Wednesday, August 26, 2009
f
sebelumnya aku mati, nafasmu membuatku lalu hidup
dahulunya aku miskin, cintamu menjadikan aku kaya
Friday, August 14, 2009
rinduku seperti matahari
jalan yang manakah yang lebih gemerlapan daripada jalan menuju istanamu?
pemandangan apalagi yang lebih membahagiakan selain pemandangan wajahmu?
amboi apakah ini yang menyalakan sumbu cintaku?!
bagaimanakah caranya engkau menghidupkanku lalu membunuhku lalu menghidupkanku kembali?!
rinduku kepadamu terbit dan membakar seperti matahari,
cintaku indah dan benderang seperti rembulan, juga kepadamu
Wednesday, August 05, 2009
harum
Saya lumayan peduli dengan wewangian. Saya pakai parfum untuk menghormati orang lain. Saya menganggap memakai wewangian sebagai bagian dari akhlak yang baik. Prinsip saya, tidak perlu terlalu harum, yang penting asal tidak menebarkan aroma yang mengganggu orang lain. Jadi, kalau ada yang merasa terganggu penciumannya gara-gara parfum yang saya pakai, saya betul-betul minta maaf. Itu pasti tidak saya sengaja.
Kalau sedang berhadapan dengan orang yang tidak harum, saya berusaha membayangkan orang itu adalah diri saya sendiri. Karena setidak-harum apapun diri saya, saya pasti akan berjuang untuk mengkompromikan indra penciuman saya. Saya pernah berdekatan dengan orang yang sangat tidak bersahabat aromanya. Tapi, ini sangat jarang sekali terjadi. Yang lebih sering terjadi adalah berhadapan dengan orang lain yang jauh lebih harum dari saya.
Kalau wewangian yang dipakai seseorang itu saya sukai, wah hampir-hampir saya tidak bisa lukiskan bagaimana perasaan saya. Tidak terlalu berlebihan jika saya katakan bahwa wewangian tertentu bisa membuat saya mabuk kepayang. Suasana hati saya bisa berubah drastis. Saya tidak tahu apakah efek wewangian bisa sehebat itu juga kepada orang lain.
Menurut riwayat, Nabi Muhammad saw itu harum bukan main. Dan banyak pula anjuran beliau agar muslim memakai wewangian dalam kesehariannya, baik dalam kaitannya dengan ibadah maupun bermuamalah. Nabi juga menghindari memakan sesuatu yang akan menimbulkan bau yang kurang enak. Suatu saat, Nabi pernah mengurungkan niat untuk menyantap hidangan. Waktu itu sebagian sahabat bertanya apakah hidangan tersebut haram. Kemudian Nabi menjelaskan bahwa hidangan itu halal, tapi Nabi tidak menyantapnya karena hidangan itu memakai bawang. "Karena saya harus berbicara dengan seseorang, " kata beliau. Sebagian ahli hadis mengatakan seseorang yang Nabi maksud adalah Malaikat Jibril.
Kembali ke soal parfum yang saya pakai. Saya sedapat mungkin menghindari menggunakan parfum yang harganya sampai ratusan ribu. Tujuannya sederhana saja, saya takut jika saya menggunakan parfum mahal, maka niat saya akan berubah yaitu memakai wewangian dengan harapan orang menyukai saya atau supaya orang lain memuji wewangian yang saya pakai. Buat saya, lebih baik tidak harum (asal tidak bau busuk) daripada tergelincir ke dalam suatu keadaan di mana saya sulit bangkit lagi darinya. Tidak ada daya upaya kecuali atas izin Allah.
Wednesday, June 24, 2009
capek
Nah, waktu sampai rumah dalam keadaan capek, saya pengen betul dapat ini dan itu. Tapi, terkadang ini dan itu yang saya pengen tidak saya dapatkan. Kalau itu yang terjadi, aduh saya jadi kesel dan mau marah. Kadang saya bisa menahan kesal dan marah di dalam hati saja. Kadang, kesal dan marah itu terucap juga, walaupun sudah saya tahan-tahan. Ini mungkin bukti bahwa capek itu ada tingkatannya. Semakin tinggi tingkatan capek, semakin susah kita menahan emosi. Mungkin begitu ya.
Belakangan saya sadar kalau yang capek itu bukan saya doang. Orang lain juga capek. Boleh jadi, tingkatan capeknya orang lain jauh lebih tinggi daripada tingkatan capeknya saya. Boleh saja saya mengaku-aku, kerja saya lebih keras dari orang itu atau perjalanan saya dari kantor ke rumah lebih jauh daripada dia. Tapi, saya ingat lagi, kan saya tidak pernah menjalani aktifitas dia sehari-hari. Lalu, saya tahu dari mana kalau dia tidak lebih capek dari saya?
Akhirnya, saya belajar menerima bahwa saya boleh saja capek dan punya kepengenan ini dan itu untuk menawar rasa capek sepulang kerja. Tapi, yang tidak boleh sering-sering saya lakukan adalah marah-marah cuma gara-gara tidak dapat ini dan itu begitu sampai rumah, karena yang capek kan bukan saya doang. Lagipula, penawar capek apalagi yang lebih sempurna daripada tiba di rumah dengan selamat dan kembali bertemu dengan istri dan anak-anak? Wallahu 'alam.
pertemanan
"Tidak mas. Aku tidak masuk shortlist katanya"
"Lho, kok bisa?"
"Ya, karena mereka menilai saya tidak memenuhi kualifikasi tertentu yang mereka butuhkan."
"Lha, kan kalian kan berteman?"
"Yah, tidak apa-apa lah mas. Saya bisa terima kok. Pertemanan kan kurang baik kalau dimanfaatkan untuk memaksakan hal-hal seperti ini."
"Yah, saya ndak jadi deh dapet traktiran dari sampeyan."
"Soal traktiran sih tidak usah bergantung apa proposal saya diterima atau ditolak mas. Asal tidak mahal-mahal, saya masih bersedia traktir kok mas, hehehe."
Monday, May 04, 2009
dalam diam
adalah keindahan
ketika lisan tak mampu
mengucap apa yang
dirasa oleh hati
kebisuan adalah bahasa
yang dilafalkan
jika kata-kata tidak
menjangkau apa yang
dikecap oleh hati
diam adalah selimut
yang dikenakan
saat ucapan tak lagi
menghangatkan hati
yang dicengkram
dinginnya rindu
hening adalah biduk
yang dikayuh
ketika semua bahasa
karam dalam bayang-bayang
raut wajah dia
Tuesday, April 14, 2009
kekasihmu maka cintailah
hal yang luarbiasa
menyakitkan hatinya
skarang lakukanlah
hal yang luarbiasa
hebat demi hatinya
karena tidak ada lagi
yang seperti dia
dia sudah jadi juara
di hatimu
lihatlah dia yang bergaun putih
itulah warna hatinya,
begitu kaubilang
itu orangnya yang berambut panjang
yang tiap helainya pernah buatku
mabuk kepayang
begitu lagi-lagi kaubilang
begitulah hidup kawan
kadang yang indah
luput dari mata saat dia ada
kini terasa setlah tidak ada
duhai diri
cintamu maka peliharalah
kekasihmu maka cintailah
Thursday, March 12, 2009
penafsir kerinduan
hanya saat tubuhku rebah
bersamamu mimpi buruk
sama indahnya dengan mimpi
indah
itulah sababmusabab
kuwajibkan atas diriku
merindumu
kaulah yang halal
dan baik
kaulah yang tinggi tapi
tak luput dari jangkauan
halalkan diriku
bagimu
teguk habis anggur
yang dahulu kaudamba
Thursday, February 19, 2009
doa si pengantar comro
akan membawa manfaat bagi banyak orang
kumohon jangan Kau tunda turunnya hingga siang
namun jika turunnya hujan siang nanti
akan membawa banyak manfaat bagi lebih banyak orang
kumohon ya Tuhan boleh kiranya Kau tunda turunnya pagi ini
karena aku akan mengantar sesuatu untuk mereka tercinta
pagi ini
dengan doa apa yang kubawa dapat membawa berkah dan
menghapus segala dosa
seperti hujan
yang Kau turunkan ke bumi
Monday, February 16, 2009
pujian, diam dan konteks dari segala sesuatu
Dengan lemah lembut Imam Khomeini menjelaskan kepada istrinya bahwa pujian kepada salah satu pembantunya itu tidak baik jika didengar oleh pembantunya yang lain.
"Yang kau ucapkan itu termasuk berghibah, karena pelayan yang lain bisa mendengar ucapanmu. Ia akan menafsirkan bahwa kau mengatakan ia tidak baik. Itulah sebabnya ucapanmu termasuk ghibah," ucap sang Imam.
Apakah kejadian di atas berarti Imam Khomeini tidak suka memuji? Tidak juga. Karena Imam sering memuji istrinya. Pernah suatu kali salah seorang putri Imam Khomeini mengatakan bahwa ibunya beruntung karena memiliki suami seperti dia. Menanggapi ucapan itu Imam mengatakan,
"Aku yang beruntung mendapat istri seperti dia. Tak seorang pun mengorbankan
hidupnya seperti dia. Jika kau seperti Khanom (istri Imam), kau pun akan sangat
disayangi suamimu."
Tapi, Imam bukan tipe orang yang mengumbar pujian. Dia memberikan pujian kepada orang yang benar-benar layak mendapatkannya dan pada waktu yang benar-benar tepat. Imam tidak pernah memuji orang lain atau bersikap ramah terhadap orang lain supaya makin banyak orang yang menyukainya.
"Berhati-hatilah, jangan memperhatikan penampilan luar. Jika kau ingin
menunjukkan pada orang bahwa kau begini atau begitu, itu berarti riya," ucap
Imam suatu saat.
Imam Khomeini sangat menganjurkan agar seseorang benar-benar berhati-hati dalam berkata-kata, memilih kata-kata dan waktu untuk berkata-kata. Seperti kisah-kisah di atas, sikap dan perkataan Imam tidak pernah lepas dari konteks yang terjadi pada saat itu. Perkataan yang benar tapi disampaikan pada yang kurang pas dapat menimbulkan hasil yang tidak diharapkan.
Jika kita belum menemukan kata-kata dan waktu yang baik untuk dikatakan, diam
boleh jadi adalah opsi yang paling baik untuk dipilih.
Kepada putrinya, Imam Khomeini pernah mengatakan,
"jika suamimu kesal, atau ia mengatakan sesuatu padamu karena alasan apa pun,Imam paham benar bahwa kita tidak dapat benar-benar menarik kembali perkataan yang sudah terlanjur terucap karena jika perkataan itu buruk, dia terlanjur membekas di hati orang lain yang terlukai hatinya karena ucapan itu.
atau jika ia berlaku tidak baik, janganlah mengatakan apa-apa saat itu juga,
meskipun seandainya kau benar. Tunggulah hingga ia tenang, baru kemukakan apa
yang ingin kau katakan."
---------
Referensi: "Potret Sehari-hari Imam Khomeini", penerbit Pustaka IIman, Cetakan II, Januari 2007.
Tuesday, February 10, 2009
ma
karena saya tidak punya terlalu banyak itu
jadi kamu tidak bisa nonton dia
padahal saya tahu kamu sangat ingin
maaf ma
karena tidak ada pada diri saya
satu saja yang bisa kamu banggakan
yang bisa kamu ceritakan ke teman-teman
maaf ma
untuk sedikit sekali waktu saya untuk kamu
untuk banyak sekali sakit kamu untuk saya
yang tidak kamu ceritakan ke teman-teman
maaf ma
karena saya yang sering lupa
bahwa cinta kamu tanpa syarat
dari dulu sampai sekarang
untuk saya
maaf ya ma
Friday, January 30, 2009
syair penjual kacang
Berbeda dengan adatnya, sesudah tahiyyat akhir diakhiri dengan salam, Al-Habib langsung membalikkan tubuhnya, menghadapkan wajahnya kepada para jamaah dan menyorotkan matanya tajam-tajam.
”Salah satu dari kalian keluarlah sejenak dari ruangan ini,” katanya, ”Di halaman depan sedang berdiri seorang penjual kacang godok. Keluarkan sebagian dari uang kalian, belilah barang beberapa bungkus.”
Beberapa orang langsung berdiri dan berlari keluar, dan kembali ke ruangan beberapa saat kemudian.
”Makanlah kalian semua,” lanjut Al-Habib, ”Makanlah biji-biji kacang itu, yang diciptakan oleh Allah dengan kemuliaan, yang dijual oleh kemuliaan, dan dibeli oleh kemuliaan.”
Para jamaah tak begitu memahami kata-kata Al-Habib, sehingga sambil menguliti dan memakan kacang, wajah mereka tampak kosong.
”Setiap penerimaan dan pengeluaran uang,” kata Al-Habib, ”hendaklah dipertimbangkan berdasarkan nilai kemuliaan. Bagaimana mencari uang, bagaimana sifat proses datangnya uang ke saku kalian, untuk apa dan kepada siapa uang itu dibelanjakan atau diberikan, akan menjadi ibadah yang tinggi derajatnya apabila diberangkatkan dari perhitungan untuk memperoleh kemuliaan.”
”Tetapi ya Habib,” seseorang bertanya, ”apa hubungannya antara kita beli kacang malam ini dengan kemuliaan?”
Al-Habib menjawab, ”Penjual kacang itu bekerja sampai nanti larut malam atau bahkan sampai menjelang pagi. Ia menyusuri jalanan, menembus gang-gang kota dan kampung-kampung. Di malam hari pada umumnya orang tidur, tetapi penjual kacang itu amat yakin bahwa Allah membagi rejeki bahkan kepada seekor nyamuk pun. Itu taqwa namanya.
Berbeda dari sebagian kalian yang sering tak yakin akan kemurahan Allah, sehingga cemas dan untuk menghilangkan kecemasan dalam hidupnya ia lantas melakukan korupsi, menjilat atasan serta bersedia melakukan dosa apa pun saja asal mendatangkan uang.”
Suasana menjadi hening. Para jamaah menundukkan kepala dalam-dalam. Dan Al-Habib meneruskan, ”Istri dan anak penjual kacang itu menunggu di rumah, menunggu dua atau tiga rupiah hasil kerja semalaman. Mereka ikhlas dalam keadaan itu. Penjual kacang itu tidak mencuri atau memperoleh uang secara jalan pintas lainnya. Kalau ia punya situasi mental pencuri, tidaklah ia akan tahan berjam-jam berjualan.”
”Punyakah kalian ketahanan mental setinggi itu?” Al-Habib bertanya, ”Lebih muliakah kalian dibanding penjual kacang itu, atau ia lebih mulia dari kalian? Lebih rendahkah derajat penjual kacang itu dibandingkan kalian, atau di mata Allah ia lebih tinggi maqam-nya dari kalian? Kalau demikian, kenapa di hati kalian selalu ada perasaan dan anggapan bahwa seorang penjual kacang adalah orang rendah dan orang kecil?”
Dan ketika akhirnya Al-Habib mengatakan, ”Mahamulia Allah yang menciptakan kacang, sangat mulia si penjual itu dalam pekerjaannya, serta mulia pulalah kalian yang membeli kacang berdasar makrifat terhadap kemuliaan…” – salah seorang berteriak, melompat dan memeluk tubuh Al-Habib erat-erat.
1987 (Emha Ainun Nadjib)
Diambil dari Somewhere Over the Rainbow.
munajat kami
Friday, January 16, 2009
cantik itu...
cantik itu manis... tutur katanya.
cantik itu halus... perangainya.
cantik itu tinggi... budi pekertinya.
cantik itu baik... prasangkanya.
cantik itu indah... perspektifnya.
cantik itu lurus... niatnya.
cantik itu berkilau... kesederhanaannya.
cantik itu murah... senyumnya.
cantik itu mahal... cemberutnya.
cantik itu mudah... maafnya.
cantik itu susah... marahnya.
cantik itu banyak... syukurnya.
cantik itu sedikit... butuhnya.
cantik itu dekat... kasihnya.
cantik itu jauh... bencinya.
cantik itu sempurna...
...dalam ketidaksempurnaannya.
cantik itu mengetahui...
...bahwa dia tidak cantik.
cantik itu mengetahui...
...bahwa kecantikan bukanlah segala-galanya.
cantik itu mengetahui...
...bahwa kecantikan bukanlah tujuan.
cantik itu mengetahui...
...bahwa kecantikan adalah alat
untuk membagi sebanyak mungkin
kebaikan bagi sebanyak mungkin orang.
Monday, January 05, 2009
not available
Jalan sendiri bukan berarti tidak sudi ditemani. Tidak ada satu pun jendela messenger yang terbuka bukan berarti tak mau memulai berbincang. Begitupun, tangan diam tak menulis tak mesti berarti hati berhenti merasa.
Diam bukan karena tidak ingin berkata-kata. Memalingkan pandang tak perlu diartikan berhenti menatap. Seperti halnya, menutup telinga tidak harus ditafsirkan selesai mendengarkan.
Tidak selamanya kesediaan menunjukkan kesediaan. Di dalam ketidaksediaan ada kesediaan. Seribu satu kata tak pasti mengandung makna. Di dalam diam ada seribu satu makna. Makna atau kata-kata yang kita cari?
Pemberian selamanya adalah pemberian. Pemberian tidak membuat si pemberi menjadi suci. Yang suci adalah perbuatan memberi. Yang suci adalah perbuatan memberi. Wahai pemberi, teruslah memberi, berhentilah menatap mata penerima.
Thursday, December 11, 2008
taman orang-orang yang jatuh cinta dan memendam rindu*
dia inginkan itu untuk sang kekasih
Dia berkata,
aku menyukai apa yang engkau sukai,
dan aku membenci apa yang engkau benci
Hanya melalui sang kekasih
dia mengenal dirinya
Dia berdoa,
Duhai Sumber Segala Cinta,
kehendak dia adalah kehendakku,
penolakkan dia adalah penolakkanku
Sumur dia tak pernah kering
dari mata air baik-sangka kepada sang kekasih
Kerinduan dia adalah demam
yang membuat terjaga malam-siang
Kecemburuan dia menambah garang sakit-rindu
Pena-kitab dia menulis
puji-pujian untuk sang kekasih
Kuas-kanvas dia melukis
merah-merona pipi sang kekasih
Lisan-kata dia mengucap
kebaikan-kebaikan sang kekasih
Dia bermunajat,
Duhai Engkau yang Mahaindah dan mencintai keindahan,
Sungguh telah Engkau perindah kejadian dia,
ku mohon perindah jualah akhlak dia
Duhai Engkau yang Membolak-balikkan hati
tetapkanlah selalu hatiku kepada diin-Mu
juga kepada dia
Kuningan, 11 Desember 2008
--------------------
*Judul diilhami buku "Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu" yang merupakan edisi bahasa Indonesia dari "Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Mustaqin" karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah yang diterbitkan oleh Darul Falah.
Tuesday, December 09, 2008
manfaat dan kesenangan
Bicara memang gampang. Menghadapi situasi yang pernah dihadapi sahabat saya itu ternyata sulit. Dia itu salah satu orang yang gemar menolong sesama. Lebih dari itu, dia juga paling takut melukai perasaan orang lain.
Meski dalam membantu dia tidak pernah berharap pamrih, tapi sebagai manusia biasa dia senang kalau dia beroleh bantuan dari orang-orang di sekitarnya saat dia membutuhkan. Dan sangat manusiawi jika dia sedih ketika itu tidak terjadi.
Saya duga dilema yang dihadapi sahabat saya itu hampir pasti pernah dirasakan setiap orang. Yang lulus ujian adalah mereka yang tidak surut dalam menjadikan dirinya bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang kendati terasa berat dalam melakukan itu. Berat karena dia harus rela (perbuatan baiknya) dilupakan dan, suatu saat, dia ditinggalkan. Berat? Tidak, tapi sangat berat.
Saya sendiri tidak rela perbuatan baik saya dilupakan dan saya merasa terlalu baik untuk ditinggalkan. Tapi, sementara apa yang saya senangi tidak terjadi, apa yang saya tidak senangi malah terjadi.
Syukur saya belum lupa bahwa sangat baik untuk menyenangi apa-apa yang terjadi, jika apa yang kita senangi tidak terjadi. Dan, melalui cara yang paling indah dan tersembunyi, saya sudah dibuat senang oleh sahabat saya itu..
Thursday, November 20, 2008
romantis
Romantis adalah mengorbankan perbuatan-perbuatan baik kita tidak diketahui,Romantis adalah memberikan sekuntum mawar setiap hari kepada seorang gadis buta yang tidak tahu siapa dan seperti apa (wajah) si pemberi mawar itu, dan ketika si gadis buta itu akhirnya dapat melihat, si pemberi mawar tetap tidak membuka identitasnya sebagai si pemberi mawar. Romantis adalah menjadi rahasia itu sendiri, bukan si pemegang rahasia.
bahkan oleh siapa perbuatan baik itu kita tujukan.
Romantis adalah kegilaan atau kepatuhan bagai budak kepada dia yang kitaRomantis adalah penolakan dalam kepatuhan dan kepatuhan dalam penolakan. Romantis adalah memberi kecupan-kecupan kecil di saat sang kekasih sedang lelap dalam tidurnya, terbang bersama mimpinya. Romantis adalah menolak untuk menjadi romantis. Romantis adalah berhenti berkata-kata lagi.
sayangi. Romantis adalah melupakan hasrat untuk menghitung untung-rugi atau
kadang menjaga harga-diri.
Itulah teori saya mengenai romantis. Anda boleh tidak setuju dengan (teori) saya. (Pengertian) kita tidak perlu menjadi sama, dan saya berharap anda berbeda dengan saya. Karena, buat saya, itu juga romantis.
Thursday, November 13, 2008
balas dendam
Tapi, setelah saya pikir-pikir lagi, buat apa balas dendam? Toh, saya tidak sakit-sakit amat. Kalaupun sesaat sakit sekali rasanya, tapi lama-lama sakitnya bisa hilang (terlupakan) juga. Buat apa balas dendam? Toh, semua di dunia ini ada hitung-hitungannya.
Saya juga, anehnya, bukan tipe pemaaf. Saya sering mengatakan, maafkanlah tapi jangan melupakan. Ini tidak boleh sebetulnya. Karena idealnya memaafkan itu satu paket dengan melupakan. Karena buat apa memaafkan tapi masih mengingat-ingat kesalahan orang lain?
Buat saya tidak mudah ya untuk melupakan begitu saja orang yang sudah bikin hati kita babak belur. Memaafkan adalah satu hal, tapi melupakan adalah hal lain lagi. Saya tidak mau melupakan supaya tetap ingat agar tidak jadi korban kejahatan orang itu lagi. Itu pembenaran saya.
Tapi, begitu saya timbang-timbang lagi, baiknya saya lebih sering-sering memaafkan dan melupakan. Karena toh saya ini orang yang pelupa. Jadi, kenapa tidak saya memanfaatkan kelemahan saya yang satu itu untuk hal yang baik?
Bagaimanapun, saya mencadangkan hak saya untuk balas dendam. Jenis balas dendam seperti yang pernah dikatakan Cak Nun, "Seribu kali saya berbuat baik, orang tetap saja mencari-cari keburukan saya. Maka saya balas dendam, seribu kali orang berbuat buruk kepada saya, saya akan mencari-cari kebaikan orang tersebut." Wallahu 'alam.
Thursday, November 06, 2008
mungkin
Si pasti itu tidak selamanya bersahabat. Seseorang yang selama ini kita duga teman kita dan pasti akan membantu kita saat dibutuhkan, ternyata tidak seperti yang kita duga. Sebaliknya, orang lain yang selama ini tidak pernah nempel di pikiran (apalagi di hati) kita dan pasti dia juga tidak peduli sama kita, tidak tahunya malah dia yang rajin membantu kita, dengan atau tanpa kita ketahui, di belakang dan di depan kita. Nah, makanya baiknya jangan terlalu sering menggauli si "pasti" itu.
Satu hal lagi nih yang lumayan penting diungkapkan. Selama ini saya mengira bahwa orang yang paling patut dikasihani adalah dia yang tidak punya teman atau punya sedikit saja teman. Karena orang-orang seperti itu sudah pasti kesepian dan tidak punya orang lain yang bisa diandalkan, dimintakan bantuannya, atau jadi teman berbagi cerita.
Tapi, saya salah banget soal itu. Ternyata orang yang paling wajib dikasihani adalah orang yang menduga dia punya banyak teman, tapi ternyata dia tidak punya satu bijipun. Bagaimana tidak kasihan, wong ketika dia lagi jatuh sejatuh-jatuhnya dan dia pikir akan ada (banyak) orang yang menopangnya, ternyata malah kagak ade. Itu sakitnya dua kali, mas dan mbak. Sakit pertama adalah saat dia tahu tidak ada orang (teman) yang menolongnya, dan yang kedua sakit karena jatuhnya itu. Naudzubillah.
Maka dari itu, oom dan tante, boleh saja kita mengandalkan atau setidak-tidaknya menggantungkan harapan orang lain untuk hadir membantu saat kita butuhkan. Tapi, jangan terlalu mengandalkan dan harapannya sebaiknya tidak digantung terlampau tinggi. Menurut saya, yang paling baik adalah menyiapkan diri kita untuk menjadi penolong bagi diri kita sendiri. Dan tingkat atau kualitas yang lebih tinggi lagi adalah menyiapkan diri untuk membantu orang lain, tidak peduli dia itu teman kita atau bukan.
Teman itu ibarat si pasti dan orang-orang yang bukan teman itu si mungkin-nya. Menggantungkan harapan yang terlalu tinggi kepada teman itu hampir-hampir tergolong sebuah kejahatan karena kerugian yang bisa ditimbulkannya terhadap diri sendiri dan orang lain. Sebaliknya, orang lain yang tidak kita anggap teman itu mungkin jadi teman kita dan sangat-sangat mungkin menjadi penolong kita saat semua orang yang kita anggap teman pasti meninggalkan kita. Mungkin.
Wednesday, October 08, 2008
'tetapi, aku ingin membunuhmu'
Para pendekar perang Quraisy tidak sabar lagi untuk terus-menerus berhenti di luar kota Madinah. Apalagi mereka hanya melakukan pengepungan sambil menunggu akibat-akibat apa yang akan terjadi. Amr bin Abdu-Wud bersama Ikrimah bin Abu Jahal dan Dhirar bin al-Khathab kemudian mencari bagian parit yang paling dangkal lalu mencambuk kuda mereka untuk melintasi parit.
Melihat bahaya sudah di ambang pintu, kaum muslimin segera mengerahkan beberapa orang pasukan berkuda di bawah pimpinan Ali bin Abi Thalib guna membendung gerakan musuh yang melintas daerah pertahanan paling rawan itu.
Amr bin Abdu-Wud terkenal seorang pendekar perang yang berani dan gesit, kepadanya Ali bertanya:
"Hai Amr, kudengar engkau telah bersumpah, jika ada seseorang dari Qureisy yang mengajukan dua pilihan kepadamu, engkau bersedia memilih salah satu di antaranya, bukan?"
"Ya benar," jawab Amr.
"Seakarang engkau kuajak supaya bersedia memeluk Islam serta beriman kepada Allah dan rasul-Nya," kata Ali lebih lanjut.
"Aku tidak membutuhkan itu," sahut Amr.
"Kalau begitu, engkau kuajak duel," kata Ali.
"Apa?" sahut Amr dengan nada meremehkan Ali. "Demi Allah, aku tidak ingin membunuhmu."
"Tetapi, aku ingin membunuhmu," jawab Ali sambil menyerang kuda Amr kemudian dibantai.
Setelah itu, Ali turun dari kudanya, dan terjadilah pertarungan satu lawan satu. Pada akhirnya, Ali berhasil membunuh Amr. Melihat Amr jatuh terkapar, teman-temannya lari terbirit-birit menyeberangi parit kembali.*
----------------------
* Referensi: Muhammad al-Ghazali, Sejarah Perjalanan Hidup Muhammad, Mitra Pustaka, Cet. V, April 2006.
Monday, September 22, 2008
terbuka
Sebagai laki-laki, saya sebetulnya merasa dimanjakan dengan mode pakaian perempuan saat ini. Mode di mana perempuan cenderung memakai pakaian yang serba terbuka. Kalau tidak terbuka bagian atasnya, yah di bagian bawahnya. Kalau tidak kedua-duanya, terbuka di bagian tengahnya. Bahkan tidak jarang ada yang memakai pakaian yang membuka bagian atas, tengah dan bawah tubuh perempuan. Dalam konteks inilah (mata) saya benar-benar dimanjakan.
Baru-baru ini saya juga sempat dibuat pusing dengan kebiasaan berpakaian seseorang yang ada di rumah saya. Saya sempat mau menegur langsung tapi kemudian batal karena ingin mencari momen yang benar-benar pas. Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya momen itu datang juga yaitu saat hatinya sedang riang, atau lebih tepatnya saat sedang berbelanja pakaian.
"Beli saja celana yang itu, bagus karena menutupi sebagian besar kaki kamu. Modelnya santai tuh bisa dipakai di rumah juga. Jadi, kamu tidak perlu lagi mengikuti tren mode para asisten rumah tangga di RT kita yang hobi bercelana agak pendek," kata saya. Orang yang saya ajak bicara tertawa saja. Setelah itu saya berdoa semoga dia menangkap pesan saya.
Sebelumnya, saya pernah mengomentari pakaian seorang teman yang menurut saya terlalu terbuka. Saya tanya kenapa dia berani memakai baju seperti itu ke tempat umum (saya menganggap acara resepsi sebagai tempat umum). Dia bilang pakaian dia sebetulnya tidak terlalu terbuka karena dia menutupnya dengan selendang. Lagipula, kata dia lagi, pakaiannya hanya "agak" terbuka di bagian atasnya, sedang di bagian bawah seluruhnya tertutup.
Saya baru saja menamatkan salah satu buku baik dari Quraish Shihab yang berjudul "Perempuan". Pada salah satu bagian buku itu, diungkapkan salah satu kecemasan (atau mungkin kemarahan) penulis berkaitan dengan tren busana wanita saat ini yang serba terbuka. Penulis menilai sebagian perempuan telah menjadi korban para perancang busana yang hendak membuka seluruh wilayah tubuh (perempuan) yang semestinya tertutup. Penulis juga menilai para perancang itu makin hari terlihat makin bingung dengan hasil karya mereka sendiri. Hal itu, kata Quraish Shihab, antara lain ditunjukkan dengan mode pakaian yang aneh-aneh misalnya, terbuka pada bagian atas, tapi tertutup pada bagian bawah atau sebaliknya. Atau juga, bagian depan tubuh sepenuhnya tertutup, tapi bagian belakangnya habis terbuka.
Saya berterima kasih kepada sahabat yang menasihati agar saya menahan komentar tentang cara seseorang berpakaian. Karena sahabat saya itu mengingatkan saya kembali tentang betapa kuatnya argumen (hujjah) saya untuk melakukan itu (mengomentari pakaian yang terlampau terbuka). Saya pikir kalau seseorang berani memakai pakaian terbuka, dia juga harus berani menerima komentar-komentar dari orang-orang seperti saya (maksudnya, orang yang senang-senang saja melihat perempuan berpakaian terbuka, tapi tidak senang kalau yang memakainya adalah orang-orang dekat). Wallahu 'alam.
Thursday, September 04, 2008
tidak semua keinginan bisa, eh, harus diwujudkan
Belakangan ini, istri iba melihat saya yang sering termenung di depan iklan hape itu di FHM. Tak seperti biasanya, majalah FHM saya kini lecek di bagian iklan hape tersebut, dan bukan di halaman-halaman "menu utama" majalah itu. "Ya sudah nanti beli saja pakai uang THR," kata istri mencoba menghibur. "Ngga lah, bisa-bisa uang THR saya tinggal sedikit kalau buat beli itu. Padahal, banyak keperluan lain yang lebih penting," kata saya berlagak bijak.
Saya sempat melupakan keinginan memiliki hape tersebut walaupun tidak beberapa lama. Saat melintas daerah Slipi, saya melihat iklan hape itu di baliho yang besar sekali. Wah, cinta lama bersemi kembali jadinya. Besoknya saya lewat jalan itu lagi dan lihat baliho itu lagi, "Aduh jadi tambah ingin memiliki," kata saya dalam hati.
Teman saya bilang, hape itu tidak terlalu bagus. Penilaian itu bukan karena dia sudah punya atau tahu dari orang yang sudah memakainya, tapi hanya berdasarkan iklannya. Saya tidak peduli karena sudah terlanjur jatuh cinta. Saya bahkan tidak perlu diyakinkan oleh siapapun lagi kalau hape itu bagus dan wajib dimiliki. Cinta saya sepertinya nyaris irasional.
Tapi, saya tahu kalau tidak semua keinginan harus kita wujudkan, sekalipun kita bisa mewujudkannya. Hidup adalah seni memilah dan memilih mana keinginan yang harus kita wujudkan, mana yang bisa kita kesampingkan, dan mana yang perlu kita kubur dalam-dalam. Keinginan adalah sumber penderitaan, begitu kata Iwan Fals. Itu boleh jadi benar. Dan jangan menganggap semua penderitaan itu sebagai hal yang negatif. Penderitaan adalah bagian dari perjuangan untuk mewujudkan keinginan. Dan hidup adalah perjuangan, begitu kata pak Quraish Shihab tadi subuh di TVRI. Dalam kasus hape ini, saya siap menderita demi menunggu masa yang tepat untuk memilikinya, atau bahkan untuk tidak memilikinya. Insya Allah.
Monday, August 18, 2008
alam
Namanya Alam. Dia boleh dikata sahabat saya. Salah satu yang terbaik. Dari dulu sampai sekarang, Alam nyaris selalu siap saya buat susah. Padahal, dia tidak pernah menyusahkan saya. Sepuluh tahun lebih saya berteman sama Alam. Dari dulu sampai sekarang, Alam selalu bikin saya seolah-olah dia tidak punya teman lain sehebat saya atau sesukses saya. Padahal, saya tidak hebat, apalagi sukses. Alam tidak pernah mengungkapkan kesedihan dia di depan saya. Bahkan, dia baru menceritakan kepada saya soal ibundanya yang wafat setelah berbulan-bulan kemudian. Orang macam apa yang tidak mengetahui musibah yang sedang menimpa sahabatnya? Sahabat macam apa saya? Tapi, Alam tidak pernah ambil pusing. Itu sifat dia. Tidak mau menyusahkan orang lain. Alam tidak pernah satu kalipun menempatkan saya di posisi di mana saya harus memilih di antara dua atau lebih pilihan sulit. Alam tidak pernah mau bikin orang lain pusing. Itu kebiasaan dia. Saya pusing kenapa Alam masih mau berteman dengan saya. Padahal, saya gagal dalam banyak ujian untuk menjadi teman apalagi sahabat yang baik. Saya heran kenapa saya malah getol mencari orang-orang lain macam Alam untuk saya jadikan sahabat daripada berpikir bagaimana menjadi Alam bagi teman-teman yang sudah saya punya. Atau sekadar menjadi Alam untuk Alam.
Tuesday, August 12, 2008
surga
Kemarin pagi, saat sedang mengurus administrasi di loket askes di sebuah RS di Tangerang, saya bertemu dengan seorang bapak yang juga sedang mengurus keperluan yang sama untuk istrinya. Awalnya, saya hanya mendengar secara sambil lalu waktu si bapak berjawab-tanya dengan petugas loket askes.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang istimewa dari tanya-jawab antara sang bapak dengan petugas loket askes. Dari dialog antara keduanya, saya jadi tahu bahwa istri sang bapak baru saja melahirkan anak keduanya lewat operasi. Awalnya, saya juga tidak terlalu memerhatikan betapa selama berbicara wajah sang bapak terlihat murung (ekspresi yang lumrah ditemui di RS di mana saja).
"Istri Bapak meninggal jam berapa?" pertanyaan sang petugas itulah yang bikin saya terkejut. Saya langsung melihat ke wajah sang bapak yang sejak tadi berdiri persis di sebelah kanan saya. "Jam sembilan tadi," jawab si bapak. Saya lemas dan tidak tahu mesti bagaimana. Akhirnya, saya paksa untuk membuka mulut, "Yang meninggal istri Bapak?" Sang bapak mengiyakan. Saat itu saya bisa melihat lebih jelas ekspresi si bapak. Jelas sekali kalau dia sekuat tenaga menyembunyikan kesedihannya. "Bapak biar sabar ya," ucap saya yang tidak tahu harus bicara apalagi. Sekarang saya tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah itu.
Anaknya selamat meski masih dalam perawatan khusus. Jenazah almarhumah istrinya masih di ruang ICU. Kepada sang petugas si bapak mengatakan kalau dia dan istrinya masuk RS itu pada Minggu sore. Usia kandungan sang istri saat itu delapan bulan. Sang istri memiliki riwayat penyakit yang, menurut si bapak, telah diinformasikan kepada pihak RS di hari pertama mereka masuk.
Lepas dari apapun yang terjadi di meja operasi, saya yakin istri sang bapak itu masuk surga. Saya tidak melihat balasan yang lebih baik dari surga bagi sang ibu yang telah menjaga dengan penuh cinta, kasih dan sayang bayi yang dikandung selama delapan hingga sembilan bulan penuh, siang-malam, sambil berdiri dan duduk, panas dan sejuk, di bawah terik matahari dan guyuran hujan, dalam keadaan kuat dan lemah, saat istirahat dan juga bekerja, dan kemudian wafat ketika berjuang hidup sang bayi dengan hidupnya sendiri... Balasan apalagi yang lebih baik dari surga?
Thursday, July 31, 2008
jangan pelit dong
Sunday, July 13, 2008
’insya Allah, mas’
Pada suatu malam, sepulang kerja, mas Ikan mampir ke ATM untuk menarik uang. Normalnya dua hari sekali, di hari kerja, mas Ikan menarik uang dari mesin yang letaknya tidak jauh dari tempat motornya terparkir itu.
Setelah menarik selembar uang yang menyembul di bagian bawah mesin, mas Ikan kini menunggu struk bukti transaksi. Tidak jarang, bagian ini bisa menjadi sesuatu yang menegangkan buat mas Ikan; melihat deretan angka yang tercetak di secarik kertas itu.
Tak seberapa lama, kertas itupun terjulur keluar dari mesin, dan langsung disambar lembut mas Ikan. Mas Ikan untuk beberapa saat memandang sederet huruf dan angka di kertas putih kecil itu, perhatiannya tertuju pada bilangan-bilangan yang menunjukkan sisa saldo tabungannya. Lalu, dia tersenyum sambil mengucap ’alhamdulillah’.
Saat melangkah keluar dari bilik ATM, mas Ikan menyunggingkan senyum kepada seorang yang sedang berdiri tak seberapa jauh darinya. Mas Ikan berkata, ”Usahakan untuk selalu mengucapkan alhamdulillah setiap kita melihat isi kertas ini, walaupun deretan angkanya mungkin tidak terlalu menyenangkan kita.” Orang yang kebetulan teman sekantor dengan mas Ikan itu balas tersenyum dan bilang, ”Insya Allah, mas.”
***
Pernahkah Anda main film hanya karena uangnya?
Nggak.
Kenapa? Apakah karena Anda nggak ingin pikiran terganggu dan bisa tidur nyenyak?
Karena saya harus bisa bangun dan pergi bekerja. Kita harus punya motivasi yang lebih kuat dari sekadar uang agar kita bisa bangun jam empat pagi, setiap hari, selama beberapa bulan. Uang bukan motivasi yang kuat bagi saya.
Ya karena Anda sudah punya uang. Anda sudah mengeyam kemewahan.
Tapi saya nggak pernah termotivasi karena uang. Pengalaman adalah sesuatu yang menambah kaya hidup saya dan pada akhirnya semua itu mendatangkan uang bagi saya. Tetapi saya nggak pernah termotivasi untuk mengumpulkan uang, atau tergantung kepada uang atau semacamnya. Itu bukan tipe saya.
Bagaimana dengan pekerjaan yang Anda lakukan sebelum terkenal? Pernah kerja di arena permainan bingo, perawat kuda, dan sebagainya. Apakah Anda menikmati itu semua?
Ya, semuanya benar, lho. Kalau itu pekerjaan kita, ya harus kita nikmati. Kalau kita seorang waiter, janganlah kita pergi bekerja sambil bersungut-sungut soal pekerjaan itu. Kalau saya justru mengatakan, ”Oke, teman-teman, mari bekerja,” ha ha! Dan ketika saya menjadi waiter, saya berusaha menjadi waiter terbaik, dan waktu bekerja di tempat Bingo juga demikian. Mungkin kedengarannya klise ya, tapi itulah kenyataannya dan begitulah sifat saya. Apapun yang saya kerjakan, saya berikan yang terbaik.*
*Wawancara FHM dengan Russell Crowe, FHM Juni 2008
Tuesday, July 01, 2008
ya Tuhan kami..
walau Engkau adalah Kebenaran Mutlak,
tapi maaf-Mu selalu mendahului murka-Mu
Ya Tuhan kami,
ampunilah kami
yang jarang sekali menetapi kebenaran,
tapi murka kami selalu mendahului maaf kami
Ya Tuhan kami,
maafkan kami
karena sering ragu dalam memberi maaf,
tapi jarang sekali berpikir panjang untuk melampiaskan murka
Ya Tuhan kami,
dekatkan lah kami senantiasa dengan maaf-Mu,
dan jauhkan lah kami sejauh-jauhnya dari murka-Mu
Ya Tuhan kami,
kasihanilah kami
kasihanilah kami
Ya Tuhan kami,
jadikanlah kami manusia yang sadar akan kekerdilan kami,
kebodohan kami, kelemahan kami,
sehingga kami mudah dan suka memberi maaf
sehingga kami sukar dan takut melampiaskan murka
Sayangilah kami, ya Rabbi..
Tuesday, June 24, 2008
gila
aku gila
gila akan sesuatu yang pantas
digilai
kalaupun menurutmu dia tidak pantas
digilai
kegilaanku kepadanya
cukuplah sebagai buktinya
aku gila
kegilaan yang memaksa ku menceraikan
kewarasanku
atau paling tidak dia telah memaksa
kewarasanku
untuk berbagi dengan kegilaan
sebagai madu
aku gila
tapi jangan kasihani aku
pantaskah mengasihani orang yang
gila cinta?
kasihanilah diri anda sendiri
karena terlalu mencintai
kewarasan dan takut kegilaan
karena cinta!
aku gila
dan jangan mencariku atau
menyembuhkanku
bagaimana anda mencari orang
yang tersesat dalam
dirinya sendiri?
bagaimana anda menyembuhkan
sakit yang tak tersembuhkan
kecuali dengan
sakit itu sendiri?
aku gila
karena memiliki sesuatu yang
tak kubutuhkan
sementara ku membutuhkan
sesuatu yang
tak kumiliki!
aku gila
gila di atas gila
jangan cibir aku
karena belum pernah aku
sewaras ini!
amrie, kuningan, 24 juni 2008
Wednesday, June 18, 2008
yusuf
Kita semua seperti Zulaikha, budak penglihatan dan korban dari penampilan.
Kisah Yusuf adalah "kisah yang paling baik" yang pernah diwahyukan Allah kepada Muhammad Rasulullah (QS. Yusuf: 3). Kisah Yusuf memiliki spektrum luas dan sangat kaya dengan pelajaran. Saya beruntung jika dapat menceritakan kepingan paling kecil dari kisah Yusuf dan mampu mengambil pelajaran yang paling sederhana dari kepingan kisah itu.
Allah menciptakan Yusuf sebagai manusia paling rupawan dari jenis laki-laki. Saya tidak punya referensi yang menerangkan tentang keindahan rupa Yusuf selain dari buku "Yusuf & Zulaikha" karya Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami. Di dalam bukunya, Jami', sufi penyair Persia yang masyhur, melukiskan ketampanan Yusuf sebagai berikut:
"Bagaimana aku dapat menggambarkan daya tarik remaja ini, yang lebih indah bahkan dari malaikat dan bidadari surga? Ia adalah bulan di cakrawala keanggunan yang bercahaya di dalam dan di luar. Bulan? Bukan, matahari yang bersinar! Tetapi bahkan matahari pun hanyalah suatu bayangan udara dari kemegahan sumber abadi, yang suci, cahaya tak bercela di atas segala pembatasan tentang 'apa' dan 'bagaimana'."
Sang pecinta, Zulaikha, adalah putri kesayangan seorang raja yang makmur, berkuasa, dan termasyhur yang bernama Taimus. Sebelum bayangan Yusuf hadir ke dalam mimpinya, hari-hari Zulaikha penuh dengan suka-cita, siang maupun malam. Sebagaimana dilukiskan Jami':
"Tak pernah hatinya tertekan oleh kesedihan paling kecil sekalipun, tak pernah ada duri yang sampai menggores kakinya. Tak pernah ia jatuh cinta, tak pernah pula ia menjadi kekasih seseorang, ia tak peduli akan nafsu seperti itu."
"Zulaikha adalah bintang yang paling cantik pada cakrawalanya, permata yang paling gemerlap dalam kejayaannya. Menangkap kecantikannya saja dalam ucapan dan tulisan seakan mustahil, dan apalagi yang dapat saya katakan pada emas dan permatanya?"
"'Wahai cahaya mataku, wahai suluh yang lembut, yang berkat sinar cahayanya aku tidak memerlukan bulan! Aku tahu tak mempunyai arti di matamu. Di antara semua pelayanmu, akulah budak yang paling rendah, tetapi mengapa engkau tak dapat menaruh belas kasihan kepada seorang perempuan udak yang malang, dan menghibur dalam kesedihannya? 'Tunjukkan kepadaku suatu kebaikan, izinkan aku memuaskan hasratku pada bibirmu. Biarlah hatimu mencair, sekalipun hanya sejenak, dan berikan kembali kepadaku kedamaian pikiranku. Berikanlah sejenak waktu untuk menemaniku, dan saksikanlah keluasan maksud baik yang aku rasakan bagimu."
Zulaikha yang hati telah terbakar cinta menggunakan berjuta cara dan rayuan untuk mendapatkan Yusuf. Tapi, sejuta cara yang digunakan Zulaikha, sejuta penolakan pula yang Yusuf berikan kepadanya:
"Dengarkanlah aku. Engkau yang hati dan jiwanya terbungkuk karena beratnya cintamu kepadaku, apabila pengakuan cintamu sepenuhnya benar seperti cahaya fajar, maka seharusnyalah mengikut bahwa satu-satunya keinginanmu adalah menyesuaikan diri dengan hasratku. Sekarang, yang aku minta kepadamu adalah melayanimu, dan apabila engkau menolak permintaanku ini, maka bukanlah itu cara seseorang mencintai. Hati yang rindu cinta tidak mencari apa-apa kecuali untuk memuaskan si tercinta, kepuasan pribadi sepenuhnya akan dikorbankan ke dalam hasrat untuk menyenangkan (si tercinta)."
Roda zaman kemudian berputar. Keistimewaan Yusuf yang dapat menafsirkan mimpi diketahui oleh raja. Yusuf dibebaskan dari penjara dan setelah berhasil menafsirkan mimpi raja, ia diangkat sebagai Wazir Agung Mesir yang baru. Jauh sebelumnya, di dalam salah satu mimpinya, Zulaikha pernah melihat bayangan Yusuf sebagai Wazir Agung. Mimpi itulah yang membuat Zulaikha datang ke Mesir dan kemudian melamar Wazir Agung yang ternyata bukanlah laki-laki yang dia lihat dalam mimpi. Sementara itu, Wazir Agung yang lama meninggal dunia karena kesedihan tak terkira lantaran kehilangan kekayaan dan jabatan. Nasib Zulaikha hanya sedikit lebih baik dari sang suami. Ia kehilangan segala kekayaannya, tapi tidak ada nestapa lain yang menghancurkan dia kecuali nestapa cinta karena Yusuf yang semakin menghancurkan ruh dan raganya. Jami melukiskan kebangkitan Yusuf, dan keterpurukan Zulaikha dengan sangat indah:
"Karena demikianlah jalan langit dalam kediaman kekecewaan ini: perlahan dalam cinta, cepat dalam kebencian, mengangkat seseorang setinggi matahari yang memuncak, membaringkan yang lainnya terkapar bagai bayangan."
"'Katakan kepadaku, wahai engkau yang bahkan lebih cantik dari bidadari, tidakkah engkau berpikir ini lebih baik daripada yang engkau kehendaki?'
"'Ya!' Jawab Zulaikha. 'Maafkan aku, kepedihan cinta itulah yang menurunkan aku kepada keadaan itu. Hatiku dahulu berada dalam belenggu nafsu yang tanpa batas. Jiwaku disiksa oleh sakit yang tak ada obatnya. Rupamu begitu elok sehingga setiap saat melemparkan perasaan ke dalam gejolak yang bahkan lebih besar. Hal itu lebih besar daripada yang dapat aku tanggung. Maka aku memohon kepdamu untuk menarik ampun atas kejahatanku. Bagaimana mungkin si tercinta menghina si pencinta demi kata-kata yang timbul dari cinta yang mutlak?'"
Referensi:
Hakim Nuruddin Abdurrahman Jami, "Yusuf & Zulaikha", penerjemah, M. Hasyim Assagaf, Penerbit Lentera, Edisi Revisi, Cet. 1, 2002.
Tuesday, June 10, 2008
abtar
Kemudian Allah menganugerahi kami seorang putri. Keluarga besar kami bersyukur. Apalagi kedua orangtua saya yang punya tiga orang anak dan semuanya laki-laki. Beberapa tahun kemudian, saya dan istri pun kembali menerima pertanyaan yang umum dialamatkan pasangan yang baru punya anak satu, "kapan nih tambah satu lagi?" Pertanyaan ini tidak terlalu berat, jadi kami bisa menjawab dengan santai, "nanti lah tunggu yang pertama agak besar".
Kemudian Allah memberkahi kami kembali dengan seorang putri. Keluarga besar kami semakin bersyukur. Memang ada yang berharap anak kedua kami akan berjenis kelamin laki-laki, tapi saya dan istri tidak pernah berharap seperti itu. Doa dan harapan saya dan istri sejak awal kehamilan anak kedua (dan juga anak pertama dulu) adalah supaya anak kami akan terlahir sehat, apapun jenis kelaminnya.
Tapi, rupa-rupanya keluarga yang punya anak yang semuanya perempuan bukan dianggap sebuah prestasi. Bahkan, seorang tetangga yang juga punya dua orang putri seoleh-olah tidak bangga dengan itu. "Itu (punya dua anak perempuan) sih bukan alhamdulillah, pak Amrie," begitu katanya kurang lebih. Saya kaget juga waktu dengar itu, tapi kemudian saya pikir dia hanya bersikap merendah.
Sepertinya (komentar) tetangga saya itu mewakili persepsi umum di masyarakat bahwa anak laki-laki lebih unggul daripada perempuan. Kemudian, ada juga satu-dua orang yang menafsirkan karunia anak perempuan sebagai "hukuman" buat ayahnya. Mereka yang menganut tahayul ini biasanya mengatakan, "Lo sih suka begini-begitu sama perempuan, jadi lo dikasih anak perempuan."
Persepsi-persepsi masyarakat umum seperti di atas memang tidak muncul begitu saja. Pasti ada penyebabnya, ada sejarahnya, dan itu tidak terlepas dari budaya serta tingkat pendidikan masyarakat yang bersangkutan. Persepsi bahwa anak laki-laki lebih unggul adalah warisan budaya kerajaan di mana anak laki-laki adalah putra mahkota penerus dinasti. Kalau seorang raja hanya punya anak perempuan dan tidak punya anak laki-laki, maka dianggap terputuslah garis keturunannya dan mahkota dialihkan kepada pihak lain, bukan kepada sang putri.
Itu sedikit banyak mengingatkan saya pada ejekan kaum musyrikin Mekkah kepada Rasulullah yang tidak memiliki anak laki-laki. Seperti diketahui, kaum musyrikin sangat membenci Nabi karena dakwah yang beliau sampaikan. Mereka juga melakukan berbagai cara untuk menghentikan atau mengganggu dakwah Nabi, mulai dari ejekan hingga kekerasan. Salah satu ejekan dari kaum musyrik kepada Nabi adalah "abtar" atau terputus karena mereka menganggap keturunan Nabi terputus karena beliau tidak memiliki anak laki-laki. Peristiwa itu menjadi sebab turunnya surat Al-Kautsar (nikmat yang melimpah ruah). Dalam salah satu ayat surat tersebut Allah berfirman kepada Nabi Muhammad, "innasyani'aka huwal abtar", "Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu (Muhammad) dialah yang terputus (keturunannya)."
Anak perempuan juga bukan hukuman bagi dosa atau kesalahan yang mungkin dilakukan orang-tuanya, entah itu ayah atau ibunya. Dalam agama saya, seseorang hanya menanggung dosa atau kesalahan yang dia perbuat. Artinya, tidak ada istilah dosa yang diturunkan kepada anak atau cucunya. Setiap bayi terlahir suci dan dia adalah amanah sekaligus anugerah bagi kedua orang tuanya, laki-laki maupun perempuan.
Tapi, mungkin saja saya salah. Mungkin saya terlalu merisaukan hal yang sepele. Karena, boleh jadi kalau kedua anak saya berjenis kelamin laki-laki, orang-orang malah akan mengatakan, "tinggal anak ceweknya nih." Jadi, mungkin sebagian orang berpandangan, keluarga itu lebih komplit kalau ada anak laki-laki dan perempuan.
Di atas itu semua, yang menurut saya lebih penting adalah, kita tidak perlu terlalu merisaukan omongan yang kurang bermanfaat. Jangan sampai omongan yang bermutu rendah dari satu-dua orang membuat kita melupakan nikmat melimpah ruah yang Allah berikan kepada kita dan keluarga. Wallahu 'alam.
Wednesday, June 04, 2008
si buyung
"Saya akan mundur saja, Mas," kata si Buyung tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya saya, setengah kaget.
"Kayaknya dia semakin mengambil jarak. Lagipula, dugaan saya sebelumnya sepertinya makin benar. Dia sedang dekat dengan orang lain. Dari 'kasta' yang lebih tinggi," ucap Buyung sambil tersenyum.
"Ya, sudah. Mungkin lebih baik begitu," kata saya. Melihat dia sepertinya masih berharap ada lanjutan dari kalimat saya sebelumnya, saya kemudian melanjutkan, "maksud saya, baiknya sampeyan mundur dengan pertimbangan mungkin itu akan membuat dia lebih bahagia. Tapi, jangan mundur cuma gara-gara ada saingan, sekalipun dari 'kasta' yang lebih tinggi."
"Tapi, apa Mas masih mau bantu saya?" Ah, si Buyung menagih janji saya sebelumnya.
"Itu dia, dik Buyung. Dalam perjalanan ke sini, saya sempat berpikir kalau saya mungkin tidak bisa membantu. Dulu saya menawarkan bantuan cuma bermodal semangat, niat baik. Saya sadar, saya tidak punya kemampuan untuk membantu. Kalau cuma punya niat tapi tidak punya kemampuan, itu malah tidak akan membantu," saya berkelit dengan susah payah.
"Mas pasti bisa bantu saya," Buyung meyakinkan saya.
Saya berpikir sebentar. Bagaimanapun saya merasa bersalah karena sudah mengucap janji. "Saya cuma bisa menulis, dik Buyung," kata saya akhirnya.
"Jadi, Mas akan buat tulisan soal masalah yang saya hadapi?" Pertanyaan Buyung, buat saya, lebih terdengar sebagai pernyataan daripada pertanyaan.
"Saya usahakan," sambut saya, masih agak ragu.
Malam itu, si Buyung dan saya kemudian menghabiskan sisa makanan dan minuman yang tersisa di meja, sebelum akhirnya kami pergi meninggalkan warung.
Abu Dzar adalah salah satu sahabat yang ikut ekspedisi ke Tabuk bersama Rasulullah Saw dan para pasukannya. Perjalanan ke Tabuk (400 mil di utara Madinah) kala itu teramat berat di tengah panas padang pasir yang membara. Di tengah jalan, tiga orang, satu demi satu, tercecer di belakang, dan setiap kali ada yang tercecer, Nabi diberi tahu, dan setiap kali itu Nabi berucap: "Jika ia orang baik, Allah akan mengembalikannya; jika ia orang tidak baik, lebih baik ia pergi (tidak menyusul)."
Unta Abu Dzar yang kurus dan lemah terbelakang, dan dia pun tertinggal di belakang. "Ya Rasulullah, Abu Dzar juga tercecer!" ujar salah seorang sahabat. Nabi pun mengulangi kalimat yang sama: "Jika ia orang baik, Allah akan mengembalikannya; jika ia orang tidak baik, lebih baik ia pergi."
Pasukan itu terus maju, dan Abu Dzar makin tercecer tetapi tak ada yang dapat dilakukannya; binatang tunggangannya itu tetap tak berdaya. Apa pun yang ia lakukan, untanya tak juga bergerak, dan kini ia telah tertinggal beberapa mil di belakang. Ia membebaskan untanya, lalu memikul sendiri muatannya. Dalam suhu terik itu ia meneruskan perjalanan di gurun panas. Ia serasa akan mati kehausan. Ia menemukan tempat berteduh pada batu-batu yang terlindung panas oleh bukit. Di antara batu-batu itu ada sedikit air bekas hujan yang menggenang, tapi ia berniat tidak akan meminumnya mendahului sahabatnya, Rasulullah Saw. ia mengisi air itu ke dalam kantong kulit (kirbat), memikulnya, dan bergegas menyusul kaum muslim yang telah jauh di depan.
Di kejauhan, pasukan muslim melihat suatu sosok. "Ya Rasulullah! Kami melihat suatu sosok menuju ke arah kita!"
Beliau Saw berucap semoga sosok itu adalah Abu Dzar. Sosok itu makin dekat, dan memang itu Abu Dzar, tetapi tenaga yang terkuras dan dahaga serasa mau mencopot kakinya. Nabi Saw khawatir ia akan roboh. Nabi Saw menyuruh agar Abu Dzar secepatnya diberi minum, tapi Abu Dzar berkata dengan suara serak bahwa ia mempunyai air. Nabi Saw berkata: "Engkau mempunyai air, tetapi engkau hampir mati kehausan!"
"Memang ya Rasulullah! Ketika saya mencicipi air ini, saya menolak meminumnya sebelum sahabatku, Rasulullah," ucap Abu Dzar.*
=============
*Dinukil dari Murtadha Muthahhari, "Karakter Agung Ali bin Abi Thalib", dari "Bihar al-Anwar".
Monday, May 26, 2008
menyesal
~ Michael Learns to Rock
Kalau kita tidak bisa menghibur hati orang lain, setidak-tidaknya kita tidak melukai hati mereka. Itulah prinsip yang selama ini sedapat mungkin saya jalankan. Tapi, prinsip tinggal lah prinsip, sudah tidak bisa menyenangkan, saya malah melukai hati orang lain. Seperti yang saya lakukan baru-baru ini.
Dengan maksud berguyon, kepada seorang teman saya mengatakan sesuatu yang -- saya sendiri tahu itu -- tidak pantas saya katakan. Cuma dibutuhkan beberapa detik untuk mengeluarkan kata-kata itu, tapi berhari-hari saya menyesalinya. Untuk itu, saya minta maaf kepada yang bersangkutan. Alhamdulillah, dia mau memaafkan saya.
Kejadian itu membuat saya sadar bahwa perbuatan tidak menyakiti hati orang lain itu lebih sulit daripada menghibur orang lain. Seperti halnya kegiatan mencegah dari perbuatan buruk (nahi munkar) mungkin lebih sulit daripada menyeru kepada sesuatu yang baik (amar ma'ruf).
Tidak terlalu sulit buat kita untuk mengetahui hal-hal atau perbuatan-perbuatan apa yang bisa menyenangkan hati orang lain. Tapi, mungkin kita akan terus meraba-raba untuk mengetahui cara agar perbuatan dan perkataan kita tidak melukai hati orang lain.
Kita selalu punya banyak alasan untuk menyenangkan hati orang lain. Tapi, kita tidak punya sedikitpun alasan untuk melukai hati mereka. Tidak ada sama sekali.
Thursday, May 22, 2008
'..akan tetapi tidak ada nabi setelahku'
Dari sisi Nabi, keputusan beliau menunjuk Ali untuk menjaga Madinah adalah keputusan besar. Pertama, karena hal demikian berarti Nabi akan kehilangan salah satu pejuang paling tangguh untuk memperkuat pasukannya di Tabuk. Kedua, hal demikian menandakan bahwa Rasulullah lebih membutuhkan Ali untuk mempertahankan stabilitas keamanan dan politik dalam negeri (Madinah).
Pada waktu itu, Madinah memang masih rawan dari rongrongan kaum munafik (hipokrit/muka dua). Golongan munafik ini adalah salah satu musuh yang bagai duri dalam daging bagi kaum muslim di Madinah. Terhadap mereka, Rasulullah mengambil sikap yang sangat hati-hati karena di satu waktu mereka menunjukkan wajah islam mereka, tapi di lain waktu -- terutama di belakang Nabi -- barulah tampak wajah jahat mereka.
Kaum munafik telah menyusun rencana untuk menggoyang stabilitas Madinah seperginya Rasulullah bersama pasukan muslim ke Tabuk. Rasulullah yang mengetahui rencana buruk mereka itu kemudian memerintahkan Ali yang merupakan salah satu sahabat utama sekaligus anggota keluarga beliau untuk mengamankan Madinah dari upaya makar kaum munafik. Pemilihan Ali untuk menjaga Madinah adalah langkah yang sangat tepat mengingat banyaknya keutamaan beliau, terutama dalam hal keberanian dan kebijaksanaannya.
Kehadiran Ali di Madinah di saat Nabi SAW dan sebagian besar kaum muslimin pergi ke Tabuk telah mengacaukan rencana kaum munafik. Karenanya, mereka menebar isu miring bahwa Rasul tidak lagi memerlukan Ali dalam perang Tabuk karena perjalanannya yang panjang dan panas yang membakar. Mereka juga menebar kasak-kusuk bahwa Ali meminta untuk tinggal di Madinah dengan anak-anak kecil dan kaum wanita di saat semua orang pergi menanggung kesusahan ke Tabuk.
Mendengar isu itu Ali mengejar Nabi SAW sampai ke daerah Juhfah yang terletak beberapa kilometer dari kota Madinah. Kepada utusan Allah itu, Ali menyampaikan isu yang beredar di Madinah. Berikut kronologisnya seperti dituturkan Imam Bukhari dalam salah satu sahihnya:
"Bahwasanya Rasulullah saw berangkat menuju tabuk dan mengangkat Ali ra sebagai penggantinya di Madinah. Lalu Ali berkata, 'Apakah engkau mengangkatku untuk mengurusi anak-anak dan wanita? Beliau saw bersabda, 'Tidakkah engkau rela (wahai Ali), bahwa kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun terhadap Musa? Akan tetapi, tidak nabi setelahku.'"
Pada insiden di atas mungkin timbul kesan bahwa Ali hendak mempertanyakan perintah Rasulullah kepadanya dan tidak rela dengan hal itu. Saya berpendapat bahwa pertanyaan Ali bukan dimaksudkan agar Rasulullah mengoreksi perintah beliau sebelumnya. Bukan pula karena Ali merasa "dikecilkan" dengan perintah tersebut atau menganggap tugas "mengurusi anak-anak dan wanita" adalah hal yang sepele.
Insiden tersebut, menurut saya, menunjukkan betapa dahsyatnya isu yang ditiupkan oleh kaum munafik di Madinah sehingga Ali merasa perlu mendapat penegasan atau konfirmasi dari Rasulullah (mengenai ketidakbenaran isu tersebut). Di sisi lain, Ali juga perlu penegasan dari Rasulullah bahwa penunjukkan dia untuk menjaga Madinah dan tidak ikut dalam Perang Tabuk bukan karena permintaan Ali sendiri dan bukan juga lantaran dia takut (berperang).
Jawaban Rasulullah terhadap pertanyaan Ali meskipun singkat, tapi sangat tegas dan bermakna dalam. Hadis Rasulullah di atas termasuk apa yang dikenal sebagai jawami' al kalim (ucapan ringkas, tapi padat maknanya). Jawaban (retorika) Rasulullah kepada Ali tersebut mungkin dianggap tidak menjawab pertanyaan Ali. Tapi yang terjadi adalah sebaliknya, itulah jawaban paling fasih yang menjawab inti dari pertanyaan Ali.
Seperti diketahui, Harun adalah kakak kandung Nabi Musa. Kisahnya di dalam Al-Qur'an selalu disebut bersama dengan kisah adiknya itu. Harun diangkat oleh Allah Swt. menjadi nabi dan rasul untuk membantu tugas kerasulan Nabi Musa. Ia mendampingi Nabi Musa menemui Fir'aun untuk meminta agar Fir'aun melepaskan Bani Israil dari perbudakan. Harun memiliki kemampuan berbahasa lebih fasih daripada adiknya. Karena itu, Musa memohon kepada Allah Swt. agar mengutus Harun mendampinginya menemui Fir'aun. Permohonan itu dimaksudkan untuk membenarkan kata-kata yang disampaikan Musa, karena ia khawatir Fir'aun akan mendustakannya.
Maksud ucapan Rasulullah kepada Ali bahwa "kedudukanmu di sisiku sebagaimana kedudukan Harun terhadap Musa", menurut saya, adalah Ali merupakan pembantu Rasulullah dalam tugas-tugas kerasulan beliau saw. Hadis di atas juga menunjukkan keutamaan Ali di mata Rasulullah, terutama pada kalimat, "Akan tetapi, tidak nabi setelahku".
Demikian sepenggalan kisah yang sekali lagi melukiskan keagungan pribadi Nabi dan kebijaksanaan di balik apa-apa yang beliau lakukan dan ucapkan. Satu lagi barangkali, kisah di atas juga menunjukkan keutamaan Ali dalam perjuangan dan dakwah awal Islam. Wallahu 'alam.
Monday, May 19, 2008
the philosophy of losing
Dengan rumus yang sama, kita juga dapat melihat kekalahan melalui perspektif atau cara pandang yang lebih luas. Kalah memang tidak enak, tapi itu bukan berarti tidak ada yang enak yang dapat kita nikmati dari kekalahan. Menang mungkin sedap rasanya, tapi menang terasa lebih lezat jika kita sudah pernah mengecap rasa kekalahan.
Filosofi kekalahan dengan sangat baik diungkapkan dalam film yang menawan berjudul 'A Good Year'. Dalam sebuah adegan film itu dikisahkan seorang kakek mencoba menghibur cucunya yang baru saja ia kalahkan dalam pertandingan tenis di salah satu sudut rumahnya. Sang kakek mengatakan begini kurang lebih, "Kamu akan belajar bahwa seorang pria tidak belajar apa-apa dari kemenangan. Kekalahan, bagaimanapun juga, dapat melahirkan kebijaksanaan yang besar. Salah satunya adalah bahwa menang itu jauh lebih menyenangkan dari pada kalah. Hal yang lumrah jika sekali-dua kali kita mengalami kekalahan. Rahasianya adalah jangan menjadikan hal itu sebagai kebiasaan."
Saya melihat bahwa apa yang dikatakan sang kakek kepada cucunya itu merupakan hal yang indah. Dengan ungkapan yang cukup fasih, dia menyampaikan dua hal yang sama sekali berlawanan tapi di saat yang sama, begitu berkelindan, yaitu betapa enak dan tidak enaknya kalah; "Kekalahan, bagaimanapun juga, dapat melahirkan kebijaksanaan yang besar. Salah satunya adalah bahwa menang itu jauh lebih menyenangkan dari pada kalah".
Jadi, tanpa perlu mengubah tekad dan upaya kita untuk terus unggul dalam bidang-bidang yang kita kuasai, kita juga perlu terus mengingat bahwa kalah-menang bukanlah tujuan hakiki kita. Karena buat apa kemenangan yang dicapai melalui cara-cara orang kalah? Dan, hal mana yang lebih manis daripada kekalahan yang didapat setelah usaha dan doa yang maksimal? Kemenangan belum tentu membawa kebahagiaan dan kekalahan tidak harus ditanggapi dengan kesedihan. Wallahu 'alam.
Tuesday, May 13, 2008
berkorban
Derajat tertinggi pengorbanan adalah mengorbankan sesuatu yang sangat berharga buat kita. Dinamakan pengorbanan karena kita merelakan milik kita yang masih kita butuhkan untuk orang lain. Bukan pengorbanan namanya kalau yang kita lepas itu bukan sepenuhnya milik kita. Tidak pas juga disebut pengorbanan kalau yang kita "korbankan" itu sudah tidak berharga atau kita butuhkan.
Saat berkorban kadang kita merasa berat hati. Tapi, itu tidak selalu menandakan kita tidak ikhlas dalam berkorban. Kadang itu dapat dilihat sebagai bentuk lain dari kelezatan berkorban. Meski berat bagi kita untuk memberi, tapi kita tetap memberi. Lagipula, yang namanya ikhlas itu tidak mudah didefinisikan. Ikhlas hanya bisa dicapai dengan latihan dan mengulang-ulang perbuatan berkorban.
Setiap kita berkorban, kita mengorbankan sedikitnya dua hal. Satu, mengorbankan hasrat atau keinginan untuk terus memiliki (dan menikmati) milik kita. Kedua, mengorbankan keinginan atau harapan agar pengorbanan kita itu mendapatkan balasan dari orang lain (terutama dari orang yang menerima pengorbanan kita). Dengan kata lain, kita perlu menahan diri untuk berharap (apalagi meminta) agar orang lain mau berkorban untuk kita.
Banyak harta seringkali tidak berbanding lurus dengan kemampuan seseorang untuk berkorban. Tidak jarang orang yang sedikit hartanya malah lebih gemar berkorban daripada orang yang berlimpah hartanya. Boleh jadi itu karena hati orang yang disebut pertama lebih tidak terikat dengan harta daripada (hati) orang yang disebut terakhir. Berkorban adalah jurus sakti untuk mengikis kecenderungan hati kita untuk terlalu mencintai harta-benda.
Sampai saat ini, saya ibarat murid taman kanak-kanak dalam mata pelajaran "berkorban". Pengorbanan saya juga hampir pasti belum sampai derajat ikhlas karena jarangnya saya berlatih berkorban. Semoga saya selalu menyadari kebodohan saya dalam pelajaran ini sehingga saya makin rajin berlatih, dan bertambahnya ilmu dalam pelajaran ini tidak membuat saya mengurangi latihan berkorban.
Friday, May 02, 2008
munajatku
Sehingga aku terhindar dari keburukan-keburukannya.
Ya Tuhanku, tampakkanlah kepadaku, keburukan-keburukanku,
Sehingga aku tidak terhalang untuk dapat meraih kebaikan-kebaikannya.
Ya Tuhanku, sembunyikanlah dariku, keburukan-keburukan orang-orang selain aku,
Sehingga aku dapat melihat kebaikan-kebaikan mereka.
Ya Tuhanku, tampakkanlah kepadaku, kebaikan-kebaikan orang-orang selain aku,
Sehingga aku dapat terhindar dari keburukan-keburukan mereka.
============
*Catatan: Tulisan sebagaimana terbaca di atas pertama kali ditampilkan pada 1 Mei 2008 dan telah mengalami revisi pada 6 Mei 2008.
Wednesday, April 30, 2008
friends and foes
"No matter how good you are, don't ever let them see you coming. That's the gaffe, my friend. You gotta keep yourself small. Innocuous. Be the little guy. You know, the nerd... the leper... shit-kickin' surfer. Look at me."
Berdasarkan pengalaman hidup sejauh ini, makin hari saya makin mengerti betapa pentingnya menjaga perkataan kita. Selain kita harus berhati-hati memilih setiap kata yang akan kita ucapkan, kita juga perlu benar-benar memerhatikan kepada siapa kata-kata itu kita ucapkan.
Dari pengalaman hidup sejauh ini, saya juga berkali-kali menemukan bukti betapa benarnya anjuran agar kita tidak mencintai seseorang kecuali sekadarnya saja karena suatu saat mungkin kita akan membenci dia, dan tidak membenci seseorang kecuali sekadarnya saja, karena suatu saat mungkin kita akan mencintai dia. Beruntunglah jika kita belum pernah membenci orang yang dahulu teramat sangat kita cintai, atau sebaliknya mencintai orang yang dahulu kita benci.
Kita sepertinya juga perlu meninjau ulang mengenai siapa saja "orang-orang yang PALING PERLU diwaspadai" dan "orang-orang yang PALING TIDAK PERLU diwaspadai". Saya pribadi berpendapat bahwa "orang-orang yang PALING TIDAK PERLU diwaspadai" JAUH LEBIH PERLU diwaspadai daripada "orang-orang yang PALING PERLU diwaspadai". Bukankah musuh yang paling berbahaya adalah yang (kita anggap) paling dekat dengan kita?
Sepertinya, kita juga perlu mewaspadai orang-orang yang memiliki kepatuhan yang melampaui batas-batas yang wajar kepada kita, orang-orang yang (mempertontonkan secara gamblang) kecintaan mereka yang berlebih-lebihan kepada kita. Orang-orang yang demikian, menurut hemat saya, tidak kalah berbahayanya daripada orang-orang yang sering menunjukkan oposisi, penentangan mereka kepada kita. Kelompok yang disebut pertama cenderung melengahkan, dan yang terakhir justru membuat kita selalu terjaga. Wallahu 'alam.
Monday, April 28, 2008
signature
Banyak bos yang punya gaya atau pembawaan khas yang dirasakan nyaman oleh para bawahannya. Tapi, tidak sedikit juga bos yang punya gaya atau pembawaan yang sulit untuk diterima dengan baik oleh para bawahannya. Mungkin jenis bos yang disebut terakhir itulah yang paling sering dihindari kebanyakan orang. Apalagi, yang namanya signature atau pembawaan, pada umumnya sangat sulit untuk diubah.
Teman saya yang tadi itu juga bilang, kalau ada bawahan yang tidak bisa menerima gaya kepemimpinan dari bosnya itu, sebaiknya dia bersabar, karena siapa tahu bosnya itu akan berubah. Dan, kalau bosnya itu masih belum berubah dan si bawahan sudah tidak tahan dengan dia (karena itu memang sesuatu yang hampir mustahil berubah), sang bawahan setidaknya punya dua pilihan; (belajar) menerima dengan tanpa syarat gaya bosnya itu, atau keluar dari kantor tersebut.
Sementara itu, teman saya yang lain menceritakan pengalamannya memiliki bos yang barangkali memenuhi syarat untuk disebut "bos baik hati". Baik hati karena bosnya sering mentraktir makan bawahannya, kapan saja kalau diminta. Saya sendiri tidak tahu apakah itu dilakukan oleh sang bos karena pembawaannya yang memang murah hati atau hanya untuk mengambil hati bawahannya.
Saya tadinya berpikir jenis bos yang begitulah yang ideal, karena baik kepada bawahannya. Tapi ternyata teman saya bilang, bosnya itu disenangi karena mudah "disetir" bawahannya. Dari nada bicara teman saya, saya membaca kalau model kepemimpinan yang demikian tidak bisa disebut ideal. Teman saya juga setuju dengan pendapat teman saya yang satu lagi bahwa tiap bos punya signature yang terkadang tidak bisa diukur dengan timbangan "benar-salah".
Jadi, sepertinya benar perkataan bahwa jadi bos itu tidak gampang. Dan, tidak gampang pula menemukan bos yang benar-benar sesuai dengan selera kita. Mungkin yang perlu kita sadari bahwa setiap bos itu pada hakikatnya adalah bawahan juga. Kalau ada bos yang menganggap dan bertingkah-laku seolah-olah dia orang yang paling berkuasa di jagad raya ini, orang seperti itu tidak perlu kita sumpahi, tapi sepatutnya kita kasihani dan doakan supaya penyakitnya sembuh.
Dan, kita sebagai bawahan juga sebaiknya tidak main mutlak-mutlakan. Bos atau atasan mutlak salah, mutlak zalim, dan sebaliknya, kita sebagai bawahan mutlak benar dan mutlak dalam keadaan ditindas atasan. Imam Ali suatu kali pernah mengatakan kurang lebih, "Dahulu saya kira hanya penguasa yang dapat berbuat zalim kepada rakyat. Ternyata, rakyat juga dapat berbuat zalim terhadap penguasa".
Di akhir tulisan ini saya kutipkan salah satu resep Imam Ali yang sangat bermanfaat, sangat mudah diterapkan oleh kita -- yang pada hakikatnya adalah pemimpin (meski bukan bos, seperti halnya tidak semua bos adalah pemimpin) -- dan sangat perlu menjadi signature kita:
Monday, April 21, 2008
'suara lembut'
Kalimat itu adalah sebagian kesaksian yang ditulis seorang istri mengenang almarhum suami yang sangat ia cintai. Kata-kata itu ditorehkan oleh Suzanne dalam buku berbahasa arab berjudul "Ma'ak" (Bersamamu) yang dia persembahkan untuk mendiang suaminya, Taha Hussein (di Indonesia sering ditulis Taha Husain). Ma'ak hingga sekarang dikenal sebagai buku yang sangat menyentuh yang bercerita tentang kehidupan dan kebersamaan mereka.
Saya tidak mengenal Suzzane, tapi saya mengagumi suaminya. Saya pertama kali "mengenal" Taha Hussein saat masih di bangku kuliah, tepatnya pada salah satu hari ketika saya menghabiskan waktu di Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia, Depok, beberapa tahun ke belakang. Saya mengenal cendekiawan berkebangsaan Mesir itu lewat salah satu karya besarnya yaitu "Fitnatul Kubra" yang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan judul "Malapetaka Terbesar dalam Sejarah Islam".
Berdasarkan sumber yang saya baca, semasa hidupnya Hussein menulis sejumlah buku dan banyak artikel. Topik-topik tulisan Hussein pada umumnya mengenai literatur dan sejarah Islam, karya fiksi, serta politik. Hussein adalah seorang doktor filsafat. Hussein juga pernah menjabat sebagai Menteri Pendidikan Mesir pada 1950. Hussein juga pernah menerima penghargaan di bidang hak asasi manusia dari PBB. Di atas itu semua, sebagian karya tulis Hussein sempat mengundang kontroversi dan tekanan dari kaum konservatif Mesir.
Hussein adalah seorang yang mengalami kebutaan sejak ia berusia tiga tahun. Keterbatasan indra penglihatannya nyaris tidak menjadi penghalang bagi Hussein untuk memperoleh pendidikan hingga ke jenjang doktoral. Sejarah baru Hussein sendiri dimulai dari pertemuannya dengan Suzzane saat dia menjalani kuliah di Prancis. Karena tidak banyak buku yang ditulis dengan huruf braile, Suzzane lah yang membacakan berbagai referensi untuk Hussein.
Suzzane, yang dipanggil Hussein dengan "suara lembut", kemudian menjadi istri, mentor, penasihat, asisten, dan ibu dari anak-anaknya. Hussein pernah mengatakan bahwa sejak pertama kali ia mendengar "suara lembut" Suzzane, "amarah tidak pernah lagi merasuk ke hatinya".
Hussein wafat pada Oktober 1973 dalam usia 84 tahun di rumahnya, sendiri, hanya ditemani Suzanne, si pemilik "suara lembut".
Monday, April 14, 2008
putus
Kata "putus" yang kita terima mungkin lebih mudah diingat daripada kata yang sama yang keluar dari mulut kita. Artinya, kita lebih sering (atau mungkin hobi) mengingat-ingat saat-saat kita disakiti orang daripada saat-saat kita menyakiti orang lain. Saya begitu juga. Tapi, rasa-rasanya saya boleh bersyukur karena bukan termasuk orang yang menemukan kegembiraan dari perbuatan menyakiti (hati) orang lain.
Betul juga kalau dikatakan kalau kata "putus" tidak selalu menimbulkan efek yang sama kepada setiap orang atau pasangan, terutama dari pihak yang "diputuskan". Sudah lumrah terjadi kata itu malah sudah ditunggu lama. Dan, buat sebagian yang lain, kata "putus" jauh lebih indah daripada situasi "gantung". Kadang juga, kata "putus" merupakan bagian dari jawaban akan doa-doa kita karena apa yang terjadi setelahnya malah jauh lebih baik.
Kata "putus", tentu kita sudah tahu, bukanlah akhir dari sebuah hubungan, tapi sebaliknya merupakan awal. Karena, setiap awal itu adalah akhir, dan setiap akhir sejatinya adalah suatu awal. Artinya, boleh jadi benar bahwa "putus" mengakhiri satu hubungan (yang dulu), tapi kata itu juga menandakan lahirnya sebuah hubungan yang baru.
Kata "putus" harus diartikan putusnya hal-hal yang buruk yang pernah ada dalam sebuah hubungan. "Putus" sama sekali tidak boleh mengakhiri hal-hal baik yang sudah dibangun bersama-sama. Alasannya sebetulnya sederhana saja, segala hal yang putus pasti bisa disambung lagi. Bagi mereka yang memiliki pandangan yang jauh ke depan, "putus" justru dilihat sebagai satu tahapan penting dari dan demi (kematangan) sebuah hubungan.
Akhirnya, Saya ingin menutup curhat yang sangat tidak penting ini dengan sebuah kutipan yang sangat penting dari Ali bin Abi Thalib kw: "Bila kau berniat memutuskan hubungan dengan seorang kawan, tinggalkan kepadanya kenangan manis dirimu yang kelak akan membuka jalan kembali kepadamu di suatu saat, jika sewaktu-waktu ia ingin menjalin hubungan denganmu." Wallahu alam.
Wednesday, April 09, 2008
beyond victory
Bila kau beroleh kemenangan atas musuhmu, jadikanlah pengampunanmu atas dirinya sebagai ungkapan rasa syukur atas kemenangan itu
~ Ali bin Abi Thalib
Saya tidak tahu mana yang paling membuat saya bahagia pagi ini, membaca apresiasi dari seorang sahabat terhadap tulisan saya yang berjudul "tentang politik, perang dan tipu muslihat" ataukah ulasan dia terhadap tulisan itu yang, menurut saya, begitu lugas, mencerahkan dan -- melebihi semuanya -- sangat menawan.
Dia sudah memberikan saya izin untuk menampilkan tanggapan yang dia sampaikan melalui e-mail di blog ini. Saya melakukan sedikit penyuntingan yang sangat kecil atas isi e-mail di bawah yaitu terkait tanda baca dan ejaan. Itu saya lakukan semata-mata untuk menambah keasyikan dalam membaca. Dan, karena saya merasa kurang afdhal kalau tulisan ini tidak berjudul, maka saya beranikan diri untuk menambahkan judul untuk e-mail sahabat saya itu. Selamat menikmati.
beyond victory
Tulisannya mantap sekali. Namun, ada sebuah kritik dari gw. IMHO (in my humble opinion, amr),
Tipu muslihat dalam kalimat Ali harus dibaca dalam makna sebenarnya, yaitu cara-cara menipu dalam melakukan konfrontasi perang atau langkah politik. Tentu yang disindir Ali as adalah beberapa perbuatan Muawiyah seperti suka menyuap seseorang dengan menggunakan uang negara agar mau mengikuti dan menjadi pembela Muawiyah, suka mengingkari janji, memutarbalikkan fakta, dan mengambil langkah-langkah yang menguntungkan secara politis walaupun melanggar hukum Islam.
Dengan kalimat Ali as di atas, seakan-akan Sayyidina Ali as ingin mengatakan kepada pengikutnya, bahwa Ali as mengetahui secara detail setiap tindakan Muawiyah. Dan jikalau langkah-langkah Muawiyah dibenarkan secara agama - suatu hal yang mustahil -, akan menjadi mudah bagi Ali as untuk mengikuti langkah-langkah Muawiyah dan mengalahkan Muawiyah. Namun, karena tujuan Ali as bukanlah memenangkan peperangan semata-mata, tetapi lebih tinggi dari itu, yaitu selalu konsisten di dalam jalan Allah dan Rasulullah.
Langkah Ali as yang selalu konsisten tersebut, dapat dibaca sesaat beliau as diangkat menjadi Khalifah. Langkah mula-mula yang beliau ambil adalah langsung memecat Muawiyah dan konco-konconya. Sebuah langkah yang mendapat tantangan dari orang terdekat beliau seperti Ibnu Abbas. Ibnu Abbas menyarankan agar beliau menunda pemecatan tersebut, karena menurut pemikiran Ibnu Abbas, langkah tersebut tidak bisa dibilang cerdas.
Kekhalifan Ali as barulah seumur jagung, sedangkan kekuatan Muawiyah sudah ber-urat akar di Syuriah selama 12 tahun. Mencopot Muawiyah, sama saja memaklumkan perang. Tetapi, karena pribadi Ali as sangat berbeda jauh dengan pribadi Ibnu Abbas, tidak mengeherankan jika usul tersebut ditolak. "Demi Allah, aku tidak dapat membiarkan Muawiyah duduk di singgasananya walaupun satu detik, sementara aku membiarkan orang-orang tertindas di luar
Bagi Ali as, urusan Muawiyah tidak semata-mata urusan politik jikalau harus mengorbankan hak-hak orang banyak. Secara politis, langkah pemecatan Muawiyah jelas tidak cerdik. Ali as tentu sadar akan hal ini, walaupun tanpa bantuan pendapat Ibnu Abbas sekalipun. Tetapi, membiarkan Muawiyah duduk di singgasananya, sama saja melakukan penipuan dan melakukan kejahatan, karena ada hak-hak orang banyak di
Adapun maksud hadits Rasulullah yang berbunyi: "perang adalah tipu muslihat" adalah -- dalam laga peperangan -- anda dibolehkah melakukan strategi perang atau "tipu muslihat" perang demi meraih kemenangan. Tentu kata tipu muslihat berbeda makna dengan kata tipu muslihat dalam ucapan Ali as. Bukankah Rasulullah SAW melarang setiap prajurit perang untuk membakar tumbuh-tumbuhan, membunuh hewan-hewan, meracun sumber air, merusak ladang-ladang, membunuh anak-anak-wanita-orang tua dan membunuh para pemuka agama di tempat peribadatannya? Bukahkah Rasulullah melarang untuk mengingkari janji perdamaian dengan pihak musuh walaupun hal tersebut membawa keuntungan?
Jika "tipu muslihat" dalam makna sebenarnya dibolehkan, tentulah merusak ladang, meracun air, membunuh anak-anak-wanita-orang tua dibolehkan. Karena jika langkah tersebut dilakukan, pastilah akan membawa efek mematikan bagi pihak musuh. Jadi, tipu muslihat di sini haruslah dilihat dalam konteks strategi peperangan, sebuah strategi kapan saat yang tepat untuk menyerang, menyergap dan bertahan secara efektif dan efisien.
Begitulah yang saya pahami Amri...
Best regards