Tuesday, August 12, 2008

surga

Saya pernah diajarkan dulu bahwa wanita yang wafat ketika melahirkan akan masuk surga. Sejak pertama kali mengetahui hal tersebut (mungkin hadis) tidak sulit bagi saya untuk memercayainya. Mungkin saja ada tempat tersendiri di surga bagi para wanita yang gugur waktu memperjuangkan hidup sang jabang bayi dengan mempertaruhkan hidupnya sendiri.

Kemarin pagi, saat sedang mengurus administrasi di loket askes di sebuah RS di Tangerang, saya bertemu dengan seorang bapak yang juga sedang mengurus keperluan yang sama untuk istrinya. Awalnya, saya hanya mendengar secara sambil lalu waktu si bapak berjawab-tanya dengan petugas loket askes.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang istimewa dari tanya-jawab antara sang bapak dengan petugas loket askes. Dari dialog antara keduanya, saya jadi tahu bahwa istri sang bapak baru saja melahirkan anak keduanya lewat operasi. Awalnya, saya juga tidak terlalu memerhatikan betapa selama berbicara wajah sang bapak terlihat murung (ekspresi yang lumrah ditemui di RS di mana saja).

"Istri Bapak meninggal jam berapa?" pertanyaan sang petugas itulah yang bikin saya terkejut. Saya langsung melihat ke wajah sang bapak yang sejak tadi berdiri persis di sebelah kanan saya. "Jam sembilan tadi," jawab si bapak. Saya lemas dan tidak tahu mesti bagaimana. Akhirnya, saya paksa untuk membuka mulut, "Yang meninggal istri Bapak?" Sang bapak mengiyakan. Saat itu saya bisa melihat lebih jelas ekspresi si bapak. Jelas sekali kalau dia sekuat tenaga menyembunyikan kesedihannya. "Bapak biar sabar ya," ucap saya yang tidak tahu harus bicara apalagi. Sekarang saya tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu.

Anaknya selamat meski masih dalam perawatan khusus. Jenazah almarhumah istrinya masih di ruang ICU. Kepada sang petugas si bapak mengatakan kalau dia dan istrinya masuk RS itu pada Minggu sore. Usia kandungan sang istri saat itu delapan bulan. Sang istri memiliki riwayat penyakit yang, menurut si bapak, telah diinformasikan kepada pihak RS di hari pertama mereka masuk.

Lepas dari apapun yang terjadi di meja operasi, saya yakin istri sang bapak itu masuk surga. Saya tidak melihat balasan yang lebih baik dari surga bagi sang ibu yang telah menjaga dengan penuh cinta, kasih dan sayang bayi yang dikandung selama delapan hingga sembilan bulan penuh, siang-malam, sambil berdiri dan duduk, panas dan sejuk, di bawah terik matahari dan guyuran hujan, dalam keadaan kuat dan lemah, saat istirahat dan juga bekerja, dan kemudian wafat ketika berjuang hidup sang bayi dengan hidupnya sendiri... Balasan apalagi yang lebih baik dari surga?

4 comments:

ukie said...

Cerita yang sangat menyentuh. Mudah-mudahan balasan yang paling baik bagi para Ibu yang wafat karena memperjuangkan hidup si jabang bayi yang ada di dalam kandungan adalah surga, surga dan surga.

Dan mudah-mudahan tidak hanya bagi para Ibu yang wafat karena memperjuangkan hidup si jabang saja, tapi mudah-mudahan juga bagi semua para Ibu di dunia ini...tidak ada balasan yang pantas untuk para Ibu di dunia ini selain mendapatkan surga, mudah-mudahan Ukie bener... :)

Tulisan yang sangat menyentuh Amrie agha :)

noerce said...

iyach, cerita yang menyentuh. Itulah ladang "jihad" perempuan yang tidak ada balasan lebih besar selain "jannah", inshaAlloh..^_^

eni said...

cerita yg sangat menyentuh. Mata saya sampai berkaca-kaca waktu membaca cerita ini.

semoga istri bapak itu masuk surga. Dan bagi bapak itu diberi kekuatan dan ketabahan menghadapi cobaan ini. Amin.

Anonymous said...

Iyah terus dibikin cerita kalo kuntilanak itu asalnya perempuan yang meninggal karena melahirkan.
Atau sundel bolong itu perempuan yang meninggal karena diperkosa kemudian menjadi hantu. Alih2 mereka masuk surga eh malah ngegerayangin orang. Dimana penghargaan pada perempuan? Dimanaaa....*sinetron MODE ON

Semoga semua lelaki seperti Bang Amrie yang bersimpati pada perempuan. Uhuuyyy...