Tuesday, September 25, 2007

Akhlak seorang pemimpin

Tips-tips seorang pemimpin yang adil dari Imam Ali kw.*:
  1. Jangan sekali-kali merasa bangga akan dirimu sendiri atau merasa yakin akan apa saja yang kaubanggakan tentang dirimu.
  2. Jangan jadikan dirimu sebagai penggemar puji-pujian yang berlebihan. Yang demikian itu merupakan kesempatan terbaik bagi setan untuk menghancur-luluhkan hasil kebajikan orang-orang yang berbuat baik.
  3. Jangan mengungkit-ungkit kebaikan yang kaulakukan untuk rakyatmu atau membesar-besarkan jasa yang pernah kauperbuat, atau menjanjikan sesuatu kepada mereka lalu kau tidak memenuhinya.
  4. Perbuatan mengungkit-ungkit suatu kebajikan, memusnahkan pahalanya.
  5. Membesar-besarkan kebaikan diri, menghilangkan sinar kebenarannya.
  6. Menyalahi janji, menghasilkan kebencian di sisi Allah dan di sisi manusia.
  7. Jangan tergesa-gesa mengerjakan sesuatu sebelum waktunya, atau melalaikan di saat kau mampu melakukannya.
  8. Jangan pula memaksakan diri ketika masih diliputi keraguan, atau kehilangan semangat bila telah jelas kebaikannya.
  9. Letakkanlah segala sesuatu pada tempatnya yang selayaknya dan kerjakanlah segala sesuatu pada waktunya.
  10. Jangan mengkhususkan dirimu dengan sesuatu yang menjadi hak bersama orang banyak.
  11. Jangan berpura-pura tidak mengetahui sesuatu yang sudah jelas bagi setiap penglihatan. Hal itu pasti akan diambil kembali darimu untuk mereka yang lebih berhak. Dan sebentar lagi akan tersingkap penutup segala yang bersangkutan denganmu, dan setiap orang yang kaulanggar haknya pasti akan direnggutkan kembali haknya itu darimu.
  12. Kendalikan luapan amarahmu, kekerasan tindakanmu, kekejaman tanganmu, dan ketajaman lidahmu.
  13. Jagalah keselamatan dirimu dengan menahan gejolak emosimu dan menagguhkan hukumanmu sampai saat redanya kembali amarahmu. Sehingga dengan begitu kau mampu memilih yang paling bijaksana.
  14. Bahkan tidak memutuskan sesuatu kecuali setelah cukup menyibukkan hatimu dengan mengingat saat kau dikembalikan kepada Tuhanmu kelak.
  15. Rendahkanlah sayapmu bagi rakyatmu, lunakkan sikapmu untuk mereka, cerahkan wajahmu di hadapan mereka.
  16. Jangan membeda-bedakan perlakuanmu terhadap mereka walaupun dalam lirikan dan pandangan mata. Sedemikian rupa sehingga “orang-orang penting” tidak timbul keserakahannya mengharapkan penyelewenganmu demi kepentingan mereka, dan kaum lemah tidak menjadi putus asa akan keadilanmu demi membela nasib mereka.
  17. Jangan berpura-pura mengerjakan ketaatan untuk Allah secara terang-terangan, dengan maksud melakukan pembangkangan secara sembunyi.
  18. Barangsiapa telah menyamakan antara perbuatannya yang rahasia dan terbuka, serta antara tindakan dan ucapannya, maka sesungguhnya ia telah menunaikan amanat dan mengikhlaskan pengabdian kepada Allah SWT.
  19. Jangan sekali-kali memperlakukan rakyat dengan cara yang kasar dan keji. Jangan menjauhkan diri dari mereka disebabkan Anda merasa lebih mulia sebagai penguasa atas mereka.
---------------------
* Dikutip dari Mutiara Nahjul Balaghah.

Tuesday, September 11, 2007

selamat menunaikan ibadah puasa

"Ya Allah, limpahkan sejahtera kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, berkatilah kami untuk mengetahui keutamaan bulan Ramadhan dan cara menghormatinya serta bagaimana menjaga diri dari segala yang Engkau larang. Tolonglah kami untuk tetap melakukan ibadah puasa dengan menahan semua anggota badan melakukan kemaksiatan dan untuk senantiasa beramal sesuai yang Engkau ridhai. Hingga pendengaran kami tidak condong untuk mendengarkan kesia-siaan, penglihatan kami tidak pula menyenangi pandangan yang penuh dengan kepercumaan. Hingga perut kami tidak pula menelan kecuali yang engkau halalkan, lidah kami hanya mengucapkan kata-kata yang Engkau anggap patut dan berharga. Kami tidak berperilaku kecuali yang mendatangkan pahala-Mu, dan tidak pula saling memberi kecuali yang tak mengundang siksa-Mu. Bersihkanlah semua amalan kami dari sikap riya' orang-orang yang riya' dan sum'ah (menyebut-nyebut kebaikan) orang-orang yang sum'ah agar kami tidak menyekutukan-Mu dan tiada pula yang kami harapkan selain Diri-Mu."*

Selamat menunaikan ibadah puasa bagi semua rekan, sahabat, dan pembaca.

-------------
*Sepetikan doa Imam Ali Zainal Abidin saat memasuki bulan Ramadhan, dikutip dari Ash-Shahifah As-Sajjadiyyah, Penerbit Lentera.

Friday, September 07, 2007

mari berdebat dengan manis

Salah satu alasan saya belum mau berhenti dari dua mailing-list yang sudah setahun lebih saya ikuti: Jurnalisme dan Forum Pembaca Kompas, adalah perdebatan di kedua milis ini sangat bernas, mencerahkan, dewasa, dan santun.

Beberapa kali saya sebetulnya ingin mundur dari kedua milis itu, atau setidak-tidaknya mengubah cara berlangganan e-mail dari milis-milis itu. Soalnya, saya sering ga punya waktu untuk baca e-mail2 dari kedua milis itu. Akhirnya, unread e-mails pun menumpuk hingga mencapai ribuan hanya dalam waktu beberapa minggu saja. Sekarang saja di kotak surat Yahoo saya ada lebih dari 7000 e-mail yang belum terbaca. Edan.

Singkat cerita, sampai saat ini saya masih menjadi anggota di kedua milis itu. Walaupun, jujur saja, saya sangat jarang nimbrung dalam diskusi-diskusi tentang beragam topik di kedua milis itu. Saya adalah anggota pasif, penonton, pendengar, dan pembaca. Tapi, saya belajar sangat banyak dari perdebatan-perdebatan ataupun diskusi-diskusi yang terjadi di kedua milis itu.

Saya sering menemukan anggota milis yang sangat elegan dan bijak dalam setiap diskusi yang dia ikuti. Setiap pendapat yang dia sampaikan senantiasa didukung dengan referensi, logika, atau ilmu pengetahuan. Posting atau pendebat-pendebat favorit saya adalah mereka yang menyampaikan pendapat dengan cara yang santun dan rendah hati. Mereka selalu menghargai pendapat pihak lain yang berseberangan dengan pendapatnya. Mereka tidak menyerang ke diri personal lawan debat, dan tiap perdebatan diselipi dengan humor sehingga debat tidak terlalu "panas". Mereka tidak merasa benar sendiri, dan menyadari bahwa dirinya tidak pernah luput dari kesalahan atau ketidaktahuan akan subjek yang sedang didiskusikan.

Memang tidak jarang juga saya membaca diskusi-diskusi yang sulit untuk dibilang baik. Diskusi-diskusi yang penuh makian, hujatan, dan saling menghina diri personal, hingga keyakinan yang dianut lawan debat. Ah, perdebatan seperti ini, meski sekilas memang "seru", tapi bukan model diskusi yang perlu dicontoh.

Dalam berdiskusi, saya, sedapat mungkin, selalu berusaha untuk menghormati pendapat orang lain yang kebetulan berbeda. Dalam berargumen, saya juga usahakan untuk menggunakan cara berpikir dan perspektif kawan debat saya saat itu. Saya usahakan setengah mati untuk mempelajari "bahasa" dia. Pendeknya, saya ingin meniru tokoh Thio Bu Kie di film Heaven Sword and Dragon Sabre yang tiap bertarung selalu memakai jurus yang sangat dikuasai dan digunakan lawannya. Saat dikalahkan, si lawan merasa kalah secara terhormat karena dia dikalahkan dengan jurusnya sendiri.

Terakhir, marilah berdebat dengan santun, manis, dan penuh kasih-sayang. Pendapat kita boleh saja berbeda, tapi tujuan kita sama: mencari kebenaran. Kita harus bisa menerima dengan lapang dada bahwa kadang kebenaran ada di sisi kita, dan kadang ada di sisi pihak lain. Kalau kita ingin menjadi pihak yang benar terus, mungkin kita perlu mempertimbangkan untuk tinggal di dalam goa di atas gunung, sendirian. Wallahu a'lam.

Thursday, August 30, 2007

yang tersembunyi

Terlalu lama tidak menulis ternyata memang bisa menumpulkan kreatifitas dan sensitifitas. Setidaknya inilah yang saya alami. Ini semakin membuktikan bahwa saya memang bukan natural born writer (meminjam judul salah satu filmnya Tarantino, "Natural Born Killer"). Untuk menulis, saya harus memutar otak, memeras akal, dan memburu ide sampai ngos-ngosan. Betapa tidak tahu malunya saya pernah menganggap diri sebagai penulis.

Untuk menuliskan (alasan) kenapa saya tidak bisa menulis pun saya kelelahan setengah mati. Beberapa kali saya harus menarik jari-jemari saya dari keyboard dan saya pindahkan ke kepala demi mencari kata yang saya anggap indah dan bisa mengundang decak kagum siapapun yang membaca, termasuk diri saya sendiri. Hari ini saya mempertanyakan niat saya untuk menulis. Saya mengiterogasi apa motif saya untuk mencoba menjadi penulis sejak awal.

Saya ragu tujuan saya menulis adalah semata-mata untuk berbagi ilmu. Saya sangsi hati saya bebas dari riya' saat menuangkan buah pikir saya ke dalam tulisan. Saya tidak yakin hati saya bersih dari jumawa di balik kerendah-hatian (bahasa) saya. Saya merasa selalu ada yang saya sembunyikan di balik keterusterangan saya. Saya tidak ingat lagi berapa kali saya berdusta dalam kejujuran saya.

Saya selalu sibuk memberikan penilaian tentang orang yang menyakiti saya, tapi paling malas untuk mengingat-ingat berapa kali dan berapa banyak orang yang telah saya sakiti hatinya. Saya paling jeli dalam melihat kekurangan dan cacat orang lain, dan saya seolah-olah menjadi buta akan kelemahan dan dosa-dosa saya sendiri.

Saya khawatir saya sangat mengharapkan dan menikmati pujian orang lain. Di lisan dan tulisan saya bilang menyukai kritik, tapi di dalam hati jangan-jangan memendam dendam kepada si pengritik. Mungkin saya memang belum pernah benar-benar menulis. Sejauh ini saya baru dalam tahap mencoba-coba menulis. Wallahu a'lam.

Tuesday, August 14, 2007

nonton lagi: good will hunting

"I stand upon my desk to remind myself that we must constantly look at things in a different way." (Dead Poets Society).

Akhir pekan lalu, untuk kesekian kalinya, saya nonton lagi Good Will Hunting. Film itu masih saja membuat saya terkesan. Akting Robin Williams memukau, Matt Damon juga tak kalah memikat. Dialog-dialognya menyihir. Dalam kalimat pendek, film tentang orang-orang cerdas ini betul-betul mencerdaskan penikmatnya (baca: penontonnya). Saya rasa, boleh dibilang menyedihkan fakta bahwa tidak banyak film seperti ini dibuat dalam waktu-waktu terakhir ini (Good Will Hunting dirilis pertama kali 10 tahun lalu atau tepatnya pada 1997).

Saat ini, saya tergoda untuk menulis betapa selama beberapa tahun belakangan kita, para penikmat film, sangat kekurangan suguhan film yang bermutu. Godaan ini semakin menjadi-jadi saat kita melihat dengan jelas betapa orientasi pembuat film di Hollywood sepertinya melulu hanya mengejar untung sebanyak-banyaknya. Tapi, saya rasa saya bisa menerima kesepakatan umum bahwa film dibuat dan hadir di ruang tonton kita untuk menghibur. Kalimat yang sering saya dengar dalam konteks ini adalah, kita nonton film untuk mencari hiburan, melepas penat, dan bukan untuk diajak berpikir (lagi). Ah, ini juga hal yang relatif susah dan ga terlalu penting untuk diperdebatkan.

Saya sendiri termasuk orang yang tidak bisa membedakan atau membuat batasan antara "film hiburan" dan "film serius". Karena saya cukup sering menemukan "film hiburan" (mungkin sebagian menyebutnya 'popcorn movie') yang digarap dengan dan memiliki alur cerita yang serius (baca: berbobot), dan saya juga hampir tidak bisa menghitung banyaknya "film serius" (yang lain menyebutnya, film 'berat') yang sangat menghibur pada waktu yang sama. Good Will Hunting, menurut saya, ga terlalu cocok untuk dikategorikan sebagai popcorn movie, tapi dia sangat menghibur. Segala sesuatu yang mencerdaskan selalu menghibur, bukan?

Soal mencerdaskan, buat saya, film tidak kalah berpengaruhnya ketimbang buku. Film adalah buku saya, dan buku adalah film saya. Seperti halnya buku, film seringkali mengajarkan hal-hal yang baik. Betul bahwa saya "membaca" film sama seriusnya ketika saya membaca buku. Tapi, (fungsi) film tidak bisa ditukar dengan buku, dan begitu juga sebaliknya, (fungsi) buku tidak akan digantikan dengan film. Film dan buku, menurut saya, adalah saudara kembar yang punya keunikan masing-masing, dengan cara dan citarasa penyampaian yang berbeda. Karena itulah, boleh jadi, adaptasi buku ke film tidak akan pernah sama "lezatnya" seperti bukunya, dan begitu pula sebaliknya.

Dengan banyak menonton film (dan membaca buku tentunya) kita seperti orang yang berdiri di atas meja; kita (bisa dan dibiasakan) melihat segala sesuatu dengan cara pandang yang berbeda. Film membuat setiap kita sadar bahwa kita hanyalah bagian kecil dari semesta raya. Tapi, pada saat yang sama, film meyakinkan diri kita semua bahwa tiap kita adalah spesial, unik, dan punya potensi untuk menjadi pahlawan. Tren film-film belakangan adalah memunculkan sosok/tokoh anti-hero; orang yang sebetulnya bisa dikategorikan "penjahat", tapi karena keadaan tertentu, sang penjahat menjadi pahlawan.

Dunia (dalam arti luas), dari kacamata film, seringkali digambarkan sebagai sesuatu yang bukan sekadar hitam-putih. Dan, film menasihati kita - secara halus - agar membiasakan diri untuk menerima banyak hal yang tidak biasa menurut ukuran kita sendiri. Wallahu a'lam.

Thursday, August 09, 2007

ampe tua

"Gw sng qt2 msh bs kmpl. Itu aja yg gw suka. kdg gw bth tmn crta, brbgi suka or sng n kdg ht gw ska mrs sepi rie. Mdh2an ampe tua qt bs kmpl n ktmuan ye!"

Akhir Juni lalu salah satu sahabat baik saya berulang tahun yang ke-30. Dia adalah salah satu teman sejak kuliah dulu yang sampe sekarang masih sering ketemu. Sebagai sesama orang betawi, dia juga adalah sahabat yang sangat dekat dengan saya karena becandaan kami satu "bahasa". Karena itu juga saya sangat akrab dengan orang tua sahabat saya itu, begitu juga sebaliknya. Sebetulnya, saya sudah menganggap dia sebagai saudara saya sendiri.

Meski sudah lewat lebih dari satu bulan sejak dia berbaik hati mentraktir saya dan beberapa sahabat lain makan-makan, tapi baru minggu lalu saya punya kesempatan kasih dia kado. Saya tahu mungkin tradisi memberikan kado saat ultah hanya lazim di kalangan anak-anak dan abege. Tapi, sebagian orang masih menjalankan dengan setia tradisi memberi kado pada teman atau sahabatnya yang berultah. Saya mencoba mengikuti tradisi yang baik ini.

Kado yang saya pilih adalah buku terjemahan The Beatles: After The Break Up. Saya pilih itu karena dia penggemar berat The Beatles. Saya baru bisa kasih itu ke dia minggu lalu saat kami dan beberapa sahabat lain ketemuan di salah satu restoran di kawasan Kuningan. Agenda kami waktu itu sebetulnya ingin temu-kangen dengan seorang teman dari Balikpapan yang sedang datang ke Jakarta. Sayangnya, teman kami ini malah ga datang. Padahal, sahabat saya itu sudah semangat membantu si tamu untuk bisa bertemu dengan teman-teman kuliahnya dulu.

Tapi, betapapun begitu, kami yang sudah datang malam itu sama sekali tidak kehilangan keceriaan dan kebahagiaan. Suatu hal yang boleh jadi tidak akan kami peroleh jika teman yang "bolos" itu jadi datang. Syukurlah. Demikian serunya sampai-sampai kami baru bubar begitu pegawai resto secara halus mengusir kami dengan prosedur standar: semua bangku di kiri dan kanan kami dibalik di atas meja, dan sebagian lampu sudah dimatikan. Akhirnya, mau ga mau, kami harus pergi. But, yes, we had a blast.

Menjelang tengah malam baru saya sampe rumah. Saya cek HP, ada SMS dari sahabat saya itu yang bilang kalau dia sangat suka dengan kado dari saya. Saya balas SMS dia dengan menulis kurang lebih bahwa kado dari saya betapapun bagus atau mahal tidak akan bisa membayar persahabatan tulus yang dia kasih ke saya selama ini. SMS saya itu kemudian dia balas lagi yang sebagian isinya saya kutip ulang di bagian awal tulisan ini.

SMS dia itu bikin saya terharu. Mungkin saya telah membuat istri saya cemburu karena punya sahabat sebaik dia. Saya, seperti juga dia, menghargai dengan harga yang sangat tinggi sebuah persahabatan. Harapan dia agar kami dapat terus menjalin kemesraan sebagai sahabat hingga kami lanjut usia adalah juga harapan saya. Semoga Allah tidak menjadikan persahabatan kami yang tulus dan bersahaja seperti nasib The Beatles yang melegenda tapi akhirnya tercerai-berai...

Tuesday, July 24, 2007

magnificent seven


Hukum untuk semua
- Hukumonline.

Meskipun saya penggemar berat film, judul tulisan ini tidak ada kaitannya dengan film koboi dengan judul sama yang suksesnya sangat melegenda. Karena itu, anda yang tidak begitu suka film atau khususnya film koboi, tidak perlu ragu untuk meneruskan membaca tulisan ini kalau mau. Sebaliknya, buat anda yang sebelumnya mengira tulisan ini adalah ulasan terkini film yang melambungkan nama aktor Yul Brynner itu juga tidak perlu kecewa. Karena isi tulisan ini tidak kalah menariknya dari dar-der-dornya film adaptasi Seven Samurai itu. Paling tidak itulah niat penulis.

Judul Magnificent Seven di atas saya maksudkan untuk hari ulang tahun Hukumonline (Hol) yang ke-7 pada 14 Juli lalu. Ulang tahun Hol tahun ini sedikit istimewa karena menyangkut angka 7-nya itu. Ultah yang ke-7, pada bulan 7 (Juli), dan tahunnya 2007. Belum lagi kalau mau "dipaksakan" tanggal 14 setelah dibagi dengan 2 hasilnya adalah 7. Dan, seperti juga pernah ditulis di Hol, angka 7 punya banyak makna yang terpuji. Boleh diduga, jagoan yang berjumlah 7 orang di film Magnificent Seven dan Seven Samurai terilhami oleh keistimewaan angka 7. Buat yang tertarik dengan keajaiban angka, mungkin bisa membaca buku Annemarie Schimmel, The Mystery of Numbers.

Ultah Hol ke-7 tahun ini menjadi lebih istimewa tentunya bukan sekadar karena angkanya bagus. Tapi, karena ada pencapaian yang luar biasa (magnificent). Sebagai media online, Hol tidak sekadar masih online, tapi juga masih terus berjuang membuat perubahan. Kehadiran Hol dari waktu ke waktu membuat moto "Hukum untuk semua" semakin terlihat dan dirasakan oleh para pembacanya, atau publik secara luas. Di tahun yang ke-7 ini, Hol telah banyak berubah dan membuat banyak perubahan yang positif.

Penulis yang bagaimanapun punya keterbatasan dalam memberikan penilaian mencermati bahwa Hol adalah media yang sangat dekat dengan komunitas profesi hukum, khususnya advokat dan calon advokat. Sejauh ini saya tidak menemukan ada media lain, baik yang cetak, elektronik, ataupun online yang memiliki perhatian yang ekstra besar kepada komunitas atau profesi ini kecuali Hol. Lebih dari itu, format Hol yang memungkinkan para pembacanya untuk memberikan tanggapan terhadap suatu berita memberikan kontribusi besar dalam menjalin interaksi antara sesama pembaca maupun antara pembaca dengan Hol. Ini yang menurut hemat saya sungguh luar biasa.

Penilaian yang boleh saja dianggap berlebihan itu memang keluar dari penulis yang pernah menjadi bagian dari Hol selama lebih dari empat tahun. Dan penulis sepenuhnya sadar bahwa para pembaca Hol yang lain memiliki penilaian tersendiri terhadap Hol sesuai dengan manfaat dan ke-tidakmanfaat-an yang dirasakan selama menjadi pembaca Hol. Satu hal lagi, setelah tidak lagi di Hol, bukan sekali atau dua kali penulis membaca tulisan-tulisan Hol yang kurang pas baik dari sisi akurasi (terpenuhinya kaidah-kaidah jurnalistik) atau gaya penulisan.

Salah satu godaan terbesar saat menjadi jurnalis adalah beropini dalam berita. Antara fakta dan opini pun pada akhirnya sulit untuk dibedakan. Teman penulis yang juga seorang pembaca Hol pernah mengatakan kepada saya bahwa gaya penulisan di Hol cenderung "menggiring"pembacanya kepada opini yang dibangun si penulis berita yang bersangkutan. Untuk berita yang dia kritik itu, kebetulan saya tidak sependapat dengan dia. Tapi, penulis memang pernah menemukan berita Hol yang lain yang isinya persis seperti yang teman saya ilustrasikan.

Artinya, Hol bukannya tidak memiliki kelemahan, tapi yang saya lihat Hol masih jauh dari berhenti untuk berbenah dan memberikan layanan yang paripurna bagi pembacanya. Misalnya saja terobosan untuk membuat blog Hukumonline 3.0 (semoga cuma kebetulan namanya mirip-mirip judul film Die Hard 4.0 yang diputar perdana juga di bulan Juli). Bila digarap secara serius dan kreatif, blog ini dapat menambah manfaat baik but Hol maupun para pengguna internet pada umumnya. Blog ini bukan saja akan meningkatkan derajat interaksi Hol dengan pembacanya atau antar-pembaca, tapi juga berpotensi menjaring komunitas blogger dalam negeri yang jumlah bertambah terus dari menit-ke-menit.

Hol juga cukup jeli menangkap sisi kanak-kanak pada tiap orang yaitu dengan merancang game yang masih berbau hukum. Jurus ini mungkin saja dicoba untuk meningkatkan kadar ketergantungan pembaca online terhadap Hol. Berbicara soal ketergantungan, penulis menunggu Hol untuk membuat fitur atau wahana sejenis Friendster (FS) yang telah menyihir banyak pengguna internet dari segala usia. Agaknya tidak perlu diperdebatkan lagi betapa wabah FS telah merebak luas dan membuat banyak orang sedikit banyak kecanduan untuk ber-FS ria setiap kali bertemu komputer yang dialiri koneksi internet.

Kembali ke soal film, saat pertama kali penulis punya niat untuk buat tulisan soal ultah Hol, penulis teringat dengan salah satu dialog dari film Jerry Maguire. Ada adegan dalam film itu di mana tokoh Rod Tidwell (seorang atlet football yang diperankan dengan dahsyat oleh Cuba Gooding Jr.) dengan rasa bahagia yang tak terkira berterima kasih kepada manajernya, Jerry Maguire (diperankan Tom Cruise) dengan kalimat singkat namun sangat indah dan dalam: "Andalah duta besar mimpi saya." Saya hendak mengakhiri tulisan ini dengan ucapan selamat dan harapan agar Hol tetap akan selalu menjadi duta besar mimpi dan cita-cita reformasi hukum di Negeri tercinta ini.

Friday, July 13, 2007

percikan pribadi sang kekasih

  1. Dia adalah Rasulullah – Utusan Allah; tapi tidak mau menampakkan diri dalam gaya orang berkuasa atau sebagai raja atau pemegang kekuasaan duniawi.
  2. Dipenuhinya undangan yang datang dari orang merdeka atau dari si budak dan si miskin.
  3. Orang yang minta maaf dimaafkannya.
  4. Dikunjunginya orang yang sedang sakit yang jauh tinggal di ujung kota.
  5. Ia yang memulai memberi salam kepada orang yang dijumpainya.
  6. Apabila ada orang yang menunggu ia sedang salat, dipercepatnya sembahyangnya lalu ditanyanya orang itu akan keperluannya.
  7. Baik hati ia kepada semua orang dan selalu tersenyum.
  8. Ia ikut memikul beban keluarga; ia mencuci pakaian, menambalnya, dan memerah susu kambing.
  9. Ia juga yang menjahit terompahnya, menolong dirinya sendiri dan mengurus unta.
  10. Apabila ia melihat seseorang yang sedang dalam kebutuhan, ia dan keluarganya mengalah, sekalipun mereka sendiri dalam kekurangan.
  11. Tak ada sesuatu yang disimpannya untuk esok, sehingga tatkala ia wafat baju besinya sedang tergadai di tangan seorang Yahudi karena untuk keperluan belanja keluarganya.
  12. Sangat rendah hati ia, selalu memenuhi janji.
  13. Begitu halus perasaannya, begitu lembutnya hatinya, ia membiarkan cucunya bermain-main dengan dia ketika ia sembahyang.
  14. Ia pernah bersembahyang dengan Umama, putri dari putrinya Zainab, sambil dibawa di atas bahunya; bila ia sujud diletakkan, bila ia berdiri dibawanya lagi.
  15. Dia sendiri yang bangun membukakan pintu untuk seekor kucing yang sedang berlindung di sebuah tempat.
  16. Dia sendiri yang merawat seekor ayam jantan yang sedang sakit.
  17. Kuda dielus-elusnya dengan lengan bajunya.
  18. Dia yang meminta istrinya, Aisyah, untuk berlaku lemah lembut kepada unta yang hendak ditungganginya.
  19. Sikap kasih sayangnya bukan karena lemah atau mau menyerah, juga bersih dari segala sifat mau menghitung jasa atau sikap tinggi diri.
  20. Jiwanya kuat, tidak mengenal menyerah kecuali kepada Allah, dan dengan ketaatan kepada-Nya ia tidak pula merasa lemah.
  21. Tidak ada rasa takut akan meyelinap ke hatinya kecuali dari perbuatan maksiat atau dosa yang dilakukannya.
  22. Dalam memberi ia tidak takut kekurangan.
  23. Ia keras sekali menahan diri dalam arti hidup materi, sama kerasnya dengan keinginannya hendak mengetahui segala rahasia yang ada dalam hidup materi itu.
  24. Begitu jauhnya ia menahan diri sehingga lapik tempat dia tidur hanya terdiri dari kulit yang diisi dengan serat.
  25. Makannya tak pernah kenyang.
  26. Tak pernah ia makan roti dari tepung jelai dua hari berturut-turut.
  27. Sebagian besar makanannya adalah bubur.
  28. Bukan sekali dia harus menahan lapar.
  29. Sudah pernah perutnya diganjal dengan batu untuk menahan teriakan rongga pencernaannya.
  30. Ia juga dikenal suka sekali makan kaki kambing, labu, madu, dan manisan.
  31. Ia pernah memberikan pakaian yang baru dihadiahkan untuknya kepada orang lain yang juga memerlukannya guna mengafani mayat.
  32. Pakaiannya yang dikenal terdiri dari sebuah baju dalam dan baju luar yang terbuat dari wol, katun, atau sebangsa serat.
  33. Sesekali ia tidak menolak memakai pakaian tenunan dari Yaman sebagai pakaian yang mewah sesuai dengan acara bila memang menghendaki demikian.
  34. Alas kaki yang dipakainya sederhana sekali. Tidak pernah ia memakai sepatu selain waktu mendapat hadiah dari Najasyi berupa sepasang sepatu dan seluar.
-----------
Disadur dari Muhammad Husain Haekal, "Sejarah Hidup Muhammad", Penerbit Litera Antarnusa.

Thursday, July 12, 2007

irreplaceable

"Ma'rifat adalah modalku,
akal pikiran sumber agamaku,
rindu kendaraanku,
berzikir kepada Allah adalah kawan dekatku,
keteguhan perbendaharaanku,
duka adalah kawanku,
ilmu adalah senjataku,
ketabahan adalah pakaianku,
kerelaan sasaranku,
faqr adalah kebanggaanku,
menahan diri adalah pekerjaanku,
keyakinan makananku,
kejujuran perantaraku,
ketaatan adalah ukuranku,
berjihad perangaiku,
dan hiburanku ada dalam sembahyang."
(Hadis riwayat Ali bin Abi Thalib)*

***************

irreplaceable

Wahai dambaan hati kami,
pucuk cinta kami,
salawat, cinta dan kerinduan kami hanya kepadamu,
engkau manusia agung namun tidak pernah ingin diagung-agungkan,
kedudukanmu mulia tapi tidak pernah sekalipun engkau meminta diistimewakan,
ketinggian akhlakmu tidak ditemui pada manusia lain sebelum dan setelahmu.

Wahai kau yang selalu menyertai doa kami,
engkau yang senantiasa mendoakan kami,
engkau mengasihi musuhmu seperti kau mengasihi sahabatmu,
engkau mencintai sahabatmu sebagaimana kau mencintai keluargamu,
engkau selalu mengutamakan kepentingan ummatmu di atas kepentinganmu sendiri,
kami yang belum pernah melihat cahaya wajahmu, jatuh cinta padamu,
gerangan apa yang dirasakan mereka yang menghabiskan siang dan malam bersamamu?

Wahai yang paling lemah lembut tutur katanya,
paling halus perasaannya,
kedermawananmu tidak ada tandingannya,
dalam kesabaran, tidak ada manusia yang melampauimu,
engkau paling segera dan mudah dalam meminta dan memberikan maaf,
engkau yang paling rendah hati,
kesederhanaanmu membuat si miskin tidak malu dengan kemiskinannya.

Wahai junjungan kami,
suri teladan kami,
kekasih sejati kami,
di hati kami,
di dunia ini dan nanti,
engkau tidak akan pernah tergantikan.

(Amrie, Jakarta, 12 Juli 2007)

-----------
* Dikutip dari Muhammad Husain Haekal, "Sejarah Hidup Muhammad", Penerbit Litera Antarnusa.

Wednesday, June 27, 2007

ketegangan yang mencari saya

Kata sebagian orang, hidup itu seperti naik roller-coaster. Ada naiknya, ada turunnya, plus ketegangannya. Pas lagi naik, pengennya turun karena takut setengah mati. Pas sudah turun, pengennya naik lagi karena, anehnya, sangat mengasyikan. Ketegangan itu ternyata sesuatu yang sering kita cari-cari.

Tapi, apa yang saya alami baru-baru ini malah ketegangan yang mencari saya. Dan ketemu lagi. Ketegangan menjumpai saya di kantor. Lewat salah satu rekan kerja. Kebetulan -- saya yakin ini kebetulan belaka -- dengan rekan yang sebelumnya marah-marah sama saya. Yang bikin saya lebih sedih lagi adalah pokok pangkal masalah yang di-sitegangkan tidak penting.

Tapi, apa yang tidak penting buat saya, mungkin penting buat orang lain, khususnya untuk rekan saya yang satu ini. Rupanya isi e-mail saya yang merupakan balasan atas e-mail dia sudah cukup buat yang bersangkutan untuk marah-marah sama saya lewat lisan dan e-mail. Sikap dia ini sungguh menegangkan buat saya. Dada langsung dag-dig-dug. Lagi-lagi, perasaan kaget (karena tidak menyangka reaksi dia akan demikian), emosi (karena agak tidak menerima isi makian dia yang menurut saya berlebihan), dan geli (soalnya aneh kok bisa bersitegang sama orang yang sama lagi) campur aduk.

"Sabar itu tidak ada batasnya" begitu kalimat yang saya sering baca di status Yahoo! Messenger salah satu teman. Kalimat itu, alhamdulillah, bikin kepala saya lumayan adem. Saya juga marah, tapi di dalam hati aja. Lagipula, saya malu kalau harus ikutan marah-marah dan dilihat rekan-rekan yang lain. Yah, akhirnya saya menghibur diri sendiri: kalau orang lain harus mencari ketegangan dengan pergi ke Dufan, misalnya, dan bayar lumayan mahal, nah hari ini malah ketegangan menghampiri saya dan gratis. Kalau kata iklan Citibank, pengalaman saya hari ini, "priceless".

Oiya, e-mail saya yang bikin rekan saya ini "murka" isinya itu cuma 4 huruf dan 6 titik: ...HOAX... Dan di bawah ini adalah e-mail balasan saya terhadap e-mail balasan dari dia yang isinya kurang lebih mengatakan isi e-mail saya dan cara penyampaiannya tidak "polite".

Perlu saya ingatkan kepada pembaca, selain saya, bahwa seperti posting-posting saya sebelumnya, posting yang satu ini hanya mengandung kebenaran sepihak yaitu kebenaran versi saya. Jadi, kalau pembaca percaya, saya tidak bersyukur, kalau tidak percaya, saya juga tidak merasa merugi.

Semoga Allah menjadikan kita orang yang mudah diingatkan dan mampu mengingatkan.

Salam,

amrie

"Tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasih saya kepada Xxxx, berikut ini tanggapan saya:

1. e-mail saya sebelumnya, yg merupakan reply dari e-mail Xxxx yang tanpa subject, SAMA SEKALI BUKAN EKSPRESI KETIDAKSUKAAN saya terhadap e-mail dari Xxxx tersebut. Saya terus terang tdk tahu dari mana/bagaimana Xxxx bisa menyimpulkan/menafsirkannya seperti itu.

2. buat yang belum tahu arti kata HOAX yang saya tulis di e-mail sebelumnya, berikut definisinya yang saya kutip sedikit dari wikipedia:
A hoax is an attempt to trick an audience into believing that something false is real. (Hoax adalah upaya untuk mengelabui audiens/pembaca/pendengar untuk memercayai sesuatu yang salah seolah-olah adalah benar).

3. dari poin 2 di atas, sebetulnya e-mail saya sebelumnya justru ingin mencegah e-mail bohong tersebut semakin tersebar luas. Kenapa saya tidak mendiamkan aja e-mail bohong yang diteruskan Xxxx? Kenapa saya harus repot-repot me-reply? Karena, itulah saya. Kalau saya tahu dan yakin sesuatu itu salah, yah saya katakan salah. Toh, saya tidak menyalahkan si penerus e-mail bohong itu.

4. sebetulnya kalau protes Xxxx adalah karena saya me-reply to all (recipients/penerima), itu sekali lagi bukan salah saya. Saya sama sekali tidak melanggar etika dalam ber-e-mail yg saya tahu. Karena apa? Karena e-mail Xxxx sebelumnya dikirimkan BUKAN KE “UNDISCLOSED RECIPIENTS” (penerima disembunyikan atau dibuat tidak terlihat oleh si pengirim). Dengan demikian, adalah HAK ATAU PILIHAN SAYA SEPENUHNYA sebagai penerima e-mail yang sudah meluangkan waktu untuk membaca e-mail itu untuk me-reply to all (recipients) atau hanya kepada si pengirim.

5. jadi dari poin 4 di atas, kalau Xxxx cukup berpengalaman dalam hal berkirim e-mail, sehingga tahu mana yang polite dan yang tidak, harusnya Xxxx bisa menggunakan fasilitas “BCC” seperti yang saya lakukan dalam e-mail ini. Selain sebagai pelajaran gratis, ini saya lakukan juga agar setiap reply terhadap e-mail ini akan masuk HANYA ke e-mail saya. Jadi Xxxx atau yg lain ga bisa tahu apa tanggapan dari para penerima e-mail ini kalau ada nanti. Jadi, insya Allah, tidak ada yang tersakiti hati dan perasaannya.

6. insiden e-mail bohong ini semoga bisa jadi pelajaran buat kita semua, tidak terkecuali saya dan Xxxx untuk lebih berhati-hati lagi dalam berkata-kata. Mengirim atau meneruskan e-mail itu tidak ubahnya seperti kita berkata-kata, semuanya harus dipikir masak-masak terlebih dulu. Sebelum berkata-kata, kita perlu memikirkan dulu manfaat dan akibatnya. Tidak semua yang ada di kepala kita harus kita katakan. Katakan hanya yang hal bermanfaat dan tahan lisan dari berkata yang sia-sia. Begitu juga, sebelum kita berkirim atau meneruskan e-mail, kita baiknya meneliti dulu isinya dan lihat siapa saja yang akan menerima e-mail itu.

7. berbeda dengan persoalan atau “perang” – begitu Xxxx menyebutnya – kita sebelumnya, kali ini saya tidak akan meminta maaf kepada Xxxx karena tidak ada kesalahan yang saya buat. Sama sekali. Saya juga tidak akan meminta Xxxx untuk meminta maaf kepada saya walaupun saya berhak atas itu. Cukup bagi saya kalau Xxxx memaafkan diri Xxxx sendiri karena begitu mudahnya melahirkan dan menebarkan kebencian kepada orang lain tanpa alasan yang benar.

8. semoga Allah mengampuni dan memberikan kita petunjuk.

Salam hangat,

amrie"

Wednesday, June 20, 2007

penulisan dan membaca sejarah ali

Berikut ini adalah e-mail saya kepada seorang sahabat yang sama-sama penyuka buku sejarah, khususnya sejarah Nabi dan empat khalifah yang lurus (khulafa ar-rasyidin).

Subject: penulisan dan membaca sejarah ali

Dear S*****,

Berikut ini ada artikel yang gw ambil dari Kompas yang judulnya "Penulisan Sejarah dan Penelitian Makam Keluarga Yesus". Menurut gw, tulisan ini bagus banget buat kita yang suka membaca buku-buku sejarah, terutama sejarah Rasul dan Ali. Khusus terkait Ali, artikel ini jadi relevan karena pendekatannya menjelaskan model penulisan sejarah buku Dinasti Umawiyah yang gw baru selesai baca.

Secara umum, buku itu adalah buruk, menurut gue. Bukan karena penulisnya cenderung mengecilkan (peran) Ali dan membesar-besarkan (peran) Muawiyah sebagai pemimpin yang berhasil dalam sejarah Islam. Tapi, karena metode penulisannya yang tidak konsisten. Misalnya, dia dengan tegas menolak hadis mengenai kronologis terbunuhnya Usman yang berasal dari perawi yang Syiah. Penolakannya itu, seperti dia akui sendiri, semata-mata karena perawinya Syiah sehingga sang penulis khawatir sang perawi tidak "netral" atau condong mendiskreditkan bani Umayyah dalam tragedi pembunuhan Usman. Walaupun, kronologis dari perawi Syiah ini jauh lebih lengkap dibanding perawi dari sisi Sunni. Namun, pada bab yang berbeda dia merujuk pada hadis dari perawi Syiah yang sama di saat dia tidak punya sumber lain yang bisa dia rujuk. Di sisi lain, daya kritis si penulis agak kendur saat berhadap-hadapan dengan hadis/riwayat dari sisi Sunni.

Menurut gue, seharusnya si penulis menjabarkan riwayat atau versi baik dari sisi Sunni maupun Syiah. Nanti biar pembaca yang menilai sendiri mana yang paling mendekati kebenaran. Itulah yang dilakukan Thaha Husain dalam buku Fitnatul Kubra yang betul-betul mengagumkan. Memang daya kritis Thaha Husain di buku itu membuat dia jadi kontroversial karena lugas mengkritik sahabat-sahabat Nabi. Tapi, itupun dia lakukan karena tidak ada cara lain untuk menganalisis tragedi pembunuhan Usman tanpa menyoroti sosok dan peran tiap-tiap orang yang terlibat atau hidup di masa itu. Kalau dibanding Fitnatul Kubra, buku Dinasti Umawiyah kualitas penulisannya bisa disebut menyedihkan.

Tapi, ada satu hal yang gw dapat dari buku Dinasti Umawiyah yaitu mengenai penulisan sejarah seputar pembunuhan Usman yang betul-betul lepas dari unsur teologi. Ini mungkin mendekati teori penulisan sejarah yang ditulis di artikel terlampir: "...asumsi dasariah dalam penulisan sejarah adalah segala sesuatu dapat terjadi dalam dunia ini hanya karena sebab-sebab empiris natural, sosiologis, dan kultural." Sosok Ali misalnya, digambarkan sebagai pemimpin yang gagal dalam berpolitik, tapi kesalehannya sebagai pemimpin tidak ada tandingannya pada masanya. Sebaliknya, sosok Muawiyah ditulis sebagai sosok pemimpin yang berhasil meski tidak memiliki kesalehan seperti Ali. Muawiyah (dan Marwan) juga digambarkan sebagai pemimpin yang nyaris tanpa cela dan tangannya bersih dari darah Usman.

Penggambaran sosok Ali yang demikian sedikit sekali gw dapet dari buku-buku koleksi gw yang lain yang kebanyakan lebih condong kepada Ali. Dalam menulis tentang Ali, buku-buku yang kebanyakan diterbitkan penerbit bermazhab "ahlul bait", mereka mungkin boleh dibilang belum dapat melepaskan pendekatan teologi. "Di dalam teologi (khususnya di dalam agama-agama monoteistik), penyebab-penyebab sebuah kejadian dalam dunia dijelaskan tidak terlepas dari keterlibatan Allah di dalamnya, keterlibatan faktor nonempiris supernatural, nonsosiologis, dan nonkultural. Jikalau seorang sejarawan menulis sebuah uraian sejarah dengan ke dalamnya ia melibatkan intervensi Allah ke dalam dunia kodrati, maka ia berhenti menjadi seorang sejarawan, berubah menjadi seorang teolog, dan karya tulisnya berubah menjadi sebuah teologi."

Nah, salah satu buku sejarah Ali yang mungkin berkualitas dalam hal penulisannya, meski belum bisa disandingkan dengan Fitnatul Kubra tapi jauh lebih baik dibandingkan Dinasti Umawiyah, adalah buku Ali bin Abi Talib yang ditulis Ali Audah. Buku ini diterbitkan bukan oleh penerbit bermazhab ahlul bait, tapi oleh penerbit yang sebelumnya menerbitkan buku-buku biografi Rasulullah, Abu Bakar, Umar, dan Usman karya M.H. Haekal.

Akhir kata, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca e-mail gw yang panjang lebar ini. Mohon luangkan waktu sekali lagi untuk menuliskan pendapat lo tentang pandangan di atas.

Wasalam,

amrie

Tuesday, June 19, 2007

tha'if

"Ya Allah, kepada-Mu aku mengeluhkan kelemahan-kelemahanku, ketidakberdayaanku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai yang Maha Pengasih di antara yang mengasihi! Engkau Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau hendak menyerahkan diriku? Kepada orang-orang asing yang bermuka masam terhadapku atau kepada musuh yang Engkau takdirkan akan mengalahkanku? Hal itu tidak aku risaukan, jika Engkau tidak murka kepadaku. Namun, rahmat-Mu bagiku amat luas. Aku menyerahkan diri pada cahaya-Mu yang menerangi segala kegelapan dan menentukan kebaikan urusan dunia dan akhirat. Aku berlindung dari murka-Mu. Aku senantiasa mohon rida-Mu. Karena tidak ada daya dan kekuatan kecuali atas perkenan-Mu."(1)

Doa di atas adalah salah satu doa Rasulullah yang sangat terkenal. Doa yang dikenal sebagai Doa Thaif ini beliau panjatkan di bawah sebuah pohon anggur di daerah Tha'if. Doa tersebut adalah rintihan hati beliau setelah beliau mendapat perlakuan yang menyakitkan dari warga Tha'if yang tidak hanya menolak dakwah beliau, tapi juga menganiaya beliau. Diriwayatkan, dalam peristiwa ini beberapa bagian tubuh beliau bercucuran darah karena dilempari batu oleh penduduk Tha'if yang menolak dakwah beliau.(2)

Peristiwa Tha'if terjadi pada masa yang disebut sejarawan sebagai "Tahun Duka Cita" yaitu pada tahun 691 M. Saat itu, Rasulullah berumur 50 tahun. Disebut Tahun Duka Cita karena pada tahun itu nabi kehilangan orang-orang yang sangat dicintainya dan mereka pun sangat mencintai beliau. Pada tahun itu, Nabi ditinggal Khadijah, istri yang sangat beliau kasihi. kematian Khadijah kemudian segera disusul oleh kematian paman beliau, Abu Thalib. Abu Thalib adalah salah satu kerabat Nabi yang selalu menjadi pelindung beliau dari ancaman Quraisy Mekkah.

Kematian Abu Thalib membuat kaum musyrik Quraisy makin berani menyerang Nabi. Jika sebelumnya serangan mereka hanya sebatas cercaan atau hinaan, kali ini mereka telah berani berbuat lebih jauh. Dalam satu kesempatan, seseorang melemparkan kotoran ke wajah dan seluruh kepala Nabi. Untuk menghindari serangan dari Quraisy Mekkah, kemudian beliau pergi ke Tha'if dengan maksud mencari perlindungan dari Bani Tsaqif. Akan tetapi, sambutan penduduk Tha'if tidak lebih baik dari penduduk Mekkah.

Tahun Duka Cita atau peristiwa Tha'if khususnya, buat saya, adalah episode paling memilukan dalam sejarah hidup Rasulullah. Tapi, dari episode inilah saya jadi mengetahui kebesaran jiwa Rasulullah. Tidak ada kekecewaan atau kutukan apalagi kemurkaan yang keluar dari lisan beliau di saat beliau mendapat siksaan dan cemoohan dari banyak orang. Peristiwa itu juga menunjukkan bahwa sekuat-kuatnya pelindung selain Allah adalah lemah dan sementara. Diceritakan, ketika Rasulullah pulang dengan wajah dan kepala berlumur kotoran, salah seorang putrinya membasuh dan membersihkannya sambil menangis. "Jangan menangis putriku," kata beliau, "Allah akan melindungi ayahmu."

----------
Referensi:
(1) Martin Lings, Muhammad: Kisah Hidup Nabi Berdasarkan Sumber Klasik, Serambi, Cetakan pertama, April 2007.
(2) Abdul Wahab Hamudah, Saat-saat Kritis dalam Kehidupan Rasulullah, Pustaka Firdaus, Cetakan keempat, Januari 1991

Wednesday, June 06, 2007

utang

Salah satu “kebijakan ekonomi” yang diterapkan lumayan ketat di keluarga kecil kami adalah menahan diri (sekuat mungkin) dari membuat utang. Atas dasar itu, saya melarang diri saya sendiri dan istri untuk membuka rekening kartu kredit, walaupun makin hari makin banyak teman, tetangga dan rekan kerja di sekeliling kami yang menggunakan kartu kredit. Alhamdulillah, kami belum tergoda untuk mengisi aplikasi kartu kredit di bank manapun. Untuk yang satu ini, kami siap untuk menjadi orang kuno. Kalaupun sikap kami yang menghindari kartu kredit dan alergi untuk berutang dianggap "kampungan", kami rela, insya Allah.

Meski begitu, bukan berarti kami tidak pernah membuat utang sama sekali. Sejauh ini, kalaupun harus berhutang, kami menghindari membuat utang dengan bank atau lembaga keuangan lain. Itu kami lakukan karena takut akan (sistem) bunga (yang berbunga) di bank dan juga karena dana yang kami perlukan sejauh ini tidak terlalu besar, alhamdulillah. Kalau saya tidak salah, kami pernah meminjam uang dari koperasi di kantor istri. Selain berbunga ringan, sistem peminjaman dana di koperasi tersebut sedemikian rupa memungkinkan si peminjam memperoleh kembali (dalam porsi tertentu) bunga yang pernah dibayarkan lewat sisa hasil usaha yang dibagikan setiap tahun.

Kalaupun harus meminjam uang, itupun kami lakukan, sebisa mungkin, untuk keperluan yang sangat sangat penting. Artinya, kami berusaha keras untuk tidak berutang demi hal-hal yang konsumtif. Seingat saya, kami tidak pernah berutang untuk membeli televisi, sekalipun televisi di rumah kami sudah berkurang performa visualnya, kami cukup sabar untuk tidak berutang untuk membeli DVD player atau perangkat home theater yang berkualitas tinggi sekalipun saya adalah penggila dvd, bahkan saya juga sangat menahan diri dari mengkredit motor baru untuk mengganti motor yang sudah hampir enam tahun terakhir saya gunakan. Waktu itu, kami berutang dari koperasi untuk merenovasi rumah.

Imam Ali bin Abi Thalib pernah berucap bahwa sedikitnya tanggungan keluarga adalah sebagian dari rezeki (tolong koreksi jika saya salah kutip). Dari hikmah itu mungkin kita bisa pula mengatakan bahwa sedikitnya tanggungan (beban) utang adalah sebagian dari rezeki. Saya berdoa memohon kepada Allah yang Mahakaya untuk memelihara wajah kami dari kemiskinan dan hinanya kegemaran berhutang, serta memberikan kepada kami rezeki yang halal dan cukup. Amiin.

Wallahu a'lam.

Monday, May 28, 2007

jiwa dan hidupku

Beberapa hari lalu, istri saya menanyakan apakah saya sudah mengeposkan tulisan baru di blog ini. Entah bagaimana, dia tahu kalau sudah dua minggu terakhir ini saya tidak menulis di sini, padahal saat itu adalah hari kesekian dia tidak ke kantor yang berarti selama itulah istri saya tidak bisa akses internet. Tapi, yang paling membuat saya penasaran adalah motif dia bertanya soal itu. Soalnya, biasanya dia tidak pernah tanya soal itu. Mungkin karena saya yang selalu kasih tahu setiap ada tulisan baru sebelum dia sempat bertanya.

Di antara sekian banyak alasan yang mungkin melatarbelakangi pertanyaan istri saya itu, ada satu yang menurut dugaan saya paling mendekati kebenaran. Saat itu, atau mungkin sampai sekarang, saya menduga dia berharap saya menulis sesuatu mengenai kejadian yang kami, atau tepatnya istri saya alami minggu lalu. Alasan ini mungkin tidak akan dijelaskan istri saya, karena satu dan lain hal, kalaupun saya menanyakannya secara langsung.

Dugaan saya mungkin saja salah. Tapi, seandainya itu benar, inilah penjelasan saya. Saya tidak menulis apa yang kami alami karena, terus terang, saya butuh waktu untuk merenungi dan meresapi pelajaran yang Tuhan berikan kepada kami kali ini. Saya tidak tahu kapan kami dapat benar-benar memahami hikmah di balik apa yang kami alami. Tapi, sejauh ini saya menerimanya sebagai ujian bagi saya dan istri, dan keluarga kami. Ujian yang sedemikian rupa telah membukakan mata kami akan nikmat-nikmat Allah yang tak terhingga yang selama ini kami lalai mensyukurinya.

Ada hal-hal yang sulit untuk saya katakan langsung dengan lisan kepada istri. Salah satunya adalah ini:

Saya tidak berubah, insya Allah, setelah apa yang kamu alami. Kalau sebelumnya saya rela mencari jambu air, pisang emas, jeruk, dalam perjalanan pulang ke rumah dari tempat kerja, sekarang pun saya siap melakukannya lagi kalau kamu minta. Karena, buat saya, kamulah yang paling penting. Saya tidak ingin meminta yang lain kecuali yang dapat kamu berikan dan apa yang telah menjadi hak saya.

Syair ini tidak hanya mengingatkan saya pada ibu yang melahirkan saya, tapi juga ibu yang telah melahirkan anak saya:

Ummi, ibu jiwa dan hidupku
pemberi kebahagiaan dan harapan
sekarang, juga di masa depanku
Ummi, ummi…ibu…ibu…ibu

Namamu wahai ibu terpahat di hatiku
cintaku padamu membawaku ke jalan yang benar
dan doaku selalu
Semoga Allah senantiasa menjagamu
Ummi, ummi…ibu…ibu…ibu

(dikutip dari lagu “Ummi” oleh Haddad Alwi)

Friday, May 11, 2007

Mabuk dan terbakar!


Puisi Rumi selalu memabukkan,
mabuk yang melebihi anggur
paling keras sekalipun.
Aku tak berani membayangkan
akan semabuk apa diriku
saat menikmati puisinya dalam bahasa Persia!

Puisi Rumi selalu membakar kesadaranku,
terbakar dan menyala-nyala
dalam keasyikan.
Aku tak sanggup menalarkan
akan sehangus apa jiwaku
saat dipanggang 70.200 bait syairnya nan membara!
------------------------

Wudhuku Airmataku*

“Walau semua lampu dinyalakan dan makanan
di meja di hidangkan,
Selepas shalat malam dilaksanakan,
Sang Kekasih tak lepas tiada lekang dari ingatan,
ada rasa sedih, ada rasa risau, berkelindan
dengan ratapan

Shalatku demam garang itulah sebabnya
wudhuku airmataku,
Tatkala azan dikumandangkan terbakarlah
gerbang masjidku.

Alangkah aneh ini shalat orang kasmaran,
lalu katakan padaku,
apakah sah bersembahyang begini tanpa peduli ruang
dan waktu?

Aneh benar rasanya ini yang dua rakaat,
apa lagi ini rakaat keempat.

Terlebih lagi anehnya, kubaca sebuah surah tanpa lidah!
Betapa mungkin kuketuk gerbang Tuhan
tanpa jantung, tiada pula tangan?

Karena telah Dikau ambil jantung dan tangan hamba,
Ya Tuhan hamba, lindungi, lindungi hamba!
Demi Tuhan, tidak tahu aku ketika bershalat itu
apakah memang ada seseorang tegak memimpin jamaah
atau bahwa ruku ini selesai dan shalat pun usai.”

*Alih puisi Rumi oleh Taufik Ismail dalam kata pengantar dalam Revolusi Sang Matahari: Kelana Cinta Jalaluddin Rumi (Nigel Watts) dari Life and Work of Rumi (Afzal Iqbal).

Wednesday, May 09, 2007

kualitas insan ada dalam pilihan

Aku telah menetapkan hati untuk menghancurkan diriku, untuk dibinasakan oleh cintamu” (Fanaa)

Mungkin belum banyak yang tahu kalau saya ini penggemar film-film India. Dari beberapa film Bollywood yang pernah saya lihat, ada satu yang cukup berkesan buat saya. Judulnya Fanaa (binasa, musnah, hancur). Jalan ceritanya tidak terlalu istimewa, tapi di dalamnya terkandung syair-syair yang sangat indah. Satu lagi, film ini juga sarat akan pesan-pesan moral dan filsafat yang cukup dalam.

Di awal film itu, ada satu nasihat bijak yang diberikan Ali Beg kepada Zooni, putrinya yang tunanetra. Sang ayah mengatakan, “memilih antara yang benar dan salah itu mudah, tapi yang menentukan hidup seseorang adalah memilih antara yang lebih utama dari dua kebaikan atau yang lebih tidak merugikan dari dua keburukan” (to choose between right or wrong is simple, but what defines one's life is the decision between the greater of two goods or the lesser of two evils).

Dalam hidup, kita pasti akan menghadapi keadaan yang demikian. Bahkan, akan hadir suatu kondisi di mana hanya ada dua pilihan buruk di depan mata kita yang menentukan (jalan) hidup kita. Di sanalah, pada pilihan yang kita buatlah, akan ditentukan kualitas dari diri kita sebagai manusia. Dalam kondisi yang demikian, memilih di antara dua keburukan, perjuangan kita terletak pada usaha kita untuk mencari mana di antara keduanya yang paling sedikit membawa kerusakan atau kerugian.

Kabaikan dan keburukan kadang tercampur baur. Terkait itu, ada satu ungkapan yang sering saya kutip atau sebut: sesuatu itu tidak selalu seperti kelihatannya. Karena itu, di dalam Islam, Nabi Muhammad mengajarkan doa yang sangat dahsyat: Allahumma arinal haqqa haqqan warzuq nattiba’ah wa arinal batila batilan warzuqnajtinabah (Ya Allah, tampakkan kepada kami yang baik itu baik, dan anugerahi kami kekuatan untuk mengikutinya. Dan tampakkan kepada kami yang salah itu salah, dan anugerahi kami kekuatan untuk menjauhinya).

Kembali ke Fanaa. Film itu juga berisi pesan tentang pengorbanan seseorang demi sesuatu, seseorang yang kita cintai. Dalam bahasa India, Fanaa berarti binasa dalam cinta. Zooni dipaksa untuk memilih dua pilihan sulit, dia harus mengorbankan dua hal yang paling dia cintai, kekasihnya yang dia cintai atau negaranya. Dia tidak bisa tidak memilih karena hidupnya -- bahkan hidup orang banyak -- bergantung pada pilihan yang dia ambil.

Akhirnya, Zooni memilih negaranya di atas orang yang dia sangat cintai. Pilihannya menyebabkan sang kekasih binasa. Bagaimanapun, kebinasaan adalah fitrah setiap insan. Fanaa menyelipkan pesan bahwa sebaik-baik kebinasaan adalah kebinasaan dalam cinta. Wallahu a’lam.

Salam,

amrie

Friday, April 27, 2007

ketik: 'saya syiah'

Aku telah memberikan cintaku kepadanya, padahal ia musuhku dan mempunyai rencana-rencana jahat terhadapku.”* (Imam Ali bin Abi Talib)

Jumat pekan lalu, kalau saya tidak salah, saya chatting via Yahoo! Messenger (YM) dengan salah satu sahabat baik saya. Seperti yang sering terjadi, YM sahabat saya ini bermasalah sehingga chatting kami jadi sering mati-hidup. Saat kami sedang chatting, rupanya sahabat saya ini khawatir YM-nya offline lagi, sehingga dia menulis pesan ke saya yang kurang lebih berbunyi seperti ini: “Am, YM gue kayaknya error lagi. Tolong ketik ‘saya syiah’ kalo elo terima pesan ini”.

Waktu itu, saya buru-buru akan melakukan apa yang sahabat saya ini minta. Tapi, kemudian saya berpikir kok kata-kata yang diminta aneh betul, “saya syiah”. Apa nggak ada kata sandi yang lain? Akhirnya, karena sedang dimintakan tolong, saya tulis pesan ke sahabat saya begini: “saya” (tanpa pakai kata “syiah”). Dan pesan saya itu sampai. Setelah itu saya tanya ke dia, kenapa kok kata sandinya “menyudutkan” saya (dia tahu saya bercanda dan saya juga tahu dia sedang bercanda). Kalau tidak salah, dia cuma tulis “hehehehe” di jawabannya.

Sahabat saya itu dan beberapa sahabat yang lain tahu benar kalau saya adalah pengagum Imam Ali bin Abi Talib. Seperti yang sudah lazim diketahui, pengagum atau pecinta Imam Ali sering diidentikan dengan (penganut) syiah. Meski begitu, saya bukan penganut syiah. Karena, menurut hemat saya, Imam Ali tidak “satu paket” dengan syiah. Artinya, untuk menjadi pengagum dan pecinta beliau tidak harus menjadi seorang syiah, walaupun seorang syiah pasti menjadikan Imam Ali sebagai junjungannya setelah Rasulullah saw. Tapi, ya, Imam Ali adalah suri teladan saya setelah Rasulullah.

Kembali ke sahabat saya yang tadi itu, pada hari yang sama dia memberikan saya hadiah buku (dalam rangka ulang tahun, katanya). Judul bukunya “Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Tinjauan dari Segi Ajaran dan Pemikiran” bukunya ditulis M. Quraish Shihab, dan diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati (cetakan I, Maret 2007). Bukunya bagus. Bagus sekali. Mungkin ini adalah salah satu koleksi terbaik saya di antara koleksi (di bawah topik yang berkaitan dengan Imam Ali dan syiah) yang lain yaitu “Mutiara Nahjul Balaghah: Wacana dan Surat-surat Imam Ali R.A.”. Saya bilang ke dia, terima kasih banyak, saya sangat senang dengan hadiah yang dia berikan.

Saya punya sahabat seorang syiah. Bahkan, saya menganggap dia sebagai sahabat saya yang paling dekat. Sebelumnya dia juga adalah seorang sunni. Saya dan dia sama-sama mengagumi Imam Ali. Hanya saja, kemudian dia memutuskan untuk mendalami dan akhirnya menjadi (penganut) syiah, sementara saya cukup menjadi pengagum dan pecinta Imam Ali. “Kepindahan” dia menjadi syiah, sama sekali tidak berpengaruh pada persahabatan kami. Setidaknya, kami bisa menjadi bukti bahwa sunni-syiah dapat bergandengan tangan.

Terakhir, saya berdoa semoga Allah mendamaikan saudara-saudara kami, sunni dan syiah, yang saat ini saling menumpahkan darah di Irak. Amiin.

* Perkataan Imam Ali tentang Abdurahman bin Muljam. Imam Ali akhirnya syahid di tangan Abdurahman saat sedang menunaikan salat subuh. Dikutip dari “Karakter Agung Ali bin Abi Talib” oleh Murtadha Muthahari, diterbitkan Pustaka Zahra, halaman 26.

Wasalam,

amrie

Friday, April 20, 2007

rokok atau chiki?

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.” (Tuhan Sembilan Senti, Taufiq Ismail)

Semalam saya mampir ke minimarket di dekat rumah untuk membeli permen buat anak. Saat hendak membayar, di depan saya ada tiga orang (cowok) ABG yang juga antre di kasir. Saya taksir, mereka baru SMA kelas 1 atau 2, dan yang berdiri pas di depan saya mungkin lebih muda lagi, masih SMP. Iseng-iseng saya perhatikan bahwa mereka membeli barang yang jenisnya sama; rokok. Dua orang pembeli pertama, saya lihat membeli dua bungkus rokok kretek (kayaknya buat dia dan temannya yang juga ikut antre) dan yang lebih muda membeli produk rokok dengan filter.

Tentu tidak ada yang istimewa dari pengalaman saya itu. Itu adalah pemandangan yang lazim kita lihat sehari-hari. Anak-anak di bangku SMP dan SMA beli rokok dan merokok. Bahkan, kita tinggal di lingkungan perokok. Ayah saya perokok, ayah mertua saya perokok, adik saya dua orang, dua-duanya merokok, sahabat, teman, dan rekan kerja saya merokok. (Sangat) banyaknya perokok boleh jadi tidak bisa menjadi ukuran tingginya angka buta huruf di Indonesia. Tapi, itu menjadi tanda tanya mengingat peringatan yang, meski sudah ditulis besar-besar di setiap bungkus rokok, seakan masih tidak dapat dibaca atau dipahami oleh para perokok: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN.

Masih ada hubungannya dengan rokok, di koran Kompas edisi Minggu (15 April), ada artikel yang mengupas sosok Michelle Sampoerna. Saya tertarik membaca artikel ini karena wajah Michelle yang sangat menarik, Kompas memuat fotonya sepertiga halaman. Michelle adalah putri dari Putera Sampoerna, salah satu konglomerat Indonesia, bos pabrik rokok raksasa Sampoerna. Michelle saat ini memimpin Sampoerna Foundation (SF), yayasan nirlaba yang yang berdedikasi memperbaiki kualitas dan akses pendidikan di Indonesia, begitu Kompas menulis. Ini mungkin adalah salah satu bentuk tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) dari Sampoerna. SF yang disebut-sebut sebagai lembaga nirlaba terbesar yang dimiliki pengusaha itu diberitakan telah memberikan lebih dari 25.000 beasiswa mulai dari tingkat SD hingga S-2. Cukup luar biasa. Pesannya, semua itu mungkin tidak bisa dilakukan SF tanpa ada jutaan orang yang merokok.

Saya juga jadi ingat saat kongkow-kongkow dengan tetangga-tetangga di rumah (semuanya bapak-bapak). Sudah jadi bahasa kemesraan dan keakraban dalam pergaulan, seorang teman menawarkan rokok kepada temannya yang lain. Dan saat itu adalah saat yang kesekian kalinya saya ditawari rokok oleh orang lain. Sebelumnya, sang tuan rumah menawarkan minuman beralkohol kepada saya dan tamu lainnya (waktu itu ada dua tamu lagi selain saya), dan setelah berbasa-basi, saya tolak dengan halus. Setelah itu, baru sang tuan rumah menawarkan rokok yang kemudian saya tolak lagi, dengan halus juga. Akhirnya, sambil bercanda, dia mengatakan, “kalau Chiki, mau pak Amrie?” Semua yang ada di ruangan itu langsung tertawa. Akhirnya, saya memang cuma makan kacang, karena chikinya tidak ada.

Soal rokok, salah satu ulama besar Indonesia, M. Quraish Shihab, mengikuti garis hukum yang menyatakan bahwa rokok itu barang haram. Beliau juga dengan tegas menyatakan bahwa seorang perokok tidak bisa menjadi imam dalam salat (baca, “Lentera Hati” oleh M. Quraish Shihab, Penerbit Mizan).

Menutup tulisan ini, saya kutipkan beberapa bait syair dari Taufiq Ismail mengenai rokok. Syair berikut diberi judul “Tuhan Sembilan Senti”.

Min fadhlik, ya ustadz. 25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan. 15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan. 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith. Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok
.”

Wallahu ‘alam.

Salam,

amrie

Thursday, April 12, 2007

bercermin, bersyukur

Salah satu rutinitas saya setiap pagi, mulai dari rumah dan begitu tiba di kantor, adalah bercermin. Itu juga adalah salah satu aktivitas favorit saya. Tentu bukan karena ada yang istimewa dari wajah saya. Atau juga bukan karena saya narsis (kegiatan bercermin sangat lekat dengan tokoh mitologi Yunani, Narsisus, yang jatuh cinta pada pantulan wajahnya sendiri di atas air). Bukan karena keduanya, insya Allah.

Satu-satunya alasan mengapa saya senang bercermin adalah karena itu adalah kesempatan saya untuk memanjatkan doa yang sangat sangat indah buat saya. Doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW itu begini bunyinya: “Allahumma kamaa hassanta khalqii fahassin khuluqii. Artinya: Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah kejadianku, maka perindah pulalah akhlaqku (Hadis riwayat Ahmad)”.

Dengan doa itu, saya pribadi tidak pernah merasa bersedih karena wajah saya tidak mirip pemain sinetron, postur tubuh saya tidak “ideal”, potongan rambut saya tidak seperti Daniel Craig (saya pernah coba potong rambut meniru dia, dan hasilnya lumayan lah. Rambutnya nyaris mendekati, tapi wajahnya nggak), atau pakaian yang saya kenakan bukan pakaian yang “keren” dan mahal. Dengan doa itu, saya merasa jadi orang yang paling beruntung di dunia. Doa itu membuat saya selalu bersyukur dengan apa yang saya miliki dan tidak saya miliki.

Karena saya -- dan boleh jadi hampir kebanyakan dari kita – bercermin sama seringnya dengan saya ke kamar kecil, maka sesering itulah saya usahakan untuk memanjatkan doa itu. Saya juga berdoa agar Allah menetapkan hati saya dalam keasyikan mensyukuri semua nikmat-Nya yang dapat saya lihat (dan rasakan) dan yang tidak mampu saya lihat (dan rasakan). Amiin.

Wasalam,

amrie

Wednesday, March 28, 2007

e-mail untuk pendukung lesbianisme

Di bawah ini adalah e-mail saya yang menanggapi salah satu anggota milis Forum-Pembaca Kompas dengan subjek "Lesbian: Begitu Tabunya?". E-mail itu isinya artikel dengan judul yang sama yang diambil dari situs Jurnal Perempuan. Jurnal Perempuan, yang saya tahu, adalah media yang mempromosikan isu-isu kesetaraan gender/feminisme. Mohon maaf, bukannya saya alergi dengan feminisme, tapi banyak hal yang mereka perjuangkan sangat sulit masuk di logika saya. Salah satunya ya yang satu ini, pro terhadap lesbianisme/homoseksualitas (yang pada waktu yang sama, mereka membenci -- hingga ke sum-sum tulang -- praktik poligami).

Bagaimanapun, ini pandangan saya berdasarkan hal-hal yang saya tahu. Lagi pula, tidak semua yang diperjuangkan oleh kaum feminis itu buruk. Jadi, hal-hal yang baik darinya (hikmah) tentu akan saya ambil. Karena hikmah itu perbendaharaannya orang muslim, ambillah dia sekalipun keluar dari lisan seorang kafir.

Wallahu 'alam.


Mbak yth,

Sudah menjadi hukum Tuhan tiap mahluk/hal di dunia itu diciptakan berpasang-pasangan. Mengikuti logika mbak yang pro lesbianisme/homoseksualitas ini, setiap insan lesbian/homoseks pun mempunyai pasangan lesbian/homoseksnya masing-masing.

Nah, kalau mbak konsisten dengan pandangan seperti itu, sudah seharusnya mbak sebagai pendukung/pecinta lesbianisme/homoseksualitas juga gak perlu protes kalau ada orang-orang yang tidak mendukung/membenci pilihan hidup orang-orang yang menganutnya. Memaksakan orang-orang untuk mendukung atau setidak-tidaknya menerima lesbianisme/homoseksualitas itu berarti mbak gak konsisten dengan pluralitas itu sendiri. Jadi, mbak juga harus menerima dengan lapang dada orang-orang yang menolak itu.

Lagi pula, menurut saya, sangat tidak pada tempatnya kalau lesbianisme/homoseksualitas itu disamakan dengan anak bindeng atau orang kulit hitam. Insya Allah, itu salah besar mbak. Agama yang saya anut, Islam, tidak menghukum orang karena dia bindeng atau berkulit hitam. Di mata Islam, semua manusia sederajat, dan manusia yang paling mulia adalah yang paling bertakwa. Nah, kalau ada orang-orang yang membenci lesbianisme/homoseksualitas itu karena agama juga membencinya, mbak.

Tapi, toh kalau menurut mbak lesbianisme/homoseksualitas adalah sesuatu yang perlu diperjuangkan, silahkan diperjuangkan, secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Kalaupun perjuangannya sangat berat (karena sudah ribuan tahun kayaknya lesbianisme/homoseksualitas tidak pernah diterima masyarakat luas) yah anggaplah itu harga dari sebuah perjuangan. Kalau dikucilkan pun tidak usah berkecil hati, mbak. Karena jika mbak konsisten bahwa apa yang mbak lakukan/yakini itu benar menurut Tuhan yang mbak yakini dan menurut nurani mbak, apalah arti pandangan orang lain?

PS: Numpang tanya, mbak, kira-kira apa hukumnya kalau pasangan lesbianisme/homoseksualitas itu melakukan poligami dengan pasangan sejenis juga? Mohon maaf mbak kalau pertanyaan saya ini bodohnya tidak ketulungan.

salam,

amrie