Thursday, August 10, 2006

Jadi inget saya kecil...

Dari blog http://hadinda.multiply.com :

Dasar Kutu Buku !!!

Dalam kereta dari Jakarta menuju Bogor, Indra bingung, resah dan gelisah !! bukan karena kecopetan atau habis kena palak (karena kalau kecopetan di kereta sudah biasa, ga’ bikin bingung lagi). Tapi karena Indra baru sadar, dari puluhan bahkan ratusan kali Indra naik turun bis, kereta, kapal laut, bahkan pesawat terbang dia baru menyadari dan baru kepikiran kalau hampir seluruh pengguna angkutan umum dalam setiap perjalanannya yang berjarak jauh dan macet tidak ada yang memanfaatkan waktunya dengan membaca!!! (aneh khan si Indra ini ??)

Di usiannya yang sudah 20 tahunan Indra kembali mengenang saat-saat SD, SMP, SMAnya, bagaimana dia dulu dijuluki si ”KUTUBUKU”. Sebuah predikat yang sebenarnya sangat tidak dia sukai, dan seakan-akan julukan ”KUTUBUKU” seperti HARAM hukumnya kalau dimakan dan Najis hukumnya kalau terkena bagi kawan-kawannya saat sekolah dahulu, tapi julukan tersebut menempel pada dirinya karena hobinya membaca buku.

Padahal kalau dipikir-pikir, porsi baca bukunya Indra normal-normal saja, tanpa mengganggu aktifitas belajar dan bermasyarakatnya. Saat SD, ketika teman-temannya bermain galasin, benteng, kelereng dia ikutan main bahkan prestasinya diatas rata-rata. Hanya saja mungkin ketika teman-temannya sibuk ngerumpiin film kartun yang diputar di TV kemarin sore atau ngerumpiin permainan nintendo, indra lebih asik dengan bukunya. Bukan karena indra ga’ nonton film kartun atau ga’ main nintendo (indra juga punya nintendo di rumah lhooo....). Jadi kesimpulannya indra di cap sebagai KUTUBUKU karena di dalam tasnya selalu ada buku-buku semisal Trio Detektifnya Sherlock Holmes, lima sekawan, buku-buku dongeng Enid Bylton, majalah Bobo dan BUKU PINTAR!! (yang isinya ada gambar2 bendera, trus profil negara-negara, nama-nama presiden sampe gubernur di Indonesia juga ada). Semua itu sebenarnya Cuma hobi dan sebagai pemuas syahwat ingin tahunya saja. Suatu hari di kelas 4 SD ketika indra lagi asik baca Lupus Kecil di bangku paling depan sehabis jam istirahat dan teman-temannya buka “pasar kaget" di kelas (asli, ribut banget), tiba-tiba terdengar suara cempreng yang melengking, DIAAAAM....... Seluruh isi kelas mendadak sunyi senyap. Mata sipemilik suara barusan tertuju ke buku yang berada di tangan Indra. ”Apa ini ?!! tanya bu guru. Singkat cerita lupus Kecilnya Indra tersebut nginep di laci bu guru yang terkunci sampai dikembalikan lewat mamanya Indra pas bagi rapot. Alhasil sejak saat itu Indra langsung paranoid. Kalau dia bawa buku cerita ke sekolah kayak bawa narkoba, ngumpet-ngumpet, dan baru dibaca di bis pas pulang sekolah. Padahal di salah satu dinding di sudut sekolahan Indra tertulis : ”Perpustakaan gudang ilmu, buku jendela dunia” Aneh ya ???

Ketika duduk di bangku SMP dan SMA waktu indra banyak dihabiskan di depan komputer. Browsing internet berjam-jam, terus download artikel-artikel. Sesekali, semenit-dua menit menit dia chatting. Habis itu check email. Jarang ke perpustakaan sekolahnya, karena buku-buku di perpustakaan sekolah ga’ ada yang menarik minatnya, isinya semua buku pelajaran. Seringnya ke toko buku Gra*ed*a di daerah Matraman. Indra juga punya beberapa teman untuk diajak diskusi buku. Kalau teman-temannya sekelas ada acara jalan-jalan ke mall kadang dia ngikut, terus pas teman-temannya pada cuci mata, main ditempat permainan Ti*e Zon*, Indra milih asyik di toko buku. Lucunya ketika SMA guru Bahasa Indonesianya iseng ngasih tugas “mengarang bebas” waktunya 90 menit, sebagian besar teman-temannya menulis karangan dengan judul “BERLIBUR KE RUMAH NENEK DI DESA”

Sekarang Indra sudah kuliah, minat bacanya masih seperti dulu, dan tetap saja stempel ”kutu buku ” melekat pada dirinya. Stempel itu juga tetap dianggap aneh oleh teman-temanya, lingkungannya bahkan masyarakatnya. Budaya plagiat dalam menulis skripsi menjadi hal yang biasa pada bangsanya.Indra sadar, minat baca masyarakat bangsanya lemah, selemah bangsanya keluar dari berbagai macam krisis yang berkepanjangan. Semuanya hanya bermasalah pada paradigma, minat dan pengetahuan akan pentingnya membaca bagi masyarakat bangsanya. Padahal Tuhannya Indra (Allah SWT. Red), yang juga Tuhannya hampir 90% masyarakat bangsanya menyeru untuk membaca pada kata pertama firmannya. Kalau membaca saja sulit, gimana menulissss ? wallahu’alam bishawab.

Hadin A. Miftah
© 09-08-06

No comments: