Wednesday, June 27, 2007

ketegangan yang mencari saya

Kata sebagian orang, hidup itu seperti naik roller-coaster. Ada naiknya, ada turunnya, plus ketegangannya. Pas lagi naik, pengennya turun karena takut setengah mati. Pas sudah turun, pengennya naik lagi karena, anehnya, sangat mengasyikan. Ketegangan itu ternyata sesuatu yang sering kita cari-cari.

Tapi, apa yang saya alami baru-baru ini malah ketegangan yang mencari saya. Dan ketemu lagi. Ketegangan menjumpai saya di kantor. Lewat salah satu rekan kerja. Kebetulan -- saya yakin ini kebetulan belaka -- dengan rekan yang sebelumnya marah-marah sama saya. Yang bikin saya lebih sedih lagi adalah pokok pangkal masalah yang di-sitegangkan tidak penting.

Tapi, apa yang tidak penting buat saya, mungkin penting buat orang lain, khususnya untuk rekan saya yang satu ini. Rupanya isi e-mail saya yang merupakan balasan atas e-mail dia sudah cukup buat yang bersangkutan untuk marah-marah sama saya lewat lisan dan e-mail. Sikap dia ini sungguh menegangkan buat saya. Dada langsung dag-dig-dug. Lagi-lagi, perasaan kaget (karena tidak menyangka reaksi dia akan demikian), emosi (karena agak tidak menerima isi makian dia yang menurut saya berlebihan), dan geli (soalnya aneh kok bisa bersitegang sama orang yang sama lagi) campur aduk.

"Sabar itu tidak ada batasnya" begitu kalimat yang saya sering baca di status Yahoo! Messenger salah satu teman. Kalimat itu, alhamdulillah, bikin kepala saya lumayan adem. Saya juga marah, tapi di dalam hati aja. Lagipula, saya malu kalau harus ikutan marah-marah dan dilihat rekan-rekan yang lain. Yah, akhirnya saya menghibur diri sendiri: kalau orang lain harus mencari ketegangan dengan pergi ke Dufan, misalnya, dan bayar lumayan mahal, nah hari ini malah ketegangan menghampiri saya dan gratis. Kalau kata iklan Citibank, pengalaman saya hari ini, "priceless".

Oiya, e-mail saya yang bikin rekan saya ini "murka" isinya itu cuma 4 huruf dan 6 titik: ...HOAX... Dan di bawah ini adalah e-mail balasan saya terhadap e-mail balasan dari dia yang isinya kurang lebih mengatakan isi e-mail saya dan cara penyampaiannya tidak "polite".

Perlu saya ingatkan kepada pembaca, selain saya, bahwa seperti posting-posting saya sebelumnya, posting yang satu ini hanya mengandung kebenaran sepihak yaitu kebenaran versi saya. Jadi, kalau pembaca percaya, saya tidak bersyukur, kalau tidak percaya, saya juga tidak merasa merugi.

Semoga Allah menjadikan kita orang yang mudah diingatkan dan mampu mengingatkan.

Salam,

amrie

"Tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih saya kepada Xxxx, berikut ini tanggapan saya:

1. e-mail saya sebelumnya, yg merupakan reply dari e-mail Xxxx yang tanpa subject, SAMA SEKALI BUKAN EKSPRESI KETIDAKSUKAAN saya terhadap e-mail dari Xxxx tersebut. Saya terus terang tdk tahu dari mana/bagaimana Xxxx bisa menyimpulkan/menafsirkannya seperti itu.

2. buat yang belum tahu arti kata HOAX yang saya tulis di e-mail sebelumnya, berikut definisinya yang saya kutip sedikit dari wikipedia:
A hoax is an attempt to trick an audience into believing that something false is real. (Hoax adalah upaya untuk mengelabui audiens/pembaca/pendengar untuk memercayai sesuatu yang salah seolah-olah adalah benar).

3. dari poin 2 di atas, sebetulnya e-mail saya sebelumnya justru ingin mencegah e-mail bohong tersebut semakin tersebar luas. Kenapa saya tidak mendiamkan aja e-mail bohong yang diteruskan Xxxx? Kenapa saya harus repot-repot me-reply? Karena, itulah saya. Kalau saya tahu dan yakin sesuatu itu salah, yah saya katakan salah. Toh, saya tidak menyalahkan si penerus e-mail bohong itu.

4. sebetulnya kalau protes Xxxx adalah karena saya me-reply to all (recipients/penerima), itu sekali lagi bukan salah saya. Saya sama sekali tidak melanggar etika dalam ber-e-mail yg saya tahu. Karena apa? Karena e-mail Xxxx sebelumnya dikirimkan BUKAN KE “UNDISCLOSED RECIPIENTS” (penerima disembunyikan atau dibuat tidak terlihat oleh si pengirim). Dengan demikian, adalah HAK ATAU PILIHAN SAYA SEPENUHNYA sebagai penerima e-mail yang sudah meluangkan waktu untuk membaca e-mail itu untuk me-reply to all (recipients) atau hanya kepada si pengirim.

5. jadi dari poin 4 di atas, kalau Xxxx cukup berpengalaman dalam hal berkirim e-mail, sehingga tahu mana yang polite dan yang tidak, harusnya Xxxx bisa menggunakan fasilitas “BCC” seperti yang saya lakukan dalam e-mail ini. Selain sebagai pelajaran gratis, ini saya lakukan juga agar setiap reply terhadap e-mail ini akan masuk HANYA ke e-mail saya. Jadi Xxxx atau yg lain ga bisa tahu apa tanggapan dari para penerima e-mail ini kalau ada nanti. Jadi, insya Allah, tidak ada yang tersakiti hati dan perasaannya.

6. insiden e-mail bohong ini semoga bisa jadi pelajaran buat kita semua, tidak terkecuali saya dan Xxxx untuk lebih berhati-hati lagi dalam berkata-kata. Mengirim atau meneruskan e-mail itu tidak ubahnya seperti kita berkata-kata, semuanya harus dipikir masak-masak terlebih dulu. Sebelum berkata-kata, kita perlu memikirkan dulu manfaat dan akibatnya. Tidak semua yang ada di kepala kita harus kita katakan. Katakan hanya yang hal bermanfaat dan tahan lisan dari berkata yang sia-sia. Begitu juga, sebelum kita berkirim atau meneruskan e-mail, kita baiknya meneliti dulu isinya dan lihat siapa saja yang akan menerima e-mail itu.

7. berbeda dengan persoalan atau “perang” – begitu Xxxx menyebutnya – kita sebelumnya, kali ini saya tidak akan meminta maaf kepada Xxxx karena tidak ada kesalahan yang saya buat. Sama sekali. Saya juga tidak akan meminta Xxxx untuk meminta maaf kepada saya walaupun saya berhak atas itu. Cukup bagi saya kalau Xxxx memaafkan diri Xxxx sendiri karena begitu mudahnya melahirkan dan menebarkan kebencian kepada orang lain tanpa alasan yang benar.

8. semoga Allah mengampuni dan memberikan kita petunjuk.

Salam hangat,

amrie"

Wednesday, June 20, 2007

penulisan dan membaca sejarah ali

Berikut ini adalah e-mail saya kepada seorang sahabat yang sama-sama penyuka buku sejarah, khususnya sejarah Nabi dan empat khalifah yang lurus (khulafa ar-rasyidin).

Subject: penulisan dan membaca sejarah ali

Dear S*****,

Berikut ini ada artikel yang gw ambil dari Kompas yang judulnya "Penulisan Sejarah dan Penelitian Makam Keluarga Yesus". Menurut gw, tulisan ini bagus banget buat kita yang suka membaca buku-buku sejarah, terutama sejarah Rasul dan Ali. Khusus terkait Ali, artikel ini jadi relevan karena pendekatannya menjelaskan model penulisan sejarah buku Dinasti Umawiyah yang gw baru selesai baca.

Secara umum, buku itu adalah buruk, menurut gue. Bukan karena penulisnya cenderung mengecilkan (peran) Ali dan membesar-besarkan (peran) Muawiyah sebagai pemimpin yang berhasil dalam sejarah Islam. Tapi, karena metode penulisannya yang tidak konsisten. Misalnya, dia dengan tegas menolak hadis mengenai kronologis terbunuhnya Usman yang berasal dari perawi yang Syiah. Penolakannya itu, seperti dia akui sendiri, semata-mata karena perawinya Syiah sehingga sang penulis khawatir sang perawi tidak "netral" atau condong mendiskreditkan bani Umayyah dalam tragedi pembunuhan Usman. Walaupun, kronologis dari perawi Syiah ini jauh lebih lengkap dibanding perawi dari sisi Sunni. Namun, pada bab yang berbeda dia merujuk pada hadis dari perawi Syiah yang sama di saat dia tidak punya sumber lain yang bisa dia rujuk. Di sisi lain, daya kritis si penulis agak kendur saat berhadap-hadapan dengan hadis/riwayat dari sisi Sunni.

Menurut gue, seharusnya si penulis menjabarkan riwayat atau versi baik dari sisi Sunni maupun Syiah. Nanti biar pembaca yang menilai sendiri mana yang paling mendekati kebenaran. Itulah yang dilakukan Thaha Husain dalam buku Fitnatul Kubra yang betul-betul mengagumkan. Memang daya kritis Thaha Husain di buku itu membuat dia jadi kontroversial karena lugas mengkritik sahabat-sahabat Nabi. Tapi, itupun dia lakukan karena tidak ada cara lain untuk menganalisis tragedi pembunuhan Usman tanpa menyoroti sosok dan peran tiap-tiap orang yang terlibat atau hidup di masa itu. Kalau dibanding Fitnatul Kubra, buku Dinasti Umawiyah kualitas penulisannya bisa disebut menyedihkan.

Tapi, ada satu hal yang gw dapat dari buku Dinasti Umawiyah yaitu mengenai penulisan sejarah seputar pembunuhan Usman yang betul-betul lepas dari unsur teologi. Ini mungkin mendekati teori penulisan sejarah yang ditulis di artikel terlampir: "...asumsi dasariah dalam penulisan sejarah adalah segala sesuatu dapat terjadi dalam dunia ini hanya karena sebab-sebab empiris natural, sosiologis, dan kultural." Sosok Ali misalnya, digambarkan sebagai pemimpin yang gagal dalam berpolitik, tapi kesalehannya sebagai pemimpin tidak ada tandingannya pada masanya. Sebaliknya, sosok Muawiyah ditulis sebagai sosok pemimpin yang berhasil meski tidak memiliki kesalehan seperti Ali. Muawiyah (dan Marwan) juga digambarkan sebagai pemimpin yang nyaris tanpa cela dan tangannya bersih dari darah Usman.

Penggambaran sosok Ali yang demikian sedikit sekali gw dapet dari buku-buku koleksi gw yang lain yang kebanyakan lebih condong kepada Ali. Dalam menulis tentang Ali, buku-buku yang kebanyakan diterbitkan penerbit bermazhab "ahlul bait", mereka mungkin boleh dibilang belum dapat melepaskan pendekatan teologi. "Di dalam teologi (khususnya di dalam agama-agama monoteistik), penyebab-penyebab sebuah kejadian dalam dunia dijelaskan tidak terlepas dari keterlibatan Allah di dalamnya, keterlibatan faktor nonempiris supernatural, nonsosiologis, dan nonkultural. Jikalau seorang sejarawan menulis sebuah uraian sejarah dengan ke dalamnya ia melibatkan intervensi Allah ke dalam dunia kodrati, maka ia berhenti menjadi seorang sejarawan, berubah menjadi seorang teolog, dan karya tulisnya berubah menjadi sebuah teologi."

Nah, salah satu buku sejarah Ali yang mungkin berkualitas dalam hal penulisannya, meski belum bisa disandingkan dengan Fitnatul Kubra tapi jauh lebih baik dibandingkan Dinasti Umawiyah, adalah buku Ali bin Abi Talib yang ditulis Ali Audah. Buku ini diterbitkan bukan oleh penerbit bermazhab ahlul bait, tapi oleh penerbit yang sebelumnya menerbitkan buku-buku biografi Rasulullah, Abu Bakar, Umar, dan Usman karya M.H. Haekal.

Akhir kata, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca e-mail gw yang panjang lebar ini. Mohon luangkan waktu sekali lagi untuk menuliskan pendapat lo tentang pandangan di atas.

Wasalam,

amrie

Tuesday, June 19, 2007

tha'if

"Ya Allah, kepada-Mu aku mengeluhkan kelemahan-kelemahanku, ketidakberdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi! Engkau Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau hendak menyerahkan diriku? Kepada orang-orang asing yang bermuka masam terhadapku atau kepada musuh yang Engkau takdirkan akan mengalahkanku? Hal itu tidak aku risaukan, jika Engkau tidak murka kepadaku. Namun, rahmat-Mu bagiku amat luas. Aku menyerahkan diri pada cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan dan menentukan kebaikan urusan dunia dan akhirat. Aku berlindung dari murka-Mu. Aku senantiasa mohon rida-Mu. Karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas perkenan-Mu."(1)

Doa di atas adalah salah satu doa Rasulullah yang sangat terkenal. Doa yang dikenal sebagai Doa Thaif ini beliau panjatkan di bawah sebuah pohon anggur di daerah Tha'if. Doa tersebut adalah rintihan hati beliau setelah beliau mendapat perlakuan yang menyakitkan dari warga Tha'if yang tidak hanya menolak dakwah beliau, tapi juga menganiaya beliau. Diriwayatkan, dalam peristiwa ini beberapa bagian tubuh beliau bercucuran darah karena dilempari batu oleh penduduk Tha'if yang menolak dakwah beliau.(2)

Peristiwa Tha'if terjadi pada masa yang disebut sejarawan sebagai "Tahun Duka Cita" yaitu pada tahun 691 M. Saat itu, Rasulullah berumur 50 tahun. Disebut Tahun Duka Cita karena pada tahun itu nabi kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya dan mereka pun sangat mencintai beliau. Pada tahun itu, Nabi ditinggal Khadijah, istri yang sangat beliau kasihi. kematian Khadijah kemudian segera disusul oleh kematian paman beliau, Abu Thalib. Abu Thalib adalah salah satu kerabat Nabi yang selalu menjadi pelindung beliau dari ancaman Quraisy Mekkah.

Kematian Abu Thalib membuat kaum musyrik Quraisy makin berani menyerang Nabi. Jika sebelumnya serangan mereka hanya sebatas cercaan atau hinaan, kali ini mereka telah berani berbuat lebih jauh. Dalam satu kesempatan, seseorang melemparkan kotoran ke wajah dan seluruh kepala Nabi. Untuk menghindari serangan dari Quraisy Mekkah, kemudian beliau pergi ke Tha'if dengan maksud mencari perlindungan dari Bani Tsaqif. Akan tetapi, sambutan penduduk Tha'if tidak lebih baik dari penduduk Mekkah.

Tahun Duka Cita atau peristiwa Tha'if khususnya, buat saya, adalah episode paling memilukan dalam sejarah hidup Rasulullah. Tapi, dari episode inilah saya jadi mengetahui kebesaran jiwa Rasulullah. Tidak ada kekecewaan atau kutukan apalagi kemurkaan yang keluar dari lisan beliau di saat beliau mendapat siksaan dan cemoohan dari banyak orang. Peristiwa itu juga menunjukkan bahwa sekuat-kuatnya pelindung selain Allah adalah lemah dan sementara. Diceritakan, ketika Rasulullah pulang dengan wajah dan kepala berlumur kotoran, salah seorang putrinya membasuh dan membersihkannya sambil menangis. "Jangan menangis putriku," kata beliau, "Allah akan melindungi ayahmu."

----------
Referensi:
(1) Martin Lings, Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Serambi, Cetakan pertama, April 2007.
(2) Abdul Wahab Hamudah, Saat-saat Kritis dalam Kehidupan Rasulullah, Pustaka Firdaus, Cetakan keempat, Januari 1991

Wednesday, June 06, 2007

utang

Salah satu “kebijakan ekonomi” yang diterapkan lumayan ketat di keluarga kecil kami adalah menahan diri (sekuat mungkin) dari membuat utang. Atas dasar itu, saya melarang diri saya sendiri dan istri untuk membuka rekening kartu kredit, walaupun makin hari makin banyak teman, tetangga dan rekan kerja di sekeliling kami yang menggunakan kartu kredit. Alhamdulillah, kami belum tergoda untuk mengisi aplikasi kartu kredit di bank manapun. Untuk yang satu ini, kami siap untuk menjadi orang kuno. Kalaupun sikap kami yang menghindari kartu kredit dan alergi untuk berutang dianggap "kampungan", kami rela, insya Allah.

Meski begitu, bukan berarti kami tidak pernah membuat utang sama sekali. Sejauh ini, kalaupun harus berhutang, kami menghindari membuat utang dengan bank atau lembaga keuangan lain. Itu kami lakukan karena takut akan (sistem) bunga (yang berbunga) di bank dan juga karena dana yang kami perlukan sejauh ini tidak terlalu besar, alhamdulillah. Kalau saya tidak salah, kami pernah meminjam uang dari koperasi di kantor istri. Selain berbunga ringan, sistem peminjaman dana di koperasi tersebut sedemikian rupa memungkinkan si peminjam memperoleh kembali (dalam porsi tertentu) bunga yang pernah dibayarkan lewat sisa hasil usaha yang dibagikan setiap tahun.

Kalaupun harus meminjam uang, itupun kami lakukan, sebisa mungkin, untuk keperluan yang sangat sangat penting. Artinya, kami berusaha keras untuk tidak berutang demi hal-hal yang konsumtif. Seingat saya, kami tidak pernah berutang untuk membeli televisi, sekalipun televisi di rumah kami sudah berkurang performa visualnya, kami cukup sabar untuk tidak berutang untuk membeli DVD player atau perangkat home theater yang berkualitas tinggi sekalipun saya adalah penggila dvd, bahkan saya juga sangat menahan diri dari mengkredit motor baru untuk mengganti motor yang sudah hampir enam tahun terakhir saya gunakan. Waktu itu, kami berutang dari koperasi untuk merenovasi rumah.

Imam Ali bin Abi Thalib pernah berucap bahwa sedikitnya tanggungan keluarga adalah sebagian dari rezeki (tolong koreksi jika saya salah kutip). Dari hikmah itu mungkin kita bisa pula mengatakan bahwa sedikitnya tanggungan (beban) utang adalah sebagian dari rezeki. Saya berdoa memohon kepada Allah yang Mahakaya untuk memelihara wajah kami dari kemiskinan dan hinanya kegemaran berhutang, serta memberikan kepada kami rezeki yang halal dan cukup. Amiin.

Wallahu a'lam.

Monday, May 28, 2007

jiwa dan hidupku

Beberapa hari lalu, istri saya menanyakan apakah saya sudah mengeposkan tulisan baru di blog ini. Entah bagaimana, dia tahu kalau sudah dua minggu terakhir ini saya tidak menulis di sini, padahal saat itu adalah hari kesekian dia tidak ke kantor yang berarti selama itulah istri saya tidak bisa akses internet. Tapi, yang paling membuat saya penasaran adalah motif dia bertanya soal itu. Soalnya, biasanya dia tidak pernah tanya soal itu. Mungkin karena saya yang selalu kasih tahu setiap ada tulisan baru sebelum dia sempat bertanya.

Di antara sekian banyak alasan yang mungkin melatarbelakangi pertanyaan istri saya itu, ada satu yang menurut dugaan saya paling mendekati kebenaran. Saat itu, atau mungkin sampai sekarang, saya menduga dia berharap saya menulis sesuatu mengenai kejadian yang kami, atau tepatnya istri saya alami minggu lalu. Alasan ini mungkin tidak akan dijelaskan istri saya, karena satu dan lain hal, kalaupun saya menanyakannya secara langsung.

Dugaan saya mungkin saja salah. Tapi, seandainya itu benar, inilah penjelasan saya. Saya tidak menulis apa yang kami alami karena, terus terang, saya butuh waktu untuk merenungi dan meresapi pelajaran yang Tuhan berikan kepada kami kali ini. Saya tidak tahu kapan kami dapat benar-benar memahami hikmah di balik apa yang kami alami. Tapi, sejauh ini saya menerimanya sebagai ujian bagi saya dan istri, dan keluarga kami. Ujian yang sedemikian rupa telah membukakan mata kami akan nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga yang selama ini kami lalai mensyukurinya.

Ada hal-hal yang sulit untuk saya katakan langsung dengan lisan kepada istri. Salah satunya adalah ini:

Saya tidak berubah, insya Allah, setelah apa yang kamu alami. Kalau sebelumnya saya rela mencari jambu air, pisang emas, jeruk, dalam perjalanan pulang ke rumah dari tempat kerja, sekarang pun saya siap melakukannya lagi kalau kamu minta. Karena, buat saya, kamulah yang paling penting. Saya tidak ingin meminta yang lain kecuali yang dapat kamu berikan dan apa yang telah menjadi hak saya.

Syair ini tidak hanya mengingatkan saya pada ibu yang melahirkan saya, tapi juga ibu yang telah melahirkan anak saya:

Ummi, ibu jiwa dan hidupku
pemberi kebahagiaan dan harapan
sekarang, juga di masa depanku
Ummi, ummi…ibu…ibu…ibu

Namamu wahai ibu terpahat di hatiku
cintaku padamu membawaku ke jalan yang benar
dan doaku selalu
Semoga Allah senantiasa menjagamu
Ummi, ummi…ibu…ibu…ibu

(dikutip dari lagu “Ummi” oleh Haddad Alwi)

Friday, May 11, 2007

Mabuk dan terbakar!


Puisi Rumi selalu memabukkan,
mabuk yang melebihi anggur
paling keras sekalipun.
Aku tak berani membayangkan
akan semabuk apa diriku
saat menikmati puisinya dalam bahasa Persia!

Puisi Rumi selalu membakar kesadaranku,
terbakar dan menyala-nyala
dalam keasyikan.
Aku tak sanggup menalarkan
akan sehangus apa jiwaku
saat dipanggang 70.200 bait syairnya nan membara!
------------------------

Wudhuku Airmataku*

“Walau semua lampu dinyalakan dan makanan
di meja di hidangkan,
Selepas shalat malam dilaksanakan,
Sang Kekasih tak lepas tiada lekang dari ingatan,
ada rasa sedih, ada rasa risau, berkelindan
dengan ratapan

Shalatku demam garang itulah sebabnya
wudhuku airmataku,
Tatkala azan dikumandangkan terbakarlah
gerbang masjidku.

Alangkah aneh ini shalat orang kasmaran,
lalu katakan padaku,
apakah sah bersembahyang begini tanpa peduli ruang
dan waktu?

Aneh benar rasanya ini yang dua rakaat,
apa lagi ini rakaat keempat.

Terlebih lagi anehnya, kubaca sebuah surah tanpa lidah!
Betapa mungkin kuketuk gerbang Tuhan
tanpa jantung, tiada pula tangan?

Karena telah Dikau ambil jantung dan tangan hamba,
Ya Tuhan hamba, lindungi, lindungi hamba!
Demi Tuhan, tidak tahu aku ketika bershalat itu
apakah memang ada seseorang tegak memimpin jamaah
atau bahwa ruku ini selesai dan shalat pun usai.”

*Alih puisi Rumi oleh Taufik Ismail dalam kata pengantar dalam Revolusi Sang Matahari: Kelana Cinta Jalaluddin Rumi (Nigel Watts) dari Life and Work of Rumi (Afzal Iqbal).

Wednesday, May 09, 2007

kualitas insan ada dalam pilihan

“Aku telah menetapkan hati untuk menghancurkan diriku, untuk dibinasakan oleh cintamu” (Fanaa)

Mungkin belum banyak yang tahu kalau saya ini penggemar film-film India. Dari beberapa film Bollywood yang pernah saya lihat, ada satu yang cukup berkesan buat saya. Judulnya Fanaa (binasa, musnah, hancur). Jalan ceritanya tidak terlalu istimewa, tapi di dalamnya terkandung syair-syair yang sangat indah. Satu lagi, film ini juga sarat akan pesan-pesan moral dan filsafat yang cukup dalam.

Di awal film itu, ada satu nasihat bijak yang diberikan Ali Beg kepada Zooni, putrinya yang tunanetra. Sang ayah mengatakan, “memilih antara yang benar dan salah itu mudah, tapi yang menentukan hidup seseorang adalah memilih antara yang lebih utama dari dua kebaikan atau yang lebih tidak merugikan dari dua keburukan” (to choose between right or wrong is simple, but what defines one's life is the decision between the greater of two goods or the lesser of two evils).

Dalam hidup, kita pasti akan menghadapi keadaan yang demikian. Bahkan, akan hadir suatu kondisi di mana hanya ada dua pilihan buruk di depan mata kita yang menentukan (jalan) hidup kita. Di sanalah, pada pilihan yang kita buatlah, akan ditentukan kualitas dari diri kita sebagai manusia. Dalam kondisi yang demikian, memilih di antara dua keburukan, perjuangan kita terletak pada usaha kita untuk mencari mana di antara keduanya yang paling sedikit membawa kerusakan atau kerugian.

Kabaikan dan keburukan kadang tercampur baur. Terkait itu, ada satu ungkapan yang sering saya kutip atau sebut: sesuatu itu tidak selalu seperti kelihatannya. Karena itu, di dalam Islam, Nabi Muhammad mengajarkan doa yang sangat dahsyat: Allahumma arinal haqqa haqqan warzuq nattiba’ah wa arinal batila batilan warzuqnajtinabah (Ya Allah, tampakkan kepada kami yang baik itu baik, dan anugerahi kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tampakkan kepada kami yang salah itu salah, dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhinya).

Kembali ke Fanaa. Film itu juga berisi pesan tentang pengorbanan seseorang demi sesuatu, seseorang yang kita cintai. Dalam bahasa India, Fanaa berarti binasa dalam cinta. Zooni dipaksa untuk memilih dua pilihan sulit, dia harus mengorbankan dua hal yang paling dia cintai, kekasihnya yang dia cintai atau negaranya. Dia tidak bisa tidak memilih karena hidupnya -- bahkan hidup orang banyak -- bergantung pada pilihan yang dia ambil.

Akhirnya, Zooni memilih negaranya di atas orang yang dia sangat cintai. Pilihannya menyebabkan sang kekasih binasa. Bagaimanapun, kebinasaan adalah fitrah setiap insan. Fanaa menyelipkan pesan bahwa sebaik-baik kebinasaan adalah kebinasaan dalam cinta. Wallahu a’lam.

Salam,

amrie

Friday, April 27, 2007

ketik: 'saya syiah'

“Aku telah memberikan cintaku kepadanya, padahal ia musuhku dan mempunyai rencana-rencana jahat terhadapku.”* (Imam Ali bin Abi Talib)

Jumat pekan lalu, kalau saya tidak salah, saya chatting via Yahoo! Messenger (YM) dengan salah satu sahabat baik saya. Seperti yang sering terjadi, YM sahabat saya ini bermasalah sehingga chatting kami jadi sering mati-hidup. Saat kami sedang chatting, rupanya sahabat saya ini khawatir YM-nya offline lagi, sehingga dia menulis pesan ke saya yang kurang lebih berbunyi seperti ini: “Am, YM gue kayaknya error lagi. Tolong ketik ‘saya syiah’ kalo elo terima pesan ini”.

Waktu itu, saya buru-buru akan melakukan apa yang sahabat saya ini minta. Tapi, kemudian saya berpikir kok kata-kata yang diminta aneh betul, “saya syiah”. Apa nggak ada kata sandi yang lain? Akhirnya, karena sedang dimintakan tolong, saya tulis pesan ke sahabat saya begini: “saya” (tanpa pakai kata “syiah”). Dan pesan saya itu sampai. Setelah itu saya tanya ke dia, kenapa kok kata sandinya “menyudutkan” saya (dia tahu saya bercanda dan saya juga tahu dia sedang bercanda). Kalau tidak salah, dia cuma tulis “hehehehe” di jawabannya.

Sahabat saya itu dan beberapa sahabat yang lain tahu benar kalau saya adalah pengagum Imam Ali bin Abi Talib. Seperti yang sudah lazim diketahui, pengagum atau pecinta Imam Ali sering diidentikan dengan (penganut) syiah. Meski begitu, saya bukan penganut syiah. Karena, menurut hemat saya, Imam Ali tidak “satu paket” dengan syiah. Artinya, untuk menjadi pengagum dan pecinta beliau tidak harus menjadi seorang syiah, walaupun seorang syiah pasti menjadikan Imam Ali sebagai junjungannya setelah Rasulullah saw. Tapi, ya, Imam Ali adalah suri teladan saya setelah Rasulullah.

Kembali ke sahabat saya yang tadi itu, pada hari yang sama dia memberikan saya hadiah buku (dalam rangka ulang tahun, katanya). Judul bukunya “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Tinjauan dari Segi Ajaran dan Pemikiran” bukunya ditulis M. Quraish Shihab, dan diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati (cetakan I, Maret 2007). Bukunya bagus. Bagus sekali. Mungkin ini adalah salah satu koleksi terbaik saya di antara koleksi (di bawah topik yang berkaitan dengan Imam Ali dan syiah) yang lain yaitu “Mutiara Nahjul Balaghah: Wacana dan Surat-surat Imam Ali R.A.”. Saya bilang ke dia, terima kasih banyak, saya sangat senang dengan hadiah yang dia berikan.

Saya punya sahabat seorang syiah. Bahkan, saya menganggap dia sebagai sahabat saya yang paling dekat. Sebelumnya dia juga adalah seorang sunni. Saya dan dia sama-sama mengagumi Imam Ali. Hanya saja, kemudian dia memutuskan untuk mendalami dan akhirnya menjadi (penganut) syiah, sementara saya cukup menjadi pengagum dan pecinta Imam Ali. “Kepindahan” dia menjadi syiah, sama sekali tidak berpengaruh pada persahabatan kami. Setidaknya, kami bisa menjadi bukti bahwa sunni-syiah dapat bergandengan tangan.

Terakhir, saya berdoa semoga Allah mendamaikan saudara-saudara kami, sunni dan syiah, yang saat ini saling menumpahkan darah di Irak. Amiin.

* Perkataan Imam Ali tentang Abdurahman bin Muljam. Imam Ali akhirnya syahid di tangan Abdurahman saat sedang menunaikan salat subuh. Dikutip dari “Karakter Agung Ali bin Abi Talib” oleh Murtadha Muthahari, diterbitkan Pustaka Zahra, halaman 26.

Wasalam,

amrie

Friday, April 20, 2007

rokok atau chiki?

“Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.” (Tuhan Sembilan Senti, Taufiq Ismail)

Semalam saya mampir ke minimarket di dekat rumah untuk membeli permen buat anak. Saat hendak membayar, di depan saya ada tiga orang (cowok) ABG yang juga antre di kasir. Saya taksir, mereka baru SMA kelas 1 atau 2, dan yang berdiri pas di depan saya mungkin lebih muda lagi, masih SMP. Iseng-iseng saya perhatikan bahwa mereka membeli barang yang jenisnya sama; rokok. Dua orang pembeli pertama, saya lihat membeli dua bungkus rokok kretek (kayaknya buat dia dan temannya yang juga ikut antre) dan yang lebih muda membeli produk rokok dengan filter.

Tentu tidak ada yang istimewa dari pengalaman saya itu. Itu adalah pemandangan yang lazim kita lihat sehari-hari. Anak-anak di bangku SMP dan SMA beli rokok dan merokok. Bahkan, kita tinggal di lingkungan perokok. Ayah saya perokok, ayah mertua saya perokok, adik saya dua orang, dua-duanya merokok, sahabat, teman, dan rekan kerja saya merokok. (Sangat) banyaknya perokok boleh jadi tidak bisa menjadi ukuran tingginya angka buta huruf di Indonesia. Tapi, itu menjadi tanda tanya mengingat peringatan yang, meski sudah ditulis besar-besar di setiap bungkus rokok, seakan masih tidak dapat dibaca atau dipahami oleh para perokok: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.

Masih ada hubungannya dengan rokok, di koran Kompas edisi Minggu (15 April), ada artikel yang mengupas sosok Michelle Sampoerna. Saya tertarik membaca artikel ini karena wajah Michelle yang sangat menarik, Kompas memuat fotonya sepertiga halaman. Michelle adalah putri dari Putera Sampoerna, salah satu konglomerat Indonesia, bos pabrik rokok raksasa Sampoerna. Michelle saat ini memimpin Sampoerna Foundation (SF), yayasan nirlaba yang yang berdedikasi memperbaiki kualitas dan akses pendidikan di Indonesia, begitu Kompas menulis. Ini mungkin adalah salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) dari Sampoerna. SF yang disebut-sebut sebagai lembaga nirlaba terbesar yang dimiliki pengusaha itu diberitakan telah memberikan lebih dari 25.000 beasiswa mulai dari tingkat SD hingga S-2. Cukup luar biasa. Pesannya, semua itu mungkin tidak bisa dilakukan SF tanpa ada jutaan orang yang merokok.

Saya juga jadi ingat saat kongkow-kongkow dengan tetangga-tetangga di rumah (semuanya bapak-bapak). Sudah jadi bahasa kemesraan dan keakraban dalam pergaulan, seorang teman menawarkan rokok kepada temannya yang lain. Dan saat itu adalah saat yang kesekian kalinya saya ditawari rokok oleh orang lain. Sebelumnya, sang tuan rumah menawarkan minuman beralkohol kepada saya dan tamu lainnya (waktu itu ada dua tamu lagi selain saya), dan setelah berbasa-basi, saya tolak dengan halus. Setelah itu, baru sang tuan rumah menawarkan rokok yang kemudian saya tolak lagi, dengan halus juga. Akhirnya, sambil bercanda, dia mengatakan, “kalau Chiki, mau pak Amrie?” Semua yang ada di ruangan itu langsung tertawa. Akhirnya, saya memang cuma makan kacang, karena chikinya tidak ada.

Soal rokok, salah satu ulama besar Indonesia, M. Quraish Shihab, mengikuti garis hukum yang menyatakan bahwa rokok itu barang haram. Beliau juga dengan tegas menyatakan bahwa seorang perokok tidak bisa menjadi imam dalam salat (baca, “Lentera Hati” oleh M. Quraish Shihab, Penerbit Mizan).

Menutup tulisan ini, saya kutipkan beberapa bait syair dari Taufiq Ismail mengenai rokok. Syair berikut diberi judul “Tuhan Sembilan Senti”.

“Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok
.”

Wallahu ‘alam.

Salam,

amrie

Thursday, April 12, 2007

bercermin, bersyukur

Salah satu rutinitas saya setiap pagi, mulai dari rumah dan begitu tiba di kantor, adalah bercermin. Itu juga adalah salah satu aktivitas favorit saya. Tentu bukan karena ada yang istimewa dari wajah saya. Atau juga bukan karena saya narsis (kegiatan bercermin sangat lekat dengan tokoh mitologi Yunani, Narsisus, yang jatuh cinta pada pantulan wajahnya sendiri di atas air). Bukan karena keduanya, insya Allah.

Satu-satunya alasan mengapa saya senang bercermin adalah karena itu adalah kesempatan saya untuk memanjatkan doa yang sangat sangat indah buat saya. Doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW itu begini bunyinya: “Allahumma kamaa hassanta khalqii fahassin khuluqii. Artinya: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pulalah akhlaqku (Hadis riwayat Ahmad)”.

Dengan doa itu, saya pribadi tidak pernah merasa bersedih karena wajah saya tidak mirip pemain sinetron, postur tubuh saya tidak “ideal”, potongan rambut saya tidak seperti Daniel Craig (saya pernah coba potong rambut meniru dia, dan hasilnya lumayan lah. Rambutnya nyaris mendekati, tapi wajahnya nggak), atau pakaian yang saya kenakan bukan pakaian yang “keren” dan mahal. Dengan doa itu, saya merasa jadi orang yang paling beruntung di dunia. Doa itu membuat saya selalu bersyukur dengan apa yang saya miliki dan tidak saya miliki.

Karena saya -- dan boleh jadi hampir kebanyakan dari kita – bercermin sama seringnya dengan saya ke kamar kecil, maka sesering itulah saya usahakan untuk memanjatkan doa itu. Saya juga berdoa agar Allah menetapkan hati saya dalam keasyikan mensyukuri semua nikmat-Nya yang dapat saya lihat (dan rasakan) dan yang tidak mampu saya lihat (dan rasakan). Amiin.

Wasalam,

amrie

Wednesday, March 28, 2007

e-mail untuk pendukung lesbianisme

Di bawah ini adalah e-mail saya yang menanggapi salah satu anggota milis Forum-Pembaca Kompas dengan subjek "Lesbian: Begitu Tabunya?". E-mail itu isinya artikel dengan judul yang sama yang diambil dari situs Jurnal Perempuan. Jurnal Perempuan, yang saya tahu, adalah media yang mempromosikan isu-isu kesetaraan gender/feminisme. Mohon maaf, bukannya saya alergi dengan feminisme, tapi banyak hal yang mereka perjuangkan sangat sulit masuk di logika saya. Salah satunya ya yang satu ini, pro terhadap lesbianisme/homoseksualitas (yang pada waktu yang sama, mereka membenci -- hingga ke sum-sum tulang -- praktik poligami).

Bagaimanapun, ini pandangan saya berdasarkan hal-hal yang saya tahu. Lagi pula, tidak semua yang diperjuangkan oleh kaum feminis itu buruk. Jadi, hal-hal yang baik darinya (hikmah) tentu akan saya ambil. Karena hikmah itu perbendaharaannya orang muslim, ambillah dia sekalipun keluar dari lisan seorang kafir.

Wallahu 'alam.


Mbak yth,

Sudah menjadi hukum Tuhan tiap mahluk/hal di dunia itu diciptakan berpasang-pasangan. Mengikuti logika mbak yang pro lesbianisme/homoseksualitas ini, setiap insan lesbian/homoseks pun mempunyai pasangan lesbian/homoseksnya masing-masing.

Nah, kalau mbak konsisten dengan pandangan seperti itu, sudah seharusnya mbak sebagai pendukung/pecinta lesbianisme/homoseksualitas juga gak perlu protes kalau ada orang-orang yang tidak mendukung/membenci pilihan hidup orang-orang yang menganutnya. Memaksakan orang-orang untuk mendukung atau setidak-tidaknya menerima lesbianisme/homoseksualitas itu berarti mbak gak konsisten dengan pluralitas itu sendiri. Jadi, mbak juga harus menerima dengan lapang dada orang-orang yang menolak itu.

Lagi pula, menurut saya, sangat tidak pada tempatnya kalau lesbianisme/homoseksualitas itu disamakan dengan anak bindeng atau orang kulit hitam. Insya Allah, itu salah besar mbak. Agama yang saya anut, Islam, tidak menghukum orang karena dia bindeng atau berkulit hitam. Di mata Islam, semua manusia sederajat, dan manusia yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Nah, kalau ada orang-orang yang membenci lesbianisme/homoseksualitas itu karena agama juga membencinya, mbak.

Tapi, toh kalau menurut mbak lesbianisme/homoseksualitas adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan, silahkan diperjuangkan, secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Kalaupun perjuangannya sangat berat (karena sudah ribuan tahun kayaknya lesbianisme/homoseksualitas tidak pernah diterima masyarakat luas) yah anggaplah itu harga dari sebuah perjuangan. Kalau dikucilkan pun tidak usah berkecil hati, mbak. Karena jika mbak konsisten bahwa apa yang mbak lakukan/yakini itu benar menurut Tuhan yang mbak yakini dan menurut nurani mbak, apalah arti pandangan orang lain?

PS: Numpang tanya, mbak, kira-kira apa hukumnya kalau pasangan lesbianisme/homoseksualitas itu melakukan poligami dengan pasangan sejenis juga? Mohon maaf mbak kalau pertanyaan saya ini bodohnya tidak ketulungan.

salam,

amrie

Tuesday, March 27, 2007

sahabat

Ahad kemarin lusa saya, istri, dan beberapa rekan datang melayat seorang sahabat yang sedang ditimpa musibah. Salah seorang adik dari sahabat saya ini meninggal dunia karena ada kelainan pada jantungnya. Usia almarhum masih relatif muda, 26 tahun. Semoga Allah mengampuni kesalahan dan khilaf almarhum semasa hidupnya, dan semoga Allah memperlakukan almarhum dengan Kasih Sayang-Nya, bukan dengan Keadilan-Nya. Amiin.

Cukup banyak hal berharga yang saya dapat dari pengalaman saya hari itu. Namun, pengalaman yang paling mengesankan saya adalah mengenai persahabatan dan kesetiaan dalam persahabatan. Kalau apa yaang saya lihat tidak keliru, jumlah sahabat almarhum yang datang melayat, dan mengantar hingga ke pemakaman lebih banyak daripada kerabat almarhum. Yang lebih mengharukan saya, teman-teman almarhum ikut menurunkan tanah ke liang kubur, dan merapihkan gundukan pusaranya. Subhanallah.

Satu pikiran yang langsung melintas di kepala saya adalah, akankah saya menjadi orang yang cukup beruntung untuk memiliki orang-orang yang mencintai saya seperti teman-teman almarhum adik sahabat saya di atas? Apakah saat saya wafat nanti, sahabat-sahabat juga akan turut mengantar jenazah saya ke tempat peristirahatan saya yang terakhir seperti teman-teman almarhum adik sahabat saya di atas?

Satu hal yang sempat luput dari pikiran saya saat itu adalah bahwa setiap orang menuai apa yang ia tanam. Almarhum adik sahabat saya ini mendapat perlakuan demikian rupa dari teman-temannya karena perlakuan demikianlah yang senantiasa dilakukan almarhum semasa hidupnya. Karena, satu-satunya cara untuk mendapatkan sahabat adalah dengan menjadi sahabat yang baik bagi orang lain. Ada satu kisah yang sangat baik menggambarkan hal tersebut:

Seorang pria berkata pada Junaid, “Sahabat sejati sungguh langka di jaman sekarang. Di manakah saya bisa menemukan seorang sahabat karena Allah?”. Junaid menjawab, “Jika kamu menghendaki seorang sahabat yang bersedia mengurusmu dan memikul bebanmu, memang jarang sekali. Tapi, kalau kamu menginginkan sahabat karena Allah yang hendak kau pikul bebannya dan kau tanggung deritanya, banyak yang bisa kukenalkan padamu.” (Al-Ghazzali, dikutip dari “Buku Kecil Instruksi Sufi”, diterbitkan Alvabet, Cet. 4, Januari 2003).

Wallahu ‘alam.

Wasalam,

amrie

Thursday, March 22, 2007

tentang cinta

Allah menjadikan wanita itu indah dan dihasrati:

“Dijadikan indah pada (pandangan manusia) kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak (unta, sapi, kerbau, dan kambing) dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (surga).”1

Karena itulah, keindahan atau kecantikan wanita adalah berkah, sekaligus amanah. Tapi, kecantikan wanita juga bisa mengundang fitnah (bencana) bagi laki-laki (yang serakah):

Pada suatu hari, Imam Ali duduk-duduk bersama para sahabatnya. Sekonyong-konyong lewatlah seorang wanita cantik. Sebagian besar sahabat kemudian melirikkan mata mereka ke arah wanita tersebut. Melihat itu, Amirul Mukminin lalu mengingatkan, “Mata para lelaki ini serakah dan lirikan tersebut adalah penyebab mereka menjadi rakus. Bilamana seseorang di antara kalian melihat seorang wanita yang menarik hatinya, hendaklah ia menemui isterinya. Sebab, setiap wanita adalah wanita.”2

Tapi, jangan pernah lupa bahwa kecintaan yang dahsyat seorang laki-laki kepada wanita telah menjadi simbol akan kesejatian cinta manusia kepada Tuhan, seperti kisah cinta abadi Laila Majnun:

Ketika Laila dan Majnun telah tiada, konon, seorang sufi bermimpi melihat Majnun hadir dihadapan Tuhan. Tuhan membelai Majnun dengan penuh kasih sayang seraya berkata, "Tidakkah engkau malu memanggil-manggi-Ku dengan nama Laila, sesudah engkau meminum anggur Cinta-Ku?"3

Karena memang tidak ada Kekasih sejati selain Dia:

"Para pencinta sejati sudah tidak bisa lagi menangkap aroma atau warna diri mereka sendiri. Mereka tidak tertarik pada apapun selain Sang Kekasih. Hati mereka tidak terikat pada tahta maupun mahkota. Ketamakan dan nafsu sudah mengemasi barang-barang mereka dan pergi."4

Masih dari buku yang sama:

Doa berikut ini diajarkan oleh Nabi kepada para sahabatnya:


"Ya Tuhanku, anugerahilah aku dengan cinta-Mu, dan mencintai mereka yang mencintaiMu, dan mencintai apapun yang mendekatkanku padaMu. Ya Tuhanku, jadikanlah cintaMu lebih berharga bagiku daripada air segar bagi haus."5


Allah Maha Mengetahui.

Wasalam,

amrie

Referensi:
1. QS. 3/Ali Imran: 14. Dinukil dari “Petuah-petuah Rasulullah 2: Seputar Hubungan Pria & Wanita”, Syamsul Rijal Hamid, Penebar Salam, Cet. 3 Oktober 2001.
2. Dinukil dari “Kisah-kisah Bertabur Hikmah Nahjul Balaghah” karya Muhammad Muhammadi edisi terjemahan terbitan Penerbit Cahaya, Mei 2002.
3. Dinukil dari “Cinta Si Majnun”, oleh Nadirsyah Hosen, dari “Laila Majnun” karya Nizami.
4. Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami. Dinukil dari “Buku Kecil Instruksi Sufi”, diterbitkan Alvabet, Cet. 4, Januari 2003.
5. Al-Ghazzali. ibid.

Friday, March 16, 2007

dengan segala kerendahan hati...

Kemarin, pekerjaan mengharuskan saya untuk googling untuk mencari naskah Undang-Undang Advokat dalam format word (.doc). Saya kemudian memulai pencarian dengan kata kunci “undang-undang nomor 18 tahun 2003 tentang advokat”. Pada halaman pertama hasil pencarian google tertulis bahwa ada 671 halaman dengan kata kunci tersebut (waktu pencarian tertulis, 0,8 seconds. Google memang luar biasa).

Beberapa naskah yang saya temukan dalam halaman pertama hasil pencarian adalah dalam bentuk .pdf, yang tidak bisa saya sunting. Memang ada yang dalam format .doc, tapi sayangnya hasil suntingannya sedemikian rupa sulit untuk saya sunting-ulang. Sayapun kemudian beralih ke halaman kedua hasil pencarian, tapi masih belum menemukan apa yang saya cari. Tapi, di halaman itu ada satu link yang menarik perhatian saya (link ke-18 dari 671). Itu adalah link ke salah satu artikel yang pernah saya tulis saat masih menjadi jurnalis di hukumonline.com, judulnya “Konsultan Hukum, Manusia Setengah Advokat”. Tapi, link yang di-grab google bukanlah link ke artikel saya di hukumonline.com, tapi ke blog ini, Si Ikan Besar. Ini agak mengejutkan, sekaligus menyenangkan.

Kurang lebih setahun lalu, saya pernah riset kecil-kecilan mengenai fenomena blog, khususnya blog seputar (isu-isu) hukum, dan hasilnya sudah saya tuangkan dalam artikel saya berjudul “Fenomena Blog dan Praktik Hukum di Internet” (dimuat di hukumonline.com). Dalam artikel itu antara lain saya menulis bahwa tidak mudah mempromosikan blog kita untuk dapat diakses blogger lain atau pengguna internet (surfer) secara luas. Juga tidak mudah untuk membuat blog yang kita asuh agar dapat ditangkap mesin pencari seperti Google atau Yahoo. Inilah yang membuat saya, sebagai blogger pemula, senang. Blog saya akhirnya bisa ditangkap Google.

Karena itu, dengan segala kerendahan hati, saya mengucapkan selamat kepada diri saya sendiri. Semoga dengan pencapaian sederhana ini, saya tambah bersemangat untuk aktif nge-blog, dan mudah-mudahan apa yang saya tulis di sini dapat memberikan manfaat, walaupun sedikit, kepada para pembaca.

Salam,

amrie

Thursday, March 08, 2007

sms terindah

“Yang paling celaka dari semua manusia ialah orang yang tak dapat beroleh beberapa saudara dalam hidupnya, tetapi yang lebih celaka lagi ialah orang yang mendapat saudara tetapi menghilangkannya”. (Puncak Kefasihan, Kata-kata Hikmah ke-12).

Belum lama ini, saya mendapat sms dari seorang teman. Isi sms itu adalah yang terindah dari semua sms yang pernah saya terima sebelumnya. Indah dari sudut pandang yang lain. Ya, kesan saya saat pertama kali membaca sms ini adalah rasa tidak senang, dan sedikit sakit hati. Tapi, begitu saya baca sms itu berulang-ulang, mata saya menjadi terbuka bahwa sms itu sebetulnya obat buat saya dan hati saya.

Sempat terbetik di benak saya untuk mengungkap secara lengkap, kata-per-kata isi sms dari teman saya yang tercinta ini di blog ini. Maksud saya melakukan itu adalah semata-mata agar pembaca atau teman-teman yang lain bisa melihat sisi diri saya dari sudut pandang orang lain. Dengan begitu, saya berharap bila ada pembaca atau teman yang menganggap saya orang yang “baik-baik” akan berpikir ulang mengenai anggapannya itu. Remember, nothing is what it seems.

Tapi, kemudian saya memutuskan tidak akan menulis kembali isi sms itu, kecuali intinya saja. Setidaknya ada beberapa alasan mengapa saya tidak melakukannya. Pertama, sms itu bukan milik saya, dan pengirimnya barangkali tidak menghendaki kalau isinya dibaca oleh orang lain selain saya. Kedua, saya khawatir pembaca atau teman-teman lain yang membaca sms ini akan salah sangka dengan si pengirim. Ketiga, saya takut itu akan menjadi sarana saya untuk melakukan apologia.

Pada intinya, dalam sms itu teman saya ini menyatakan kekecewaannya pada ucapan saya dalam forum rapat internal kami yang dia anggap menyinggung perasaannya. Beliau tercinta ini juga mengatakan tidak akan memaafkan saya karena itu sampai kapanpun. Kemudian, dia mengakhiri smsnya dengan kalimat yang bagi sebagian orang mungkin dapat dikatakan sarkastik atau kejam, tapi bagi saya itu adalah termasuk kalimat sms yang paling indah yang pernah saya baca. Buat saya, apa yang dia katakan itu benar, meski ada kemungkinan salah.

Sms indah ini sebetulnya adalah buntut dari kesalahpahaman yang terjadi di rapat internal. (Pilihan) kata-kata yang saya sampaikan yang masih dalam konteks pekerjaan itu tidak berkenan di hati saudara saya ini. Saat itu saya menggunakan kata “menggonggong” tanpa menyebut pada siapa kata itu ditujukan. Tapi, yang terjadi kemudian adalah teman saya ini merasa tersinggung dengan kata yang saya pakai. Saya gunakan kata ini untuk berguyon, karena selama ini teman saya ini, dan beberapa teman yang lain, sering memanggil salah satu pegawai di kantor kami dengan panggilan “utung” (kependekan dari kata “lutung”). Apalagi, dalam forum yang sama, teman saya ini juga sempat berguyon dengan saya. Tapi, itulah, apa yang lucu buat saya ternyata belum tentu lucu buat orang lain.

Andai saja kritik teman saya pada saya seperti yang dia tulis dalam sms itu mencerminkan perilakunya sehari-hari, mungkin saya akan lebih serius menanggapi kritik itu. Jika saja ketersinggungannya itu semata-mata karena dia tidak senang karena saya mengidentikkan manusia dengan hewan. Tapi, yang terjadi adalah, saya hanya meniru apa yang selama ini dia lakukan. Dan benar, sulit untuk menerima jika ada manusia disamakan dengan hewan. Tapi, kenapa dia melakukan hal yang dia benci itu kepada orang lain?

Setelah merenungi isi sms itu, saya kemudian mencoba me-reply-nya. Saya akan menuliskan secara lengkap balasan sms saya kepada teman tercinta ini. Saya berpandangan dapat melakukan ini karena sms ini adalah hak saya. Saya juga ingin berbagi kepada pembaca dan teman yang lain bahwa kritik, kecaman, atau makian seseorang kepada kita tidak perlu dibalas dengan kutukan, kecaman, atau makian lagi, apalagi yang lebih kejam. Samar-samar saya ingat ucapan Imam Ali yang mengatakan bahwa seorang yang menyampaikan kritik kepada kita sama dengan orang yang membawa kabar baik. Saya akan menyamarkan nama sahabat saya ini, dan nama-nama lain yang saya sebut di dalam sms, demi menjaga nama baik beliau-beliau. Apa yang saya tulis ini mudah-mudahan salah, tapi tentu saja ada kemungkinan benar.

“Terima kasih utk semua yg xxxx tulis. Percayalah saya lbh buruk dari yg xxxx katakan, tapi saya lebih baik dr yg xxxx tdk katakan. Saya sdh minta maaf secara langsung ke xxxx di dpn yyyy dan teman saya tadi, skarang saya lakukan lagi, saya mhn maaf jika ada kata2 yg tdk berkanan. Saya juga sdh mencbut kata2 saya di rapat td. Tapi, jika xxxx tdk mau memaafkan saya, sampai mati pula, itu hak xxxx sepenuhnya. Tp, biar yyyy dan teman saya jd saksi di hadapan Allah bahwa saya sdh minta maaf. Skrng, sudahkah xxxx meminta maaf kpd semua orang yg tlh xxxx sakiti hatinya dgn lisan xxxx yg sering tak terkendali? Satu lg yg perlu xxxx tahu, sikap xxxx insya Allah takkan menyurutkan saya utk tetap mengatakan yg benar dan meluruskan yg salah. Kebencian xxxx ke saya adalah resiko konsistensi saya. Saya sampai kapanpun tdk bisa membuat semua orang senang sama saya. Bahkan, firaun memusuhi Musa sampai pendosa itu mati. Salam. Amrie”.

Monday, March 05, 2007

aku dan the historian

“Tidak semua orang yang menggali sejarahnya dapat menerima hasilnya. Dan bukan hanya menggali sejarah yang dapat membahayakan kita; kadang sejarah itu sendiri pun dapat mengulurkan cakar-cakarnya yang muram dan mencengkram kita.” (The Historian, Elizabeth Kostova, edisi terjemahan terbitan Gramedia, Januari 2007).

The Historian adalah satu dari sedikit sekali buku yang membuatku bimbang di antara keinginan untuk cepat-cepat menamatkannya karena kehebatan ceritanya dan di sisi lain ketakutan kalau-kalau aku tidak akan menemukan buku lain yang sehebat ini jika telah menamatkannya.

Kostova berhasil meyakinkan pembacanya bahwa anda tak mesti seorang Katolik untuk merasakan kengerian teror Drakula dan kaki-tangan-kaki-tangannya, karena terbukti Drakula memilih korban-korbannya tidak berdasarkan agama mereka...

Jakarta,

5 Maret 2008

Wednesday, February 28, 2007

tentang perjumpaan dan perpisahan

“Bergaullah dengan orang lain sedemikian rupa sehingga apabila Anda mati, mereka akan menangisi Anda dan selagi Anda hidup, mereka akan merindukan Anda”. (Puncak Kefasihan, Kata-kata Hikmah ke-10).

Hak yang melekat pada setiap perjumpaan adalah perpisahan, seperti halnya hak pada setiap perpisahan adalah perjumpaan (kembali). Perjumpaan dan perpisahan, karenanya, bagai dua sisi mata uang. Karena itu, terlalu berlebihan dalam merayakan perjumpaan dengan orang yang dikasihi adalah justru bisa menyakitkan, dan terlalu berlebihan dalam meratapi perpisahan dengan yang dicintai adalah bahaya yang perlu dihindari.

Sebaik-baik perkara yang mengiringi setiap perjumpaan adalah kesadaran akan adanya perpisahan, dan sebaik-baik perkara yang menyertai perpisahan adalah harapan akan adanya perjumpaan kembali. Karena itu, hal terbaik untuk mengisi kebersamaan adalah sikap yang sedemikian rupa membuat seseorang merindukan kita saat masih hidup dan bersedih saat kita telah tiada. Dan, hal paling baik untuk memaknai perpisahan adalah tidak terputusnya doa bagi kebaikan orang yang meninggalkan kita. Karena, bagaimanapun, kita semua senantiasa dalam keadaan meninggalkan atau ditinggalkan.

Berkaitan dengan ini, saya selalu terharu setiap kali membaca ungkapan dari Ali bin Abi Talib di saat pemakaman Rasulullah: “Sesungguhnya kesabaran adalah baik kecuali mengenai Anda (Rasulullah SAW); meratap adalah buruk kecuali atas Anda; dan musibah yang berkenaan dengan diri Anda adalah besar, sementara setiap musibah lainnya, sebelum atau sesudahnya, hanyalah kecil belaka”. (Puncak Kefasihan, Kata-kata Hikmah ke-302).

Saya sampai saat ini terus belajar memahami hakikat dari perjumpaan dan perpisahan. Saya mungkin tidak akan sanggup bersabar akan perpisahan dengan orang-orang yang sangat saya cintai. Bahkan, memikirkannya saja membuat saya sedih tak terperi. Kesedihan saya lebih karena belum banyaknya kebaikan yang saya berikan kepada orang-orang tersebut, padahal kebaikan mereka pada saya tak terhitung jumlahnya. Karena itu, buat saya, salah satu doa yang paling utama adalah doa agar Allah mempertemukan kita kembali dengan orang-orang tercinta yang telah kita tinggalkan atau meninggalkan kita. Amin.

Untuk orang-orang terdekat, dan kawan-kawanku terkasih.

Salam,

amrie

Tuesday, February 20, 2007

I am Beauty and Grace!

Pembaca tercinta,

Sudah lama saya mengagumi puisi-puisi Muhyiddin Ibnu Arabi (Syaikhul Akbar), meski belum banyak membaca karya beliau. Pagi ini seorang pengagum Ibn Arabi lainnya mengirim salah satu puisi beliau yang sangat indah. Saya nyaris "pingsan" saat menyimaknya (mungkin ini agak berlebihan). Saya kemudian mencoba mengalihbahasakan puisi itu ke dalam bahasa Indonesia semampu saya. Hasilnya, seperti bisa teman-teman baca di bawah ini, sangat jauh dari keindahan dan keanggunan teks Inggrisnya. Sayang, saya tidak bisa bahasa arab, karena saya yakin, puisi dalam bahasa aslinya, jauh lebih indah dan anggun, dari versi terjemahannya. Akhir kata, selamat menikmati, selamat mencintai!

I am Beauty and Grace!
Mawlana Syaikh Ibnu Arabi qs

Oh, my beloved! How many times I have called you
without your hearing Me!
How many times I have shown Myself
without you looking at Me!
How many times I have become perfume
without your inhaling Me!
How many times I have become food
without your tasting Me!
How is it that you do not smell Me in what you breathe?
How do you not see Me, not hear Me?

I am more delicious than anything delicious,
More desirable that anything desirable,
More perfect than anything perfect.
I am Beauty and Grace!
Love Me and love nothing else
Desire Me
Let Me be your sole concern to the exclusion of all concerns!

(An Ocean Without Shore, Sheikh al Akbar/The GreatestMaster, Muhyidden Ibn Arabi, may Allah be well pleased with him )

(Dikutip dari e-mail dari milis Jurnalisme dari gazellerun@yahoo.com)

Alih bahasa oleh Amrie Hakim:

Akulah Kecantikan dan Keanggunan!

O, kekasihku! Berapa kali Aku memanggilmu
Tanpa kau mendengar-Ku!
Berapa kali Aku menampakkan Diri-Ku
Tanpa kau melihat-Ku!
Berapa kali Aku telah menjadi wewangian
Tanpa kau menghirup-Ku!
Berapa kali Aku telah menjadi hidangan
Tanpa kau mencicipi-Ku!
Bagaimana kau tak mencium wangi-Ku
Dalam tarikan nafasmu!
Bagaimana kau tidak melihat-Ku, tidak mendengar-Ku?

Aku lebih lezat dari segala yang lezat,
Lebih dihasrati dari segala yang dihasrati,
Lebih paripurna dari segala yang paripurna,
Akulah Kecantikan dan Keanggunan!
Cintai Aku dan bukan yang lainnya
Hasrati Diri-Ku
Jadikan Aku satu-satunya yang kau cemaskan
Menafikan segala kecemasan lainnya!

(Samudra Tak Bertepi, Syaikhul Akbar, Muhyiddin Ibnu Arabi)

Monday, February 19, 2007

tentang pemberian dan utang budi (2)

Pembaca tercinta,

Beberapa hari lalu, seorang teman menelpon dan mengatakan akan memberikan “bingkisan kecil” buat saya. Katanya, itu sebagai ucapan terima kasih karena dia sering merepotkan saya. Saya langsung menjelaskan kalau apa yang saya lakukan merupakan bagian dari pekerjaan saya, jadi tidak perlu dikasih apa-apa. Toh, saya sudah mendapat gaji dari kantor. Kemudian, beberapa hari kemudian, teman baik saya ini kirim SMS ke saya dan minta alamat pengiriman buat kirim “sesuatu” buat saya. Lagi-lagi, saya menolak baik-baik permintaan beliau ini dengan menulis kurang lebih, niat baik dia itu sudah melebihi bingkisan termahal sekalipun. Alhamdulillah, dia mengerti.

Sebetulnya, saya menolak bukan karena tidak suka hadiah, apalagi pemberinya teman sendiri. Hanya saja, saya merasa hadiah itu bukan hak saya. Itu saja. Saya juga yakin teman saya ini tidak punya maksud lain di balik pemberiannya kecuali ingin mengucapkan terima kasih. Selain bukan hak saya, ada satu hal lagi yang membuat saya perlu sedikit berhati-hati dalam menerima pemberian yang ada kaitannya, langsung atau tidak langsung, dengan pekerjaan saya. Bukannya pekerjaan saya demikian pentingnya atau posisi saya di kantor begitu tinggi hingga saya bisa mengambil keputusan yang menentukan nasib orang lain. Tapi, itu karena saya terlibat langsung dengan sebuah komunitas yang terkadang tidak segan memberikan “sesuatu” demi memuluskan urusannya.

Belum lama, saya buka-buka koleksi lama saya, “Jejak-jejak Ruhani” karangan Murtadha Muthahari, untuk memenuhi ketidakpuasan saya akan kesimpulan saya dalam masalah pemberian dan utang budi. Alhamdulillah, di buku itu saya menemukan salah satu ucapan Imam Ali bin Abi Thalib yang berkaitan dengan pemberian dan menjaga kehormatan diri. Khotbahnya lumayan panjang, itu saya yakin lantaran masalah pemberian memang bukan hal yang sederhana. Di satu sisi, kita harus menghargai niat baik orang lain yang hendak memberikan sesuatu kepada kita, sementara di sisi lain kita perlu menjaga kehormatan diri agar tidak menjadi “tawanan perbuatan baik” orang lain.

”Amirul Mukminin a.s. bersabda, ‘Jika engkau berbuat kebajikan kepada seseorang dan memenuhi orang itu dengan segala pemberian, maka orang itu – siapapun dia – akan menjadi tawanan perbuatan baikmu dan berada di bawah perintahmu, sementara engkau menjadi atasan baginya. Jika engkau merasa cukup dan tidak butuh kepada seseorang, maka siapapun orang itu, apapun pangkat dan kedudukan yang dimilikinya, engkau akan menjadi pribadi yang sama dan sederajat dengannya. Namun, jika engkau merasa butuh kepada seseorang, meminta pertolongan darinya, niscaya siapapun orang itu, engkau akan menjadi hambanya, tawanannya, dan pesuruhnya.’”. (Dinukil dari “Jejak-jejak Ruhani”, Murtadha Muthahari, Pustaka Hidayah, Mei 1996, hal. 53, dari “Ghurarul Hikam”, Cet. Univ. Teheran, Jilid II, hal. 54).

Masih dari buku yang sama:

"Sesuatu yang dapat menjadikan manusia sebagai tawanan ialah membutuhkan dan menerima pemberian dan kebaikan orang lain. Perbuatan itulah yang dapat merusak kehormatan dan kemuliaan seorang manusia. Sebaliknya, merasa cukup dan tidak butuh merupakan penjaga kehormatan dan kemuliaan seseorang. Dari sinilah setiap usaha dan segala sesuatu yang dapat menghilangkan ketergantungan kepada orang lain mempunyai kedudukan yang mulia. Hal ini karena tidak ada yang lebih suci daripada sesuatu yang dapat menjaga kehormatan dan harga diri seorang manusia".

Wasalam,

amrie

Wednesday, January 24, 2007

tentang pemberian dan utang budi

“Utang budi dibawa mati, utang rokok musti bayar”. (Benyamin S.)

Dalam sebuah diskusi santai, seorang teman menceritakan betapa dia mengagumi filosofi “pemberian” dan “utang budi” yang ditulis Khalil Gibran dalam “Sang Nabi”. Dalam buku itu Gibran menulis, “Jangan memberati diri dengan rasa utang budi, sebab kau akan membebani dirimu dan dia yang memberi… Terlampau menyadari utangmu, adalah meragukan kedermawanan dia”. (Sang Nabi, Khalil Gibran, Pustaka Jaya). Teman saya ini begitu mengagumi Gibran dan Sang Nabi-nya sampai-sampai dia berucap, “Sang Nabi adalah kitab suci saya”.

Berhari-hari saya memikirkan kata-kata Gibran itu dan akhirnya membeli Sang Nabi dan buku Gibran lainnya, “Sayap-sayap Patah” yang menurut banyak orang, sangat bagus. Meski saya bukan pengagum Gibran dan karya-karyanya, tapi untuk yang satu ini saya sangat terkesan. Sang Nabi membuat saya mempertanyakan filosofi saya sendiri mengenai pemberian. Meski tidak sampai membebani diri dengan utang budi, saya merasa perlu membalas pemberian atau kebaikan seseorang dengan pemberian atau kebaikan lainnya. Kalau bisa, pemberian atau kebaikan saya harus melebihi pemberian atau kebaikan dia pada saya sebelumnya. Bukankah Tuhan juga mengganjar setiap kebaikan manusia dengan kebaikan yang berlipat ganda?

Dari yang saya pahami, Gibran tidak “melarang” seseorang merasa berutang budi akan pemberian orang lain, tapi yang dia larang adalah jika terlalu memberati diri dengan utang budi atau terlampau menyadari utang (pemberian) tersebut. Karena, bagaimanapun, pemberian bukanlah pinjaman atau utang yang harus dikembalikan atau dibayar. Di sinilah, menurut saya, bagian penting dari ungkapan Gibran. Sejak kecil kita akrab dengan pepatah/ungkapan “ada budi ada balas” atau “utang budi dibawa mati” seperti pernah muncul di salah satu lagu almarhum Benyamin S. seperti saya kutip di atas. Pepatah/ungkapan itu begitu populer sampai-sampai menjadi “ayat suci” bagi banyak orang.

Saya mungkin sampai saat ini berkesimpulan menjadi penerima itu sulit. Kadang menjadi penerima itu memang tidak terhindarkan, dan seperti yang ditulis Gibran juga, “.. engkau semuanya tergolong penerima!”. Selama kita menjadi penerima, kita akan terbebani, sedikit atau banyak, dengan pemberian yang kita terima, besar atau kecil. Semakin besar pemberian seseorang, semakin terbebani lah kita. Karena itu, menurut saya, menjadi pemberi itu lebih mudah. Seperti dikata Gibran, pemberian itu satu nafas dengan kedermawanan atau ketulusan. Tidak tulus, bukan pemberian namanya. Mengharap balas atau pengembalian dalam memberi, itu namanya menghutangkan atau meminjamkan. Tulus dalam memberi itu kata Al Ghazali sama dengan saat seseorang membuang, maaf, ludah. Seperti halnya seorang tidak pernah mengingat-ingat berapa kali dia meludah dalam sehari, ia juga haram menyebut-nyebut perbuatan-perbuatan memberi.

Sungguh, sebaik-baik Pemberi adalah Tuhan, dan seburuk-buruk pemberi adalah yang mengharap balasan dari selain Tuhan. Dan sebaik-baik pemberian adalah yang mendorong penerimanya berusaha menjadi pemberi, dan seburuk-buruk pemberian adalah yang membuat penerimanya menjadi peminta-minta. Wallahu ‘alam.

Salam,

Amrie

Monday, January 22, 2007

Nenek penjual bunga cempaka

Kisah ini dituturkan KH Jalaludin Rakhmat dari KH Zawawi Imron:

“Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai berjualan ia pergi ke mesjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekadarnya, ia keluar mesjid dan membungkuk-bungkuk di halaman mesjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman mesjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman mesjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari itu sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung mesjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari takmir mesjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang. Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk mesjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satupun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke mesjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapukan sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,“ kata nenek itu, “berikan kesempatan padaku untuk membersihkannya.”

Singkatnya cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai yang terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan daun-daun itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya, kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meninggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu shalawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan shalawat kepadanya.”

(Sumber: “Sate Rohani dari Madura”, D. Zawawi Imron, Rosda, 2001)

Thursday, January 18, 2007

tentang nama yang baik dan panggilan yang buruk

Rekans tercinta,

Sebagian besar dari kita boleh jadi sering atau setidak-tidaknya pernah mensyukuri betapa indah nama yang diberikan orangtua kepada kita. Bilamana ada di antara kita yang belum melakukannya, tentu patut bagi kita untuk melakukannya. “What’s in a name”, “apa arti sebuah nama”, seperti disebut Shakespeare dalam “Romeo and Juliet”, menurut saya, hanya mengandung kebenaran dalam konteks drama itu saja. Dalam bergaul atau memilih teman tidak perlu kita melihat latar belakang keluarga (family name), atau juga status sosial dan ekonomi seseorang.

Tapi, nama adalah segala-galanya. Nama seseorang adalah doa dari sang orangtua untuk buah hatinya. Juga dikatakan, setiap orang tua adalah "nabi" bagi anaknya pada saat memberikan nama bayi itu (http://www.kawanankecil.org/bs_nama.php). Kawan-kawan Kristen kita boleh jadi akrab dengan ayat berikut: “... sebab seperti namanya demikianlah ia ...” (1SAMUEL 25:25). Jadi, adalah hak sang anak untuk diberikan nama yang baik dari orangtuanya. Hal mana selaras dengan ucapan Nabi Muhammad: “Sesungguhnya di antara hak anak ke atas ayah ialah mengelokkan namanya dan mengelokkan adabnya.” (HR. Al Bazzar).

Berdasarkan hadis di atas, saya setuju dengan pendapat bahwa nama bukanlah predestinasi (ramalan) dari masa depan pemilik nama tersebut. Adalah kewajiban dari orangtua untuk membentuk sang anak dengan ahlak yang luhur dan menjauhkan darinya hal-hal yang dapat mendekatkan si anak kepada moral yang rendah. Dengan memberikan nama Muhammad pada sang anak misalnya, sang orangtua sejak dini wajib mengakrabkan ahlak-ahlak Muhammad pada sang anak sedini mungkin. Anak yang diberikan nama Michael (Mikail) misalnya, menerbitkan kewajiban pada si orangtua untuk antara lain membiasakan anak menjadi seorang dermawan dan amanah, seperti tugas ilahiah Michael sebagai malaikat pendistribusi rezeki.

Demikian pandangan saya tentang betapa pentingnya sebuah nama bagi seseorang. Saya pribadi termasuk orang yang senang akan nama-nama sebagian teman yang indah. Saya kadang penasaran dan tak segan untuk bertanya jika saya tidak mengetahui apa makna dari nama seseorang. Beberapa nama bahkan berkesan di hati saya karena kedalaman maknanya, dan beberapa nama yang lain karena keunikannya. Tiap nama, bagaimanapun, unik. Betapa nama merupakan doa dan mencerminkan pemiliknya juga saya temui buktinya di antara beberapa teman. Seorang sahabat bernama Inayah misalnya, sesuai makna namanya, gemar menolong, dan yang bernama Alam, senang sekali bertualang di alam bebas.

Saya juga senang memanggil teman atau seseorang sesuai dengan nama yang dia miliki karena saya juga senang jika diperlakukan sama oleh orang lain. Sebaliknya, saya tidak senang jika ada teman dipanggil dengan nama yang tidak sesuai dengan namanya, apalagi panggilan tersebut cenderung merendahkan orang tersebut, karena saya pribadi tidak suka jika diperlakukan demikian oleh orang lain. Memanggil teman atau orang lain dengan julukan atau sebutan adalah suatu hal yang lazim di lingkungan kita. Seringkali hal demikian menunjukkan kedekatan atau keakraban kita dengan orang tersebut. Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh misalnya, sering dipanggil dengan nama Arman oleh sebagian orang, termasuk oleh pers.

Tapi, memanggil seseorang dengan julukan atau sebutan bukan tidak ada batasannya. Saya berpandangan, sebutan atau panggilan bagi seseorang adalah halal sepanjang tidak merendahkan orang tersebut. Kalaupun panggilan atau sebutan tersebut tidak seindah nama aslinya, setidak-tidaknya orang tersebut menyetujui untuk dipanggil dengan panggilan atau sebutan tertentu. Tapi, saya setuju dengan pendapat bahwa kita dilarang memanggil seseorang dengan nama-nama binatang, kecuali jika maksudnya sebagai sanjungan. Seperti misalnya julukan Asadullah atau singa Allah bagi salah seorang sahabat Nabi yang perkasa di medan peperangan.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan salah satu ayat Al Quran yang berkaitan dengan larangan untuk mengolok-olok orang lain. Terima kasih atas perhatian rekan-rekan semua.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita yang lain (karena) boleh jadi wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang diolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri, dan jangan kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”. (QS 49: 11)

Salam saya,


Amrie

Wednesday, January 17, 2007

tentang menggunjingkan orang lain

Rekans tercinta,

Menggilanya tayangan gosip ternyata tak mampu diredam dengan fatwa MUI bahwa program infotainment itu haram. Fatwa demikian juga diperkuat dengan fatwa serupa dari NU. Saya pribadi berpendapat, meski ada materi tayangan infotainment yang bernilai news dan karena itu bermanfaat bagi publik luas, tapi kebanyakan gosip atau gunjingan yang tidak bermanfaat buat masyarakat, bahkan cenderung merusak moral.

Dengan menonton tayangan infotainment, publik diajak untuk ikut-ikutan menggunjingkan keburukan orang lain. Saya akui bahwa saya dan keluarga juga masih sering tergoda untuk menonton tayangan infotainment, tapi saya berusaha menahan diri untuk mengomentari apa yang ditayangkan, apalagi mendiskusikannya. Cara termudah untuk menghindari bahaya tayangan infotainment adalah dengan tidak menontonnya, atau sesedikit mungkin menontonnya.

Saya pernah membaca wawancara dengan Cut Tary sebagai salah satu presenter salah satu tanyangan infotainment. Waktu itu dia ditanya, apakah orang yang dia gosipin tidak marah sama dia, Cut Tary bilang kurang lebih, “Tidak, tapi kalau mereka marah saya tinggal minta maaf saja”. Apakah sesederhana itu? Minta maaf lalu dosa menggunjing langsung terhapuskan? Cut Tary mungkin lupa kalau memberi maaf kepada orang yang berbuat salah hukumnya tidak wajib. Karena maaf itu harus diberikan secara tulus. Selama si korban pergunjingan tidak memberikan maaf, selama itulah si penggunjing menanggung dosanya.

Berikut ini salah satu khotbah yang indah dari Imam Ali bin Abi Talib, salah satu pemimpin mulia Islam, sepupu (anak paman) dan menantu dari Nabi Muhammad, mengenai menggunjing dan membicarakan keburukan orang lain:

“Orang-orang yang tidak berbuat dosa dan telah dianugerahi keselamatan (dari dosa) harus menaruh belas kasihan pada pendosa dan orang yang tidak taat lainnya. Rasa syukur harus selalu menjadi kegemaran mereka yang paling besar, dan (hal) itu harus mencegah mereka dari (mencari-cari kesalahan) orang lain. Bagaimana tentang si penggunjing yang menyalahkan saudaranya dan mencari-cari kesalahannya? Apakah dia tidak mengingat bahwa Allah telah menyembunyikan dosa-dosa yang dilakukannya, padahal dosa-dosa itu lebih besar dari dosa-dosa saudaranya yang ditunjukannya? Bagaimana ia dapat menjelek-jelekkannya tentang dosa-dosanya padahal ia sendiri telah berbuat dosa seperti itu? Sekalipun ia tidak berbuat dosa yang serupa itu, tentulah ia telah berbuat dosa-dosa yang lebih besar. Demi Allah, sekalipun ia tidak melakukan-dosa-dosa besar tetapi melakukan dosa-dosa kecil, pembeberannya atas dosa-dosa orang itu sendiri merupakan dosa besar”. (Puncak Kefasihan, Khotbah 139).

Salam,

Amrie

Wednesday, October 11, 2006

My two cents for the Gospel of Judas

Buat anda yang sering berkunjung ke toko buku, mungkin tahu betul kalau buku-buku yang bertemakan Injil Yudas lagi gencar dipromosikan, khususnya di Gramedia. Buku yang diulas dalam Kolom di bawah ini hanya salah satu dari beberapa buku dengan tema sejenis yang beberapa bulan terakhir membanjiri Gramedia. Judul-judul lainnya, yang semuanya terjemahan, misalnya "The Lost Gospel: Kisah Pencarian Injil Yudas" dan "The Secret of Judas: Menafsir Ulang Peran Yudas". Buku Injil Yudas dan The Lost Gospel diterbitkan Gramedia.

Tidak pelak lagi, daya tarik buku ini ada pada temanya yang sangat kontroversial. Berdasarkan penelusuran saya di google, peluncuran penerbitan perdana buku Injil Yudas oleh National Geographic Society sengaja dipilih sebelum pemutaran perdana film kontroversial The Da Vinci Code pada 19 Mei 2006. Buku Injil Yudas sendiri kemudian diluncurkan saat Hari Raya Paskah. Unsur kontroversi inilah yang diharapkan membuat buku tersebut laris manis di pasaran.

Kisah pencarian dan akhirnya penerbitan Injil Yudas ini tidak kalah serunya dengan alur cerita yang disuguhkan Dan Brown dalam The Da Vinci Code. Justeru ini juga daya tarik buku Injil Yudas. Jika tokoh sentral dalam The Da Vinci Code adalah Sophie Noveou, ahli kriptologi, dan Robert Langdon, pakar simbologi Universitas Harvard, maka dalam Injil Yudas ada Frieda Nussberger-Tchacos, pemilik manuskrip asli Injil Yudas berbahasa yunani-koptik, dan Mario Jean Roberty, pengacara sekaligus pendiri Yayasan Maecenas yang membeli manuskrip itu dari Tchacos.

Tchacos adalah wanita yang kerap berurusan dengan pihak berwajib karena diduga sebagai penadah barang-barang kuno. Namun, Tchacos belum pernah dijatuhi hukuman apapun terkait berbagai tuduhan tersebut. Sedangkan Roberty adalah pengacara di Basel, Swiss, yang selama ini kerap menangani klien-klien dengan dakwaan pencurian barang-barang kuno. Tchacos disebutkan pernah menjadi klien Roberty. Rencana penerbitan Injil Yudas di awal memang terhalang masalah hukum yakni legalitas manuskrip kuno tersebut. Itulah yang membuat banyak penerbit ragu untuk mempublikasikannya. Akhirnya, yang dijual ke National Geographic bukan fisik manuskripnya, tapi kontennya. Cerdas.

Lepas dari masalah hukum terkait kepemilikan manuskrip Injil Yudas, tidak ada satupun pakar koptik yang meragukan kesahihan manuskrip tersebut. Rudolf Kasser sendiri adalah pakar sejarah koptik, mantan profesor di Universitas Jenewa. Rudolf Kasser dikenal luas sebagai pemimpin terjemahan manuskrip kuno yang ditemukan di Nag Hammadi, Mesir, 1945. (Gatra, 10 April 2006). Editor Biblical Archeology Review, Hershel Shanks, memuji keterlibatan National Geographic dalam membuat manuskrip itu menjadi dapat diakses publik. Namun, ia juga memberikan catatan mengenai peran National Geographic dalam penerbitan Injil Yudas. "Harga (yang harus dibayar) adalah mereka harus menjadi bagian dari skema untuk menaikkan nilai manuskrip tersebut," kata Shanks.

Kontroversi Injil Yudas atau Injil Maria Magdalena yang sebagian isinya diungkap oleh Dan Brown dalam The Da Vinci Code tidak dapat dilepaskan dari sifatnya yang dinyatakan apokrif (tersembunyi). Khusus untuk Injil Yudas yang merupakan bagian dari koleksi perpustakaan Nag Hammadi, sebetulnya telah diterbitkan terjemahannya secara umum pada 1977. Pimpinan proyeknya waktu itu adalah James M. Robinson. Hanya saja publikasi waktu itu dalam “bentuk yang tidak tercemarkan bagi publik luas”. Semakin sesuatu itu disembunyikan, semakin besar pula keinginan dan usaha untuk membuatnya menjadi diketahui.

Thursday, October 05, 2006

Hidup dan Pesan Nabi

Saya selalu suka lirik dari lagu Bimbo di bawah ini. Sejak kecil hingga dewasa, utamanya setiap Ramadhan datang, liriknya seakan terngiang di telinga. Semoga Allah menjadikan saya insan yang mudah menerima nasihat, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.

Hidup dan Pesan Nabi

Bimbo

Hidup bagaikan garis lurus, tak pernah kembali ke masa lalu
Hidup bukan bulatan bola yang tiada ujung dan tiada pangkal

Hidup ini merangkak terus, semakin mendekat ke titik terakhir
setiap langkah hilanglah jatah menikmati hidup nikmat di dunia

Pesan nabi tentang mati
jangan takut mati karna pasti terjadi
Setiap insan pasti mati, hanya soal waktu

Pesan nabi tentang mati
janganlah minta mati datang kepadamu
dan janganlah kau berbuat menyebabkan mati

Tiga rahasia Illahi yang berkaitan dengan hidup manusia
Kesatu tentang kelahiran
Kedua tentang pernikahan
Ketiga kematian


Penuhi hidup dengan cinta, ingatkan diri saat untuk berpisah
Tegakkan sholat lima waktu dan ingatkan diri saat disholatkan

Pesan Nabi jangan takut mati
meski kau sembunyi, dia menghampiri
takutlah pada kehidupan sesudah kau mati
Renungkanlah itu


Thanks to Imgar.

Friday, September 08, 2006

Keinginan adalah sumber penderitaan

Terima kasih bang Iwan...

Seperti Matahari
oleh: Iwan Fals

Keinginan adalah sumber penderitaan
Tempatnya di dalam pikiran
Tujuan bukan utama
Yang utama adalah prosesnya

Kita hidup mencari bahagia
Harta dunia kendaraannya
Bahan bakarnya budi pekerti
Itulah nasehat para nabi

Ingin bahagia derita didapat
Karena ingin sumber derita
Harta dunia jadi penggoda
Membuat miskin jiwa kita

Ada benarnya nasehat orang-orang suci
Memberi itu terangkan hati
Seperti matahari
Yang menyinari bumi
Yang menyinari bumi


disalin dari Keluarga Muslim Delft dari Iwan-Fals.com.

Thursday, September 07, 2006

What you cannot have desires you most

Semakin sesuatu tidak dapat dimiliki semakin besar pula keinginan untuk memilikinya...

Have You Ever Really Loved A Woman?

Bryan Adams (OST "Don Juan De Marco")

To really love a woman
To understand her
You gotta know her deep inside
Hear every thought
See every dream
And give her wings when she wants to fly

And when you find yourself
Lying helpless in her arms
You know you really love a woman

When you love a woman
You tell her that she’s really wanted
When you love a woman
You tell her that she’s the one
She needs somebody
To tell her that it’s gonna last forever
So tell me have you ever really
Really really ever loved a woman

To really love a woman
Let her hold you
Do you know how she needs to be touched ?
You gotta breathe her
Really taste her
So you can feel her in your blood
Then when you can see your unborn children in her eyes
You know you really love a woman

When you love a woman
You tell her that she’s really wanted
When you love a woman
You tell her that she’s the one
She needs somebody
To tell her that you’ll always be together
So tell me have you ever really
Really really ever loved a woman

You got to give her some faith
Hold her tight
A little tenderness
You gotta treat her right
She’ll be there for you
Taking good care of you
You really gotta love your woman

And when you find yourself
Lying helpless in her arms
You know you really love a woman

When you love a woman
You tell her that she’s really wanted
When you love a woman
You tell her that she’s the one
She needs somebody
To tell her that it’s gonna last forever
So tell me have you ever really
Really really ever loved a woman
Just tell me have you ever really
Really really ever loved a woman
Just tell me have you ever really
Really really ever loved a woman.

Terima kasih untuk www.romantic-lyrics.com.

Wednesday, August 16, 2006

PERADI Menerima Puluhan Surat Pernyataan Opt Out

Selama beberapa hari terakhir, Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) menerima sejumlah salinan surat pemberitahuan tentang pernyataan keluar (opt out) dari gugatan perwakilan kelompok (class action) melawan PERADI. Surat-surat tersebut diterima lewat surat elektronik (e-mail), faksimili, kurir, ataupun yang diantar langsung oleh yang bersangkutan.

Sampai dengan hari ini, PERADI menerima sedikitnya 24 surat pernyataan keluar dari gugatan perwakilan kelompok baik yang register No.168/Pdt.G/2006/PN.JKT.PST dan register No.100/Pdt.G/2006/PN.JKT.PST. Seperti diketahui, kedua gugatan perwakilan kelompok tersebut diajukan oleh lima peserta Ujian Profesi Advokat (UPA) tanggal 4 Februari 2006 yang tidak lulus.

Sebagaimana diketahui, surat pernyataan keluar dari gugatan perwakilan kelompok seperti disebutkan di atas diajukan kepada Kepala Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat cq. Panitera Pengganti beralamat di Jl. Gajah Mada No. 17, Jakarta Pusat, serta kepada Para Penggugat cq. D.H. Lubis, SH dan Drs. MHM Simatupang, SH di Jl. Tomang Raya No. 2, Jakarta.

Sebagian anggota kelompok yang menyatakan keluar dari gugatan kemudian berinisiatif untuk mengirimkan salinan pernyataan tersebut kepada PERADI. Untuk diketahui, anggota kelompok gugatan register No. 168/Pdt.G/2006/PN.JKT.PST adalah para peserta UPA 4 Februari 2006 di 18 kota provinsi sebanyak 6.508 orang. Sedang, anggota kelompok gugatan register No.100/Pdt.G/2006/PN.JKT.PST adalah para peserta UPA 4 Februari 2006 yang tidak lulus.

Verifikasi dan pendataan ulang
Pada bagian lain, PERADI kembali mengingatkan akan batas waktu verifikasi dan pendataan ulang advokat akan berakhir pada Rabu, 16 Agustus 2006. Pengumuman proses verifikasi dan pendataan ulang advokat telah diumumkan PERADI di media cetak dan internet sejak 16 Juni 2006 silam.

Verifikasi advokat adalah untuk advokat, penasihat hukum, pengacara praktik, dan konsultan hukum yang pada saat berlakunya UU No.18/2003 tentang Advokat telah diangkat sebagai advokat berdasarkan Surat Keputusan (SK) Menteri Kehakiman (sekarang Menteri Hukum & HAM) atau pengacara praktik berdasarkan SK Pengadilan Tinggi, namun belum pernah mengikuti verifikasi dan belum memiliki Kartu Tanda Pengenal Advokat (KTPA) yang dikeluarkan oleh Komite Kerja Advokat Indonesia (sekarang PERADI).

Sedangkan, pendataan ulang advokat diperuntukkan bagi seluruh advokat yang telah terdaftar dalam Buku Daftar Anggota PERADI dan atau telah memiliki KTPA yang dikeluarkan oleh Komite Kerja Advokat Indonesia (sekarang PERADI). Pendataan ulang advokat dilakukan guna pemutakhiran (updating) data Buku Daftar Anggota (pasal 29 ayat (2) UU Advokat), dan penerbitan KTPA baru (berlaku s.d. 31 Desember 2009) yang berlaku sebagai kartu izin praktik advokat.(AMR)

Sumber: PERADI

Thursday, August 10, 2006

Jadi inget saya kecil...

Dari blog http://hadinda.multiply.com :

Dasar Kutu Buku !!!

Dalam kereta dari Jakarta menuju Bogor, Indra bingung, resah dan gelisah !! bukan karena kecopetan atau habis kena palak (karena kalau kecopetan di kereta sudah biasa, ga’ bikin bingung lagi). Tapi karena Indra baru sadar, dari puluhan bahkan ratusan kali Indra naik turun bis, kereta, kapal laut, bahkan pesawat terbang dia baru menyadari dan baru kepikiran kalau hampir seluruh pengguna angkutan umum dalam setiap perjalanannya yang berjarak jauh dan macet tidak ada yang memanfaatkan waktunya dengan membaca!!! (aneh khan si Indra ini ??)

Di usiannya yang sudah 20 tahunan Indra kembali mengenang saat-saat SD, SMP, SMAnya, bagaimana dia dulu dijuluki si ”KUTUBUKU”. Sebuah predikat yang sebenarnya sangat tidak dia sukai, dan seakan-akan julukan ”KUTUBUKU” seperti HARAM hukumnya kalau dimakan dan Najis hukumnya kalau terkena bagi kawan-kawannya saat sekolah dahulu, tapi julukan tersebut menempel pada dirinya karena hobinya membaca buku.

Padahal kalau dipikir-pikir, porsi baca bukunya Indra normal-normal saja, tanpa mengganggu aktifitas belajar dan bermasyarakatnya. Saat SD, ketika teman-temannya bermain galasin, benteng, kelereng dia ikutan main bahkan prestasinya diatas rata-rata. Hanya saja mungkin ketika teman-temannya sibuk ngerumpiin film kartun yang diputar di TV kemarin sore atau ngerumpiin permainan nintendo, indra lebih asik dengan bukunya. Bukan karena indra ga’ nonton film kartun atau ga’ main nintendo (indra juga punya nintendo di rumah lhooo....). Jadi kesimpulannya indra di cap sebagai KUTUBUKU karena di dalam tasnya selalu ada buku-buku semisal Trio Detektifnya Sherlock Holmes, lima sekawan, buku-buku dongeng Enid Bylton, majalah Bobo dan BUKU PINTAR!! (yang isinya ada gambar2 bendera, trus profil negara-negara, nama-nama presiden sampe gubernur di Indonesia juga ada). Semua itu sebenarnya Cuma hobi dan sebagai pemuas syahwat ingin tahunya saja. Suatu hari di kelas 4 SD ketika indra lagi asik baca Lupus Kecil di bangku paling depan sehabis jam istirahat dan teman-temannya buka “pasar kaget" di kelas (asli, ribut banget), tiba-tiba terdengar suara cempreng yang melengking, DIAAAAM....... Seluruh isi kelas mendadak sunyi senyap. Mata sipemilik suara barusan tertuju ke buku yang berada di tangan Indra. ”Apa ini ?!! tanya bu guru. Singkat cerita lupus Kecilnya Indra tersebut nginep di laci bu guru yang terkunci sampai dikembalikan lewat mamanya Indra pas bagi rapot. Alhasil sejak saat itu Indra langsung paranoid. Kalau dia bawa buku cerita ke sekolah kayak bawa narkoba, ngumpet-ngumpet, dan baru dibaca di bis pas pulang sekolah. Padahal di salah satu dinding di sudut sekolahan Indra tertulis : ”Perpustakaan gudang ilmu, buku jendela dunia” Aneh ya ???

Ketika duduk di bangku SMP dan SMA waktu indra banyak dihabiskan di depan komputer. Browsing internet berjam-jam, terus download artikel-artikel. Sesekali, semenit-dua menit menit dia chatting. Habis itu check email. Jarang ke perpustakaan sekolahnya, karena buku-buku di perpustakaan sekolah ga’ ada yang menarik minatnya, isinya semua buku pelajaran. Seringnya ke toko buku Gra*ed*a di daerah Matraman. Indra juga punya beberapa teman untuk diajak diskusi buku. Kalau teman-temannya sekelas ada acara jalan-jalan ke mall kadang dia ngikut, terus pas teman-temannya pada cuci mata, main ditempat permainan Ti*e Zon*, Indra milih asyik di toko buku. Lucunya ketika SMA guru Bahasa Indonesianya iseng ngasih tugas “mengarang bebas” waktunya 90 menit, sebagian besar teman-temannya menulis karangan dengan judul “BERLIBUR KE RUMAH NENEK DI DESA”

Sekarang Indra sudah kuliah, minat bacanya masih seperti dulu, dan tetap saja stempel ”kutu buku ” melekat pada dirinya. Stempel itu juga tetap dianggap aneh oleh teman-temanya, lingkungannya bahkan masyarakatnya. Budaya plagiat dalam menulis skripsi menjadi hal yang biasa pada bangsanya.Indra sadar, minat baca masyarakat bangsanya lemah, selemah bangsanya keluar dari berbagai macam krisis yang berkepanjangan. Semuanya hanya bermasalah pada paradigma, minat dan pengetahuan akan pentingnya membaca bagi masyarakat bangsanya. Padahal Tuhannya Indra (Allah SWT. Red), yang juga Tuhannya hampir 90% masyarakat bangsanya menyeru untuk membaca pada kata pertama firmannya. Kalau membaca saja sulit, gimana menulissss ? wallahu’alam bishawab.

Hadin A. Miftah
© 09-08-06

Wednesday, August 09, 2006

Hati-hati terhadap Pendidikan Advokat Tidak Resmi

Berhubung masih ditemukan pihak-pihak yang masih menyelenggarakan Pendidikan Profesi Advokat (PKPA) yang mengatasnamakan Dewan Pimpinan Nasional Perhimpunan Advokat Indonesia (DPN PERADI), maka dengan ini kami rasakan perlu untuk mengumumkan kembali mengenai PENGHENTIAN SEMENTARA PENYELENGGARAAN PKPA terhitung sejak Februari 2006.

DPN PERADI menyatakan tidak pernah memberikan persetujuan dalam bentuk apapun terhadap penyelenggaraan PKPA yang dilakukan setelah Februari 2006. Dengan demikian, PERADI tidak bertanggung jawab atas penyelenggaraan PKPA sebagaimana dimaksud. Karena itu, segala akibat hukum yang timbul dari penyelenggaraan PKPA sebagaimana dimaksud di atas semata-mata menjadi tanggung jawab penyelenggara PKPA yang bersangkutan.

Setiap penyelenggaraan PKPA yang dilakukan tanpa persetujuan dari PERADI dengan demikian tidak dapat dianggap sebagai pendidikan khusus profesi advokat sebagaimana dimaksud dalam ketentuan Undang-Undang No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat. Karena itu, PKPA sebagaimana dimaksud di atas tidak akan diakui oleh PERADI sebagai PKPA yang merupakan salah satu syarat untuk menjadi advokat.

Berkaitan dengan itu, Ketua Komisi Pendidikan Khusus Profesi Advokat Indonesia (KP2AI), Fauzie Yusuf Hasibuan menyatakan, pelaksanaan PKPA mendatang akan diumumkan melalui surat resmi oleh PERADI.(AMR)

Tuesday, August 08, 2006

Terbuka, Peluang untuk Keluar dari Gugatan Class Action

Gugatan perwakilan kelompok terhadap Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) masih bergulir. Pemberitahuan gugatan perwakilan kelompok (class action) yang diajukan oleh M. Cholil Saleh dan empat penggugat lainnya telah dilakukan melalui beberapa kantor pengadilan, di antaranya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Pemberitahuan tersebut ditujukan kepada para peserta ujian profesi advokat tanggal 4 Februari 2006. Dalam pemberitahuan itu antara lain disebutkan bahwa apabila ada anggota kelompok yang tidak ingin bergabung dan terikat dengan gugatan perwakilan kelompok itu, maka yang bersangkutan dapat membuat pernyataan keluar secara tertulis.

Pernyataan keluar dari keanggotaan kelompok disampaikan kepada Kepala Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat cq. Panitera Pengganti beralamat di Jl. Gajah Mada No. 17, Jakarta Pusat, dan juga kepada Para Penggugat cq. Kuasa Hukum Sebelas Bakti Associates beralamat di Jl. Tomang Raya No. 2, Jakarta Pusat.

Apabila dalam jangka waktu yang ditentukan anggota kelompok tidak memberikan pernyataan keluar secara tertulis, maka yang bersangkutan terikat serta tunduk pada putusan majelis hakim dalam perkara ini. Adapun jangka waktu yang dimaksud adalah 30 hari sejak gugatan perwakilan kelompok dinyatakan sah oleh majelis hakim yaitu 20 Juli 2006.

Kuasa hukum Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI) dalam perkara gugatan perwakilan kelompok, Daniel Panjaitan menyatakan bahwa pihaknya telah mengetahui pemberitahuan gugatan perwakilan kelompok yang dilakukan di beberapa kantor pengadilan di Jakarta. Meski demikian, Daniel mengatakan, dia belum melihat pemberitahuan yang sama melalui media massa nasional.

Sekadar tahu, Pasal 7 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung No.1 Tahun 2002 tentang Acara Gugatan Perwakilan Kelompok mengatur bahwa cara pemberitahuan kepada anggota kelompok dapat dilakukan melalui media cetak dan/atau elektronik, kantor-kantor pemerintah seperti kecamatan, kelurahan atau desa, kantor pengadilan, atau secara langsung kepada anggota kelompok yang bersangkutan sepanjang yang dapat diidentifikasi berdasarkan persetujuan hakim.

Daniel mengatakan pemberitahuan gugatan perwakilan kelompok melalui media massa nasional penting karena para peserta ujian advokat tersebar di 18 kota di Indonesia. Hal demikian, menurut Daniel, telah disetujui oleh majelis hakim pada persidangan 20 Juli silam.

Pada sisi lain, dalam pemberitahuan tersebut juga dikatakan, apabila ada anggota kelompok yang berkeinginan untuk bergabung dan mengikatkan diri sebagai penggugat, maka yang bersangkutan tidak perlu membuat pernyataan tertulis apapun. Pihak yang tidak menyatakan keluar dari keanggotaan kelompok akan terikat pada putusan majelis hakim.

Sekadar mengingatkan, gugatan perwakilan kelompok diajukan oleh lima orang peserta ujian advokat pada 5 Juni silam. Gugatan tersebut diajukan dengan mengatasnamakan diri sendiri dan seluruh peserta ujian yang berjumlah 6.508 orang. Kelima penggugat itu adalah M. Cholil Saleh, Muhtarom Lardy Syam, M. Tigor P. Simatupang, Tohap Jepry, dan Gunawan Wibisono. Kelimanya adalah peserta yang dinyatakan tidak lulus ujian advokat Februari silam.(AMR)

Friday, August 04, 2006

Advokat Ditantang Tandatangani Deklarasi Anti-Suap

Dari pemberitaan di media massa diketahui banyak advokat yang tidak profesional dan tidak menjalan tugas profesi sesuai dengan kode etik. Bahkan, Sudah ada putusan pengadilan terhadap advokat yang terbukti melakukan suap. Karena itu, keberanian advokat untuk menandatangani Deklarasi Anti-Suap dinilai sebagai sesuatu hal yang penting.

Demikian disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Perhimpunan Advokat Indonesia (PERADI), Harry Ponto, dalam sambutannya pada acara pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Ikatan Penasihat Hukum Indonesia (IPHI) di Jakarta, Kamis (3/8) malam. Acara itu dihadiri pula oleh Wakil Ketua Mahkamah Agung (MA), Mariana Sutadi, dan Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Tumpak H. Panggabean.

Harry lebih jauh mengungkapkan, sejak 2003 hingga Juli 2006 terdapat sekitar 115 pengaduan pelanggaran kode etik oleh advokat. Harry menilai hal tersebut menunjukkan bahwa kesadaran masyarakat akan hak-hak mereka makin tinggi. “Jadi, kita (advokat, red) mungkin harus makin prudent (hati-hati, red) dalam menjalankan tugas profesi,” tegas Harry.

Melawan advokat tidak profesional
Menanggapi tema Rakernas yaitu “IPHI Sebagai Motor Penggerak Melawan Penegak Hukum yang Tidak Profesional”, Harry menyatakan, penegak hukum yang dimaksud tidak hanya polisi, jaksa dan hakim, tetapi juga advokat itu sendiri. Ia berharap, Rakernas akan membahas program-program kerja yang meningkatkan profesionalitas advokat.

Terkait hal itu, Harry melanjutkan, sebagai Organisasi Advokat menurut Undang-undang No.18/2003 tentang Advokat, tugas PERADI adalah meningkatkan kualitas profesi advokat. Untuk melaksanakan hal itu, PERADI yang baru dibentuk 1,5 tahun silam masih berkutat pada penguatan organisasi dan pelaksanaan bidang sertifikasi advokat yang meliputi Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA), ujian, dan magang.

“Khusus untuk ujian profesi advokat, jika sebelumnya ditengarai berlaku praktik suap jika mau lulus, maka ujian pertama yang diselenggarakan PERADI pada februari silam bebas suap dan KKN. Ini langkah awal untuk meningkatkan kualitas profesi advokat,” papar Harry. Ia juga mengatakan bahwa saat ini PERADI sedang memperkuat Dewan Kehormatan sebagai organ penegakan kode etik advokat.

Karena itu, Harry berharap Rakernas IPHI dapat menghasilkan program-program yang mengarah pada peningkatan profesi advokat seperti pendidikan hukum berkelanjutan (continuous legal education). Di samping itu, konsisten dengan tema rakernas, Harry mempertanyakan keberanian IPHI untuk menandatangani Deklarasi Anti-Suap.

Mewujudkan supremasi hukum
Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua KPK Tumpak H. Panggabean menyatakan, meski dalam praktiknya kepentingan KPK dan advokat berbeda, namun keduanya mempunyai tujuan yang sama yakni mewujudkan supremasi hukum. Selain itu, Tumpak juga menegaskan bahwa KPK bukanlah lembaga super dalam upaya pemberantasan korupsi. Menurutnya, keistimewaan KPK hanyalah karena memiliki kewenangan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan sekaligus.

Sementara itu, Wakil Ketua MA Mariana Sutadi mengatakan bahwa advokat adalah mitra kerja hakim di mana saja dan kapan saja. Di sisi lain, Mariana menyoroti fenomena banyaknya advokat yang kalah berperkara sering melaporkan hakim kepada Presiden RI, serta lembaga-lembaga lain, termasuk Komisi Yudisial dan KPK. Umumnya, kata Mariana, para advokat itu menuduh hakim yang memeriksa perkaranya melakukan kolusi.

Mariana juga menekankan pentingnya Organisasi Advokat sebagai lembaga pengawas advokat dalam menjalankan tugasnya. Mariana menandaskan, korps hakim juga berkepentingan dengan keberadaan Organisasi Advokat beserta Komisi Pengawas di dalamnya demi menjaga kemandirian peradilan. “Kemandirian peradilan adalah sesuatu yang tidak mungkin dijaga sendiri oleh hakim,” cetusnya.

Tuesday, August 01, 2006

Pak Dan yang saya kenal

Dunia hukum Indonesia berduka. Profesor Emeritus Daniel S. Lev, Indonesianis dari University of Washingto, Seattle, AS, wafat pada Sabtu (29/7) siang waktu setempat atau Ahad (30/7) dini hari waktu Indonesia. Pak Dan meninggal pada usia 72 tahun akibat kanker paru yang dideritanya. Ayah dari seorang istri dan ayah dari dua orang anak itu adalah seorang guru, mentor dan, menurut The Seattle Times, mantan petinju.

Namun, sosok Pak Dan yang saya kenal sangat jauh dari sosok petinju yang umumnya keras. Saya terkesan dengan pribadi Pak Dan yang ramah dan penyabar. Saat masih bekerja buat Hukumonline.com, Saya beruntung mendapat kehormatan mewawancarai Pak Dan head to head pada 2003 silam. Salah satu wawancara terbaik yang pernah saya kerjakan dalam karir sebagai jurnalis.

Waktu itu, saya mewawancarai Pak Dan usai memberikan kuliah umum dalam sebuah seminar (3 April 2003). Keletihan jelas terlihat di wajah Pak Dan, tapi itu tidak menghalangi beliau untuk melayani saya yang saat itu, mungkin, agak memaksa. Sambil menyantap makanan kecil serta kopi yang disediakan penyelenggara seminar, Pak Dan dengan sabar menjawab satu-per-satu pertanyaan saya. Ya, saya menyita maktu makan siang Pak Dan. Biar begitu, Pak Dan tak segan memberikan beberapa jawaban yang panjang lebar tentang profesi advokat dan organisasi advokat. Semuanya dilakukan Pak Dan dengan bahasa Indonesia yang fasih.

Pak Dan dikenal sebagai Indonesianis yang konsisten dan jernih dalam ulasannya mengenai dinamika hukum dan politik Indonesia sejak 1970-an. Tak hanya lewat kuliah di kampus, Pak Dan banyak terlibat secara aktif dalam upaya perbaikan hukum dan kebijakan di Indonesia. Pada 1999, Pak Dan menjadi salah satu pendiri Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) bersama sejumlah advokat dan aktivis hukum di Indonesia.

Perhatian dan keprihatinan Pak Dan akan masa depan profesi hukum, khususnya, advokat Indonesia, tak perlu lagi dipertanyakan. Sebagai salah seorang yang telah mengamati dunia profesi hukum Indonesia sejak tahun 50-an, Dan tampaknya mengerti benar bahwa organisasi advokat yang kuat mustahil terwujud jika tidak berwujud wadah tunggal seperti Persatuan Advokat Indonesia (Peradin). Jadi, bukan federasi. Namun, satu hal yang sungguh ia sayangkan, para pimpinan organisasi advokat belum ikhlas untuk disatukan. Saat itu, meski UU No.18/2003 tentang Advokat telah disahkan, namun organisasi advokat belum terbentuk.

Pak Dan menegaskan, tuntutan kalangan untuk dapat disederajatkan dengan penegak hukum lain -- polisi, jaksa dan hakim -- bukan diperoleh dari undang-undang. "Banyak advokat mengira bahwa kalau mereka diakui pemerintah dengan undang-undang berarti bahwa sekarang mereka akan diterima oleh hakim dan jaksa sebagai orang-orang yang sama rasa, sama rata di dalam sistem hukum. Ini omong kosong," ucap Pak Dan waktu itu. Menurutnya, pengakuan hanya dapat diperoleh dari keberpihakan profesi advokat kepada kepentingan masyarakat melawan hakim, jaksa, polisi dan, tidak terkecuali, advokat yang korup.

Pak Dan juga berpandangan agar advokat menjadi profesi yang kuat dan berwibawa, maka perlu dibentuk organisasi advokat yang tunggal. Organisasi advokat yang berbentuk federasi tidak dipandang sebagai opsi olehnya. "Federasi di situ berarti sama sekali bukan organisasi lagi. Itu betul-betul begitu gampang diadu domba. Pemerintah tidak menginginkan suatu organisasi advokat yang kuat, mereka itu hanya mengacaukan. Hakim (juga) benci ide itu," cetusnya.

Harapan Pak Dan akan munculnya organisasi advokat yang kuat dan berwibawa terus diperjuangkan untuk diwujudkan. Semoga keprihatinan Pak Dan juga menjadi keprihatinan advokat Indonesia.

Asfinawati, Direktur LBH Jakarta 2006-2009

Dari hukumonline.com:

"Akhirnya Asfinawati terpilih sebagai Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta periode 2006-2009. Dalam pemilihan yang memperebutkan 15 suara staf dan karyawan LBH Jakarta, Jumat (28/7), dara kelahiran Bitung ini beroleh 10 suara, meyisihkan Taufik Basari (1 suara) dan Erna Ratnaningsih (4 suara). "

Selamat buat Asfin, semoga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran kepada Anda dalam mengemban amanat sebagai pimpinan LBH Jakarta untuk tiga tahun ke depan. Sukses selalu.

Wednesday, July 26, 2006

Isu federasi kembali muncul

Atmosfir jagad advokat Indonesia kembali memenas pasca-musyawarah pimpinan Asosiasi Advokat Indonesia (AAI) 20-21 Juli. Dalam kesempatan ini, AAI melahirkan sejumlah keputusan, salah satunya untuk mendorong Peradi berbentuk federasi. Entah ada angin apa yang membuat Ketum AAI kembali mencuatkan ide federasi. Namun, yang pasti ini adalah sebuah persoalan baru di Peradi. Apalagi, AAI secara frontal menentang pembentukan cabang Peradi di daerah.

Perkembangan ini sudah tentu bisa dipandang sebagai dinamika di dunia per-advokat-an di Indonesia. Namun, pada sisi lain, manuver AAI bisa membawa kemunduran pada Peradi sebagai Organisasi Advokat yang hendak memperjuangkan persatuan dan membuang jauh perpecahan.

Sunday, July 23, 2006

'Siapa yang benar biarlah benar...'

Lebih dari satu tahun sejak dibentuk, pengurus Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) akhirnya berkesempatan bertemu Presiden SBY di Istana Negara pada 15 Mei silam. Dalam kesempatan itu, Presiden SBY mengharapkan agar Peradi dapat memberikan bantuannya kepada pemerintah dalam rangka pembangunan hukum, Juga dalam rangka penegakan hukum termasuk pemberantasan korupsi, hendaknya Peradi dapat memperjuangkan dengan cara yang elegan, dengan cara siapa yang salah biarlah bersalah, siapa yang benar biarlah benar.

Imbauan sederhana, namun agaknya pelaksanaannya luar biasa sulit...

Gagal ujian, ke pengadilan...

Para calon advokat yang tidak lulus ujian setahun silam meradang. Sebagian dari mereka mengajukan gugatan class action terhadap Peradi. Nilai gugatan ganti rugi yang diajukan para penggugat luar biasa, Rp 8 miliar! Kabar baik baru-baru ini bertiup dari arah para penggugat: gugatan mereka dinyatakan sah oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Tapi, yang gak kalah seru adalah tanggapan para calon advokat yang lulus ujian. Mereka mulai ambil ancang-ancang untuk mengambil upaya intervensi dalam gugatan class action di atas. Hal itu didasari akan kekhawatiran mereka jika kelulusan mereka akan dianulir jika Peradi dikalahkan dalam gugatan tersebut. Tentu, dampak dari kekalahan Peradi jauh lebih besar dari itu mengingat gugatan mempersoalkan sah/tidaknya Peradi sebagai organisasi.

Mulutmu, harimaumu...

Advokat Eggi Sudjana masuk ke pengadilan. Kali ini bukan sebagai pembela, tapi sebagai yang dibela alias terdakwa. Tragis, kasus yang menyeretnya ke pengadilan adalah terkait fitnah terhadap Presiden SBY. Perbuatan Eggi menghina presiden secara sengaja di depan umum itu diancam hukuman pidana maksimal selama enam tahun atau pidana denda paling banyak Rp4.500 sesuai dengan Pasal 134 KUHP. Demikian pemberitaan di Hukumonline.

Sayangnya, kalangan setingkat advokat sekalipun sering lupa akan pepatah keramat: mulutmu harimaumu.

Sunday, July 02, 2006

Ganti Nama

Hari ini saya putuskan untuk mengganti nama blog saya dari semula "The Fig Bish: Blognya Amrie Hakim", menjadi "Si Ikan Besar". Nafasnya masih sama kok, The Big Fish.

Saya masih menghadapi tantangan untuk mempromosikan blog ini supaya masuk ke Google. Rupanya, saya kurang disiplin untuk mem-posting, bahkan satu posting sepekan pun tidak gol.

Info lainnya adalah saya baru bikin blog baru di Yahoo: Bukuku Syurgaku. Tadinya, saya pikir nama itu eksklusif, tapi ternyata frasa itu terlacak di Google dan dicetuskan oleh pakar filsafat, Franz Magnis Suseno. Ya nggak apalah, semoga saya jadi tertular sifat-sifat baik dari Romo Franz.

Salam,

Amr