Thursday, September 04, 2008

tidak semua keinginan bisa, eh, harus diwujudkan

Saya lagi naksir hape terbaru keluaran produsen Korea. Pertama kali lihat di majalah FHM edisi September '08, langsung jatuh cinta. Besoknya saya mampir ke gerainya di Lippo Supermall, makin jatuh cinta. Memang masih ada keragu-raguan misalnya, bagus-tidaknya kualitas hape itu. Tapi, sepertinya cinta saya jauh lebih besar daripada keraguan saya.

Belakangan ini, istri iba melihat saya yang sering termenung di depan iklan hape itu di FHM. Tak seperti biasanya, majalah FHM saya kini lecek di bagian iklan hape tersebut, dan bukan di halaman-halaman "menu utama" majalah itu. "Ya sudah nanti beli saja pakai uang THR," kata istri mencoba menghibur. "Ngga lah, bisa-bisa uang THR saya tinggal sedikit kalau buat beli itu. Padahal, banyak keperluan lain yang lebih penting," kata saya berlagak bijak.

Saya sempat melupakan keinginan memiliki hape tersebut walaupun tidak beberapa lama. Saat melintas daerah Slipi, saya melihat iklan hape itu di baliho yang besar sekali. Wah, cinta lama bersemi kembali jadinya. Besoknya saya lewat jalan itu lagi dan lihat baliho itu lagi, "Aduh jadi tambah ingin memiliki," kata saya dalam hati.

Teman saya bilang, hape itu tidak terlalu bagus. Penilaian itu bukan karena dia sudah punya atau tahu dari orang yang sudah memakainya, tapi hanya berdasarkan iklannya. Saya tidak peduli karena sudah terlanjur jatuh cinta. Saya bahkan tidak perlu diyakinkan oleh siapapun lagi kalau hape itu bagus dan wajib dimiliki. Cinta saya sepertinya nyaris irasional.

Tapi, saya tahu kalau tidak semua keinginan harus kita wujudkan, sekalipun kita bisa mewujudkannya. Hidup adalah seni memilah dan memilih mana keinginan yang harus kita wujudkan, mana yang bisa kita kesampingkan, dan mana yang perlu kita kubur dalam-dalam. Keinginan adalah sumber penderitaan, begitu kata Iwan Fals. Itu boleh jadi benar. Dan jangan menganggap semua penderitaan itu sebagai hal yang negatif. Penderitaan adalah bagian dari perjuangan untuk mewujudkan keinginan. Dan hidup adalah perjuangan, begitu kata pak Quraish Shihab tadi subuh di TVRI. Dalam kasus hape ini, saya siap menderita demi menunggu masa yang tepat untuk memilikinya, atau bahkan untuk tidak memilikinya. Insya Allah.

6 comments:

uq1e said...

:) sama kalo gitu, Ukie jg lagi naksir HP, pengen ganti HP rencananya dari taun kmrn, tapi blm kesampaian krn kebutuhan yg lbh penting jg buanyakkk, hehhehe... Dulu sih ngebettt buangggeettt, tapi insyaAllah sekarang udh gak lagi :).

Memang gak semua keinginan kita itu bisa kita wujudkan/dapatkan. "Allah mungkin tidak memberikan segala sesuatu yang kita inginkan, tapi Allah memberikan semua yang kita butuhkan", jadi kita seharusnya tetap bersyukur dengan apa yang sudah kita miliki sekarang... :). Nice posting Amrie agha...

noerce said...

He he...bgitulah kalau rasa "ingin memiliki terasa kuat menguasai diri". Seolah tak bisa di tahan barang sebentar saja.

Tapi terkadang benar apa yg dikatakan ukie chan, bahwa jk masih "bisa" dengan apa yg ada dgn kewajiban lain yg masih hrs memenuhi..gak ape-ape dech...tahan neng...(he he).

Katanya kalau bersabar itu akan indah hasilnya (inshaalloh). It's about time ^_^

Amrie Hakim said...

@ uqie:
bener banget ukie, saat ini saya lg ngebet banget..

@ noerce:
it's about time :) thank you nuri jan.

Anggara said...

ternyata mas Amrie pembaca FHM juga, FHM versi mana nih mas?

Amrie Hakim said...

@ anggara:
FHM edisi Indonesia... selama ramadhan, buka-bukanya setelah berbuka hehehehe...

uq1e said...

Mmmm... akhirnya sekarang kesampean juga ya, Hape keluaran Korea yang Mas Amrie pengenin... :p Alhamdulillah...