Thursday, January 17, 2008

disobedience

When leaders act contrary to conscience, we must act contrary to leaders. ~Veterans Fast for Life

Satu dari sejumlah hal yang paling sulit, tapi boleh jadi cukup sering, kita hadapi dari orang-orang di sekeliling kita adalah pembangkangan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pembangkangan (disobedience) berarti tidak mau menurut (perintah), mendurhaka, menentang, menyanggah. Pembangkangan, pendeknya, adalah penolakan mengikuti perintah.

Dalam satu waktu kita adalah pihak yang menghadapi pembangkangan, tapi di waktu yang lain boleh jadi kita adalah yang menjadi pembangkang. Sebagai anak, kita mungkin sering membangkang terhadap orangtua; sebagai adik, kita hampir pasti pernah membangkang terhadap kakak kita; sebagai bawahan, boleh jadi sekali-dua kali kita pernah melakukan pembangkangan terhadap atasan.

Berdasarkan pengalaman, menjadi pembangkang sepertinya lebih mudah daripada menghadapi pembangkangan. Hampir semua orang berpotensi untuk menjadi pembangkang yang baik atau yang buruk, tapi mungkin hanya sedikit orang yang bisa menjadi individu yang dapat menghadapi pembangkangan dengan baik.

Pembangkangan memang semestinya tidak dilihat semata sebagai aksi insubordinasi, tapi juga sebagai bentuk dorongan untuk melakukan perbaikan terhadap ketidaksesuaian yang mungkin ada. Karena pembangkangan tidak mungkin muncul tanpa ada sebabnya. Pembangkangan adalah api yang disulut oleh ketidakpuasan, kekecewaan, atau juga ketidakmampuan. Jadi, sebab pembangkangan bisa jadi halal atau haram.

Pembangkangan bisa ditemui dalam bentuknya yang paling halus hingga yang paling ekstrim. Pembangkangan yang paling halus biasanya ditunjukkan dengan sikap diam, pasif, atau tidak melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh mereka yang punya hak untuk memberikan perintah. Pembangkangan yang derajatnya lebih tinggi biasanya disertai dengan protes lewat lisan atau tulisan atau juga perbuatan.

Rasulullah saw. juga pernah menghadapi semacam pembangkangan dari sebagian sahabat yaitu usai penandatanganan perjanjian Hudaibiyah dengan kaum Quraisy. Nabi mengajak para sahabatnya untuk menyembelih kurban dan bercukur, namun tidak ada seorang pun sahabat yang melaksanakan perintah beliau. Bahkan, sampai beliau saw. mengulangi perintahnya hingga tiga kali, para sahabat masih diam.

Penyebab dari penolakan kaum muslimin dapat dipahami oleh Rasulullah yaitu ketidakpuasan mereka dengan isi perjanjian Hudaibiyah yang dipandang merugikan kaum muslimin dan menguntungkan kaum Quraisy. Tapi, sesungguhnya Rasulullah mengetahui apa yang tidak diketahui para sahabatnya. Di kemudian hari terbukti bahwa sejak perjanjian itu disepakati lebih banyak orang yang berbondong-bondong masuk Islam.

Nabi sempat bingung bagaimana menyikapi penolakan para sahabatnya itu. Beliau kemudian meninggalkan mereka dan meminta pendapat istrinya yang ikut serta dalam perjalanan kali itu, Ummu Salamah, tentang apa yang beliau hadapi. Ummu Salamah kemudian mengatakan, "Wahai Rasulullah, janganlah anda menegur mereka sebab baru saja mereka melakukan pekerjaan yang sangat berat dan mereka merasa sedih akibat perjanjian itu, sebab mereka harus pulang tanpa ada hasil apa-apa. Untuk mengatasi persoalan ini saya mempunyai pendapat yaitu hendaklah engkau keluar kepada mereka tanpa bicara sepatah katapun , kemudian engkau sembelih kurban dan panggillah salah seorang dari mereka untuk mencukur rambut engkau."

Sedemikianlah Rasulullah menghormati pendapat orang lain, kendati beliau adalah Nabi yang mendapat wahyu dari Tuhan. Nabi dikenal sebagai orang yang paling banyak bermusyawarah, baik dengan para sahabatnya ataupun dengan istri-istrinya. Sebagian besar sahabat bahkan merasa jengah melihat istri-istri Nabi seringkali bebas menyatakan pendapat mereka kepada Rasulullah. Dikisahkan kemudian, Nabi saw. mengikuti pendapat Ummu Salamah. Begitu melihat Rasulullah menyembelih kambing dan bercukur, para sahabat kemudian mengikuti apa yang beliau lakukan.

Demikian beliau saw. menghadapi pembangkangan dari sebagian sahabatnya saat di Hudaibiyah. Dan demikian pula para sahabat mengakhiri dengan santun dan penuh kepatuhan pembangkangan yang sebelumnya mereka lakukan juga dengan cara yang santun. Itu adalah bentuk pembangkangan yang paling santun yang dilakukan oleh mereka yang dididik oleh manusia yang paling santun.

Jadi, boleh dibilang mustahil bagi kita untuk berharap bahwa kita tidak akan menghadapi pembangkangan dari orang lain. Hal yang dapat kita harapkan adalah bahwa saat itu terjadi kita dapat menghadapinya dengan baik dan lembut sebagaimana Rasulullah melakukannya. Dan, yang paling penting, adalah salah mengharapkan kepatuhan (obedience) dari orang lain jika apa yang kita lakukan berlawanan dengan kebenaran.

4 comments:

Anggara said...

saya suka kagum dengan mas amrie ini, mengutip soal perilaku dari contoh Rasulullah

Amrie Hakim said...

mas anggara, terima kasih untuk apresiasi mas. tapi, sungguh, tidak ada hal yg perlu dikagumi. kebetulan aja saya sedang hobi baca biografi Rasulullah. kadang ada beberapa kisah di sana yang agak saya hapal dan begitu berkesan buat saya. dan kebetulan lagi, masalah yang saya temui sehari2 mengingatkan saya kepada sebagian kisah itu. beberapa waktu terakhir ini, ada semacam ketagihan tersendiri untuk menulis tentang kisah hidup nabi. jadi, saya mohon dikoreksi jika ada kesalahan dalam riwayat atau jalan cerita yang saya tulis.

salam hangat,

noerce said...

Klo mas amrie begitu antusiasme mengenal sosok panutan kita satu ini...Bearti saya hrs juga terpacu..(Tgkt minat baca Bpk satu ini sugguh luar biasa utk ditiru...^_^)

Bukan bgitu pembaca skalian?...hehe

anggara said...

@noerce
saya baru tahu ternyata mas amrie buku freak