Friday, November 02, 2007

pakaian

Lumayan sering saya ditanya istri kenapa begitu suka sekali memakai kemeja putih yang, menurut dia, sudah lusuh untuk pergi ke kantor. Sambil berkelakar saya menjawab, "kalau pakai kemeja putih ini saya merasa seperti Presiden Iran Ahmadinejad." Jawaban itu seringkali efektif untuk menghibur dia yang kesal karena saya yang masih tambeng.

Sebetulnya, tidak terlalu berlebihan kalau dia sering protes soal favoritisme saya terhadap kemeja putih lusuh itu. Belakangan, dia belikan saya beberapa kemeja baru dengan harapan agar saya meninggalkan kemeja-kemeja lusuh itu. Sebagai bagian dari ekspresi cinta kepada istri, pakaian baru itu saya pakai, dengan tetap diselang-seling dengan kemeja putih favorit saya pada hari-hari lainnya.

Jujur saja, alasan saya menggemari kemeja putih itu karena saya merasa kemeja itu "jatuhnya" pas di badan saya yang lumayan kerempeng ini. Sedangkan, kemeja-kemeja lainnya cenderung sedikit besar untuk badan saya. Dan juga karena saya menyukai pakaian "bekas" orang lain. Nah, sebagian besar kemeja putih itu adalah milik istri. Sampai sekarangpun, beberapa pakaian yang pernah dipakai ayah saya juga masih sering saya pakai.

Selain alasan di atas, di mata saya, kemeja putih lusuh itu mewakili kesederhanaan dan, insya Allah, bisa menjauhi saya dari sifat sombong. Saya juga sering mengombinasikan atasan putih itu dengan celana panjang hitam sehingga saya tidak ada bedanya dengan karyawan-karyawan yang masih dalam tahap percobaan (trainee) atau seperti petugas katering di pesta pernikahan.

Presiden Ahmadinejad dalam setiap kesempatan selalu terlihat menggunakan pakaian yang jauh dari penampilan presiden pada umumnya. Setelan sehari-harinya adalah kemeja tanpa dasi, jas yang sangat biasa, celana panjang lusuh, dan sepatu butut. Sama seperti mahasiswa Iran kebanyakan. Namun, penampilannya yang demikian rupa sama sekali tidak mengurangi wibawanya sebagai presiden sebuah negara besar.

Dalam sejarah, Imam Ali bin Abi Thalib terkenal sebagai pemimpin yang sangat sederhana dalam segala hal, termasuk berpakaian. Pakaian yang dia kenakan sehari-hari jauh lebih rendah kualitasnya daripada pelayannya. Imam Ali juga sering menggunakan pakaian yang penuh tambalan. Salah seorang sahabatnya pernah menanyakan kenapa ada tambalan di bajunya, beliau menjawab, "pakaian seperti ini membuatmu berhati lembut, meluluhkan rasa sombong dari pikiranmu dan orang-orang muslim miskin dapat membelinya dengan mudah."

Tidak jarang terlintas di kepala saya untuk memakai pakaian yang bagus agar saya terlihat serba "lebih" di antara orang kebanyakan. Pada kesempatan lain, saya sering tergoda untuk memilih pakaian yang kira-kira dapat membuat orang menghormati saya. Kadang tidak sedikit dari kita yang memilih pakaian "mewah" demi mengelabui orang lain dari melihat kekurangan-kekurangan dan ketidakmampuan-ketidakmampuan kita.

Tapi, dalam kesederhanaan itu, saya sering nyaris tergelincir ke dalam jurang kesombongan juga. Betul bahwa saya mungkin terhindar dari sifat riya' (pamer), tapi sifat ujub (bangga diri) senantiasa mengancam saya. Bangga bahwa mungkin saya adalah satu dari sedikit orang yang bisa berpakaian sederhana. Bangga bahwa dengan bersikap sederhana, saya akan disenangi oleh banyak orang. Saya mohon perlindungan Allah dari bencana sifat bangga diri.

Kadang bukan cuma dengan berpakaian bagus atau mewah seseorang bisa terjerumus kepada sifat sombong. Seseorang bisa menjadi sombong meskipun dia tidak memakai selembar benangpun di badannya atau memakai sedikit pakaian saja untuk menutupi tubuhnya.

Begitupula sebaliknya, tidak selalu pakaian mewah membuat pemakainya menjadi tinggi hati. Karena Nabi Muhammad sendiri sesekali tidak menolak memakai pakaian tenunan dari Yaman sebagai pakaian yang mewah sesuai dengan acara bila memang menghendaki demikian.

Imam Ali mengatakan bahwa yang penting adalah si pemakai pakaian, dan bukan pakaiannya itu sendiri. Karena keindahan lahiriah bukanlah keindahan yang hakiki. Wallahu 'alam.


Referensi:
-----------
1. Syed M. Askari Jafari, Gold Profile of Imam Ali, Pustaka IIman, 2007.
2. Ali Shofi, Kisah-kisah Imam Ali bin Abi Thalib as, Penerbit Lentera, 2003.

2 comments:

nur susilowati said...

Kapan, dimana, dengan siapa dan kondisi apapun...ide, inspirasi itu mampu lahir dari sesuatu yg awalnya tampak begitu biasa yg memang menganggapnya biasa saja, namun menjadi tidak biasa bagi merka yang senantiasa haus dan haus ilmu.
Seperti hari ini, satu lagi hikmah hidup saya peroleh dari hal yang td saya sebut di atas, melalui ketikan tuts2 kreatif sang pemiliknya, Bpk. dari seorang putri cantik. Darinya, ia sanggup menyajikan kisah sederhana itu mjd sajian bacaan sarat makna. Masih kah kita malu untuk memulai berbagi hikmah dengan yang lain...?
Akan arti menghormati, menghargai dan byk hal...
Salute buat mas Amrie,...20 jari dech. Selalu ada peran perempuan "hebat" dibalik lelaki "hebat"...
Majulah perempuan...
Majulah w

Amrie Hakim said...

adinda nur, sekali lagi terima kasih atas apresiasinya. terus terang, saya ga tahu bagaimana mengomentari komentar nur yang satu ini. karena sungguh, saya (dan juga istri) tidak layak dapat semua pujian yang nur tulis itu kecuali yang bagian "haus ilmu".

sekali lagi, terima kasih buat adinda yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan-tulisan saya yang tidak kalah fakirnya dengan penulisnya sendiri.