih sudah membuat tema ini. “Kalau bisa dengan lemah lembut kenapa harus marah-marah”.

Amrie Hakim said...

buat noerce:
kadang saya berpikir bahwa saat masih berada di kepala kita ide itu ibarat sebuah kode yang masih perlu dipecahkan atau diuraikan sehingga dapat mudah disampaikan dan dipahami oleh lebih banyak orang. nah, begitupula dengan komentar nur yang satu ini, ibarat sebuah kode yang belum dipecahkan dengan sempurna. ide yang ada dalam komentar nur tidak mampu diterjemahkan oleh saya, yang sepertinya belum memiliki tingkat pemahaman seperti yang dimiliki saudari ukie. gomen, nuri chan.

buat ukie:
menurut saya ukie, kelemahlembutan itu lebih dari sekadar dominan di dalam diri manusia, tapi sudah fitrahnya. manusia telah terbiasa dengan kelemahlembutan sejak dia masih di dalam rahim ibunya. menarik untuk direnungkan bahwa kata "rahim" (uterus) diambil dari kata Rahiim atau Ar-Rahiim yang merupakan salah satu nama baik Allah SWT yang berarti Maha Penyayang.

buat dita:
selalu timbul ketakutan di dalam diri saya setiap melakukan (mengatakan, menulis) suatu yang menurut saya baik: saya tidak melakukan kebaikan itu karena Allah, tapi karena (ingin mendapatkan pujian dari) manusia. dita, saya mohon doa dari dita dan teman-teman yang lain agar Allah memberikan kita konsistensi dan kekuatan dan kesempatan untuk melakukan kebaikan karena Allah semata-mata.