Monday, November 26, 2007

saya vs. dokter gigi..

Gigi adalah salah satu bagian tubuh saya yang paling bermasalah. Setidaknya ada beberapa keluhan yang sudah lama saya rasakan di geligi saya terutama gigi bolong dan gusi berdarah. Beberapa gigi saya bolong di bagian atas dan bawah, di bagian kanan dan kiri pula. Nyeri dan berbagai ketidaknyamanan lainnya yang menyangkut gigi-gigi itu hampir menjadi bagian dari keseharian saya.

Berobat atau perawatan rutin ke dokter gigi tidak pernah jadi agenda saya sejak bertahun-tahun lamanya. Terakhir ke dokter gigi sekitar dua tahun lalu, itupun karena dipaksa sama istri. Setelahnya saya kapok karena sakit. Padahal, saya harus kembali ke dokter yang sama sekitar satu bulan setelah itu untuk mengganti tambalan sementara. Saya pikir, dikasih tambalan sementara aja sakitnya bukan main, apalagi tambalan benerannya.

Soal ke dokter gigi, istri saya sepertinya lebih hebat dari saya. Dia tidak kapok ke dokter gigi padahal sebelumnya pernah punya pengalaman yang nyaris bagai mimpi buruk saat salah satu giginya dicabut. Makanya, tidak jemu-jemu dia minta saya ke dokter gigi. Barangkali itu karena dia tidak tega saya merana terlalu lama. Contohnya, beberapa menit sebelum saya menulis di sini, dia tanya, "Pa, kapan mau ke dokter gigi?" Saya jawab, "nanti kalo dokter giginya cuti.."

Akhirnya, dia usul supaya saya menulis sesuatu di blog mengenai (masalah) gigi saya, "kali aja ada hikmahnya buat orang lain," begitu istri saya bilang. Terus terang, saya belum tahu hikmah apa yang bisa diambil dari masalah gigi dan gusi saya ini, kecuali kita perlu rajin-rajin merawat gigi dan secara rutin pergi ke dokter gigi. Satu lagi, jangan takut sama dokter gigi. Apalagi, kata istri saya, baru-baru ini ada semacam perubahan paradigma di kalangan profesi dokter gigi. "Sekarang orientasi semua dokter gigi adalah mempertahankan dan mengobati gigi (yang sakit), daripada mencabut," begitu kata istri saya lagi. Jangan tanya saya apa yang istri saya bilang itu bener atau nggak, karena saya juga nggak tahu.

Tapi, sepertinya saya memang harus memberanikan diri untuk menyambangi dokter gigi karena masalah gigi dan gusi saya makin parah sekarang. Belum lama ini misalnya gusi saya tiba-tiba mengeluarkan darah begitu saya selesai makan bakso. Mungkin serem buat yang lihat waktu itu, kayak Dracula. Bagaimanapun, saya ingin memberikan contoh ke anak saya kalau tidak ada yang perlu ditakutkan dari dokter gigi. Juga agar dia lebih rajin merawat giginya supaya tidak rusak dan sakit seperti gigi saya. Percayalah, tidak sepenuhnya benar kalau dikatakan sakit gigi itu lebih ringan daripada sakit hati..

6 comments:

Anggara said...

saya sih lebih senang skit hati dari pada sakit gigi. sakitnya nggak nahan, belum lagi kalau harus dicabut iiih syeereeem

Kamila said...

wah, pa Amrie gaya tulisannya semakin santai rupanya. Tapi, saya tetap suka kok bacanya... ^-^

Amrie Hakim said...

tapi, mas anggara, yang lebih syeereeem lagi adalah sakit gigi dan sakit hati di waktu yg sama... itu mbahnya syeereeem...

buat kamila; santai dan serius itu sepertinya memang lebih pas kalau digilir. tapi, anda kok suka baca cerita orang yang kesakitan? penggemar film Saw atau Hostel ya? ihh syereemm :)

Anonymous said...

assalamu'alaikum Amrie...

Gmn udah jd ke dr gigi blm? Kalo blm sy sarankan spy Amrie segera ke dr gigi. Gak usah takut, lebih baik ditangani dari sejak dini daripada mjd lebih parah lagi.

Pengalaman sy ditambal memang waktu awalnya gigi terasa sakit. Wkt itu gigi sy bolongnya udah dalem banget, udah nyampe ke syaraf. Rasanya ngiluuuu bgt. Wkt itu sy sampai pergi ke 3 dr gigi. Dr gigi yang pertama dan kedua udah nyerah, mereka menyarankanspy gigi sy dicabut. Akhirnya sy cari dr gigi referensi dari teman sekantor sy. Alhamdulillah, stlh menjalani perawatan kira-kira sampai 4 kali, gigi sy bisa ditambal tetap dan gak usah dicabut dan gak skt lg sampai skrg:)

Pokoknya Amrie jgn takut ke dokter gigi, biasanya dokter gigi yg bgs tdk akan menambal tetap bila kondisi gigi kita msh sakit.

Smg cpt smbh ya Am...

Amrie Hakim said...

lewat yahoo messenger, saya jadi tahu kalau "anonymous" di atas adalah eni :)

eni adalah salah satu orang yang jarang sekali saya lihat kecuali sedang tersenyum.

eni juga salah satu orang yang saya sangat sungkan untuk meminta bantuan darinya. karena khawatir saya diberikan bantuan lebih dari yang seharusnya saya dapat dari dia :)

untuk kasus sakit gigi ini aja, eni tidak cuma merekomendasikan dokter gigi langganannya tapi lengkap juga dengan petunjuk bagaimana mencapai tempat praktek dokter itu. apa yang eni berikan, lebih dari yang saya harapkan :)

siapa dia..?? said...

Ingat dokter gigi...Jadi ingat sebuah profesi yang justru legal dan tidak pernah di tindak. Bagaimana tidak, dengan sangat jelas dan bahkan sangat jelas, sebuah papan bertuliskan, "Pembuat Gigi Palsu" eh..malah dipliara...coba mana pernah org berprofesi dalam hal palsu memalsu malah di bayar dan terlebih legal loh...!hehe...just kidding!